CATATAN PERJALANAN KASMIR BAGIAN 1: ARTICLE 370


Saya sedang berkutat dengan deadline ketika suatu malam di awal Agustus, Nurani, rekan traveler dari Malaysia menghubungi saya via Whatsapp. Membagikan berita dari CNN bahwa telah terjadi kerusuhan di Kashmir. Ribuan penduduk ditangkap dan dipenjarakan. Kekerasan termasuk pembunuhan terjadi. Ribuan turis sudah diinstruksikan meninggalkan Kashmir sejak sehari sebelumnya, termasuk semua pendaki yang sedang melakukan trekking di kawasan Himalaya. Jam malam diberlakukan. Angkutan umum berhenti beroperasi. Toko-toko dan sekolah tutup. Seluruh wilayah dikuasai tentara. Tidak ada berita yang jelas kecuali bahwa hal itu terkait dengan pencabutan Article 370 dan 35 A.

Saat itu, saya bahkan tidak tahu apa itu Article 370.

srinagar intl airport

Foto saya ambil diam-diam dalam perjalanan pulang

Baca lebih lanjut

Dipublikasi di INFO, SERI PERJALANAN | Tag , , , , | 1 Komentar

BEPERGIAN KE BELITUNG DISAAT NEW NORMAL BAGIAN 2. BELITUNG TIMUR: DARI SOPIR INTELEK SAMPAI MUSEUM KATA


Dua hari berikutnya perjalanan saya lanjutkan dengan pergi ke Belitung Timur. Tujuan utama saya adalah Museum Kata Andrea Hirata. Lagi-lagi, setelah semalamam tidak tidur saya pergi ke terminal Manggarai menggunakan jasa ojek online. Ada bus Damri yang pergi ke Manggar pukul 6 pagi dan kembali lagi pukul 3 sore. Namun, karena saya pergi di hari minggu, ternyata bus Damri tidak beroperasi. Bus ini memang umumnya mengangkut penumpang yang pergi pulang kerja Tanjung Pandan-Manggar setiap harinya.

Terminal yang sepi, tanpa ada satu pun angkutan. Penanda jaga jarak juga sudah terpasang di sini.

Saya kemudian menaiki satu-satunya mobil elf yang ada. Mobilnya mirip angkutan Bogor-Sukabumi yang biasa mangkal di depan Baranangsiang, Bogor. Di hari kerja, angkutan ini berangkat pukul setengah tujuh dan kembali lagi pukul 3 sore, atau bahkan pukul 5 sore. Tapi untuk hari minggu, apalagi pasca Covid yang sepi penumpang, angkutan ini berangkat pukul 7 pagi dan akan kembali lagi ke Tanjung Pandan pukul 12 siang.

Baca lebih lanjut

Dipublikasi di INFO | Tag , , , , , , , , , , | Meninggalkan komentar

BEPERGIAN KE BELITUNG DI SAAT ‘NEW NORMAL’ BAGIAN 1


Setelah berbulan-bulan stay at home semua orang rasanya ingin keluar untuk memulihkan cabin fever.  Belitung menjadi salah satu destinasi pilihan saya. Harga tiket pesawatnya relatif terjangkau dan aksesnya cukup mudah.

Namun tentu saja kondisi ‘new normal’ pasca PSBB covid 19 di Indonesia memang  membutuhkan kesabaran dan lebih. Misalnya ketika saya coba booking hotel di Manggar, Belitung Timur. Namun pesanan saya ditolak berkali-kali oleh pihak hotel tanpa ada keterangan penyebabnya. Ketika saya googling, saya baru tahu bahwa hotel masih tutup. Corona memang mematikan banyak sektor pariwisata di berbagai tempat. Pesanan tiket pesawat pulang saya diganti esok harinya oleh pihak maskapai sehingga saya harus menambah pesanan hotel.

Sesuai protokol kesehatan Covid 19 untuk tetap memakai masker dan menjaga jarak, ruang tunggu bandara Soekarno-Hatta pun diberi jarak mana yang boleh diduduki/tidak.

Baca lebih lanjut

Dipublikasi di INFO, SERI PERJALANAN | Tag , , , , , , , , , , , , , , | Meninggalkan komentar

PERBANDINGAN TABUNGAN EMAS: BRANKAS ANTAM, TABUNGAN EMAS PEGADAIAN, BUKA EMAS BUKALAPAK, APLIKASI  TAMASIA dan DINARAN


Disclaimer: tulisan ini bukan postingan berbayar dan dibuat berdasarkan pengalaman pribadi penulis. Semua data yang diunggah dalam tulisan ini dibuat berdasarkan website resmi lembaga terkait.

 ***

Emas merupakan komoditi berharga selama ribuan tahun. Emas juga memiliki nilai yang relatif stabil sehingga sering dijadikan sebagai simpanan untuk mengatasi inflasi. Membeli emas secara tunai dan menyimpannya secara fisik di adalah cara paling sederhana untuk memilikinya.  Anda hanya perlu menyediakan tempat aman di rumah atau menitipkannya di safe deposit box. Prinsipnya adalah cash and carry. Cara ini merupakan cara yang tidak ada perselisihan para ulama dalam hal kebolehannya. Kelebihannya anda memegang langsung fisik emasnya. Kekurangannya, anda harus memastikan tempat yang aman di rumah. Umumnya anda juga harus menghabiskan waktu untuk datang langsung ke tempat pembelian.

Pembelian emas secara fisik kini juga berkembang. Dari pembelian emas ANTAM secara daring dengan jasa kurir, pemesanan pembelian emas di pegadaian, hingga jual beli secara perorangan atas dasar kepercayaan.

Alasan keamanan dan kepraktisan membuat banyak orang mencari alternatif  lain. Tapi banyaknya pilihan tabungan emas yang ada mungkin akan sedikit membingungkan. Mana yang harus dipilih? Apa saja kelebihan dan kekurangan masing-masing? Berikut adalah penjelasan singkat perbandingan tabungan emas BRANKAS ANTAM, PEGADAIAN, BUKA LAPAK, TAMASIA dan DINARAN.

