CATATAN PERJALANAN NEPAL #8 GIRL POWER


Apa yang dilakukan para gadis ketika berkumpul?

Ngerumpi?

Yah, jika sudah saling kenal lama, mungkin itu yang akan kami lakukan. Namun berhubung kami semua kawan baru. Jadi kami hanya melakukan hal-hal standard yang dilakukan wanita pada umumnya: memasak.

IMG_20170822_212618

Nasi goreng ala saya jadi aneh karena tidak ada kecap yang sesuai.

IMG_20170822_211854

Karena  saya tidak menemukan sayuran yang tepat, jadi saya hanya membeli mentimun dan apel, mengirisnya dan mengaduknya dengan saus mayonese instant yang saya bawa untuk membuat salad

 

Kami kedatangan Becky, teman Sophie dan Lydia yang seorang guru sukarelawan di sekolah khusus pengungsi Tibet. Kami membantu Sumi membuat akun online shop pertamanya. Setelah berhasil memposting satu gambar, barulah kami berpamitan pada Mr. Ghulan.

Kami berenam pulang lebih awal dari toko, naik bus menuju toko daging halal, lalu pulang berjalan kaki menembus hujan. Lydia dan Sophie mengambil sisa barang di hotel. Sisanya kembali ke rumah setelah mampir ke kedai kecil membeli bumbu.

Konon katanya, seorang traveler itu juga sekaligus duta bangsa. Pasalnya, sebagai duta bangsa *uhuk, saya tidak mempersiapkan ciri khas Indonesia dengan cukup baik. Saya memang membawa bumbu pecel instan dan kain tradisional Indonesia, tapi sudah saya tinggalkan di Kathmandu. Bahkan mie instant legendaris yang dipuja-puji di dunia itu saja tidak saya bawa.

Nuraini sudah memutuskan akan memasak ayam kungpao, sebuah resep masakan tradisional China. Secara singkat ayam dipotong dadu lalu digoreng, dimasak dengan cabe merah kering dan bawang bombay serta kecap manis. Saya diminta memasak nasi goreng untuk hari berikutnya. Tapi berhubung Lydia dan Sophie vegetarian, saya juga memasak tumis buncis dan telur. Masakan yang saya pelajari ketika acara persami waktu SD. Becky bukan vegetarian namun ia memiliki beragam alergi yang membuatnya tidak bisa menyantap hidangan kami. Lagipula ia sudah ditunggu seorang teman lainnya. Dengan kecewa kami melepasnya pergi sebelum waktu malam tiba.

“Lihat ini,” kata Nurani sambil menunjukkan pada saya kecap manis yang ia beli. Meski kami hanya berdua di dapur, pada akhirnya, kami lebih banyak berbicara bahasa Inggris daripada Melayu.

Saya memperhatikan cairan hitam itu mengalir ke dalam panci. Dalam sekejap seluruh isi botol itu habis. Kami berdua terheran-heran. Kecap di Nepal encer seperti air. Rasanya juga agak asam seperti cuka diberi pewarna.

A little bit soaked,” kata Nurani sambil mengamati masakannya.

Saya tidak tahu bagaimana seharusnya cita rasa ayam kungpao yang benar. Sepertinya mirip dengan ayam kecap, dan menilik dari ekspresi Nurani ketika mencicipinya, sepertinya bukan itu rasa yang ia harapkan.

Sumi dan Sophie masuk ke dapur. “Baunya enak,” kata Sophie sambil melihat saya mengaduk isi wajan. “Apa ini?”

“Buncis dan telur,” jawab saya. “Saya tidak menemukan bumbu dan bahan yang sesuai di sini. Jadi hanya ini yang bisa saya buat sekarang.”

Sumi mencicipi ayam kungpao ala Nurani. “Apapun yang kalian masak, bagi saya enak,” katanya. Entah dia berkata begitu karena memang menikmati karya kami atau karena ia terbebas dari kewajiban masak di rumah ini selama berhari-hari. Untungnya, sepertinya alasan pertama lebih tepat sehingga saya cukup lega.

Kami makan malam lebih dulu setelah memisahkan makanan untuk Mr. Ghulan. Sophie melihat saya mengigiti cabe kering satu demi satu.

“Memangnya itu tidak pedas?” tanyanya takjub. Saya menggeleng.

