Simbol Cinta Tak Biasa Dalam Film Bunda, Cinta 2 kodi


Bunda__Kisah_Cinta_2_Kodi-1

Tahun lalu saya mengikuti training ekonomi syariah di kantor pusat. Pembicaranya saat itu adalah Rendy Saputra. Di tengah pemaparannya tentang bisnis, ia mengatakan tengah mempersiapkan sebuah film entrepreneurship bersama Asma Nadia.

Demi mendengar  senior saya disebut, tak urung saya penasaran juga. Seperti apa ya kolaborasi komunitas Saudagar Nusantara dan Mbak Asma yang kerap mempromosikan jargon ‘No Excuses’? Akankah film ini menjadi film inspirasi dari kisah nyata seperti Chris Gardner dalam ‘The Pursuit of Happyness’? Apalagi ada 2 tokoh anak kecil di situ.

Saya melewatkan premiere film ini namun untungnya sempat menontonnya di awal-awal penayangannya.

Film Bunda, Cinta 2 Kodi bercerita tentang sebuah keluarga dalam merintis usaha busana muslim anak. Meski filmnya mengambil sudut pandang sang suami pada awal dan akhir cerita, kisahnya sendiri lebih banyak pada sosok Bunda Ika Kartika yang diperankan oleh Acha Septriasa. Selain Acha, juga ada sosok Fahrul, suami Ika yang diperankan oleh Ario Bayu. Keduanya mengalami berbagai konflik dari ekonomi, pernikahan, serta hubungan mereka dengan anak-anak.

Sebagai sebuah film entrepreneur, saya pribadi menganggap ceritanya terlalu singkat. Sesungguhnya saya mengharapkan lebih banyak konflik, jatuh bangun dunia bisnis yang lebih “berdarah-darah”. Durasi film yang hanya sekitar 1,5 jam membuat saya ingin bersorak-sorak ala cheerleaders, We want more. We want more.

Adegan saat Fahrul akan berangkat ke Jepang entah kenapa malah mengingatkan saya dengan adegan AADC 1. Rasanya ada kemiripan urutan adegan di sana. Mungkin karena sama-sama berlokasi di bandara.

Untungnya kelemahan tersebut tertutupi dengan porsi konflik keluarga yang terbilang pas. Cerita tentang ibu bekerja yang resign untuk mengurus anak-anak, namun kemudian tetap melalaikan mereka  karena sibuk membangun bisnis terasa sangat riil dan dekat dengan keseharian.

Yang menarik, karakter-karakter dalam film ini sangat membumi. Tidak ada tokoh  ‘hero’. Tidak ada judgement ini dan itu. Tidak ada akting yang berlebihan. Film ini secara bijak hanya menggambarkan kondisi yang sering terjadi. Tidak ada penokohan hitam putih. Masing-masing tokoh utama melakukan kesalahan. Namun dengan latar belakang yang diceritakan, semua reaksi tersebut tergolong logis.

Saya bahkan sempat kaget karena konflik rumah tangga yang diceritakan dalam film ini cukup ‘membuka aib’. Suatu hal yang membuat saya salut dengan kesediaan sosok asli Ika Kartika membiarkan masalah keluarganya terekpos sedemikian rupa.  Meski tentu untuk tujuan pembelajaran. Tak banyak orang yang berani melakukannya. Saya angkat topi untuk itu.

Ini satu hal yang menjadi nilai tambah dalam film Cinta 2 Kodi.

Adegan-adegan dalam film ini akan membuat penonton bercermin dan mungkin diam-diam menyesal. Fahrul yang sempat meminta istrinya aborsi. Sikap Tika yang sangat menuntut, ‘dendam pribadi’ pada suami dan orang tua yang dilampiaskan pada pasangan dan anak-anaknya hingga tanpa sadar mempermalukan mereka di depan umum cukup membuat geregetan. Saya dengan sok tahunya sampai berpikir, ‘Jangan gitu-gitu bangetlah, jadi istri.”

Itu salah satu bukti bahwa saya terhanyut. Dan itu bagus untuk sebuah film.

Akting para pemain film ini tak perlu diragukan lagi. Tapi yang paling menarik perhatian saya adalah dua anak perempuan yang berperan sebagai Amanda dan Alda, anak-anak Bunda Tika dan Fahrul. Keduanya bisa mengimbangi akting Acha dan Ario Bayu dengan sangat apik. Apalagi, dalam sebuah wawancara di televisi Mbak Asma mengatakan bahwa karena belum bisa membaca, jadi adegan untuk mereka berdua diarahkan secara lisan. Dua orang bocah polos nan imut ini sangat menghidupkan cerita. Saya menduga karir keduanya akan panjang di dunia akting.