 

1. BRANKAS ANTAM

BRANKAS ANTAM dalam pengertian ini bukanlah anda membeli emas fisik kemudian menitipkannya di Brankas PT. ANTAM. Meskipun ini juga bisa menjadi pilihan. Namun BRANKAS dalam hal ini merupakan singkatan dari BERENCANA AMAN KELOLA EMAS. BRANKAS ANTAM adalah tabungan emas yang dapat anda buka di butik emas PT. ANTAM.

Screenshot_20200601-124115[1]

Harga logam mulia fisik per gram pada hari ini, tanggal 1 juni 2020, Rp. 914.000. Sedangkan harga jika membeli lewat rekening BRANKAS adalah Rp. 855.000,-

Prinsipnya seperti tabungan di bank.  Hanya saja karena merupakan rekening emas. Setiap kali setoran minimal harus seharga 1 gram logam mulia. Jadi dalam saldo rekening kita yang tertera adalah jumlah gram emas yang kita miliki. Ini juga berarti setiap kali setoran jumlahnya mungkin berbeda mengikuti harga fluktuasi emas.

Saldo dalam rekening ini nantinya bisa kita cairkan. Kita bisa memilih mencairkan emas secara fisik, atau kita pilih buyback, menjualnya kembali ke PT. ANTAM dan menerima uang pembeliannya yang ditransfer ke rekening bank kita.

Keuntungan membuka rekening BRANKAS ini, kita akan mendapat harga yang lebih murah sebab belum termasuk biaya cetak. Sebagai informasi, semakin kecil pecahannya, semakin besar biaya cetaknya. Biaya cetak logam mulia 10 gram akan jauh lebih kecil daripada anda mencetak setiap 1 gram emas sebanyak 10 kali. Jadi sebaiknya anda mencairkan emas dalam bentuk fisik ketika pecahannya sudah semakin besar.

Selisih harga emas fisik dan tabungan BRANKAS menurut pengalaman saya pribadi sekitar 40-50 ribu per gram. Selisih yang cukup lumayan, terutama jika anda membelinya dalam pecahan besar. Keuntungan lainnya, kita bisa membeli emas secara daring lewat transfer bank di hari kerja sampai jam 7 malam langsung ke situs resmi PT. ANTAM. Seusai pembelian, kita bisa mengecek langsung penambahan saldo kita di rekening. Sangat praktis dan mudah.

ANTAM juga merupakan lembaga terpercaya yang memiliki penambangan dan pengolahan emas sendiri dengan standard kemurnian emas yang berlaku di seluruh dunia. Tabungan ini juga bisa memotong zakat emas anda via debet saldo, jika sudah masuk nisab dan haulnya. Zakat emas ini akan disalurkan melalui Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAS). Bukti laporan pendebetan zakat ini akan disampaikan melalui email nasabah. Harga logam mulia per gram PT. ANTAM juga selalu up date setiap harinya.

Untuk membuka rekening ini pertama kali, anda harus datang langsung ke butik ANTAM terdekat dengan membawa KTP, NPWP, dan Kartu Keluarga. Kenapa perlu Kartu Keluarga? Sebab, dalam pengisian formulirnya juga dituliskan siapa ahli waris anda.  Selain itu, anda juga perlu membayar biaya materai, pajak PPH 22 dan registrasi tahunan. Minimal pembukaan rekening ini adalah 1 gram logam mulia.

Kekurangan tabungan ini adalah kuota pendaftarannya sangat terbatas. Pengalaman saya pribadi ketika saya tiba di kantor PT. ANTAM pada pukul 9 pagi, kuotanya sudah penuh dan dibatasi hanya sampai pukul 11.  Maka saya harus kembali berkali-kali untuk dapat membuka rekening BRANKAS.

Tabungan juga mengenakan biaya registrasi tahunan yang cukup besar sebagai jasa penyimpanan dan asuransi. Tergantung berapa banyak jumlah emas anda. Minimal registrasi adalah Rp. 100 ribu per tahun.

Meskipun menerbitkan kartu, kartu BRANKAS ANTAM hanya berfungsi sebagai kartu anggota dan tidak dapat digunakan untuk transaksi apa pun.

Kekurangan lainnya adalah, jika anda hanya memiliki uang kurang dari harga 1 gram emas, Anda harus mengumpulkannya terlebih dahulu. Pada saat uang itu cukup, bisa jadi harganya sudah naik.  Meskipun umumnya selisih harganya tidak Jauh. Kekurangan lainnya adalah jumlah outlet butik ANTAM yang sangat terbatas, sehingga bagi anda yang tinggal di daerah kemungkinan akan kesulitan untuk membuka program tabungan ini.

 

  1. Tabungan Emas Pegadaian

Dengan jumlah ribuan kantor yang tersebar di Indonesia, Pegadaian membuat satu program pembelian emas yang menarik. Anda bisa membeli dari mulai dari 0,01 gram emas. Jadi jumlah uang yang anda setorkan akan langsung dikonversikan dengan berapa gram emas. Pencairan tabungan emas ini juga bisa dilakukan dengan dua cara. Baik mencairkan secara fisik dengan tambahan biaya cetak maupun buyback, pembelian kembali dan menerima saldo dalam rupiah.

20200601_085606[1]

Sama seperti ANTAM, minimal emas yang dapat dicetak adalah 1 gram emas. Penambahan saldo juga bisa dilakukan via transfer/mobile banking.

Persyaratan pembukaan rekening ini juga mudah. Anda hanya perlu datang ke kantor Pegadaian terdekat, mengisi formulir, menyertakan copy KTP serta membayar biaya administrasi dan titipan. Biaya pembukaan rekeningnya sangat murah, yaitu Rp. 10 ribu rupiah. Sedangkan biaya biaya titipan tahunannya hanya sebesar Rp. 30 ribu rupiah.  Pegadaian juga sudah memiliki aplikasi digital untuk memudahkan anda membuka rekening.

Tabungan Emas Pegadaian terdiri dari logam mulia  PT. ANTAM dan PT. UBS.  Harga logam mulia PT. UBS umumnya lebih murah dari PT. ANTAM karena sertifikasi standardnya yang berbeda.

Karena merupakan emas yang dibeli dari PT. ANTAM, harga emas per gram di Tabungan Emas Pegadaian sedikit lebih mahal dari emas PT. ANTAM. Bedanya sekitar Rp. 20 ribu per gram dari emas fisik PT. ANTAM. Untuk harga emas tabungan PT. ANTAM dengan tabungan BRANKAS ANTAM sendiri, selisih harga per gramnya agak sulit diketahui karena harga emas Pegadaian tidak up date setiap harinya dalam website.

