CATPER JEPANG 14: MATSUMOTO-KAMIKOCHI-ODAIBA. DARI ALA SWISS SAMPAI NYC


Mumpung libur tahun baru, selagi sempat, saya mau nerusin catatan perjalanan ke Jepang tahun lalu deh. (Glek, tahun lalu dan baru ditulis sekarang >_<)

Setelah mengunjungi museum Doraemon di Kawasaki, kami mengejar kereta lokal ke Tokyo, makan ramen di dekat stasiun, lalu naik shinkansen ke Matsumoto.

img_20160519_094403

Matsumoto terlatak di Prefektur Nagano. Sebuah wilayah yang dikelilingi pemandangan indah dengan suasana yang lebih tenang. Jika Kyoto adalah Jogja, maka Matsumoto adalah Lombok. Jika harus memilih Jogja atau Lombok, tentu saya akan memilih Lombok.

Tentu saja ini hanya masalah selera. Berhubung saya lebih menyukai tempat tenang dengan pemandangan indah dan tidak terlalu banyak turis yang berseliweran, maka Matsumoto adalah pilihan yang masuk akal. Namun jika anda adalah  pecinta sejarah budaya dengan banyak toko-toko cinderamata sepanjang jalan, maka Kyoto bisa menjadi pilihan.

img_20160519_110947_4cs img_20160519_121823

Pukul enam sore, kami tiba di stasiun Matsumoto, disambut lengkingan suara wanita yang terdengar dari speaker peron.

“Matsumoto… Matsumoto… Matsumoto….”

Kami bertiga berpandangan. Nita tertawa geli. Kami merasa disambut.

Pukul 6 sore di Matsumoto masih terang. Saya bertanya ke petugas peron arah stasiun Kita Matsumoto, stasiun terdekat ke penginapan kami. Penginapan yang kami sewa, Matsumoto Backpacker no Yado terletak dekat kastil Matsumoto. Jadi cara terbaik dalah bertanya arah ke sana. Tiket pass kami masih berlaku untuk kereta lokal. Namun kami masih menunggu hampir satu jam waktu keberangkatannya. Belakangan kami tahu, dari stasiun Matsumoto ke stasiun Kita matsumoto bisa ditempuh dengan 20 menit berjalan kaki.

Jalanan di Matsumoto lenggang bahkan pada pukul 7 malam. Kami bertanya satu dua kali sebelum secara tk sengaja bertemu staf penginapan yang baru pulang dari kerja sambilannya di Seven Eleven.

Kalau tidak salah staf tersebut bernama Peko. Nama lengkapnya saya tidak tahu. Aneh juga karena mengingatkan saya pada istilah peko-peko ketika kita merasa lapar. Perempuan berumur dua puluhan yang ramah. Peko menuntun sepedanya sementara kami mengikuti di belakang. Ia menyajikan brownies cokelat yang baru matang dari panggangan dan menyajikannya beserta teh hangat.

Matsumoto Backpacker no Yado adalah penginapan bernuansa tradisonal  kedua yang kami inapi setelah penginapan d Chiba. Kalau penginapan di Chiba sudah ada bangunan bergaya modern di sampingnya, penginapan ini benar-benar bernuansa tradisonal sepenuhnya. Bangunannya tampak tua, kemungkinan bersejarah. Bentuk bangunan luarnya seperti film-film anime zaman Edo dengan gerbang kuno yang mengingatkan saya pada sosok samurai.

Dapur serta kamar mandi serta ofuronya bergaya modern. Pemanas ruangn juga tersedia. Namun genkan, kotatsu dan ruang tamunya bergaya tradisional dengan sebuah koto –alat musik sejenis kecapi- serta sebuah kimono tua terpajang di satu sudut.

Saya bertanya apakah kami boleh berfoto dengan kimono tersebut dan Peko menjawab boleh. Saya bertanya kimono tersebut milik siapa dan ia menjawab, itu kimono yang dipakai ibunya ketika menikah.

Saya langsung mengurungkan niat.

Kimono ini bersejarah dan saya takut merusaknya. Lebih baik saya beli yukata. Toh saya punya obi di rumah.

Kamar kami terletak di lantai dua. Dengan pintu geser kertas bangunan khas ryokan. Kasurnya juga futon seperti penginapan kami di Chiba. Jendela kecilnya memberikan pemandangan langsung ke puncak kastil Matsumoto. Tempat ini benar-benar didesain sebagai tempat istirahat yang nyaman dan bernuansa sejarah.

