DI BALIK LAYAR PENULISAN CANDRA SENGKALA


Blog saya sempat vakum dalam waktu yang cukup lama. Pekerjaan, prioritas yang lebih penting, hal-hal semacam itulah yang akan saya ajukan sebagai alasan. Tapi saya menyempatkan diri untuk tetap membaca dan menulis sedikit. Biasaya tengah malam sampai dini hari. Kadang-kadang juga dalam perjalanan. Saya tidak bisa benar-benar meninggalkannya. Bagaimana lagi? Ini menyenangkan. Dan rasanya tidak ada yang dirugikan dengan hobi membaca dan menulis buku.

Usai karantina sepekan penuh workshop Mastera (Majelis Sastra Asia Tenggara) tahun lalu, kami, belasan peserta dari beberapa negara diberi tugas menulis sebuah novel. Beruntunglah mereka yang telah memiliki satu cerita utuh dalam folder komputernya. Sementara saya, yang mulai hanya dengan konsep kasar cerita cuma bisa meringgis mengetahui kami hanya diberikan waktu satu bulan.

Saya suka menantang diri saya menuliskan sesuatu yang berbeda. Jadi setelah menulis novel detektif ala barat dalam L.A. The Detective, berbagai esai serta catatan perjalanan untuk lomba dan blog, menulis cerita humor bersambung parodi Hunger Games yang saya bagikan cuma-cuma di Wattpad dan Facebook FLP, tentu saja saya merasa itu belum cukup. Saya mungkin telah membuat cukup banyak variasi. Dari naskah komik sampai novel. Dari kisah sahabat nabi sampai humor remaja, dari tulisan serius sampai ‘ecek-ecek’. Bagaimana kalau membuat satu lagi? Bagaimana kalau saya menulis bertema sejarah?

Ini sulit. Mengingat saya lebih tertarik ke tempat-tempat indah daripada museum. Membaca novel favorit daripada menelusuri literatur. Tapi di situlah tantangannya bukan? Lagi pula, buat apa saya dikarantina bersama para sastrawan senior kalau pulang tidak menghasilkan karya apa pun?

Maka saya memacu segenap kemampuan untuk menulis sebuah novelet dalam waktu satu bulan –untungnya Badan Bahasa kemudian memberikan kelonggaran hingga empat bulan-.

Ide awalnya berasal dari salah satu kawan baik saya, Rahmat Romadon ketika ia menceritakan hasil penelitiannya tentang sebuah makam kuno di wilayah Depok. Pak Ahmad Tohari memberi saran agar saya memasukkan Sungai Ciliwung pada abad ke-16. Dari situlah kisahnya dimulai. Judulnya: Candra Sengkala. Gatra Kanthi Wreksa Prabu.

Ada yang bisa menebak cerita ini tentang apa?

Benar, ini memang ada hubungannya dengan Jawa. Namun sesungguhnya bukan hanya itu. Candra Sengkala adalah sebuah sandi yang dipakai para prajurit rahasia Mataram untuk menunjukkan angka. Gatra Kanthi Wreksa Prabu, jika dibaca dalam urutan yang benar –dibaca dari depan namun ditafsirkan dari belakang- akan menunjukkan tahun 1629. Tahun kematian Jan Pieters Coen, pendiri Batavia.

Novel ini menjadi semakin sulit karena sedikitnya sumber yang saya dapat. Kebanyakan literatur dari berbagai buku, bahkan keterangan pada museum ditulis oleh sejarawan berdasarkan catatan Belanda. Sedangkan versi Babad Tanah Jawi kemungkinan bercampur mitos.

Saya juga tidak merasa nyaman membayangkan adegan kekejaman perang lalu menuliskannya untuk pembaca. Ini bukan jenis karya yang saya tuliskan sambil tersenyum. Mengabaikannya berarti membohongi sejarah. Menuliskannya, -walau sudah saya perhalus sedemikian rupa-, tetap beresiko membuat saya mimpi buruk.

Nah, supaya anda tidak terlalu penasaran, berikut saya berikan blurb-nya:

Sejarah versi Belanda menyatakan bahwa JP Coen, pendiri Batavia tewas akibat penyakit kolera. Sementara Babad Tanah Jawi mengatakan hal yang berbeda.

Coen, yang dianggap sebagai pahlawan bagi sebagian orang, juga dianggap penjahat perang pada sisi lainnya. Ia bertanggung jawab pada pembantaian massal di Banda Neira, perbudakan di Batavia serta dicurigai memiliki hubungan dengan klan Vlad Tempes, Dracula dari Walachia yang ditumpas oleh kekhalifahan Turki Utsmani.

Lantas, apakah –atau siapakah- yang sesungguhnya membunuh Coen?

Terlepas dari hasilnya, saya cukup senang bisa menyelesaikan naskah ini. Mengutip perkataan Pak Triyanto Triwikromo dalam salah satu sesi diskusi kami, “Tulislah sejarah versimu sendiri, sehingga orang-orang percaya itulah yang sebenarnya terjadi.”

Saya harap saya sudah melakukannya.

***

 

Iklan

Tentang Nurbaiti-Hikaru

Hikaru adalah nama pena dari Nurbaiti, kelahiran Jakarta, 8 Mei 1982. Menyelesaikan S1 nya dari Universitas Pendidikan Indonesia (UPI), Bandung jurusan Pendidikan Bahasa Jepang serta memiliki lisensi perencanaan keuangan dari Financial Planning Standard Board Indonesia. Mulai menulis sejak SMP dan menghasilkan belasan buku. Esainya masuk semi final dalam lomba menulis esai tingkat nasional yang diadakan oleh Kementrian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif tahun 2014. Karya-karyanya juga masuk final dalam lomba menulis tingkat nasional yang diadakan oleh Penerbit Bitread, Padmagz Magazine serta Elex Media Komputindo. Saat ini sebagai seorang manager di sebuah perusahaan asing dan Danus FLP Pusat. Hikaru juga salah satu wakil Indonesia dalam workshop Majelis Sastra Asia Tenggara (Mastera) Novel tahun 2016. Kontak dengan penulis via email: nurbaiti.hikaru@gmail.com
Pos ini dipublikasikan di KEPENULISAN, Uncategorized dan tag , , , , , . Tandai permalink.

Satu Balasan ke DI BALIK LAYAR PENULISAN CANDRA SENGKALA

  1. Sekar berkata:

    aaaaak! aku juga lagi nulis novel sejarah mbak. Mbak, aku pengen diskusi soal ini. Apalagi pas baca kalimat, “Tulislah sejarah versimu sendiri, sehingga orang-orang percaya itulah yang sebenarnya terjadi”

    tanpa mencederai sejarah aslinya, berarti boleh ya kita tambahkan fiksi hingga seolah-olah seluruh yang kita tulis itu nyata?

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s