DEBAT


Katanya salah satu cara mengetahui tipe seseorang adalah dengan menyuruhnya menggambar seekor tikus. Jika tikusnya menghadap ke kiri, konon orang itu termasuk orang yang -meminjam istilah sekarang- susah letting go dan move on. Sebaliknya, jika tikusnya menghadap ke kanan, maka orang tersebut termasuk tipe yang bisa cepat melupakan masa lalu. Sedangkan jika tikusnya menghadap ke depan, maka anda sedang menggambar Mickey Mouse! 😀

Nah, saya termasuk jenis orang pertama. Sampai sekarang saya masih sering ‘keceplosan’ menggunakan bentuk lampau dalam kalimat saya. Seperti apa yang akan saya sampaikan sekarang.

Dulu, saya termasuk orang yang suka berdebat. Saya senang membuat lawan saya tersudut, dan menikmati kemenangan dalam diskusi kelompok di dalam atau luar kelas. Apalagi kemudian, saya belajar kristologi dan cara berdebat dari berbagai macam orang. Puas rasanya bisa meng-kick balik orang, mengalahkannya dengan berbagai argumen dan dalil serta membuat saya kelihatan (atau merasa?) pintar.

Bukan contoh yang patut diikuti.

Belakangan, saya merasa itu tidak ada gunanya.

Saya mungkin sempat membuat orang mati kutu dalam sebuah perdebatan teologi. Saya mungkin sempat menemukan ‘lawan’ yang sebanding. Saya (sempat) hapal pasal-pasal dalam alkitab cukup banyak. Saya memenangkan pertempuran saya. Tapi saya tidak memenangkan perang. Tidak sama sekali. Karena toh, setelahnya, tidak ada yang terjadi.

Tidak ada adegan lawan debat saya tiba-tiba terkesima dan masuk islam seperti yang sering saya dengar dan saya baca dalam buku-buku.

Apa yang salah?

Hidayah? Mungkin. Itu hak prerogatif Allah yang tidak bisa saya jawab. Tapi kini saya berusaha menekan ego saya kuat-kuat dan memperbaiki niat.

Saya hanya bisa mengambil kesimpulan pahit, yang bahkan seorang non muslim seperti Dale Carnegie pun sudah mewanti-wanti. Jika anda menginginkan madu, jangan tendang sarah lebahnya. Semakin keras anda berusaha membuktikan anda benar, semakin lawan bicara anda berusaha membuktikan bahwa andalah yang salah. Atau…, anda mungkin benar, tapi kebencian akibat kritik dan perdebatan telah membangun tembok kokoh yang sulit ditembus.

Pada akhirnya, saya lebih memilih diam dan menghindari perdebatan. Saya belajar bahwa : jika sejak awal orang sudah punya ‘garis pemikiran’ yang berbeda. Kebenaran di depan mata pun akan ia campakkan. Tidak banyak yang bisa diharapkan usai sebuah debat dari orang yang pada dasarnya membenci kita. Hal seperti itu hanya kontroversi dan memancing permusuhan. Bukan seperti itu debat yang diperbolahkan islam.

Saya hanya mau melayani diskusi orang yang ingin mencari kebenaran, bukan pembenaran. Dan, kepada sesama muslim, saya menghindari pembahasan agama dalam ranah cabang semisal fiqh, karena menurut saya tidak akan ada habisnya.

Jika ada yang menjelek-jelekkan saya, kalau sebelumnya saya akan samperin orang tersebut, menatap matanya dan berkata ketus : “Sudah?!” Kemudian berlalu begitu saja setelah membuatnya shock, sekarang saya paling hanya senyum dan tertawa saja. “Anggap saja fans.” Semakin saya marah, setan semakin senang, dan saya tidak mau itu.

Katakanlah saya pengecut. Hemh…, sebenarnya, kadang saya pikir mending langsung tonjok saja orangnya sekalian daripada terlalu lama bersilat lidah. Tapi ini negara demokrasi, Bung. Gaya preman kampungan macam saya tak elok disandang sebagai ahlak terpuji.
Lagipula…, ah, saya juga tidak jago-jago amat.

‘Keberanian’ saya mungkin telah luntur. Tak apa, anggap saja saya sedang belajar berpsoses menjadi lebih bijaksana. Dan mungkin, setelahnya, saya akan bisa otomatis menggambar tikus yang menghadap ke kanan.

Haha. 🙂

Iklan

Tentang Nurbaiti-Hikaru

Hikaru adalah nama pena dari Nurbaiti, kelahiran Jakarta, 8 Mei 1982. Menyelesaikan S1 nya dari Universitas Pendidikan Indonesia (UPI), Bandung jurusan Pendidikan Bahasa Jepang serta memiliki lisensi perencanaan keuangan dari Financial Planning Standard Board Indonesia. Mulai menulis sejak SMP dan menghasilkan belasan buku. Esainya masuk semi final dalam lomba menulis esai tingkat nasional yang diadakan oleh Kementrian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif tahun 2014. Karya-karyanya juga masuk final dalam lomba menulis tingkat nasional yang diadakan oleh Penerbit Bitread, Padmagz Magazine serta Elex Media Komputindo. Saat ini sebagai seorang manager di sebuah perusahaan asing dan Danus FLP Pusat. Hikaru juga salah satu wakil Indonesia dalam workshop Majelis Sastra Asia Tenggara (Mastera) Novel tahun 2016. Kontak dengan penulis via email: nurbaiti.hikaru@gmail.com
Pos ini dipublikasikan di CATATAN KECIL dan tag , , , . Tandai permalink.

Satu Balasan ke DEBAT

  1. Gits_Rijal berkata:

    setuju dengan mba hikaru…
    menjelaskan kadang tak usah dengan kata-kata. cukup dengan perangai baik dan sikap yang baik pula. lama kelamaan mereka akan paham maksud apa yang ingin disampaikan. top!!! ^_^

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s