REVIEW FILM SWEET 20


Sweet 20

Saya jarang ke bioskop kecuali ada film yang benar-benar menarik. Ketika pertama kali melihat trailer film Sweet 20, saya bahkan tidak tahu bahwa itu adalah film adaptasi Miss Granny yang meledak di Korea. Saya tertarik karena lagu ‘Payung Fantasi” yang dinyanyikan Tatjana Saphira membuat saya terkenang dengan kuis “Siapa Dia” di TVRI pada tahun 80-an. Ceritanya juga mengingatkan saya dengan sebuah serial TV NHK yang pernah saya tonton. Saya tidak tahu judulnya. Tapi isinya tentang seorang nenek yang kembali menjadi muda setelah bertemu dengan siluman kucing dan memberinya kesempatan ke dua.

“Mungkin film ini tentang hal itu,” pikir saya. Apalagi film Sweet 20 tayang saat lebaran. Momen untuk membuka lembaran baru.

Nyatanya, yang membuat saya lebih penasaran dengan film ini adalah deretan nama pemainnya. Sebut saja Slamet Rahardjo, Niniek L. Karim dan Widyawati yang menurut saya termasuk “pemilih” untuk terlibat dalam sebuah film.

Dari generasi setelahnya ada Lukman Sardi dan Cut Mini. Serta Tatjana Saphira dan Morgan Oey. Saya penasaran juga melihat Tatjana yang biasanya pendiam tampil centil dan cukup “gila” di film ini. Lihat saja trailernya ketika ia dengan luwes ikut bergoyang dalam sebuah kelompok dangdut jalanan sementara lagu “Terong Dicabein” diputar sebagai latar belakang.

Film Sweet 20 sendiri bercerita tentang Fatmawati (Niniek L. Karim) yang sering berselisih paham dengan menantunya (Cut Mini) hingga pada satu saat ia akan dikirim ke panti jompo. Lewat sebuah studio foto misterius, ia kembali menjadi Fatmawati muda yang diperankan oleh Tatjana Saphira. Seorang nenek dengan segala pola pikir dan gaya jadulnya, namun dalam tubuh seorang wanita berumur 20 tahun.

Sebagai sebuah film keluarga, Sweet 20 menyuguhkan cerita yang apik. Unsur drama komedi dengan dialog-dialog yang segar, lengkap dengan permasalahan sehari-hari di keluarga yang diangkat menjadi tema. Seorang anak yang cita-citanya tidak didukung orang tua, serta hubungan menantu-mertua. (ekspresi Cut Mini yang tertekan dan diam-diam makan hati saat adegan di dapur menurut saya patut dipuji).

Slamet Rahardjo, Niniek L. Karim, dan Widyawati? Jangan ditanya. Akting mereka membawa penonton dalam romansa cinta para lansia. Favorit saya adalah adegan di kelas dansa ketika mereka sampai cakar-cakaran. Semua adegannya bisa dipercaya. Tidak ada dialog dan akting yang berlebihan.

Tatjana sendiri membuktikan dirinya sebagai aktris serba bisa. Kalau soal vokalnya saat menyanyi tentu tidak mengherankan. Sebab ia sudah melakukan akting serupa dalam sebuah seri drama musikal di salah satu stasiun TV. Sosok centilnya saat menyanyikan lagu “Payung Fantasi” membuat anda merasakan keceriaan. Sebaliknya, penghayatan Tatjana saat menyanyikan lagu “Layu Sebelum Berkembang” dan “Bing” mungkin akan membuat anda menahan napas, menelan ludah, terkesima dan terharu.

Saat tertangkap basah oleh Alan di panggung, serta adegan makan malam di restoran ketika ia mengaku sepantaran dengan cucunya. Melihat ekspresinya, Tatjana ternyata kocak juga.

Yang membuat saya kagum adalah, ketika melihat gesture-nya, saya benar-benar membayangkan bahwa Niniek L. Karim memang akan melakukan ini dan itu. Semua aktingnya meyakinkan. Dari Fatmawati muda yang polos dalam foto hitam putih hingga Fatmawati muda edisi “kekinian”.

Tidak hanya cerita dan kualitas akting para pemainnya saja. Lagu-lagu yang disuguhkan dalam film ini asyik untuk dinikmati. Tidak hanya oleh ibu anda (atau nenek anda?) tapi juga anda sendiri. Bahkan jika setelahnya anda menyenandungkan lagu “Payung Fantasi” atau “Selayang Pandang” tanpa sadar, saya tidak akan heran. Saya juga mengalaminya.

(Omong-omong, Tatjana ketika rambut pendek dan model rambut tertentu, kenapa saya melihatnya mirip Chelsea Islan ya? Dan penyanyi lagu Selayang Pandang di film ini ternyata bukan Chakra Khan, tapi Gugun Blues Shelter sodara-sodara. :D)

Rasanya tidak berlebihan jika di akhir trailer film ini tertulis “Tawa dan Tangis di 25 Juni.” Film ini sungguh-sungguh melakukannya. Menontonnya bisa membuat anda meledak tertawa atau diam-diam menghapus air mata. Belum lagi endingnya…. Ups, simpan bagian terbaiknya belakangan. Saya tidak akan membocorkan kejutannya. Anda harus menontonnya sendiri.

Dengan label 13+ film ini cukup aman ditonton bersama keluarga. Rating saya untuk film ini: 8 dari 10.

Iklan

Tentang Nurbaiti-Hikaru

Financial advisor yang suka nulis dan bertualang. Menyelesaikan S1 nya dari Universitas Pendidikan Indonesia (UPI), Bandung jurusan pendidikan Bahasa Jepang serta memiliki lisensi perencanaan keuangan dari Financial Planning Standard Board Indonesia. Coachee di program Money Coaching EHI (Emotional Healing Indonesia) Berkecimpung di berbagai organisasi dan menghasilkan belasan buku sejak SMP. Saat ini sebagai Unit Manager di PT. Prudential Life Insurance. Anggota Persatuan Sastrawan Muslim Sedunia, Pendiri yayasan sosial Ibnu Syam, serta pengurus pusat Forum Lingkar Pena (FLP), divisi Bisnis dan Dana Usaha. Kontak dengan penulis via email: nurbaiti.hikaru@gmail.com
Pos ini dipublikasikan di Uncategorized. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s