Penonton akan dibuat jeri ketika Amanda pergi ke kolong tempat tidur setelah dimarahi bunda. Secara psikologis mencari “keamanan sarang”, mengungkapkan isi hatinya dalam bentuk gambar, dan bertanya pada sang adik, “Bunda kok nggak pernah minta maaf ya, Dek?”

Menurut saya, ini adegan terkuat yang bisa menohok penonton, terutama para ibu.

Hal lain yang menurut saya sangat cerdas adalah pemakaian keong sebagai simbol cinta. Sejak awal perkenalan di kereta, ketika Fahrul memberikan keong sebagai kenang-kenangan, saya menerka romansa ceritanya memang akan berlanjut. Tapi kelanjutannya seperti apa sungguh tak terbayang. Adegan Amanda yang menjatuhkan toples keong bunda sebagai bentuk protes terselubung sangat kuat, Fahrul yang merekatkan kembali kulit keong yang retak serta perkataannya bahwa benda itu akan diambil oleh pemiliknya yang asli menurut saya ide yang menarik.

Sinematografi serta soundtrack film ini juga terbilang bagus. Meski ratingnya untuk 13+ namun film ini cocok untuk ditonton sekeluarga serta relatif aman untuk anak-anak.

Sebagai film bertema wirausaha, film Cinta 2 Kodi menawarkan sesuatu yang tidak biasa. Untuk anda para pengusaha, mompreneur, atau siapa pun yang sedang mencari inspirasi, film ini wajib anda tonton.

 

Iklan

Tentang Nurbaiti-Hikaru

Hikaru adalah nama pena dari Nurbaiti, kelahiran Jakarta, 8 Mei 1982. Menyelesaikan S1 nya dari Universitas Pendidikan Indonesia (UPI), Bandung jurusan Pendidikan Bahasa Jepang serta memiliki lisensi perencanaan keuangan dari Financial Planning Standard Board Indonesia. Mulai menulis sejak SMP dan menghasilkan belasan buku. Esainya masuk semi final dalam lomba menulis esai tingkat nasional yang diadakan oleh Kementrian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif tahun 2014. Karya-karyanya juga masuk final dalam lomba menulis tingkat nasional yang diadakan oleh Penerbit Bitread, Padmagz Magazine serta Elex Media Komputindo. Saat ini sebagai seorang manager di sebuah perusahaan asing dan Danus FLP Pusat. Hikaru juga salah satu wakil Indonesia dalam workshop Majelis Sastra Asia Tenggara (Mastera) Novel tahun 2016. Kontak dengan penulis via email: nurbaiti.hikaru@gmail.com
Pos ini dipublikasikan di INFO, KEPENULISAN, Uncategorized dan tag , , , , , , . Tandai permalink.

7 Balasan ke Simbol Cinta Tak Biasa Dalam Film Bunda, Cinta 2 kodi

  1. isulaima berkata:

    Wah keren nih Mbak Nur reviewnya. Moga film bagus bisa mendapat apresiasi yang layak dari penonton Indonesia, aamiin. Salam kenal ya.

    Disukai oleh 1 orang

  2. Naqiyyah Syam berkata:

    Keren Mbk reviewnya. Suka dengan bahasa pembahasannya tajam dan cerdas.

    Disukai oleh 1 orang

  3. Naqiyyah Syam berkata:

    Keren Mbk reviewnya. Suka dengan bahasa pembahasannya tajam dan cerdas.

    Disukai oleh 1 orang

  4. leilaniwanda berkata:

    Suka ulasannya, Mba…. Iya, banyak bagian yang menohok, dan bagian ‘buka aib’ bikin agak gimana gitu, tapi ya barangkali perlu juga ya sebagai pembelajaran buat penonton (pernah nyimak sesi mba Asma untuk novel Bidadari untuk Dewa –yang juga memuat konflik rumah tangga– di acara temu penulis, dan mba Asma menjelaskan soal ‘buka aib’ ini).

    Disukai oleh 1 orang

    • Nurbaiti-Hikaru berkata:

      Terima kasih telah membaca ulasannya.
      iya, pasti maksudnya untuk pembelajaran. Termasuk yang disuruh aborsi. Sempat liat di youtube, Mbak Ika yang asli pas nonton juga bilang, saya dulu memang keras bgt sama anak-anak. Sekarang sudah berubah.
      Salut transformasinya

      Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s