Usai salat dan makan malam di dalam kamar, saya menuruni tangga kayu kembali ke ruang tamu. Ada 8 orang backpacker asal Singapura yang sedang berkumpul. Cathy Jia dan ketujuh kawannya. Saya menggabungkan diri dan larut dalam bincang-bincang seru.

Saya kembali ke kamar mengajak Nita dan Chichi untuk bergabung. Namun keduanya tidak tertarik. Saya sadar gaya traveling kami berbeda. Saya senang berbaur dengan orang lokal dan menjadi bagian dari mereka atau bertukar pengalaman sesama backpacker. Itu sebabnya saya tidak merasa kesepian ketika traveling sendirian. Karena saya hampir selalu menemukan ‘teman ketemu di jalan’ yang mengasyikkan. Nita dan Chichi cenderung menjaga jarak dan bersikap seperti turis. Saya suka alam dan mereka suka belanja. Itu sebabnya saya sering bertualang sendirian sementara mereka memakai agen perjalanan yang nyaman.

Malam itu saya meminta izin Nita dan Chichi untuk sendirian esok hari. Kami akan tetap pergi bersama namun saya ingin treking ke tempat yang lebih menantang dari sekedar jalur Kamikochi. Mungkin ke Norikura Kogen atau jalur lain. Nita dan Chichi akan pulang lebih dulu untuk berbelanja di mall terdekat. Saya akan menyusul setelah mencari ATM. Chichi dan Nita sudah maklum. Sejak di Indonesia saya sudah bilang akan melakukan sedikit pendakian ringan.

Esoknya kami naik kereta menuju stasiun Shin shimashima, lalu naik bus menuju Kamikochi. Sekitar satu jam kemudian, bus berhenti di sebuah restoran. Saya tidak tahu apakah itu semacam halte atau apa. Namun saya segera menyusul orang-orang yang turun. Saya terkesima dengan pemandangan di depan saya. Sungai jernih dari lapisan es yang mencair, dengan gunung yang sebagian masih tertutup salju dan hutan hijau.

img_20160519_095326  img_20160519_111212

Tadi saya melihat Nita dan Chichi juga turun dari bus. Tapi sampai bus pergi, saya tidak melihat keduanya. Saya menunggu sambil mengambil foto. Mungkin keduanya mampir toilet dan antriannya panjang. Namun setelah sekitar 20 menit menunggu dan saya tidak melihat keduanya, saya memutuskan untuk melanjutkan perjalanan. Mungkin keduanya langsung ke Kappa Bridge.

img_20160519_105051

Saat orang tropis melihat salju, yang difoto malah  sungai. *salahfokus 😀

img_20160519_101419_42cs

Jalur treking di Kamikochi terbilang mudah. Hanya butuh satu jam untuk sampai ke Kappa Bridge. Saya menghabiskan beberapa koin seratus yen untuk menggunakan teropong di pinggir jalan. Mengamati lebih dekat salju di puncak gunung. Saya bertemu dengan beberapa pejalan kaki berusia sekitar 70 tahunan. Saya merekamnya dalam bentuk video, berkenalan dengan beberapa orang dan saling bergantian memotret.

img_20160519_095900 img_20160519_095009 img_20160519_105516 img_20160519_110307

Orang Jepang senang mengetahui bahwa kita bisa berbahasa Jepang. Jadi saya tidak menemui kesulitan untuk meminta tolong memotret. Mereka justru dengan senang hati memastikan saya mendapat gambar yang bagus dan menyempatkan diri berbincang-bincang singkat. Saya memotret serombongan orang dan mereka gantian memotret saya di dekat Kappa Bridge dan Shirakabaso Hotel. Foto dan video, lihat saja di instagram saya ya? @Nur baiti Hikaru. 😉

Saya segera menuju tempat parkir untuk menuju jalur treking yang lebih menantang. Tepat ketika bus akan berangkat, saya masuk dan duduk. Namun ketika bus memasuki jalur di mana seharusnya rute pendakian di mulai, tidak ada satu orang pun yang turun. Apakah ada jalur lain di mana bus akan berhenti? Atau saya seharusnya naik bus ke arah yang berbeda. Alhasil saya malah kembali ke stasiun Shin shima padahal hari masih pukul 2 siang.