 

 

  1. Buka Emas Bukalapak

Jika anda pelanggan belanja daring di Bukalapak, maka ada satu pilihan transaksi berupa Buka Emas. Prinsipnya mirip seperti tabungan Emas Pegadaian. Pembelanjaan anda akan dikonversikan menjadi gram emas. Dalam hal ini, pihak Bukalapak menggandeng perusahaan PT. Indogold. Sebuah perusahaan trading emas logam mulia bersertifikasi PT. ANTAM, UBS, dll.

Harga emas per gram di Bukalapak terbilang mirip dengan harga emas di BRANKAS ANTAM. Informasi harganya juga up date  setiap hari. Pembelian minimal emas di Buka Emas Bukalapak memungkinkan pembelian dalam jumlah sangat kecil.

Saya pribadi baru menyadari memiliki saldo emas Bukalapak setelah beberapa beberapa transaksi pembelian yang gagal dan dana Buka Dompet saya dikembalikan. Rupanya saya mencentang beli otomatis, dana dikonversikan dalam saldo emas setiap pembelian. Sebuah langkah yang bagus untuk anda yang konsumtif agar secara tidak langsung menabung setelah berbelanja.

20200601_130621[1]

Harga emas per gram tanggal 1 juni 2020, di Bukalapak hampir sama dengan harga emas di BRANKAS ANTAM, di kisaran harga Rp. 855.750,-

Berdasarkan web PT. Indogold, pembelian minimal emas bahkan bisa dimulai dari Rp. 500 rupiah. Jumlah minimum pembelian yang paling kecil dibanding yang lain. Meskipun merupakan pihak swasta, anda tidak perlu khawatir terjebak dalam investasi abal-abal. Sebab sama seperti PT. ANTAM dan Pegadaian, Indogold juga terdaftar dan diawasi oleh OJK. Sehingga secara standard kredibilitasnya sudah terjaga.

Selain harga cetak, hal lain yang perlu diperhatikan adalah biaya kurir yang lebih tinggi. Hal ini dapat dimaklumi karena pengiriman logam mulia tentu tidak bisa memakai jasa kurir sembarangan. Bukalapak dalam hal ini menggandeng jasa kurir RPX dalam pengiriman cetak emasnya. Biaya ongkir ini sudah termasuk asuransi pengiriman.

Harga emas di Bukalapak tentu belum termasuk biaya cetak. Secara logika, karena Bukalapak menggandeng PT. Indogold, dan PT. Indogold membeli emas dari PT. ANTAM, harga per gramnya tentu akan lebih tinggi. Kepraktisan pembelian via daring memang membantu untuk masyarakat perkotaan yang terjangkau internet. Namun untuk masyarakat di daerah bisa jadi akan kesulitan untuk transaksi maupun cetak emas.

 

  1. TAMASIA

Tamasia adalah aplikasi digital dari PT. Tamania Global Sharia. Prinsipnya sama, uang anda minimal Rp. 10 ribu rupiah akan dikonversikan sejumlah gram emas. TAMASIA juga membeli emas dari PT. ANTAM. Harga emas yang tertera di aplikasi belum termasuk biaya cetak dan biaya kurir.

Aplikasi TAMASIA terdaftar di Kemeninfo. Sedangkan secara pengawasannya berada di bawah BAPPEPTI (Badan Pengawas Perdagangan Berjangka Komoditi).

Berdasarkan pengalaman pribadi, pendaftaran rekening TAMASIA terbilang sulit untuk verifikasi akun.  Sejak bulan llau hingga hari ini, setelah regisrasi dan OTP dikirimkan, verifikasi tidak juga berhasil. Bisa jadi karena WFH atau sebab lain.

Namun demikian, saya tidak berhasil mencoba transaksi di aplikasi ini sehingga tidak bisa membandingkan lebih lanjut.

 

  1. DINARAN

DINARAN merupakan satu terobosan yang baru diluncurkan PT. Ciptalintang Aji Dana akhir bulan lalu. Program ini merupakan gabungan dari menabung di bank dan tabungan emas. Secara ringkas, programnya mirip dengan tabungan emas lainnya. Di mana jumlah rupiah anda akan dikonversikan dalam bentuk jumlah gram emas.

20200601_085429[1]

Perbedaan DINARAN adalah adanya kartu debit yang bisa dipakai bertransaksi. Jika kartu BRANKAS ANTAM hanya sebagai kartu anggota. Kartu DINARAN bisa dipakai untuk transaksi sehari-hari. Baik untuk tarik tunai di ATM maupun berbelanja. Kartu ini juga sudah terkoneksi dengan Gerbang Pembayaran Nasional (GPN). Jumlah saldo rupiah anda akan tergantung harga emas. Jadi tabungan rupiah anda akan aman dari inflasi karena memiliki emas fisik yang mendasarinya.

Misalnya harga emas saat anda beli adalah 1 juta rupiah per gram dan anda membeli 5 gram emas. Maka anda memiliki uang 5 juta rupiah yang setara dengan saldo 5 gram emas. Lalu anda belanjakan 1 juta sehingga saldonya hanya tinggal 4 juta rupiah. Beberapa bulan kemudian, harga emas naik dari 1 juta rupiah ke Rp. 1,1 juta rupiah. Maka saldo anda akan ikut naik meskipun sudah anda pakai berbelanja. Jadi saldo anda adalah Rp. 1.1 juta rupiah dikali 4 gram yang tersisa sehingga jumlahnya menjadi Rp. 4, 4 juta rupiah. Jika 5 tahun kemudian harga emas naik 2 kali lipat, saldo anda juga akan naik. Jadi anda tidak takut rupiah anda terkena inflasi.

Proses transaksi Dinaran juga relatif mudah. Anda hanya perlu mengunduh aplikasinya dan mendaftar secara daring. Harga emas juga selalu diperbaharui. Sama seperti TAMASIA, secara izin dan pengawasan, DINARAN berada di bawah pengaturan dan pengawasan BAPPEPTI.

