CATPER JEPANG 15: TATEYAMA KUROBE ALPINE


Tateyama Kurobe Alpine adalah satu kawasan dengan pemandangan gunung salju dan bendungan tertinggi di Jepang. Jika anda belum pernah ke Swiss, naiklah kereta gantung melintasi pegunungan salju dan ambillah foto sebanyak mungkin. Taruhlah di sosial media dan katakan anda sedang berada di Alpen. Sama seperti Kamikochi, kemungkinan

orang akan mempercayainya.

img_20160520_122802

Sayangnya, karena malam sebelumnya saya hanya tidur sekitar satu jam, jadi pagi itu saya tidak begitu bersemangat. Saya bahkan hampir saja membatalkan untuk ikut, kalau saja tidak ingat bahwa JR Tateyama yang sudah kami beli memiliki batas waktu dan saya punya tanggung jawab moral untuk menjadi pemandu Nita dan Chichi.

Sebenarnya tiket JR Tateyama memiliki masa berlaku 5 hari. Hal ini memungkinkan kita mengubah jadwal perjalanan. Namun karena besok kami berencana ke Shirakawago dan langsung ke Kyoto, kami tidak akan sempat lagi ke sana kecuali hari ini. Harga JR Tateyama sebesar 12 ribu yen, namun saat membelinya di Haneda kami mendapat promo sehingga hanya membayar 9000 yen. Untuk anak di bawah usia 6 tahun tidak dikenakan biaya. Anda bisa mengeceknya di www.jreast.co.jp/e/tateyama_kurobe atau www.alpen-route.com.

Saya akhirnya tetap berangkat dengan mata mengantuk. Kami naik kereta ke stasiun Shinano Omachi, lalu naik bus ke Ogizawa. Kami memasuki semacam outlet yang menyewakan baju hangat. Kami masuk ke semacam terowongan yang lebih mirip gua untuk naik cable car menuju Kurobedeira.

Saya melihat seorang pemandu berteriak-teriak mengumpulkan serombongan orang Indonesia  sementara saya, Nita dan Chichi mengantri di barisan pengunjung individu. Kami naik cable car yang cukup aneh. Sebab jalurnya adalah rel dengan anak tangga. Bentuk cable car-nya unik. Namun ada larangan mengambil foto.

Kami naik beragam moda transportasi dalam sehari. Kereta, cable car, bus yang melewati jalur dari dua gunung yang dilubangi, kereta gantung serta trolley bus dalam terowongan. Namun tidak perlu bingung. Semua sudah tercakup dalam tiket JR Tateyama. Anda tinggal mengikuti antrian.

Kami sampai di terowongan yang dingin. Saya menggigil sementara berjalan. Suhu udara yang terpampang pada termometer di dinding sekitar 11 derajat celsius. Pakaian saya yang paling tipis di antara Nita dan Chichi. Nita memakai berlapis-lapis pakaian tebal yang terdiri dari sweater dan jaket. Chichi memakai down jacket dengan tudung berbulu. Keduanya bersepatu. Saya hanya mengenakan selapis pakaian dan jaket biasa serta tetap setia dengan sandal gunung.

Untunglah saat kami keluar dari terowongan ternyata matahari bersinar cerah. suhu menjadi hangat. Mungkin sekitar 17 derajat. Saat kami berjalan, jaket-jaket tebal yang dikenakan orang-orang untuk suhu minus jadi agak berlebihan.

Kami berfoto di sisi dam. Berjalan menuju satu bukit pandang dengan salju yang mengeras. Saya memegang salju. Ternyata tidak begitu dingin, sodara-sodara.

Saya sempat mengobrol dengan rombongan lansia Jepang lalu kami saling gantian memotret. Kami mengantri lagi untuk naik kereta gantung, tiba di dinding es Murodo, berfoto lagi. Lalu setelah puas berfoto, kami mengantri bus yang membawa kami ke halte. Sepanjang jalan hanya ada salju dan orang bermain ski. Pemandangannya indah. Kami diangkut lagi dengan cable car yang berbeda seperti saat kami datang, hanya rutenya berbeda. Cable car ini dulunya dipakai mengangkut bahan-bahan pembuatan dam.

Masalah mulai timbul ketika kami menyadari bahwa paket JR Tateyama  ini menjauhi penginapan kami di Matsumoto. JR East kami sudah habis. Harga tiket shinkansen sekali jalan ke Matsumoto sekitar 800 ribu rupiah. Bus menuju Matsumoto sudah tidak ada.

Saya bertanya kepada petugas di stasiun lokasi ATM dengan logo kantor pos agar kami bisa mengambil uang dengan kartu debit Indonesia. Saya merasa tidak enak dengan dua teman perjalanan saya karena salah perhitungan. Tapi bagaimana lagi. Yang penting kami bisa pulang.

Saya memastikan arah dengan bertanya pada dua ibu lansia berusia sekitar 70 tahun. Mengetahui bahwa saya bisa berbahasa Jepang, mereka malah mengajak ngobrol. Yang seorang mengenakan topi lebar dan luar biasa ramah. Yang seorang lagi lebih pendiam.

Saya sudah lupa kanji, namun sedikit banyak saya mengerti pembicaraan keduanya. Beliau berdua berasal dari prefektur yang jauh usai berwisata. Mereka akan naik kereta yang berlawanan arah. Mereka menanyakan itinerary saya dan mengatakan bahwa pilihan-pilihan saya tepat. Mereka bertanya di mana saya belajar bahasa Jepang dan berkomentar bahwa bahasa Jepang saya lancar.

Saya tersenyum. Seminggu lebih di Jepang mau tidak mau saya terlatih. Tapi sebenarnya saya tetap kesulitan menangkap setiap kata yang diucapkan lawan bicara saya. Ya ampun, dosen-dosen saya di kampus dulu tidak ada yang berbicara secepat itu. Pemilik penginapan dan kebanyakan orang yang saya temui juga tidak.

Kereta datang. Ibu tadi mengucapkan kata-kata perpisahan, membungkuk sedikit  dan berpamitan. Saya melakukan hal yang sama. Di pintu kereta keduanya membungkuk lagi, tersenyum sementara pintu kereta menutup dan berlalu. Kami saling melambaikan tangan.

Jepang memiliki piramida penduduk terbalik. Warga seniornya lebih banyak dari generasi mudanya. Di jepang, usia 70-80 tahun rata-rata masih sehat, produktif, dan tetap keren. Contohnya dua ibu tadi.

Iklan

Tentang Nurbaiti-Hikaru

Hikaru adalah nama pena dari Nurbaiti, kelahiran Jakarta, 8 Mei 1982. Menyelesaikan S1 nya dari Universitas Pendidikan Indonesia (UPI), Bandung jurusan Pendidikan Bahasa Jepang serta memiliki lisensi perencanaan keuangan dari Financial Planning Standard Board Indonesia. Mulai menulis sejak SMP dan menghasilkan belasan buku. Esainya masuk semi final dalam lomba menulis esai tingkat nasional yang diadakan oleh Kementrian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif tahun 2014. Karya-karyanya juga masuk final dalam lomba menulis tingkat nasional yang diadakan oleh Penerbit Bitread, Padmagz Magazine serta Elex Media Komputindo. Saat ini sebagai seorang manager di sebuah perusahaan asing dan Danus FLP Pusat. Hikaru juga salah satu wakil Indonesia dalam workshop Majelis Sastra Asia Tenggara (Mastera) Novel tahun 2016. Kontak dengan penulis via email: nurbaiti.hikaru@gmail.com
Pos ini dipublikasikan di Uncategorized. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s