Catper #Thailand 2


SEBELUM BERANGKAT

“April gue ke Indo. Kita jalan yuk?” Emma, salah seorang kawan baik saya yang sekarang menetap di Jerman membuat ajakan dalam grup chat.

Saya, yang pada dasarnya memang suka bertualang menyambut dengan antusias. Mengusulkan rencana yang tampak sempurna di atas kertas. Backpacking ke tiga negara, Singapura, Malaysia dan Thailand. Tujuan utama kami adalah Phi phi island, Thailand.

Selain ketiga negara tersebut bebas visa, relatif aman, kami bertiga punya kelebihan masing-masing. Emma, pernah bepergian sendirian melintasi Eropa. Pengalaman travelingnya meliputi 4 benua. Selain itu, bahasa Inggris dan Jermannya tidak perlu diragukan lagi. Suami Emma orang Jerman, sementara dulu ia pernah tinggal di Australia.

Nita, seorang kawan saya yang lain, baru saja pulang dari Thailand dua minggu sebelumnya. Ia menghabiskan masa kecil dan sebagian masa remajanya di Jambi. Baginya ke Singapura mungkin sudah seperti saya pergi ke Bandung.

Sementara saya, selain punya beberapa saudara dan teman di tiga negara tersebut, sering kali backpackeran ke tempat-tempat yang jauh lebih terpencil serta sudah terbiasa membuat itinerary atau rencana perjalanan.

Jangan salah. Saya selalu membuat rencana dalam setiap perjalanan saya. Sebab hal itu sangat krusial dalam menentukan budget dan waktu perjalanan. Masalah terjadi perubahan rencana di lapangan atau rasa penasaran saya membuat saya sengaja menyasarkan diri di tengah perjalanan, itu hal yang berbeda.

Mulailah saya merancang rencana perjalanan selama 7 hari 6 malam, dengan perkiraan budget 5 jutaan untuk 3 negara, sudah termasuk tiket pesawat PP.

Saya mencari-cari tiket promo, mencari penginapan seharga 100-200 ribu/malam. Membuat rute perjalanan darat antar negara yang aman namun (sepertinya) akan berkesan. Googling makanan halal dan segala macam pernak perniknya.

Tak dinyana, beberapa waktu kemudian, keduanya batal. Emma akan ke Bali bertemu keluarga besarnya, Nita ada pekerjaan yang tidak bisa ditinggalkan. Hiks.

Padahal saya sudah membayangkan keseruannya. Kami satu SMP, satu SMA, saling kenal sekian lama. Maksud saya, kami sudah berteman selama belasan tahun. Itu suatu hal yang patut dirayakan.

Meskipun kami berbeda tipe dalam hal perjalanan. Nita penggemar shoping. Saya wisata alam, dan Emma, yah, gabungan keduanya plus kesempatan ngecengin cowok-cowok kece. *haiyah.

Emma juga kadang minum-minum. Walaupun kalau kami lagi kumpul sih, dia hanya pesen minuman normal semacam jus atau air mineral.

Bagaimana pun, saya menghargai ia mensyaratkan suaminya masuk islam sebagai salah satu syarat pernikahan. Sejujurnya, -meskipun itu bukan suatu hal yang saya dukung- saya lebih suka ia mengaku minum dan ngecengin cowok di depan kami berdua daripada bersikap tidak jujur. Menjadi seorang muslim di negara minoritas tanpa pembimbing, jelas bukan hal yang mudah. Tahun-tahun berlalu. Peristiwa demi peristiwa terjadi selama kami terpisah. So, no judgement.

Terus terang, saya sempet kecewa berat. Soalnya bikin itinerary 7 hari, plus survey (eh, googling) penginapan yang aman, bersih dan terjangkau itu butuh energi ekstra. Lagipula, ini kesempatan langka. Pertemanan kami telah berlangsung sekian lama. Banyak hal yang berubah. Perjalanan semacam ini bisa jadi ajang kami mengenal kembali satu sama lain.

Ya sudahlah, perjalanan ini batal. Masak sih, saya traveling ke luar negeri sendirian, backpacker, ke negara yang penduduknya tidak berbahasa melayu atau Inggris. Belum lagi bugdet pasti akan membengkak untuk akomodasi tertentu. Sementara jika ikut tur, biayanya bisa sampai belasan juta. Sayang ah, mending buat jalan ke Indonesia tengah dan timur yang lebih eksotis. Plus kasih pemasukan ke negeri sendiri.

Namun, banyak hal yang terjadi kemudian benar-benar membuat saya merasa perlu ‘masuk gua’. Jadi dengan banyak pertimbangan, saya memutuskan untuk tetap berangkat.

Berdasarkan info dari beberapa teman, jauh lebih murah mencari tour saat sudah tiba di Thailand daripada di Jakarta.

Maka, saya pun kembali membuat itinerary dari awal untuk satu orang. Membayar tiket pesawat, merevisi itinerary untuk 9 hari perjalanan karena saya tidak menemukan tiket yang sesuai pada hari minggu dari Singapura.

Saya sempat terpikir untuk mengubah negara tujuan. Bahkan sempat membuat dua itinerary lainnya. Destinasi lain yang saya pertimbangkan adalah Jepang, India-Nepal, Golden triangle Sungai Mekong: Thailand-Burma (Myanmar)-Laos. Vietnam-Kamboja-Laos. Sebelum akhirnya memutuskan untuk mencoba dari negara yang mudah.

Jepang saya batalkan karena cukup mahal. Laos dan Myanmar saya batalkan karena tidak cukup menarik. Vietnam dan Kamboja sepertinya tidak cukup aman. India dan Nepal sepertinya cukup jauh dan butuh persiapan lebih.

Jadilah saya memakai jalur yang biasa dipakai para backpacker pemula: Singapura-Malaysia-Thaland, dengan Phi-phi Island sebagai tujuan utama, pengganti Raja Ampat yang belum kesampaian.

Nyatanya itu keputusan yang tepat. Karena beberapa minggu kemudian, Nepal dilanda gempa dahsyat, dan muslim dari Myanmar terkatung-katung di lautan.

*****

           (bersambung)

Iklan

Tentang Nurbaiti-Hikaru

Financial advisor yang suka nulis dan bertualang. Menyelesaikan S1 nya dari Universitas Pendidikan Indonesia (UPI), Bandung jurusan pendidikan Bahasa Jepang serta memiliki lisensi perencanaan keuangan dari Financial Planning Standard Board Indonesia. Coachee di program Money Coaching EHI (Emotional Healing Indonesia) Berkecimpung di berbagai organisasi dan menghasilkan belasan buku sejak SMP. Saat ini sebagai Unit Manager di PT. Prudential Life Insurance. Anggota Persatuan Sastrawan Muslim Sedunia, Pendiri yayasan sosial Ibnu Syam, serta pengurus pusat Forum Lingkar Pena (FLP), divisi Bisnis dan Dana Usaha. Kontak dengan penulis via email: nurbaiti.hikaru@gmail.com
Pos ini dipublikasikan di Uncategorized dan tag , . Tandai permalink.

2 Balasan ke Catper #Thailand 2

  1. Syilvi_IH berkata:

    Kak umur berapa? Suka baca cerita kakak yg solo travelling kemana2 berani, keren. Aku juga pengen solo backpacking ke bangkok tapi ragu transportasi nya takut nyasar.

    Disukai oleh 1 orang

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s