Kekurangannya, karena memiliki fasilitas kartu debit yang tidak dimiliki program lain, maka harga emas di aplikasi DINARAN adalah yang termahal. Perbedaannya sekitar 30 ribu per gram dibandingkan harga fisik Logam Mulia BRANKAS ANTAM. Jika dibandingkan dengan harga BRANKAS ANTAM, perbedaannya sekitar 91 ribu per gram.

Pencairan tabungan emas ini sendiri hanya dalam bentuk rupiah melalui ATM atau EDC. Kekurangan lainnya. Karena aplikasi ini baru diluncurkan dua minggu lalu, fitur dalam aplikasinya belum lengkap. Misalnya fitur helpdesk yang belum aktif.  Saya juga tidak tahu apakah ke depannya pencairan emas bisa dilakukan secara fisik.

 

Sebagai penutup, setiap program di atas memiliki kelebihan dan kekurangan tersendiri. Pilihlah yang paling sesuai dengan tujuan keuangan anda. Apakah anda ingin membeli emas dengan harga termurah dan jangka panjang? Ingin membeli secara mencicil? Apakah anda lebih sering berbelanja daring atau lebih sering melakukan transaksi tunai yang memerlukan jaringan ATM dan EDC? Sesuaikan dengan profil pribadi anda.

Semoga bermanfaat.

 

Dipublikasi di INFO | Tag , , , , , , , | 2 Komentar

L.A. THE DETECTIVE 2 BAGIAN 24 (ENDING)


Bagian Dua Puluh Empat

 

Frank

Larry mengatakan rencananya untuk pindah ke tempat lain. Ia telah menyiapkan surat pengundurkan diri resmi dari kepolisian. Urusan perusahaan telah diserahkan pada orang-orang kepercayaannya. Saat perpisahan sebentar lagi.

“Jadi inilah akhirnya…,” aku menelan ludah.

Larry mengangguk. “Inilah akhirnya.” Ia mengulang perkataanku.

“Kupikir kau lebih banyak di kamar untuk beristirahat dan tidur sepanjang waktu,” ucapku.

Larry nyaris tertawa. “Sebagian memang begitu. Dengar Frank, Kepolisian akan segera menunjuk pengganti diriku. Sepertinya kau masuk dalam kandidat. Jika itu terjadi, selamat untukmu, Frank. Jangan lupa apa yang sudah kau pelajari selama ini.”

Tadinya sempat terpikir olehku, bahwa entah bagaimana, kami akan kembali ke Kepolisian, menjadi partner dan bertugas seperti dulu. Kurasa tabiat diam Larry dalam sikapnya tetap jauh lebih aku sukai daripada bertugas tanpanya. Ada sesuatu yang hilang. Sesuatu yang terasa salah olehku.

“Apakah aku akan bertemu kembali dengan kalian bertiga? Suatu saat, mungkin?” Aku tidak tahu proses penyembuhan Larry akan makan waktu berapa lama.

“Aku hanya akan pergi dengan Mary. George akan kembali ke Wyoming dan mengurus segalanya. Jika memungkinkan nanti, kau mungkin bisa mengunjungiku dengan menghubungi George lebih dulu. Tapi pastikan kau aman dan tidak diikuti.”

“Aku bisa atasi hal itu. Pastikan saja kau segera sembuh.” Aku berkata dengan sungguh-sungguh.

Larry tidak menjawab. Seperti biasa, ia hanya tersenyum.

***

Mobil sewaan yang membawaku berlawanan arah dengan mobil yang membawa Larry. Aku menatap ke luar jendela dari kursi di belakang.

Entah kenapa aku merasa kesepian.

Aku akan kembali ke Kepolisian, tapi tanpa Larry yang menjadi partnerku. Semuanya akan terasa sangat berbeda. Aku merasa kehilangan. Meski di satu sisi aku sangat lega ia masih hidup, aku tidak tahu apakah kami akan bisa bertemu lagi. Bukan hanya karena jarak, tapi karena aku juga tidak tahu apakah pengobatan Larry akan berhasil atau tidak.

Aku sungguh sangat berharap kami bisa bertemu lagi dalam keadaan yang lebih baik.
***
             Pada saat yang sama…

“Tuan Watson, mari.” George membukakan pintu untukku lalu melakukan hal yang sama untuk Mary. Aku menoleh sekilas ke arah mobil Frank yang perlahan menjauh. George mulai mengemudi. Pikiranku melayang ke segala arah. Jika sesuatu terjadi padaku, aku sudah siap. Aku sudah menyiapkan semuanya.

“Kau cemas?” Suara lembut Mary menyadarkanku dari lamunan.

“Sedikit,” aku tersenyum padanya.

Ia membalas senyumku. Kepalanya bersandar di bahuku sementara lengannya melingkar di lenganku. Ia memainkan jari tanganku dalam genggamannya.

“Bukankah ini impianmu? Pergi ke suatu tempat di mana tak ada yang mengenal dirimu dan tak ada yang bisa menyangkutkan dirimu dengan Watson Company?”

“Kau sendiri? Apakah ini pernah menjadi impianmu?”

“Aku pernah bermimpi… Untuk menghabiskan sisa hidupku dengan tenang bersama orang yang paling kucintai,” Mary tersenyum dan menengadah menatapku.

Aku merengkuhnya erat dengan rasa bahagia. “Yah, kehidupan baru. Memang tepat seperti itulah yang kita butuhkan.”

***
(TAMAT)

Dipublikasi di cerita bersambung | Tag , , , | Meninggalkan komentar

L.A. THE DETECTIVE 2 BAGIAN 23


Bagian Dua Puluh Tiga

 

Frank sudah mengurus cutinya dan berkunjung ke Lake Forest. Tapi kali ini Larry tidak menyambutnya seperti biasa. Ia sedang berbaring di sofa saat Frank datang. Larry hanya menoleh sedikit lalu kembali memejamkan mata. Nyaris seolah tak peduli.

Frank mendekat. “Ayolah, jangan bermalas-malasan begitu.”

Frank sesungguhnya cemas. Ia ingin Larry berpura-pura semuanya baik-baik saja seperti biasanya. Saat Larry tidak melakukannya, Frank sadar itu karena kekuatannya semakin melemah. Hal itu makin membuatnya khawatir.

