Catper Jepang 16: MENJADI BAGIAN SEJARAH MATSUMOTO


Saya berdiri di simpang jalan. Satu tangan memegang peta sementara sebelah lainnya memegang pinggiran koper. Cuaca cerah di Matsumoto, cocok untuk berjalan-jalan. Trotoarnya lebar, bersih serta lenggang. Matsumoto adalah kota pegunungan berhawa sejuk dan tenang di prefektur Nagano, Jepang.

 

Di Matsumoto Castle

Seorang pria berusia 70-an berjalan melewati saya. Ia mengenakan jas dan topi lebar yang sangat Eropa. Jalannya masih gagah. Langkahnya terhenti ketika matanya melihat saya kebingungan. Ia berbalik mendekat.

May I help you?” tanyanya sopan. Saya yang masih sibuk menentukan arah terbengong-bengong. Orang Jepang jarang berbahasa Inggris. Pengucapannya pun biasanya terdengar aneh. Tapi bahasa Inggris kakek ini sangat bagus.

Suasana Shinshuu University, dulu

Saya dengan cepat menguasai diri. “Ya, saya ingin pergi ke tempat bersejarah di kota ini. Katanya itu sekolah tertua yang luput dari serangan bom saat Perang Dunia ke dua.” Saya menjawab dalam bahasa Jepang. Kali ini giliran kakek tersebut yang terkejut.

“Kebetulan, saya juga mau ke sana. Mari kita pergi sama-sama,” ajaknya yang saya sambut dengan suka cita.

Where are you come from?” tanyanya. Ini pertanyaan standard.

Biasanya ketika saya solo traveling ke negara lain, saya menggunakan bahasa Inggris. Tapi seminggu terakhir ini saya lebih banyak berbahasa Jepang.

“Indonesia,” jawab saya.

Kakek tadi tampak senang. “Indonesia? Saya pernah tinggal di sana.”

“Sungguh?” Rasanya dunia terlalu sempit.

Kakek tadi mengangguk. “Tahun 70-an, masih presiden Soeharto. Saya staf Japan Foundation. Saya pernah berpidato di Senayan. Saya ingat saat itu berkata, ‘Tuan-tuan dan Puan-puan’….”

Saya tersenyum. Bahasa lama. Orang ini sudah lebih dulu tahu Jakarta bahkan sebelum saya lahir.

Kami berkenalan dan menyebutkan nama masing-masing. Nama kakek itu Eiji Seki. Sebagai penghormatan, saya menambahkan kata Sama –bukan San– di belakang namanya. Jadilah sepanjang 2 kilo meter kami berjalan sambil mengobrol dalam 3 bahasa. Indonesia, Inggris dan Jepang.

“Bahasa Inggris anda sangat bagus,” puji saya tulus.

“Saya pernah tinggal lama di London. Anak saya sekarang masih di sana. Tahun depan saya ke sana lagi.”

Pantas saja,’ pikir saya maklum. Bahasa Inggrisnya tanpa aksen Jepang sama sekali.

“Apakah anda guru?” tanya saya kembali. Mungkin saya harus memanggilnya Sensei.

“Bukan, saya bukan guru.”

Mungkin diplomat,’ pikir saya lagi. Tadi ia mengatakan bahwa dirinya akan pergi ke sekolah tersebut karena ada acara tari-tarian, persembahan pertunjukan dan lain-lain. Saya pikir itu semacam pesta kelulusan atau perpisahan anak-anak SMP.

Pertanyaan saya terjawab begitu kami sampai di sekolah yang dimaksud. Bangunan sekolah itu tampak tua, namun terawat baik. Seandainya aula ini pernah dipugar, bentuk bangunannya sepertinya dipertahankan sesuai bentuk aslinya. Jejeran pohon tinggi di situ mungkin sudah berusia satu abad. Menciptakan kanopi teduh sepanjang jalan masuk. Bangunan yang kini dipakai para siswa sekolah menengah rupanya dulu adalah sekolah berasrama yang berdiri sejak abad ke-18. Mungkin dulu semacam diploma atau sekolah dinas sebelum menjadi Shinshu University. Saya kurang tahu pasti. Keterangan pada brosur Matsumoto hanya menuliskan tempat ini sebagai ‘Histotic former Matsumoto high school’.

Saya dan Eiji Sama

Bangunan bersejarah ini sekarang dipakai sebagai ruang kelas

Saya siap pergi begitu tahu acara yang dimaksud ternyata ukan perpisahan anak-anak SMP seperti yang saya bayangkan sebelumnya. Melainkan acara reuni 50 tahun alumni Shinshu University.

