Catper #27 ENDING


Saya bertemu kembali dengan Bu Nawiyah saat beliau sekeluarga berkunjung ke Indonesia. Beliau datang untuk bertemu keluarga besarnya merayakan Idul Adha di Jakarta. Kami bertemu di Grand Indonesia dan menghabiskan waktu makan siang bersama. Sekarang, setiap saya ingat Singapura, saya akan selalu ingat Bu Nawiyah dan keluarganya yang baik hati.

Neo mengirim pesan whats app untuk memastikan saya pulang dengan selamat sampai di Jakarta. Saya memberikan alamat blog saya agar Neo dapat membaca tulisan saya walaupun hasil terjemah google translate bisa dibilang kacau. Setidaknya ia dapat melihat foto-foto yang saya ambil meskipun tidak mengerti isi tulisan saya karena ditulis dalam bahasa Indonesia.

Saya sempat menyinggung tentang Pongma, yang saya anggap akan cocok menjadi pendamping hidup Neo. Namun saya kehilangan jejak Pongma, dan usaha saya untuk mempersatukan mereka sepertinya hanya terhenti di imajinasi karena saya kehilangan jejak Pongma. Kami tidak sempat bertukar nomer saat itu. Akun facebook yang saya telusuri tidak menemukan Pongma yang saya maksud.

Neo mengirim pesan kembali saat Jakarta diguncang bom, Januari 2016 silam, mengkonfirmasi berita pengeboman di televisi.

Neo: “Saya dengar di Jakarta ada bom. Semoga kamu dan keluarga tetap aman.”

Saya: “Saya gak papa kok. Makasih ya.” Saya mengirimkan ikon senyum, yang dibalas Neo dengan ikon yang sama.

Saya jadi merasa tidak enak. Karena Agustus tahun 2015, saat Thailand juga diguncang bom, saya tidak menanyakan kabar Neo, meskipun saya ingin. Saya merasa perlu mengakui hal ini sebagai permintaan maaf.

Saya: “Tahun lalu saat bom meledak di Bangkok, saya terpikir untuk tahu keadaan kamu. Tapi trus saya ingat kamu tinggal di Chiang Mai, dan itu jauh dari Bangkok.” Saya merasa lega sudah mengakui ketidakpedulian saya.

Neo: “Iya, tapi sekarang saya tinggal di Bangkok.” Neo mengirimkan ikon nyengir, yang langsung saya balas dengan ikon kaget.

Saya: “Hah? Kamu tinggal di Bangkok?” saya  jadi makin merasa bersalah. “Sejak kapan?”

Neo: “Saya berasal dari Chiang mai, tapi saya memang tinggal di Bangkok.”

Saya: “Kok saya baru tau sih?” Saya tidak tahu apakah harus kesal atau menyesal.

Neo: “Saya udah bilang kok…,”

Saya: “Ya ampun, sori banget. Kayaknya saya nggak menyimak dengan baik.” Saya beneran menyesal sekarang.

Neo: “Sepertinya saya pernah bilang saat kamu sedang mempersiapkan diri traveling ke sini. Inget nggak saya menawarkan diri untuk membantu seandainya kamu mendapat masalah dengan orang-orang lokal di Bangkok, hehehe….”

Saya: “Iya, inget, tapi saat itu saya pikir kamu masih di Chiang Mai.” Saya ingat Neo mengatakan akan tugas ke Burma beberapa minggu sebelum saya ke Thailand. Jadi saya pikir hal itu wajar karena Chiang Mai lebih dekat dengan Myanmar daripada ke Bangkok.

Idih, saya nyesel banget. Tahu Neo ada satu kota sama saya saat saya di sana, saya kan nggak perlu nyasar-nyasar dan mati gaya sendirian karena tidak mengerti bahasa setempat. Saya menyampaikan hal itu pada Neo, yang hanya dibalasnya dengan komentar singkat, “Haha.”

Demi menebus rasa bersalah, saya menawarkan diri untuk memberikan informasi wisata menarik seandainya Neo kembali berkunjung ke Indonesia suatu saat nanti.

Thailand-Indonesia itu dekat kan?

Nyatanya, Neo memang kembali ke Indonesia, tapi kami tidak sempat bertemu. Neo mengikuti acara kantornya di Bali. Ia yang sebelumnya tidak memiliki akun sosial media apapun akhirnya memiliki akun instagram. Saya sempat memamerkan buku ‘The Dancer’ bertanda tangan Pak Ahmad Tohari yang sudah Neo baca sebelumnya, mengirimkan ucapan berduka saat raja Thailand wafat beberapa bulan silam. Sebaliknya, Neo mengomentari pendakian saya ke Gunung Bongkok beberapa hari lalu.

Saya tidak tahu bagaimana kabar Pumi dan Mr. Hary selanjutnya.  Saya harap Mr. Hary selalu sehat dan Pumi berhasil menjadi guru bahasa Inggris seperti yang diinginkannya.

 

***

Iklan

Tentang Nurbaiti-Hikaru

Hikaru adalah nama pena dari Nurbaiti, kelahiran Jakarta, 8 Mei 1982. Menyelesaikan S1 nya dari Universitas Pendidikan Indonesia (UPI), Bandung jurusan Pendidikan Bahasa Jepang serta memiliki lisensi perencanaan keuangan dari Financial Planning Standard Board Indonesia. Mulai menulis sejak SMP dan menghasilkan belasan buku. Esainya masuk semi final dalam lomba menulis esai tingkat nasional yang diadakan oleh Kementrian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif tahun 2014. Karya-karyanya juga masuk final dalam lomba menulis tingkat nasional yang diadakan oleh Penerbit Bitread, Padmagz Magazine serta Elex Media Komputindo. Saat ini sebagai seorang manager di sebuah perusahaan asing dan Danus FLP Pusat. Hikaru juga salah satu wakil Indonesia dalam workshop Majelis Sastra Asia Tenggara (Mastera) Novel tahun 2016. Kontak dengan penulis via email: nurbaiti.hikaru@gmail.com
Pos ini dipublikasikan di SERI PERJALANAN dan tag , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s