Larry cuma memberi isyarat tangan tanpa membuka mata saat Frank mencoba mengusiknya.

Larry akhirnya masuk kamar dan bilang ke semua orang –yang tentu maksudnya adalah Frank- bahwa ia tidak ingin diganggu. Ia hanya mau ditemani Mary.

Frank merindukan pertengkaran-pertengkaran kecil itu. Saat Larry bersikeras ia tak apa-apa. Meski khawatir, Frank menganggap itu karena Larry bisa mengatasinya. Tapi saat Larry bahkan tak mampu menjawab bagaimana keadaannya sendiri, dan dengan pasrah mau dibawa ke rumah sakit atau dipanggilkan dokter, Frank tahu sakitnya sudah tak tertahankan. Di mana orang paling kuat sekalipun akan dipaksa menyerah.

***

Kondisi Larry naik turun bagai roller coaster. Ada kalanya segalanya tampak baik-baik saja. Ia melakukan kegiatan sehari-hari dengan normal. Tapi suatu sore ketika mereka sedang duduk berempat di ruang tamu, tiba-tiba Larry jatuh tak sadarkan diri di sofa. Ketika ia siuman, ia menyatakan diri tak apa-apa. Bagaimana Frank bisa percaya?

Mereka membawanya ke rumah sakit, Larry tak kuasa menolak. Begitu ia selesai diperiksa, para dokter tidak memperbolehkannya pulang.

Frank mengamati saja semua itu. Larry tidak berkata sepatah kata pun. Sesekali wajahnya mengerut, meringis tertahan, tapi tak ada keluhan yang keluar. Ketika obat yang menetes di infusnya sudah mencapai dosisnya, ia pun tertidur. Tampak tenang dan damai.

Frank mengobrol dengan George, bertanya-tanya kenapa Larry bisa mengalami hal itu lagi. George menceritakan jadwal Larry di New York yang tidak diketahuinya.

“Jadwal apa?” Frank bertanya.

“Pertemuan bisnis berhari-hari sebelum ke Wyoming, dengan jadwal sangat padat. Bertemu Mrs. Lindsay, para pemegang saham, dewan direksi, manajer investasi dan pengacaranya. Tuan Muda sempat pingsan dalam rapat dewan direksi.” jawab George.

“Apa? Kenapa Mary membiarkannya?” Frank tak habis pikir. Larry sudah jelas tidak dalam kondisi prima. Ia tidak memenuhi syarat untuk bertugas di kepolisian saat ini. Tapi ia malah mengambil pertempuran yang lebih besar. Berkonfrontasi langsung dengan bibinya. Pertempuran Larry dengan perusahaan itu sudah berlangsung bertahun-tahun, lebih lama dari masa tugasnya di kepolisian. Frank tahu itu.

George menjelaskan tentang Clif dan manuvernya terhadap Watson Company dan kampanye gubernur. Larry menganggapnya kasus darurat yang harus ditangani segera. Semuanya terkendali dan berjalan sesuai rencana. Setidaknya hingga sore tadi.

***

Mereka langsung terbang ke New York pada hari yang sama. Kembali ke rumah besar milik Larry. Frank tidak tahu persis kenapa mereka ke sana. Informasi sekilas yang  ia dapat, Larry masih harus memastikan beberapa hal tentang perusahaannya. Keberadaannya di New York sangat penting. Selain itu, di New York, Larry lebih punya banyak sumber daya. Pelayan dan koki di rumah hanya salah satunya.

“Kau memarahiku, tapi diam-diam kau mempercayai bahwa dirimu akan mati.” Frank menemui Larry di ruang kerjanya saat kondisinya mulai membaik.

Larry diam. Bertahun-tahun menjadi partner, membuat dirinya dan Frank kenal sangat baik. Mereka terlatih untuk mengerti isyarat paling kecil sekalipun serta setiap perkataan yang tersamar.

Larry tidak bermaksud membantah. Ia tahu, Frank benar. Frank telah menebaknya dengan sangat benar. Mau bagaimana lagi? Frank detektif senior, andal seperti dirinya.

“Kau memforsir dirimu sendiri, Larry,” ucap Frank lagi. Nadanya menuduh. “Kudengar kau sempat pingsan dalam rapat direksi.”

Larry menghela napas jengah. Frank benar, ia telah memforsir dirinya sendiri. Jadi apa yang seharusnya ia lakukan? Duduk menunggu sampai ajalnya datang?

Ia hanya ingin hidupnya kembali. Hidup yang normal. Yang bebas dari rasa takut. Hidupnya yang produktif. Bagaimana ia bisa berdiam diri sementara banyak hal yang harus ia bereskan sebelum ia pergi? Bukankah sebaiknya ia menyiapkannya sekarang untuk Mary?

“Kau datang jauh-jauh dari L.A. hanya untuk memarahiku seperti ini? Aku merasa tersanjung, Frank,” ujar Larry datar. Sikapnya tenang seperti biasanya.

Frank merengut, merasa dirinya agak berlebihan. “Senang bertemu denganmu,” ucapnya berusaha tak peduli. Namun tentu saja gagal total.

Larry tersenyum, mengerti maksud ucapan Frank sepenuhnya. “Senang melihatmu masih hidup,” ia menuturkan maksud Frank.

Larry duduk di kursi. “Kau sadar tidak, kita tidak tahu siapa yang berada dalam bahaya sekarang. Kuharap para penjahat di L.A. tidak mengikutimu ke mari.”

***

Larry sedang berbicara dengan Frank saat Thomas Lewis datang. Larry saling memperkenalkan mereka berdua.

“Aku tidak akan mengganggu kalian,” Frank segera beranjak pergi. “Sampai nanti.”

Mata Thomas mengikuti langkah Frank menjauh. Larry mengajak Thomas ke ruang kerja pribadinya.

“Jadi, dia partnermu di kepolisian?” tanya Thomas ketika Frank sudah tidak kelihatan.

“Ya.”

“Kalian saling bergantung satu sama lain?”

“Bisa dibilang begitu.”

“Apa kau akan menyelamatkanku kalau aku ditodong pistol?”

“Kurasa tidak.”

“Sial, kupikir aku cukup berharga untukmu.”

“Aku harus menyelamatkan diriku sendiri saat ini,” sahut Larry tak acuh. Mau tidak mau Thomas tersenyum.

