CATATAN PERJALANAN NEPAL #7 KELUARGA BARU DARI KASHMIR


“Kaki kamu pasti sakit sekali sekarang,” kata Sumi keesokan harinya.

Saya hanya tertawa. Mr. Ghulan sudah pergi ke toko. Televisi di ruang tamu menyala, menyiarkan berita dalam bahasa Hindi. Kami berdua telah selesai sarapan. Croisant dan teh susu. Belakangan saya tahu resepnya berbeda. Teh susu untuk saya diberi gula. Sedang untuk Sumi dan ayahnya diberi garam.

Usai sarapan saya membantu Sumi memasak. Kami mengemas makanan dalam wadah dan berjalan kaki ke toko. Saya mengambil ATM, membeli tambahan pulsa 200 rupee untuk menghubungi Jyoti dan Sarmilla.

Saya tidak punya banyak kegiatan hari ini. Daripada menambah rasa nyeri pada kaki saya, lebih baik saya ikut membantu menjaga toko. Saya bertanya barang-barang apa yang ada di toko.

IMG_20170820_082041_408

Majalah Jerman yang memuat tentang ayah Mr. Ghulan

“Itu apa?” saya menunjuk potongan berita dalam bahasa Jerman yang dipigura dengan sebuah foto di dalamnya.

“Itu ayah saya saat menerima penghargaan sebagai pembuat karpet terbaik di seluruh India. Berita itu dimuat dalam sebuah majalah di Jerman ketika ia menerima penghargaan dari Indira Gandhi.”

“Wow.”

“Keluarga kami membuat karpet secara turun temurun di Kashmir.”

“Oh ya?” saya kaget. “Ceritakan pada saya tentang Kashmir.”

“Oh, saya bisa bercerita banyak,” kata Mr. Ghulan seraya mengeluarkan puluhan foto dan sebuah tulisan yang dilaminating. Potongan koran yang memuat kisah Chris Chadwell, seorang botanist asal Inggris. Di baliknya, Chris merekomendasikan Mr. Ghulan sebagai pemandu yang bisa dipercaya. Di bawahnya juga ada keterangan penghargaan yang diterima oleh Mr. Ghulan karena telah membantu mengumpulkan banyak tanaman Himalaya untuk penelitian. Penghargaan tersebut didapatnya dua tahun berturut-turut.

IMG_20170820_082513_563

Week end telegraph yang memuat tentang Chris Chadwell

IMG_20170818_162337

Chris Chadwell masih berteman dengan Mr. Ghulan dan keluarganya hingga sekarang

IMG_20170820_082132_884

Testimoni Chris Chadwell untuk Mr. Ghulan

 

IMG_20170820_082354_062

Penghargaan untuk Mr. Ghulan

 

Baiklah.

Jadi saya tinggal dengan seorang yang merintis usaha karpet dari bawah, seorang pemandu Himalaya yang berjasa pada ilmu pengetahuan dan bersahabat dengan seorang botanist kerajaan Inggris, yang ayahnya pembuat karpet terbaik di seluruh India?

Sebuah kebetulan yang manis, bukan?

Saya juga baru tahu kalau Mr. Ghulan ternyata buta huruf. Ia tidak bisa membaca dan menulis. Hal yang cukup umum mengingat kondisi Kashmir pada masa lampau yang tidak memungkinkannya untuk bersekolah. Mr. Ghulan belajar berhitung dan bahasa Inggris secara otodidak.

Meski ayahnya pembuat karpet terbaik, ayah Mr. Ghulan justru mengirimnya ke pembuat karpet lain agar ia belajar mandiri.

“Bekerja di orang lain penuh tekanan,” kata Mr. Ghulan mengenang. “Tapi saya bekerja jauh lebih keras daripada yang lain. Saya juga menjadi pemandu dan penarik perahu di Ladakh.

“Luar biasa,” saya berkomentar ketika Mr. Ghulan mengakhiri ceritanya. Saya merasa beruntung. Ternyata kunjungan saya ke Nepal memberi saya hal lain di luar harapan. “Saya bisa menuliskan hal itu,” kata saya setelah berpikir sejenak. “Saya bisa menulis buku tentang Kashmir.”

“Kalau kamu ingin menulis buku, kamu harus datang ke Kashmir. Kamu bisa tinggal di rumah kami secara gratis. Kalau kamu mau berkemh atau ke Himalaya di Kashmir, saya akan bantu mempersiapkannya. Bahkan kalau kamu mau tinggal berbulan-bulan, saya akan berikan kamu tanah agar bisa bercocok tanam,” tawar Mr. Ghulan sungguh-sungguh. Ia memberikan sebuah buku tebal ‘Vale of Kashmir’, ditandatangani seseoran dengan ucapan hangt sebaai kenang-kenangan. “Buku ini dikirim seseorang yang pernah saya pandu dari Eropa,” jelas Mr. Ghulan.

Saya membuka-buka buku itu. Jenis buku mahal semacam ensiklopedia NGI.

IMG_20170820_082237_023

“Yang ini istimewa,” Mr. Ghulan menunjukkan satu halaman. “Kakak saya terfoto di situ.”

saya melihat-lihat foto koleksi pribadi Mr. Ghulan lainnya. Ada foto pembuatan karpet, Sumi bersama sepupunya dan Mr. Ghulan serta Mr. Ghulan ketika masih muda dan menjadi pemandu di Kashmir.

