SOLO BACKPACKING KASEPUHAN CIPTAGELAR


Ketika suara serangga terdengar makin keras, saya sadar kami sudah jauh masuk ke dalam hutan. Saat melalui tanjakan curam yang membuat saya takut terjatuh, tiba-tiba saya ingat satu adegan dalam film Doraemon Stand By Me, ketika Shizuka mengajak Nobita naik gunung dan Nobita menjawab: “Aku mau naik gunung kalau jalannya datar.”

Selama satu setengah jam saya menempuh jalur Ciptarasa dengan ojek lokal yang saya sewa. Suara decit rem menyakitkan telinga saat kami melewati turunan tajam. Sementara saat jalurnya terlampau menanjak, saya terpaksa turun dan berjalan kaki. Siapa suruh menempuh 20-an kilometer jalur off road dengan sepeda motor matic?

Saya pikir perjalanan selesai ketika saya sampai di Imah Gede Ciptarasa. Nyatanya setelah magrib, saya kembali terguncang-guncang sepanjang 9 kilometer berikutnya menuju Kasepuhan Ciptagelar, tempat tinggal Abah Ugi, anak almarhum Abah Anom yang terkenal.

Untuk ukuran desa adat, Ciptagelar termasuk modern. Mereka punya turbin pembangkit listrik tenaga air sendiri. Abah Ugi, pemimpin adat kasepuhan saat ini hobi bermain drone, bahkan lalu membuat drone sendiri dan mengajarkannya. Kampung ini juga punya stasiun radio dan stasiun televisi lokal yang tayang 24 jam. Meskipun penduduk Ciptagelar hanya panen sekali setahun, lumbung padi mereka cukup untuk persediaan pangan 3-5 tahun ke depan. Akses internet juga bukan sesuatu hal yang aneh di sini. Tergantung provider mana yang anda pakai.

Ketika saya datang, sebuah tenda besar dipasang di tanah lapang. Pita dan balon berwarna-warni menghiasi panggung serta Imah Gede. Tidak, ini bukan seren taun. Ini adalah perayaan ulang tahun Aden, anak Abah Ugi yang ke delapan.

Omong-omong tentang ulang tahun, saya jadi berpikir. Orang macam apa yang menghadiahkan ‘perayaan’ hari lahirnya dengan backpacking sendirian ke kawasan Gunung Halimun? Yah, orang macam saya inilah. Halo Aden, hari lahir kita terpaut satu hari.

IMG_20170507_202448

Saya dipersilakan masuk ke Imah Gede. Imah Gede adalah pusat segala aktivitas di kawasan ini. Abah Ugi sedang dikelilingi para baris kolot –semacam para mentri- mereka semua memakai pakaian hitam dan mengenakan ikat kepala bermotif. Beberapa wanita yang hilir mudik di situ mengenakan kebaya atau atasan biasa, namun bawahannya mengenakan kain yang dililitkan. Orang sini menyebutnya sinjang.

IMG_20170507_205056

Di Imah Gede Ciptagelar. Sementara para orang tua menghibur diri menonton dangdut di panggung, anak-anak menonton film  Disney ‘Moana’ melalui proyektor

Baiklah, ini pelajaran pertama. Saya salah kostum. Seharusnya saya tidak memakai rok. Lain kali saya harus membawa kain.

IMG_20170508_065001

Imah Gede Ciptagelar, dan seorang ibu yang memakai sinjang

Baru beberapa menit saya duduk agak di pojok, seorang ibu cantik menyapa saya, menyuguhkan minuman, 2 piring kue-kue dan menawari saya makan. Ini adalah Imah Gede –rumah besar- semua yang masuk ke sini pasti dijamu. Dapur di sini selalu sibuk selama 24 jam menyiapkan hidangan. Makanan mengalir tanpa henti. Kamar-kamar disiapkan secara gratis untuk bermalam.

Penduduk Ciptagelar tahu benar bahwa perjalanan menuju kampung mereka terbilang sulit. Keramahan mereka seolah penyembuh luka dan pengobat lelah. Sesuatu yang membuat anda merasa disambut. Keramahan yang membuat saya merasa bangga menjadi Indonesia. Ciptagelar adalah pelarian yang sempurna dari Jakarta yang gaduh.

Saya pernah berkunjung ke tempat-tempat yang lebih indah. Namun dengan rute perjalanan seperti tadi, perjalanan kali ini adalah salah satu perjalanan paling gila yang pernah saya lakukan.

Kasepuhan Ciptagelar sangat luas. Perwakilan kampungnya saja sekitar 500 orang. Total penduduknya sekitar 39 ribu jiwa. Jadi kepala adat di situ, agak mirip “raja kecil” menurut saya.