“Kau mau kopi?” tawar Larry sambil duduk di kursinya.

“Kau tidak punya sesuatu yang lebih keras?” Thomas duduk di hadapan Larry. “Wine, bir, sampanye, apa pun selain soda?”

“Aku tidak mengoleksi hal semacam itu lagi.” Larry tersenyum. Rumah besar ini punya sebuah bar mini. Dulu ayahnya biasa menyimpan anggur-anggur terbaik untuk jamuan bisnis atau pesta. Sekarang bar itu hanya sekedar pajangan dekoratif.

Thomas menghela napas. “Kalau begitu aku pilih kopi.”

Larry menekan interkom di mejanya dan menghubungi dapur. “Hanah, tolong buatkan kopi untuk Mr. Lewis,” ia berhenti sejenak untuk bertanya pada Thomas. “Kau mau makan malam di sini, Tom? Aku bisa meminta para juru masak menghidangkan menu favoritmu.”

“Aku harus kembali ke kantor. Tapi sedikit selingan sore, boleh.”

Larry bicara kembali ke interkom. “Kami mungkin agak lama. Kau bisa buatkan sesuatu untuk kami?”

“Saya bisa membuatkan anda pie buah atau keju. Jay juga tadi membuat biskuit,” jawab Hanah lewat interkom.

“Kalau begitu tolong bawakan untuk kami berdua.”

“Baik, Sir.”

Larry menutup pembicaraan. Ia menyandarkan tubuhnya ke kursi. “Kau bisa mulai dari mana pun, Tom.”

Thomas mengeluarkan beberapa berkas dari kertasnya. “Ada beberapa hal,” katanya. “Pertama tentang persiapan NJM go public. Sejauh ini semua beres. Aku dan Pat telah mengatur semua dokumen dan menghubungi orang-orang tertentu. Kau bisa melihatnya dalam laporan ini. Tapi ada beberapa detail dari SEC yang perlu kita diskusikan.”

Larry mengambil berkas itu dan membacanya. Pembicaraan terputus karena pintu diketuk. Hanah datang membawakan kopi dan kudapan. Ia meletakkannya di meja kecil yang terpisah di dekat Thomas.

Thomas melanjutkan kata-katanya setelah Hanah menuangkan kopi ke cangkirnya lalu kembali ke dapur. “Bagaimana keputusanmu tentang NJM?”

“Aku ingin membatalkan merger-nya.”

“Bibimu tidak setuju. Ingat apa yang pernah kau katakan? Ia berencana mengembangkan NJM menjadi perusahaan raksasa. Merger ini penting baginya.”

“Terserah. Sejak awal aku tidak tertarik mengurusnya.”

“Masalahnya, bibimu menguasai 40 persen sahamnya, Larry.”

“Dan total nilainya hanya seperdelapan dari keseluruhan aset Watson Company.”

“Itulah sebabnya merger ini sangat penting. Kalau kau dulu bisa mendesak dewan direksi Watson Company mengikuti kemauanmu untuk go public, bibimu juga bisa melakukan hal yang sama agar NJM tetap merger. Kita bicara tentang aset ratusan jutaan dolar, Larry.”

“Akan kuminta Pat dan timnya yang mengurus. Aku bisa melepas sahamku di sana. Kau bisa membelinya kalau kau mau. Kita bisa membuat perjanjian terpisah. Membuat perjanjian kepemilikan saham yang baru. Kau tahu aku tidak sedang memikirkan uang saat ini, Tom.”

Thomas Lewis menghela napas. Sadar sepenuhnya bahwa Larry benar. Sejak dulu, Larry tidak mengejar uang. Meski juga tidak berlaku sembrono. Sekarang setelah diagnosa itu, uang mungkin menjadi hal terakhir yang akan dipedulikannya.

“Baiklah, kita bisa bicarakan itu nanti. Kau tahu Vic mengusulkan perombakan organisasi sebelum kita melaporkannya pada SEC?”

Larry mengangguk. “Ia pernah menemuiku di kantor, menanyakan apakah aku ingin melepas saham bagianku. Ia juga terang-terangan menunjukkan minat sebagai CEO jika aku berhalangan. Kau tahu maksudnya kan?”

“Ya,” Thomas tersenyum sinis.

Perbincangan itu masih terus berlanjut. Satu setengah jam kemudian, Thomas sedang membicarakan beberapa detail ketika tiba-tiba Larry mengangkat tangan kanannya. “Cukup dulu untuk saat ini, Tom.”

“Kau tidak apa-apa, Larry?”

Larry mengernyit. “Aku perlu berbaring.”

Thomas berdiri dengan sigap. Ia menekan interkom di meja Larry. “Siapa pun, kami butuh bantuan.” Ia berbicara selagi bersiap memapah Larry.

Mary datang tergopoh-gopoh bersama George. Frank mengikuti di belakangnya. Mereka membawa Larry ke kamar.

Frank melihat Larry yang tampak kesakitan. Mary dan George membantunya berbaring.

“Apa yang kalian bicarakan?” Frank bertanya pada Thomas di sebelahnya.

“Urusan perusahaan.”

“Haruskah membicarakan perusahaan dalam keadaannya yang seperti ini?” tanya Frank dengan nada tak senang.

“Haruskah seorang detektif menanyai saksi atau korban saat ia baru sadar di rumah sakit?” Thomas balik bertanya.

“Brengsek,” dengus Frank seraya berjalan pergi.

***

Frank menoleh saat mendengar suara sesuatu menubruk pintu. Tubuh Larry merosot dan terduduk di lantai dengan sedikit bingung.

“Larry!” Frank cepat menghampirinya.

“Aku tak apa-apa. Aku tak apa-apa,” ucap Larry cepat. Ia berusaha berdiri. Frank membantunya. Memapahnya ke sofa.

“Terima kasih, Frank,” Larry menyandarkan tubuhnya di sofa.

Frank tersenyum. “Aku akan memanggil Mary, oke?”

Larry mengangguk. Frank melesat pergi. Mary datang tak lama kemudian. Gerorge juga ada bersamanya.

“Kau seharusnya istirahat di kamar,” Mary mengecup Larry singkat.

