REVIEW FILM AYAT-AYAT CINTA 2. JALAN TENGAH IDEOLOGI DAN FIKSI


IMG_20171231_162258_901

Dalam sebuah pelatihan menulis yang saya ikuti, Jujur Prananto, penulis skenario Ada Apa Dengan Cinta (AADC)  mengatakan, ketika tulisan kita sudah menjadi sebuah film, maka naskah  itu tidak sepenuhnya menjadi karya kita lagi. Ketika polemik film Ayat-Ayat Cinta 2 (AAC 2) mengemuka, saya teringat sebuah sesi diskusi bersama Habiburahman el Shirazy atau yang lebih akrab dipanggil Kang abik. Dalam kesempatan itu, saya termasuk orang yang memprotes, kenapa film AAC 1 tidak sebaik novelnya. Saat itu Kang Abik menceritakan proses di balik layar novel AAC menjadi sebuah film.

Terlepas dari berbagai tanggapan yang datang, saya merasa bersyukur dengan keberadaan film Ayat-Ayat Cinta 2. Adalah kemewahan tersendiri, ketika sebuah novel yang mengangkat tentang Palestina, kebhinekaan, perbedaan fiqh, dan kemanusiaan diangkat dalam sebuah film yang layak. Dengan promosi besar-besaran di televisi dan jejeran commuter line. Ada semacam kelegaan bahwa film yang mengusung tema besar seperti itu disupervisi oleh seorang Habiburahman yang kapasitas keilmuannya cukup mumpuni.

Ketika kemudian beredar pro dan kontra terhadap film ini, -ada yang mencela habis-habisan dan ada yang membela mati-matian-, saya pribadi tidak ambil pusing. Setiap orang berhak untuk berpendapat. Sikap defense hanya melahirkan tembok lebih tinggi. Tidak semua kritikan itu buruk, namun tidak semua juga perlu ditanggapi. Meski saya kenal Kang Abik, saya berusaha bersikap netral. Jadi tulisan ini lebih berupa pandangan pribadi saya sebagai penulis dan penikmat film.

Karena tidak semua orang bersedia menghabiskan waktu membaca 697 halaman novelnya, maka film ini memiliki PR besar menjelaskannya dalam waktu terbatas. Bahasa film berbeda dengan novel. “Penonton film tidak membaca naskah. Jadi jelaskan dalam gambar atau dialog,” kata Mas Aditya Gumay dalam sebuah kesempatan.

IMG_20171230_143148.jpg

Ayat-ayat Cinta 2 bagi saya adalah jalan tengah antara ideologi dan fiksi. Habiburrahman menyajikan cerita memikat tentang konsep besar cinta namun dalam bingkai dalil-dalil yang sering dipertanyakan di masyarakat. Masalah kontemporer umat, perbedaan Yahudi dan Zionis, bagaimana menjawab salam dari seorang non muslim, hingga sisi fiqh perbedaan pendapat tentang operasi plastik. Semua dijelaskan dengan apik dalam novel Ayat-Ayat Cinta 2. Sayangnya hal ini tidak bisa diperlihatkan dalam sebuah film berdurasi 2 jam.

Durasi film yang terbatas rentan menciptakan lompatan alur dan logika. Dalam film, adegan perdebatan Fahri tidak mencerminkan kedalaman ilmunya sebagai seorang doktor di universitas bergengsi di Edinburgh. Padahal di novelnya, kesan ilmiah cukup terbangun karena Fahri menyampaikan dalil tidak hanya dari referensi Al-Quran dan fakta sejarah, tapi juga Al-Kitab. Dalam hal ini Perjanjian Lama yang merupakan Taurat versi Yahudi.

Adegan perdebatan yang dalam novel cukup dalam, di film hanya menjadi perdebatan dangkal sehingga membuat penonton bertanya-tanya. Hanya seperti itukah kapasitas intelektual seorang PhD? Sekedar mengutip kalimat Said Nursi tentang cinta dan kebencian? Lagi pula siapa itu Said Nursi? Orang awam tidak familiar dengan tokoh tersebut.

Omong-omong, saya pernah meresensi novel Api Tauhid yang berisi kisah Said Nursi setebal 573 halaman yang ditulis Kang Abik sendiri. Saya juga memiliki Al-Kitab dan pernah belajar kristologi. Jadi ketika membaca bagian perdebatan itu dalam novelnya, saya lumayan nyambung. Saya merasa bergetar ketika Misbah menjelaskan tentang jangan menipu Allah, atau Fahri mengutip kandungan kitab-kitab klasik para ulama dengan keindahan bahasa yang bisa membuat mata dan hati gerimis. Namun hal tersebut tidak saya rasakan ketika menonton filmnya.