“Tidak apa-apa,” kata Eiji Sama melihat saya berbalik. “Be my guest,” lanjutnya. Lalu ia bicara pada panitia agar saya diperbolehkan masuk.

Saya merasa sungkan. Kami baru bertemu beberapa puluh menit yang lalu dan tiba-tiba saya hadir dalam reuni akbar yang mengharuskan konfirmasi undangan serta biaya 3500 yen per orang.

Eiji Sama mempersilakan saya masuk setelah membayar untuk kami berdua. Saya menerima goodie bag dan tanda pengenal. Saya mengisi daftar hadir, menuliskannya dalam katakana. Panitia mencari kursi tambahan.

Eiji Sama memperkenalkan saya pada teman-temannya. Kami duduk dalam satu meja yang masing-masing diisi 6-7 orang. Suasananya mirip jamuan makan perusahaan, hanya saja ini siang hari.

“Ini kawan baik saya,” Eiji Sama mengenalkan saya pada seseorang yang baru datang. “Kami kuliah S1 dan S2 di Todai. Saya ke London dan dia melanjutkan ke Perancis.”

Kawan baik Eiji Sama tersenyum ramah dan menyapa saya dalam bahasa Inggris.

“Teman baik sampai di Todai?” tanya saya.

“Ya,” Eiji Sama mengangguk. “Alumni sekolah ini kebanyakan melanjutkan ke Todai.”

“Oh…,” saya mengangguk. ‘Orang-orang pintar,’ pikir saya. Todai, Tokyo Daigaku, Universitas Tokyo. Itu universitas top di Jepang.

Selama satu setengah jam berikutnya saya sibuk memotret, mengabadikan setiap sambutan, tarian persembahan dan lagu-lagu mars yang tidak saya pahami. Saya membolak-balik buku syair lagu dengan lagak sok tahu. Mengamati deretan huruf kanji yang tidak lagi saya ingat.

Makanan dihidangkan. Saya memakan buah, sayur, nasi dan tahu serta menghindari makanan lainnya. Meminum jus lalu sambil menyingkirkan bir ke pinggir.

Saya berpamitan pada Eiji Sama sebelum acara selesai. Ada jadwal bus yang harus saya kejar.

“Terima kasih untuk semuanya,” saya membungkuk sedikit, melakukan ojigi, membungkukkan badan ala Jepang. Saya juga berpamitan pada kawan baik Eiji Sama san yang lainnya. Eiji Sama menyobek sebuah kertas dan meninggalkan alamat, email serta no teleponnya, mempersilakan saya menghubunginya jika datang ke Jepang kembali.

Saya keluar dari ruangan dengan beragam perasaan. Sebagian diri saya merasa kehilangan seorang teman yang baru saja saya dapatkan. Sebagian lainnya merasa sangat beruntung.

Saya hadir dalam reuni akbar sekolah paling bersejarah di seluruh Matsumoto.

Lima puluh tahun lalu mereka lulus dari sekolah ini. Itu bahkan berpuluh tahun sebelum saya lahir.

Oh ya, karena acara itu juga diliput wartawan. Saya menduga kalau acara tersebut akan masuk koran lokal keesokan harinya.

Karena saya satu-satunya yang berjilbab di situ, mungkinkah foto saya akan terpampang dan menarik perhatian? Ng…, mungkin dengan headline: “Seorang pelancong dari Indonesia nyasar ke reuni akbar sekolah tertua di Matsumoto?”

Yah.., siapa tahu? 🙂

 

Iklan

Tentang Nurbaiti-Hikaru

Financial advisor yang suka nulis dan bertualang. Menyelesaikan S1 nya dari Universitas Pendidikan Indonesia (UPI), Bandung jurusan pendidikan Bahasa Jepang serta memiliki lisensi perencanaan keuangan dari Financial Planning Standard Board Indonesia. Coachee di program Money Coaching EHI (Emotional Healing Indonesia) Berkecimpung di berbagai organisasi dan menghasilkan belasan buku sejak SMP. Saat ini sebagai Unit Manager di PT. Prudential Life Insurance. Anggota Persatuan Sastrawan Muslim Sedunia, Pendiri yayasan sosial Ibnu Syam, serta pengurus pusat Forum Lingkar Pena (FLP), divisi Bisnis dan Dana Usaha. Kontak dengan penulis via email: nurbaiti.hikaru@gmail.com
Pos ini dipublikasikan di SERI PERJALANAN, Uncategorized dan tag , , , , , . Tandai permalink.

2 Balasan ke Catper Jepang 16: MENJADI BAGIAN SEJARAH MATSUMOTO

  1. Milda Ini berkata:

    saya membacanya dan berdoa suatu saat kelak, saya atau anak cucu saya bisa ahdir , datang ber munajat di Jepang. aamiin

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s