Dengan jumlah penduduk sebanyak itu, tak heran pembangunan jalan berbatu menuju desa mereka hanya memakan waktu tiga hari saja. Padahal jalan batu tersebut melintasi Gunung Halimun. Katanya, masing-masing orang memakai cangkul dan mendapat jatah pengerjaan jalan sepanjang satu meter.

Untuk menggambarkan rute menuju Ciptagelar, bayangkan jalur di Taman Bunga Cibodas Bogor, atau jalur berkelok Bandung-Tasikmalaya, atau jalur Padang-Bukit Tinggi. Kemudian gantilah jalan beraspal halus dengan batu-batu kali tajam ukuran sedang plus tanah liat licin. Ganti cuaca cerah dengan hujan deras lalu tambahkan kabut serta kegelapan malam di akhirnya. Maka anda akan mendapatkan puluhan kilometer perjalanan sambil komat-kamit melantunkan doa dan pertanyaan dalam hati kapan perjalanan ini akan berakhir.

Bersabarlah selama 3 jam. Barulah anda akan bisa menarik napas lega dan menenangkan detak jantung setelah turun dari motor.

Tadinya saya berencana untuk hiking menuju Ciptagelar yang akan memakan waktu sekitar 6-7 jam perjalanan. Namun berbeda dengan bayangan saya semula. Tidak ada tamu atau pendaki lain yang saya temui di jalan. Lagipula, saya sampai Sukawanaya ketika hari sudah sore. Cukup sudah berjalan sendirian di hutan Gunung Salak tengah malam waktu pelantikan Pramuka SMP. Saya malas mengulangnya sekarang. Lagipula, toh besok saya pulang. Saya harus menghemat tenaga.

Maka saya mengubah rencana perjalanan menjadi menggunakan jasa ojek. Tarif dari Sukawanaya-Ciptarasa sekitar 100 ribu sekali jalan. Jika sampai Ciptagelar 150 ribu sekali jalan. Tarif ini bisa lebih tinggi jika perjalanan malam hari. Jika naik dari Pelabuhan Ratu, tarifnya mungkin akan berlipat. Ongkos perjalanan paling mahal memang untuk ojek ini. Tapi bisa dibilang, ini adalah opsi terbaik untuk sampai ke Ciptagelar.

Saya mengobrol dengan beberapa baris kolot dan tamu-tamu lain yang ada di Imah Gede. Sebagai seorang tamu, saya juga memperkenalkan diri pada Abah Ugi dan Emak Alit, istri beliau serta meminta izin untuk bermalam di kasepuhan.

Aji, seorang mahasiswa IPB yang sedang melakukana penelitian dan seorang pemuda lain memberitahu saya cara bersalaman yang benar kepada Abah Ugi dan Emak Alit. Namun pada saatnya, tetap saja saya salah mempraktekkannya.

Saya salat di mushala desa lalu membeli semangkuk bakso lezat di tepi lapangan. Sesungguhnya makanan di Imah Gede berlimpah dan semua orang dipersilakan makan di sana. Namun siapa yang dapat menolak godaan semangkok bakso urat hangat di tengah udara pegunungan, terutama setelah menempuh 10 jam perjalanan dan baju basah kehujanan?

Ternyata pedagang bakso di Ciptagelar hanya berdagang saat ada acara tertentu saja. Tadinya saya pun hanya bermaksud sampai Ciptarasa, namun kebetulan ada kerabat Pak RW yang akan pergi ke Ciptagelar sehingga saya bisa ikut menumpang. Jadi bisa dibilang, saya memang beruntung.

Malam itu saya menginap di rumah Kang Yoyo, juru bicara desa yang biasa menyambut tamu-tamu asing. Saya tahu Kang Yoyo sebelumnya lama menghabiskan waktu di Kanada dan beberapa negara lain. Namun yang membuat saya terkejut adalah, ternyata kami alumni kampus yang sama, bahkan satu fakultas. Saya jurusan bahasa Jepang dan Kang Yoyo jurusan seni. Beliau sebelas angkatan di atas saya.

Esoknya. Untuk pertama kalinya dalam hidup saya belajar memanen padi di sawah Kang Yoyo. Saya belajar menggunakan ani-ani atau ketam, semacam pisau dengan sumbu yang diletakkan di antara jari manis dan jari tengah. Orang setempat menamakan aktivitas ini ‘ngetem’.  

“Sepuluh senti di bawah daun pertama,” ujar istri Kang Yoyo mengajarkan. “Jangan ambil padi yang masih hijau,” tambahnya lagi.