Usai makan malam, Sophie dan Lydia mencuci piring dan membersihkan dapur. Keduanya sangat apik dalam hal ini. Sophie senang bersih-bersih. Hasilnya nyata terlihat pada dapur yang bahkan tampak lebih cemerlang daripada saat dibersihkan oleh asisten rumah tangga Mr. Ghulan.

Kami lantas mengobrol ngalor ngidul. Dari film sampai buku. Saya merekomendasikan buku ‘Ring of Fire’ sebagai referensi dari sudut pandang penjelajah asing. “Penulisnya dari Inggris, Blair  bersaudara,” kata saya. “Itu pengalaman mereka menjelajah Indonesia selama belasan tahun ke berbagai pelosok. Termasuk bergaul dengan suku kanibal di Papua.”

“Tahun berapa itu?” tanya Sophie.

“Saya lupa persisnya. Sepertinya tahun 60-an.”

“Tahun 60-an dan masih ada kanibalisme di Indonesia pada saat itu?” tanya Sophie heran bercampur ngeri.

“Begitulah. Tapi setahu saya sekarang sudah tidak ada.”

Obrolan kami beralih ke film. Sumi tidak tahu banyak tentang film. Bioskop di Nepal dan Kashmir tidak berkembang.

“Ketika saya bilang saya baru menonton film tertentu. Ternyata orang lain sudah menontonnya satu tahun yang lalu. Padahal bagi saya itu film baru,” kata Sumi.

“Omong-omong tentang tertinggal, saya juga baru menonton film utuh ‘Sound of Music’ ketika di pesawat kemarin,” kata saya. “Padahal saya sudah sering mendengar tentangnya.”

“Oh, Sound of Music,” Sophie segera tanggap. “Bagaimana liriknya? Na..na.. na…,” ia melihat Lydia untuk membantu mengingat.

“Sebentar,” Lydia memperbaiki duduknya. Menirukan Julie Andrew saat menyanyikan lagu pembuka lalu dilanjutkan dengan lagu saat anak-anak Von Trap ketika mengucapkan selamat tidur. ‘So long, farewell, for you and you and you….” ia bernyanyi seperti seorang pemain opera. “Adieu adieu adieu. Trap trararatap….”

Sophie dan Lydia menyanyikan lagu ‘Do re mi’. Menghibur tiga orang lainnya.

Ketika saya akan tidur, saya baru sadar ada sebuah kotak tissue buatan Indonesia di dalam kamar. Dengan semangat saya mengambil kotak tersebut, menunjuk peta Indonesia pada kemasannya dan menunjukkan lokasi-lokasi yang saya rekomendasikan dalam peta.

Sophie akan kembali ke Inggris, namun Lydia masih akan melanjutkan perjalanannya dan berencana ke Indonesia Desember mendatang.

Pertemanan kami masih akan terus berlanjut.

Iklan

Tentang Nurbaiti-Hikaru

Hikaru adalah nama pena dari Nurbaiti, kelahiran Jakarta, 8 Mei 1982. Menyelesaikan S1 nya dari Universitas Pendidikan Indonesia (UPI), Bandung jurusan Pendidikan Bahasa Jepang serta memiliki lisensi perencanaan keuangan dari Financial Planning Standard Board Indonesia. Mulai menulis sejak SMP dan menghasilkan belasan buku. Esainya masuk semi final dalam lomba menulis esai tingkat nasional yang diadakan oleh Kementrian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif tahun 2014. Karya-karyanya juga masuk final dalam lomba menulis tingkat nasional yang diadakan oleh Penerbit Bitread, Padmagz Magazine serta Elex Media Komputindo. Saat ini sebagai seorang senior manager di sebuah perusahaan asing dan koordinator divisi bisnis FLP Pusat. Hikaru juga salah satu wakil Indonesia dalam workshop Majelis Sastra Asia Tenggara (Mastera) Novel tahun 2016. Kontak dengan penulis via email: nurbaiti.hikaru@gmail.com
Pos ini dipublikasikan di SERI PERJALANAN, Uncategorized dan tag , , , , , . Tandai permalink.

4 Balasan ke CATATAN PERJALANAN NEPAL #8 GIRL POWER

  1. Naqiyyah Syam berkata:

    Wah seru banget perjalanan Mbk Nur, itu kotak tisu keren ya ada gambar peta Indonesia. Cocok buat teman traveling.

    Disukai oleh 1 orang

  2. Ping balik: The Kashmiri Serendipity: Stories of Female Travellers in Pokhara – Teja on the Horizon

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s