“Aku bosan,” Larry menyahut singkat. “Bisakah kalian beraktivitas seperti biasa dan menganggapku tak ada? Aku tidak begitu suka menjadi pusat perhatian seperti ini. Frank, kau tidak punya kasus untuk diselesaikan?”

Frank menggeleng.

Larry menghela napas. “Baiklah, jadi kita berempat di sini dan mengobrol.”

Mary tersenyum. “Sepertinya begitu.”

“Mana Thomas?” tanya Larry.

“Dia sudah pergi. Mungkin kembali ke kantor atau pulang. Entahlah.” Kali ini Frank yang menjawab. “Tidakkah sebaiknya kau tidak mengurus perusahaan dulu saat ini, Larry?”

“Ini hampir berakhir, Frank,” jawab Larry pelan. “Aku ingin segera menyelesaikannya.”

Frank mendesah, lalu tiba-tiba tersenyum. “Hei, Larry, bisakah kita ke kamar dan aku meminjam komputermu? Aku butuh bantuanmu untuk melakukan sesuatu. Aku perlu persiapan sebentar.”

***

Frank menyalakan komputer dan memutar layarnya menghadap Larry yang duduk di tempat tidur.

“Kejutan….” teriak suara-suara dari layar. Video chat langsung dari markas.

“Oh,” Larry tampak terkejut.

“Hai, Larry, selamat ulang tahun,” Robert, opsir lucu di bagian lalu lintas menyapa lebih dulu.

“Ulang tahunku sudah lama berlalu, Robert.”

“Yah, mungkin kita bisa membuat hal itu menjadi dua kali dalam setahun.”

Larry tertawa.

“Aku harap kami tidak mengganggu istirahatmu, Larry.”

“Kalian selalu menggangguku selama ini dan aku tidak keberatan, Jim.”

“Bagaimana keadaan di sana, Larry?”

“Aku baik-baik saja, Jane. Kalian seharusnya memberiku waktu untuk bersiap-siap. Bukannya menangkap basah seperti ini.”

“Salahkan partnermu. Ini semua ide Frank.”

Larry menoleh ke arah Frank penuh terima kasih. “Aku akan menghabisinya setelah ini,” ucapnya disambut tawa Frank.

“Cepat kembali ke sini, Larry. Kami membutuhkanmu.”

“Kalian semua sudah punya detektif terbaik. Kerja Frank selama ini cukup bagus.”

“Yah, tapi omong-omong tentang Frank,” Kapten Brock muncul di layar. “Kau tahu kan kalau dia agak sedikit…,” Kapten Brock memainkan jarinya di kepala. “Kau tahu sendirilah.”

Semua di tempat itu tertawa.

“Kembali ke sini, Larry. Aku kehilangan wajah dinginmu.”

“Dan aku kehilangan teman minum kopi sambil duduk di meja semalaman memeriksa berkas.”

Pembicaraan itu berlangsung akrab. Dan baik Frank maupun Mary melihat bahwa hal itu berdampak positif bagi Larry.”

***

Larry bicara langsung pada Mrs. Lindsay dan Victor secara terpisah.

“Aku bersedia memimpin kembali Watson Company tetapi dengan satu syarat.”

“Apa itu?”

“Kau ubah kembali keyakinanmu dan kita anggap semua pertentangan selama ini tidak pernah terjadi.”

Larry tertawa. “Bibi meminta suatu hal yang mustahil.”

“Kalau begitu aku berlepas tangan. Watson Company bisa hancur.”

“Biarkan saja hancur kalau begitu.”

“Itu akan menjadi kesalahanmu.”

“Aku terima risiko itu,” Larry tersenyum. “Perusahaan itu pernah berkembang tiga kali lipat ketika aku memimpinnya, bukan?”

“Maksudmu kau akan benar-benar memimpin perusahaan ini lagi? Kau tidak akan mungkin bisa melakukannya dengan kondisi kesehatan seperti ini.”

“Aku akan temukan sebuah cara. Otak jenius itu ada gunanya.

“Apa yang kau inginkan sebenarnya, Larry?”

“Restrukturisasi pemegang saham. Aku ingin NJM 100 persen go public. Aku akan melepasnya dari Watson Company.”

“Kau ingin melepas sahammu ke bursa?”

“Ya, aku ingin pelepasan saham perdananya dilakukan secepatnya.”

“Aku mengerti. Kau mengkhawatirkan sesuatu.”

“Aku mengkhawatirkan Vic, dan mungkin juga bibi.”

“Apa maksudmu?”

“Vic dalang pembakaran ranchku, islamic center yang kudirikan. Aku sudah menyelidikinya dan punya bukti kuat untuk itu. Dari mana dia tahu hal itu kalau bukan dari bibi? Bukan itu saja. Dia juga membocorkan informasi rahasia yang membahayakan perusahaan ini. Suruh dia menjual seluruh bagian sahamnya dan mengundurkan diri dari perusahaan. Aku tidak punya banyak waktu untuk berurusan dengan pengadilan. Tapi percayalah, aku bisa menuntutnya serta meminta ganti rugi dalam jumlah yang sangat banyak. Dan jika bibi terlibat, aku juga bisa melakukan hal yang sama. Jangan main-main denganmu dalam hal ini. Kita berdua sama-sama tahu apa saja yang bisa aku lakukan. Aku sudah melaporkan Vic pada SEC dan kepolisian Wyoming atas dua kasus yang berbeda.”

Mrs. Lindsay tampak geram, tapi kemudian ia menyerah. “Baiklah, kau menang.”

 

***

“Menjauhlah dari Watson Company, Vic. Kau tidak dibutuhkan di sini. Permainan kotormu tidak berhasil di sini.”

“Permainan kotor macam apa yang kau tuduhkan?”

“Membocorkan informasi kesehatanku pada orang lain yang tidak berhak? Insider trading ilegal, melakukan kampanye aktivis diam-diam untuk menyerangku, memerintahkan perusakan propertiku di Wyoming, menuduhku terlibat terorisme. Kau sungguh-sungguh mau tahu semuanya sebelum meninggalkan perusahaan ini?”

“Bagaimana dengan saham-sahamku?”

“Kita bisa melakukan perubahan perjanjian pemegang saham dengan melibatkan pengacara masing-masing. Kau bisa menjualnya. Aku atau pemegang saham lain bisa membelinya.”