 

Penduduk Ciptagelar sangat menghormati padi. Bahkan jika kita salah memotong batang padi yang ternyata kosong, batang tersebut tidak boleh dibuang. Padi, beras, dan nasi tidak boleh diperjualbelikan. Saya pertama kali mengetahui hal itu di Ciptarasa saat mencari makan malam, dan tidak ada satu warung nasi pun di kampung itu.

Jika anda lapar, pergi saja ke Imah Gede atau minta saja pada penduduk sekitar. Begitu informasi yang saya dapatkan kemarin dari Bu RW.

Saya meringgis. Saya tidak membiasakan diri menerima sesuatu secara gratis, dan meminta makanan bagi saya pribadi adalah hal yang tabu. Namun begitulah salah satu aturan yang berlaku di kasepuhan. Padi adalah kehidupan. Menjual padi dan segala olahannya berarti menjual kehidupan. Jika sudah begitu, apalagi yang tersisa dari manusia?

Penghormatan warga Ciptagelar terhadap segala sesuatu yang berhubungan dengan padi juga tercermin dalam tata cara mereka mengolah sawah. Mereka hanya menanam benih lokal. Sekitar 160 varietas padi warisan leluhur. Mereka membatasi penggunaan pupuk kimia cuma sekali saja pada awal musim tanam. Mereka melarang traktor dan menggunakan kerbau untuk membajak sawah. Mereka hanya panen sekali setahun untuk memberikan kesempatan pada bumi untuk memulihkan diri. Memaksa tanah untuk panen 3-4 kali setahun seperti memaksa seorang ibu melahirkan 3-4 kali dalam dalam setahun. Itu bukan sinergi, tapi eksploitasi.

 

Sampai tengah hari, saya hanya berhasil mengumpulkan 3,5 ikat padi. Aji tampaknya juga tidak jauh berbeda. Sambil memandang sekeliling saya berkata pada Aji bahwa tadinya saya membayangkan suasana panen raya yang penuh orang. Aji mengatakan bahwa hal itu sudah ia saksikan jumat sebelumnya di sawah Abah Ugi. Orang-orang panen sambil bernyanyi diiringi angklung. Mendadak saya teringat lagu ‘Potong Padi’. Sebuah romansa yang saya rindukan. (Video kiriman Aji dan video suasana dalam hutan saya posting di akun instagram dan youtube saya. @Nurbaitihikaru)

Saya dan Aji berpamitan selepas tengah hari. Perjalanan saya masih panjang dan Aji harus meneruskan penelitiannya.

Saya bertemu ibu cantik yang semalam menyapa saya di Imah Gede. Kebetulan anaknya juga akan pergi ke kota. Saya lalu dibantu dicarikan pengemudi ojek setempat. Setelah berpamitan pada Abah Ugi, kami berangkat.

Belakangan saya tahu, ibu cantik yang ramah itu adalah bibi Abah Ugi. Anaknya, Tyas, adalah bidan di puskesmas kota. Sedangkan suaminya, Kang Andy, rupanya seorang seniman adik kelas saya di kampus.

Nama Halimun memang tepat sebagai nama gunung di kawasan ini. Sebab, saat kami menuju Ciptarasa, kabut turun menutupi jalan meskipun saat itu sekitar pukul satu siang. Hujan deras turun dan memaksa kami berteduh di salah satu saung yang ada di dalam hutan. Kami mengobrol dan menjadi lebih akrab.

IMG_20170509_213720_414

Kang Andy dan Tyas

Kami kembali berhenti di Ciptarasa karena hujan deras kembali turun. Kang Andy dan Tyas menyuguhkan makanan dan minuman hangat. Kami berdiang di depan tungku. Kami berbicang sambil sesekali menambahkan kayu bakar. Kang Andy dan Tyas rupanya baru menikah beberapa minggu yang lalu. Saya senang mendengar cerita keduanya. Cerita tentang adat kampung mereka, hingga kisah cinta keduanya. Kami makan, tersenyum dan tertawa bersama. Seolah kawan lama yang sudah saling kenal selama bertahun-tahun.

IMG_20170508_144213

Imah Gede Ciptarasa saat hujan. Dulu merupakan tempat tinggal almarhum Abah Anom

Saya perhatikan, Abah Ugi dan keluarganya memang tidak memberikan jarak atau berlagak kuasa. Mereka duduk, bekerja dan bersama penduduk lainnya. Meski tentu saja ada beberapa hal yang membuat mereka istimewa. Kehadiran para pengasuh misalnya.

Di kasepuhan, jika dulu orang tuanya pengasuh keturunan abah, maka anaknya juga akan menjadi pengasuh keturunan abah selanjutnya. Garis profesi diturunkan dari satu generasi ke generasi selanjutnya. Demikianlah yang terjadi di kasepuhan selama berabad-abad.