Ketika sebuah novel diangkat menjadi film, kemungkinan besar ada banyak kompromi dibalik layar yang kita tidak tahu. Buku ayat-ayat Cinta 2 sendiri hampir mencapai 700 halaman. Jika buku setebal itu diangkat menjadi film dengan keterbatasan durasi. Tentu ada banyak sekali hal yang dipangkas sana-sini. Jadi saat ada ketidakpuasan terhadap alur cerita, menurut saya hal itu cukup wajar. Bisa jadi jika adegan perdebatan menjadi lebih panjang dikhawatirkan film ini akan menjadi terlalu “berat”.  Bisa jadi pula film ini memang menyasar target pasar tertentu.

Saya tidak mempermasalahkan dialog dalam bahasa Indonesia. Bagi saya ini hanya sekedar memudahkan penonton. Toh sudah ada terjemahan bahasa Inggris dalam filmnya. Begitu pula ketika ada perbedaan karakter antara novel dan film. Tokoh sahabat Fahri, Misbah yang dalam novelnya terkesan orang desa yang  polos, alim dan baik hati, di filmnya lebih cair dan terkesan semaunya. Perubahan semacam ini cukup umum dalam dunia perfilman.

Kita ambil contoh film Sound of Music.  Jika ingin mengikuti aslinya seharusnya film itu berbahasa Jerman (meskipun memang ada versi bahasa Jermannya tapi yang booming adalah versi Hollywood berbahasa Inggris yang diperankan oleh Julie Andrews). Di kehidupan nyata, karakter Kapten Von Trapp tidak sedingin itu. Menurut istri dan anak-anaknya, justru ia orang yang hangat. Namun demi dramatisasi cerita maka karakternya pun diubah. Jika mengikuti versi aslinya keluarga mereka seharusnya naik kereta api ke Italia, bukan mendaki bukit sambil membawa-bawa alat musik yang berat.

Apakah tokoh Fahri sempurna?  Secara  penokohan, ya. Tapi apakah mungkin terjadi? Menurut saya, mungkin. Kenapa? Karena ia adalah penerima beasiswa. Saya memperhatikan, di dunia nyata, para penerima beasiswa di luar negeri telah terlatih untuk menjadi contoh sebagai duta bangsa dan –sangat mungkin- duta agama.

Dalam novel, rasanya wajar jika ia memiliki pencapaian semacam itu. Fahri menerangkan mengapa ia bekerja keras melebihi yang lain. Ia bersikeras menyelesaikan tenggat postdoctoral-nya 5 bulan lebih awal dari jadwal. Ia sempat mengatakan kepada Hulusi alasannya karena profesionalisme sebagai seorang muslim. Hal yang sama ia terapkan dalam bisnisnya. Bagi yang hanya menonton film AAC 2, keberhasilan Fahri dalam sisi materi akan menimbulkan ‘cacat logika’.

Penokohan Fahri yang bak malaikat memang terasa dalam filmnya, membuatnya seolah-olah kultus. Mungkin penulisnya ingin menggambarkan tokoh ideal untuk ditiru. Tapi menurut saya, akan lebih humanis, lebih bisa diterima jika tokoh Fahri juga kesal terhadap aksi vandalisme. Ia perlu membela diri  ketika secara tidak adil dikeluarkan sebagai staf pengajar di universitas. Semestinya ia tidak langsung memaafkan semua yang terjadi begitu saja. Secara psikologis, reaksi orang umumnya adalah marah dan denial terlebih dahulu, baru kemudian menerima. Sikap Fahri yang lebih banyak mengalah justru malah menunjukkan sikap lemah.

Fahri perlu melakukan beberapa kesalahan yang manusiawi. Sayangnya, kesalahan Fahri adalah tidak mengenali Aisha yang nota bene bekerja di rumahnya. Mungkin akan lebih masuk akal jika Aisha bekerja di salah satu rumah tetangganya dan secara tidak sengaja melihat kemesraan Fahri dan Hulya ketika sedang mengantarkan suatu barang, misalnya.

Kenapa cerita AAC 2 dibuat seperti itu?

Dugaan saya, penulis memiliki banyak ide besar untuk disampaikan sekaligus ingin memuaskan para penonton yang mendambakan cerita romantis. Hal ini mungkin yang membuat alur ceritanya jadi kurang rapi. Penonton mungkin akan berpikir, “Oke, tokoh Fahri memang ideal dan bisa saja ada di dunia nyata, tapi satu dalam seribu.” Atau “Oke, kalau ada laki-laki seperti itu, memang mungkin sih para wanita mengejar-ngejarnya, bahkan bersedia berbagi. Tapi ya nggak segitu ngemis cintanya juga, kali.” Atau “Tokoh Fahri enak banget ya mendapatkan “semua” wanita-nya. Fahri adalah “super hero” sementara para wanita-nya sebegitu penuh pengorbanan sehingga malah terkesan tidak berdaya.