Melenceng dari rencana semula sementara Kamikochi sudah berada di belakang. Akhirnya saya memutuskan untuk ke Tokyo. Saya mengecek JR East. Hari ini batas terakhir penggunaannya. Kalau saya bergegas. Mungkin saya akan sempat city tour singkat ke Tokyo yang sebelumnya terlewat. Tetap saja, waktu setengah hari tidak cukup untuk berkeliling Tokyo. Jadi saya memutuskan untuk pergi ke Odaiba. Sekitar 4 jam perjalanan dengan Shinkansen sambung kereta lokal.

img_20160519_183310

Dari jauh saya kira petugas resepsionis, pas dilihat lagi, ternyata sebuah robot. Gerakan dan suaranya mirip banget manusia. *tertipu

img_20160519_183535 img_20160519_183611

Ada dua stasiun yang bisa Saya hanya sebentar di Odaiba. Hanya mencari ATM, berfoto di beberapa tempat, lalu kembali ke stasiun Tokyo dan mengejar Shinkansen pukul 7 malam menuju Matsumoto.

img_20160519_190102 img_20160522_115255 img_20160519_203143_904

Tiba di Matsumoto badan saya letih luar biasa. Apalagi, saya sempat mendapat berita kurang menyenangkan dari Indonesia. Jadilah saya sempat dikonek dan salah mengambil pintu keluar. Setelah bolak balik dengan mata mengantuk. Saya menyusuri jalan raya yang lenggang. Sudah lewat pukul sepuluh malam saat saya berjalan kaki menuju penginapan.

Terkunci. Ruang tamu gelap. Dari luar penginapan ini jadi menyeramkan. Apalagi tak ada seorang pun di jalan. Berbeda dengan Tokyo di mana menjelang tengah malam pun kami masih mendengar suara mobil melintas dan orang-orang pulang lembur melewati penginapan.

Baterai ponsel saya hanya tinggal beberapa persen lagi. Nita dan Chichi sepertinya sudah tidur. Saya mengirim pesan whats app ke keduanya namun belum dibaca. Bukan salah mereka. rencana awalnya saya sudah tiba di sini sebelum magrib.

Tak ingin mengganggu, saya kembali ke jalan dan menuju Sevell, tempat Peko bekerja sambilan. Rencana saya adalah meminta Peko meminjamkan kunci cadangan. Namun saat saya bertanya kepada seorang karyawan di sana, hari ini Peko ternyata tidak bertugas. Mereka memakai sistem shif dan hari ini bukan giliran Peko bekerja.

Saya kembali ke penginapan. Duduk di tangga sementara jam menuju tengah malam. Udara Matsumoto hanya belasan derajat. Angin lumayan kencang. Jaket yang saya kenakan masih menyisakan udara dingin. Saya teringat ketika tahun sebelumnya saya mengalami hal mirip di Malaysia. Kalau perlu berjaga semalaman di luar, saya akan lakukan. Saya sudah pernah melewati udara dingin di pendakian. Jadi saya yakin akan bertahan.

Saya cuma merasa melow.

Baterai ponsel saya tinggal 1 persen. Saya mencoba upaya terakhir. Saya mengirim whats app kembali ke Nita dan Chichi. Meminta maaf kalau membangunkan mereka, namun meminta tolong seandainya mereka masih bangun untuk membukakan pintu.

Menjelang tengah malam saya mendengar suara. Lampu ruang tamu menyala. Chichi membukakan pintu.

“Sori ngebangunin,” kata saya dengan menyesal.

Chichi tidak menjawab. “Sudah makan?”

Sebetulnya belum, tapi saat ini saya sama sekali tidak tertarik untuk makan.

Kami kembali ke kamar. Nita masih terlelap. Chichi kembali berbaring di futon. Saya kehausan dan segera turun ke dapur mengambil minum. Salat, lalu merebahkan diri di futon. Menyelubungi diri dengan selimut. Merasa lelah lahir batin.

 

 

 

 

 

 

Iklan

Tentang Nurbaiti-Hikaru

Financial advisor yang suka nulis dan bertualang. Menyelesaikan S1 nya dari Universitas Pendidikan Indonesia (UPI), Bandung jurusan pendidikan Bahasa Jepang serta memiliki lisensi perencanaan keuangan dari Financial Planning Standard Board Indonesia. Coachee di program Money Coaching EHI (Emotional Healing Indonesia) Berkecimpung di berbagai organisasi dan menghasilkan belasan buku sejak SMP. Saat ini sebagai Unit Manager di PT. Prudential Life Insurance. Anggota Persatuan Sastrawan Muslim Sedunia, Pendiri yayasan sosial Ibnu Syam, serta pengurus pusat Forum Lingkar Pena (FLP), divisi Bisnis dan Dana Usaha. Kontak dengan penulis via email: nurbaiti.hikaru@gmail.com
Pos ini dipublikasikan di SERI PERJALANAN, Uncategorized dan tag , , , , , , , , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s