Sebagai sepupu abah Ugi, Tyas menyadari, bahwa kelak ia akan berperan seperti ibunya sekarang. Menjadi salah satu penasihat ketua adat berikutnya jika saatnya tiba. Suatu tanggung jawab yang harus dipikulnya, membuatnya menerima pinangan Kang Andy yang sesungguhnya berasal dari Jogja dan orang tuanya adalah abdi dalem keraton. Dua orang yang sama-sama terikat dalam tradisi dan saling mencintai.

Kami meneruskan perjalanan sekitar pukul setengah lima sore setelah hujan berhenti. Pengemudi ojek saya sebelumnya tidak dapat mengantarkan saya ke tujuan berikutnya. Jadilah Tyas menyuruh adiknya mengantarkan saya. Kami berpisah di Sukawanaya. Tyas mewanti-wanti adiknya agar saya diantarkan sampai mendapat bus menuju Sukabumi. Sebab bus Bogor terakhir hanya sampai pukul lima sore.

Saya menaikkan tudung jaket seraya berpikir. Perjalanan ini indah. Jalan rayanya halus. Hutan di kiri dan Pantai Citepus di kanan. Halimun dan Pelabuhan Ratu. Gunung dan pantai dalam satu kawasan yang berdekatan.

Sambil melaju di atas motor saya bersyukur. Kalau bukan Tyas yang meminta, saya mungkin tidak bisa pulang hari ini. Saya tentu segan meminta tolong. Rasanya kok ya tidak sopan. Sudahlah saya tamu, baru kenal, menumpang menginap gratis di rumah abah –rumah tinggal Kang Yoyo sesungguhnya juga rumah Abah Ugi juga-, masak masih merepotkan sepupunya menjadi “pengemudi ojek” dadakan untuk saya, coba?

Meski demikian saya menerima kebaikan hati tersebut dengan rasa syukur dan suka cita. Merasakan kehangatan jalinan persahabatan yang baru dibangun sebagai sebuah keberuntungan.

Yah, anggap saja kado ulang tahun.

Iklan

Tentang Nurbaiti-Hikaru

Hikaru adalah nama pena dari Nurbaiti, kelahiran Jakarta, 8 Mei 1982. Menyelesaikan S1 nya dari Universitas Pendidikan Indonesia (UPI), Bandung jurusan Pendidikan Bahasa Jepang serta memiliki lisensi perencanaan keuangan dari Financial Planning Standard Board Indonesia. Mulai menulis sejak SMP dan menghasilkan belasan buku. Esainya masuk semi final dalam lomba menulis esai tingkat nasional yang diadakan oleh Kementrian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif tahun 2014. Karya-karyanya juga masuk final dalam lomba menulis tingkat nasional yang diadakan oleh Penerbit Bitread, Padmagz Magazine serta Elex Media Komputindo. Saat ini sebagai seorang manager di sebuah perusahaan asing dan Danus FLP Pusat. Hikaru juga salah satu wakil Indonesia dalam workshop Majelis Sastra Asia Tenggara (Mastera) Novel tahun 2016. Kontak dengan penulis via email: nurbaiti.hikaru@gmail.com
Pos ini dipublikasikan di SERI PERJALANAN, Uncategorized dan tag , , , , , , , . Tandai permalink.

2 Balasan ke SOLO BACKPACKING KASEPUHAN CIPTAGELAR

  1. Yusuf Muhammad berkata:

    Seharusnya memang gitu, menjaga tradisi bukan berarti harus menutup diri dari teknologi secara total.. Kasihan kan..

    Saya teringat pembicaraan dosen saya tentang kampung Badui.. Mereka tertinggal dan mereka sengsara karena “ketertinggalan” mereka.. Bertani sudah tidak seperti dulu yang bisa panen besar tanpa harus diberi pupuk, tetapi mereka juga tak punya uang banyak untuk membeli pupuk..

    Dulu tradisi mereka adalah barter. Tapi barter hanya tinggal cerita, pada akhirnya mereka butuh uang untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari mereka.. Tapi apa daya, mereka juga tidak memiliki sumber daya yang baik untuk menghasilkan uang.. Pada akhirnya Badui luar mengembara untuk menjual madu demi mendapatkan uang..

    Disukai oleh 1 orang

    • Nurbaiti-Hikaru berkata:

      Saya sudah pernah ke Baduy Dalam dan Baduy Luar 2 tahun lalu. Pada akhirnya memang mereka sekarang menerima uang, berjualan madu, durian, atau menjadi ‘pemandu’ dan ‘porter’ dadakan. Mereka tidak pasang tarif, tapi jika diksh, mereka terima.
      Orang-orang Baduy Dalam relatif lebih polos dan ‘nrimo’.

      Disukai oleh 1 orang

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s