Operasi pemindahan wajah sendiri, yang dalam novelnya cukup menyakinkan, dan secara sains memang telah terjadi di dunia nyata, akan menjadi pertanyaan penonton ketika hanya melihat filmnya. Seorang penulis fiksi sekalipun, ketika ia menulis sesuatu yang realis, maka ia berkewajiban mempertanggungjawabkan logika cerita. Saya yakin Kang Abik telah meneliti terlebih dahulu seluruh unsur ceritanya, membuat para pembaca novelnya percaya bahwa itu memang mungkin, namun menyisakan pertanyaan untuk para penonton filmnya.

IMG_20171231_115020_112

Penjelasan tentang operasi wajah dalam versi novel AAC 2

 

Apakah prosedurnya memang hanya sesederhana itu? Menempelkan wajah orang yang satu dengan orang lainnya. Bukankah rekonstruksi wajah biasanya butuh waktu berkali-kali operasi? Apakah ini jenis operasi yang lebih sederhana? Terlalu fiksi-kah seperti film Face off  ketika John Travolta dan Nicholas Cage bertukar wajah?

Mungkin akan lebih baik jika dalam dialog filmnya, Hulya tidak serta merta mengatakan pada Aisha tentang operasi ini, yang membuat saya justru bertanya-tanya kapan dialog tersebut dilakukan. Bukankah Hulya baru menyadari bahwa sesungguhnya Sabina adalah Aisha ketika peristiwa di pom bensin? Kenapa ada ” kesalahan berjamaah” antara Fahri dan Hulya yang tidak mengenali Sabina sebagai Aisha sejak awal?

Sebagai penulis, saya tergoda untuk mengubah beberapa hal. Saya mungkin akan mengoreksi kesalahan berjamaah Fahri dan Hulya dengan membuat Sabina tidak satu rumah dengan mereka. Saya juga akan menambahkan dialog tentang prosedur operasi pemindahan wajah, dengan menyebutkan kisah nyata Richard Norris yang mendapat donor wajah. Dengan menyebutkan keberhasilan operasi semacam ini dalam film, penonton bisa mencari informasinya sendiri.

Penjelasan yang kurang akan membuat ceritanya terkesan mengada-ada. Sebaliknya, penjelasan yang cukup, meski tidak sepenuhnya benar, membuat penonton percaya bahwa sang pembuat film lebih ahli. Misalnya saja, teori lubang hitam dalam film Interstellar yang dikoreksi oleh awak NASA Kennedy Space Center. Penonton tidak peduli sekalipun teorinya salah. Penonton hanya perlu dibuat percaya bahwa hal itu mungkin terjadi.

Satu hal yang perlu dicatat, sinematografi film AAC 2 menurut saya luar biasa. Untuk kualitas akting, saya sendiri terpikat dengan Chelsea Islan dan Nur Fazura.

 

IMG_20171231_162005_703

Saya baru belajar menulis skenario sekitar satu tahun terakhir. Thanks to Marky Jahjali yang sering saya recoki karena  banyak tanya dan Mas Aditya Gumay yang sudi berbagi ilmu tentang film

Berbicara tentang Ayat-Ayat Cinta, sejujurnya saya tetap lebih menyukai versi bukunya. Namun meski memiliki kelemahan dari struktur cerita, mencela versi filmnya habis-habisan atau sejak awal menonton untuk mencari kesalahan film ini menurut saya tidaklah adil. Bagaimana pun, tetap ada hal-hal positif yang membuat film ini pantas diapresiasi.

Selamat menonton. 🙂

 

 

 

 

Iklan

Tentang Nurbaiti-Hikaru

Hikaru adalah nama pena dari Nurbaiti, kelahiran Jakarta, 8 Mei 1982. Menyelesaikan S1 nya dari Universitas Pendidikan Indonesia (UPI), Bandung jurusan Pendidikan Bahasa Jepang serta memiliki lisensi perencanaan keuangan dari Financial Planning Standard Board Indonesia. Mulai menulis sejak SMP dan menghasilkan belasan buku. Esainya masuk semi final dalam lomba menulis esai tingkat nasional yang diadakan oleh Kementrian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif tahun 2014. Karya-karyanya juga masuk final dalam lomba menulis tingkat nasional yang diadakan oleh Penerbit Bitread, Padmagz Magazine serta Elex Media Komputindo. Saat ini sebagai seorang senior manager di sebuah perusahaan asing dan koordinator divisi bisnis FLP Pusat. Hikaru juga salah satu wakil Indonesia dalam workshop Majelis Sastra Asia Tenggara (Mastera) Novel tahun 2016. Kontak dengan penulis via email: nurbaiti.hikaru@gmail.com
Pos ini dipublikasikan di INFO, KEPENULISAN, Uncategorized dan tag , , , , , , . Tandai permalink.

4 Balasan ke REVIEW FILM AYAT-AYAT CINTA 2. JALAN TENGAH IDEOLOGI DAN FIKSI

  1. Sinta Yudisia berkata:

    Selalu suka sama review Nur Baiti💕💗💖👍👍👍

    Disukai oleh 1 orang

  2. Mr. Yogi berkata:

    Penasaran jadi ingin baca novelnya. 🙂

    Disukai oleh 1 orang

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s