REVIEW SINGKAT FILM ‘GURU NGAJI’


 

 

IMG_20180401_210319_953

Poster film Guru Ngaji di bioskop

Di balik make up tebal atau topeng seorang badut. Apakah ia betul-betul tersenyum?

Sepertinya tidak selalu.

Setidaknya hal ini tergambar dalam film ‘Guru Ngaji’ yang diperankan dengan sangat apik oleh Donny Damara. Istrinya diperankan oleh Dewi Irawan, sedang anaknya, Ismail diperankan oleh aktor cilik, Akinza.

Film Guru Ngaji menceritakan seorang guru seorang bernama Mukri yang menjadi guru ngaji di sebuah desa. Untuk memenuhi kebutuhan hidupnya, ia memiliki pekerjaan sampingan sebagai seorang badut di pasar malam. Pekerjaan ini dilakukan Mukri secara diam-diam.  Bahkan istri, anak dan seluruh penduduk kampungnya tidak ada yang mengetahui pekerjaan sampingan tersebut. Hingga suatu hari dia harus mengisi acara ulang tahun anak kepala desa sebagai pembaca doa sekaligus badut sulap di event yang sama. 

tiket film guru ngaji

Mukri memiliki seorang rekan sesama badut bernama Parmin (Ence Bagus). Keduanya bekerja di pasar malam milik Ko Alung (Verdi Solaiman).

Film Guru Ngaji menyajikan mimpi sederhana para tokohnya. Mukri yang ingin ke Istiqlal, Parmin yang bersaing dengan Yanto (Dodit Mulyanto) merebut cinta Rahma, penjaga tiket kembang desa yang baik hati, serta istri Mukri yang tergiur membeli baju baru dari tukang kredit harian.

Akting para pemainnya bisa dibilang jempolan. Akting Donny Damara, Dewi Irawan serta Akinza cocok sebagai satu keluarga. Logat Jawa yang kental Mukri ketika di jembatan sangat kentara. Karakter lain yang menonjol adalah Parmin yang lugu, dengan sindrom minder tingkat akut ketika berhadapan dengan Yanto. Lucu sekaligus ngenes.  Bahkan tukang kredit kelilingnya pun berakting sangat menyakinkan. Meski tokoh anak-anak lainnya serta penduduk desa masih terkesan hitam putih, namun masih bisa dimaklumi.

Sinematografi film ini juga indah. Desa yang sederhana. Dengan sawah-sawah dan pasar malam khas sirkus keliling.

Dari sisi cerita, ada beberapa hal yang cukup mengganjal. Saya bertanya-tanya apa maksudnya menara masjid digotong-gotong berhari-hari seperti itu. Hanya alasan sinematografi kah? Sebab tidak ada kolerasi langsung dengan cerita.

Usaha menumbuhkan toleransi dalam film ini juga rentan memicu perdebatan.  Ketika Mukri dan Parmin diminta menjadi Sinterklas untuk mengisi acara natal bagi anak-anak yang kurang mampu. Pengurus gereja sempat mengatakan bahwa Sinterklas adalah tokoh mitos yang sengaja diciptakan untuk menghibur, dan bukan tokoh keagamaan.

Penulis berhati-hati dengan menggambarkan bahwa mereka tetap mengisi acara tersebut meski bukan dengan kostum Sinterklas. Bahkan digambarkan bahwa Mukri, Parmin dan Ismail sholat lebih dulu sebelum mengisi acara di gereja. Adegan mereka yang shalat dan dibiarkan oleh Ko Alung serta keputusan mereka untuk tidak memakai kostum Sinterklas yang bisa diterima pengurus gereja barangkali adalah simbol professionalisme dan toleransi yang ingin digambarkan oleh penulis skenarionya. Meski bagi saya pribadi, agak sedikit kebablasan. Sebab bagaimanapun, meski bukan misa, acaranya adalah natal yang tetap dianggap sebagai bagian dari keyakinan yang berbeda. Menurut saya, ceritanya akan lebih aman jika Mukri dan Parmin mengisi acara untuk anak-anak panti asuhan kristen, tapi tidak dalam rangka perayaan natal.

Rahma juga sempat mengatakan bahwa ia mengenal Ko Alung saat Ko Alung membantu pembangunan masjid. Memang tidak dijelaskan membantu dalam bentuk apa. Apakah hanya memberikan makanan untuk para pekerja dan umumnya hal tersebut bisa diterima? Atau membantu secara keuangan?

Secara hukum aslinya, menerima hadiah dari non muslim yang saya tahu hukumnya boleh asalkan tidak menimbulkan fitnah atau ada implikasi tertentu. Meski ada pendapat bahwa untuk pembangunan masjid sebaiknya tidak menerima dari agama lain sebagai bentuk izzah atau harga diri seorang muslim. Karena dalam film ini tidak dijelaskan kiprah Ko Alung, maka bisa dianggap hal itu hanya murni sebagai bentuk kebaikan dalam hubungan antar manusia semata.

Secara keseluruhan film Guru Ngaji cukup bagus. Ceritanya tidak berlebihan dan nuansanya indah. Rating filmnya sendiri adalah 13+ yang berarti cukup aman ditonton para remaja. Sedangkan untuk anak-anak, barangkali tetap butuh bimbingan orang tua. Untuk menjelaskan sejauh mana kita bermuamalah di dunia nyata. Ada saatnya kita bersama saling membantu dalam hubungan sosial antar umat beragama. Namun ada saatnya kita perlu tegas mengatakan: untukmu agamamu, dan untukku, agamaku.

Wallahu A’lam Bishawab.

Iklan

Tentang Nurbaiti-Hikaru

Hikaru adalah nama pena dari Nurbaiti, kelahiran Jakarta, 8 Mei 1982. Menyelesaikan S1 nya dari Universitas Pendidikan Indonesia (UPI), Bandung jurusan Pendidikan Bahasa Jepang serta memiliki lisensi perencanaan keuangan dari Financial Planning Standard Board Indonesia. Mulai menulis sejak SMP dan menghasilkan belasan buku. Esainya masuk semi final dalam lomba menulis esai tingkat nasional yang diadakan oleh Kementrian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif tahun 2014. Karya-karyanya juga masuk final dalam lomba menulis tingkat nasional yang diadakan oleh Penerbit Bitread, Padmagz Magazine serta Elex Media Komputindo. Saat ini sebagai seorang manager di sebuah perusahaan asing dan Danus FLP Pusat. Hikaru juga salah satu wakil Indonesia dalam workshop Majelis Sastra Asia Tenggara (Mastera) Novel tahun 2016. Kontak dengan penulis via email: nurbaiti.hikaru@gmail.com
Pos ini dipublikasikan di KEPENULISAN, Uncategorized dan tag , , . Tandai permalink.

2 Balasan ke REVIEW SINGKAT FILM ‘GURU NGAJI’

  1. Abdi Jaya berkata:

    Mungkin kubah yg digotong itu sumbangan koh alung kali ya… desa koh alung dan mukri kan berbeda. Mungkin sih 😊

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s