 

IMG_20170818_202043_994

Sumi ketika masih kecil, bersama sepupu dan ayahnya

IMG_20170820_082213_080IMG_20170818_202105_695IMG_20170818_162347

Pembicaraan kami terputus karena ada pelanggan yang melihat-lihat. Mr.Ghulan menyambut setiap orang dengan ramah. Bahkan jika orang itu cukup menyenangkan, ia tidak segan-segan menawarkan teh dengan zafran yang berharga meski orang itu tidak membeli apa-apa.

“Kami punya bermacam warna dan ukuran,” kata Mr. Ghulan. “Lebih banyak desain,” ia memperlihatkan pashmina, karpet, sarung bantal sofa, dll. Ketika pelanggan tidak menemukan apa yang ia cari, Mr. Ghulan akan berkata. “No problem. Anything you like. No problem.

Sumi kedatangan tamu saat saya sedang pergi ke luar sebentar. Seorang traveler Malaysia bernama Nuraini. Nuraini baru saja menyelesaikan perjalanan ke ABC, tempat yang tadinya menjadi tujuan awal saya. Ia menyewa seorang porter dan guide sekaligus. Kami langsung akrab. Meski begitu, kami tetap menggunakan bahasa Inggris agar Sumi juga bisa mengerti. Walaupun saya sempat keceplosan bicara bahasa Indonesia dan membuat Sumi bengong. Saya baru menyadarinya beberapa detik kemudian.

Mr. Ghulan mengusulkan agar Nuraini tinggal bersama kami. Ia setuju. Saya kini mendapat teman sekamar.

IMG_20170818_135210

Sumi dan Nuraini

Di hari berikutnya, Lydia yang pernah bertukar alamat facebook di hotel Kathmandu mengirimi saya inbox. Jadi keesokan harinya kami bertemu di toko. Lydia datang bersama Sophie. Mereka berdua terpaksa kembali lebih awal dari Chitwan National Park. Banjir besar melanda dan menghanyutkan banyak bangunan. Keduanya selamat namun mereka menyaksikan sendiri rumah-rumah dan bangunan hanyut terbawa banjir.

“Mengerikan,” kata Lydia. “Pertama kami datang, bangunan itu masih ada. Keesokan harinya sudah tersapu banjir.”

Saya ingat badai yang menemani perjalanan saya dari Nayapul ke Pokhara. Berarti saat itulah Lydia dan Sophie berada di Chitwan, terkurung di lantai dua hotel dan segera kembali ke Pokhara keesokan harinya. Terpaksa mempercepat jadwal karena situasi tidak aman.

Berita dua hari terakhir di televisi mengatakan banjir besar melanda Nepal dan India. Pagar perbatasan Nepal-India juga hancur. Banyak orang diungsikan.

Mr. Ghulan kembali menawarkan Sophie dan Lydia untuk tinggal bersama. Keduanya setuju. Suasana di rumah Mr. Ghulan semakin meriah sejak saat itu.

IMG_20170819_182609

Dari kiri ke kanan: Sophie, Nuraini, Mr. Ghulan, Sumi dan Lydia

 

Iklan

Tentang Nurbaiti-Hikaru

Hikaru adalah nama pena dari Nurbaiti, kelahiran Jakarta, 8 Mei 1982. Menyelesaikan S1 nya dari Universitas Pendidikan Indonesia (UPI), Bandung jurusan Pendidikan Bahasa Jepang serta memiliki lisensi perencanaan keuangan dari Financial Planning Standard Board Indonesia. Mulai menulis sejak SMP dan menghasilkan belasan buku. Esainya masuk semi final dalam lomba menulis esai tingkat nasional yang diadakan oleh Kementrian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif tahun 2014. Karya-karyanya juga masuk final dalam lomba menulis tingkat nasional yang diadakan oleh Penerbit Bitread, Padmagz Magazine serta Elex Media Komputindo. Saat ini sebagai seorang senior manager di sebuah perusahaan asing dan koordinator divisi bisnis FLP Pusat. Hikaru juga salah satu wakil Indonesia dalam workshop Majelis Sastra Asia Tenggara (Mastera) Novel tahun 2016. Kontak dengan penulis via email: nurbaiti.hikaru@gmail.com
Pos ini dipublikasikan di SERI PERJALANAN, Uncategorized dan tag , , , , , , , . Tandai permalink.

4 Balasan ke CATATAN PERJALANAN NEPAL #7 KELUARGA BARU DARI KASHMIR

  1. Anna Liwun berkata:

    Hallo,

    Suka ceritanya. Saya belum ke sana, namun sudah masuk dalam daftar tujuan 😁

    Salam,
    Anna

    Disukai oleh 1 orang

  2. Teja berkata:

    Baiti, saya mahu calonkan kamu untuk Mystery Blogger Award 🙂 Pasti blog bahasa selain Inggeris yang pertama dicalonkan! Lebih lanjut di sini: http://tejabahiya.com/mystery-blogger-award/
    😀

    Disukai oleh 1 orang

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s