“Bagaimana kalau aku tidak mau?”

“Aku bisa menuntutmu dengan selusin tuduhan hingga membuatmu bangkrut. Kau tahu aku kepala detektif bagian pembunuhan LATD dan istriku melanjutkan sekolah hukum di sini. Kalau kau berani macam-macam, aku akan melibasmu lebih dulu. Mungkin menyenangkan melihat reputasimu hancur sebelum mati.”

“Kau tidak bisa membuktikannya, Larry. Cukup banyak orang yang tahu kau collapse dalam rapat dewan direksi. Lebih banyak lagi yang tahu kau mengunjungi Islamic Center.”

Larry tersenyum. “Jangan khawatir, Vic. SEC punya cukup bukti dan kesaksian yang memberatkanmu dan orang-orang suruhanmu di Wyoming juga sudah mengaku. Orang-orang SEC sudah menunggumu di luar pintu itu.”

***

(Bersambung)

Dipublikasi di cerita bersambung | Tag , , , | Meninggalkan komentar

L.A. THE DETECTIVE 2 BAGIAN 22


Bagian Dua Puluh Dua

 

Larry

Entah obat, rasa penyangkalan atau sel-sel kanker itu yang membuatku jadi begini. Seisi rumah ini menatapku heran ketika aku mulai bertindak aneh.

Aku menjadi mudah marah karena hal-hal sepele. Makanan ini terlalu asin. (Padahal mungkin tidak). Ke mana tukang kebun yang seharusnya merapikan gundukan tanah yang kubuat minggu lalu? (Padahal sebelumnya aku memintanya membiarkan begitu saja). Aku mengancam akan memecat George kalau dia tidak menuruti kemauanku –yang dilarang oleh dokter-. Nada suaraku lebih tinggi daripada yang kumaksudkan saat bicara dengan Mary. Aku bahkan memalingkan muka dan menolak setiap suapan yang ia tawarkan kepadaku.

“Kau harus makan sesuatu,” kata Mary. “Tolonglah. Satu suap saja. Aku membuatnya sendiri,” lanjutnya dengan pandangan memohon.

Tapi aku malah membalikkan badan dan merebahkan diri. Hanya sekilas melihat tatapan Mary yang terluka karena penolakanku.

Mary menyelimutiku dengan lembut. Aku merasa melayang. Antara sadar dan tidak ketika aku mendengar suara Mary berbicara.

“Dia menjadi seperti bukan dirinya, George,” kata Mary dan aku membayangkan mereka berdua mengamatiku dengan wajah prihatin.

Mary benar.

Aku bahkan tidak merasa menjadi diriku lagi.

***

Sebagai seorang detektif kepolisian aku tahu mana luka yang berbahaya atau tidak. Setiap hari aku melihatnya dalam kasus yang kutangani. Sebuah luka sayatan atau tusukan yang pernah kudapatkan dari Brad mungkin terlihat mengerikan dengan sobekan daging yang terlihat dari luar dan darah yang mengalir, tapi balutan yang baik dan beberapa jahitan akan segera menolong dan mengubahnya menjadi luka yang tidak berbahaya.

Tapi sebuah luka dalam yang tak terlihat, racun, atau dalam kasusku, mutasi gen yang tak kuharapkan akan bisa membunuhmu diam-diam.

Aku bukannya tidak tahu, atau tidak merasakan gejala-gejalanya. Kurasa aku hanya mengabaikannya dengan mencoba bersikap tidak peduli. Mungkin jika aku bersikap demikian, aku bisa membohongi sistem imun tubuhku hingga memberiku sedikit tambahan waktu.

Nyatanya itu tidak berhasil. Kenyataan menyentakku dengan cepat bagai sebuah mimpi buruk yang membuatmu terbangun di tengah malam.

Aku pernah berharap untuk mati. Dulu, saat aku kehilangan partnerku, Gary Stewart. Kupikir tidak akan banyak orang yang akan kehilangan diriku seandainya aku mati, -tidak sebanyak Gary-. Tapi saat kematian benar-benar mendekat, baru kusadari bahwa sesungguhnya aku takut. Doaku terkabul pada saat yang tidak tepat.

Aku takut terutama setelah aku menikah dengan Mary. Aku takut kehilangan sesuatu yang baru saja kumiliki, kehidupan baru yang kujalani. Dulu aku tidak menganggap kehidupan ini berharga, dan kini aku bahkan kerap menghitung detak jantungku sendiri.

Kurasa aku memang jatuh cinta. Sepertinya Mary juga begitu. Dan itu yang membuat keadaan menjadi lebih rumit. Lebih baik dan buruk pada saat yang sama. Lebih buruk karena perasaan takut kehilangan, tapi lebih baik karena aku tidak lagi sendirian.

“Semua akan baik-baik saja,” kataku tak lama setelah diagnosa kanker itu.

Aku berbohong.

Mary diam saja. Kami berdua sama-sama tahu itu tidak benar.

Butuh empat kematian dan lima peluru untuk menyadarkanku. Ditambah sebuah mutasi sel yang membuatku benar-benar mendekat pada Tuhan.

***

Frank Russell, orang paling ceroboh yang pernah kukenal. Pada hari pertama bertugas –saat itu kami belum menjadi partner- Frank sudah dimarahi Kapten Brock karena berbagai pelanggaran. Membawa anjing ke dalam mobil patrolinya, ngebut dan menyalakan sirine pada saat tidak bertugas, menumpahkan kopi hingga membasahi file-file penting, dan yang paling parah, kehilangan lencana dan kartu anggota kepolisiannya.

Frank pernah berkata padaku bahwa ia heran bagaimana aku selalu bisa bertindak benar. Aku bertanya balik apa maksud pertanyaannya itu. Karena sesungguhnya, itu penilaian yang salah. Sangat salah.

Aku melakukan banyak kesalahan. Beberapa di antaranya tak termaafkan.

Aku membiarkan Gary meninggal. Aku tidak memperingatkan Gary lebih awal kecurigaanku yang -saat itu- tanpa alasan. Hanya sebatas intuisi bahaya yang datang. Saat aku menyadari dan berusaha memperbaiki keadaan, segalanya sudah terlambat.

“Kematian Brad, dan Steve, itu bukan kesalahanmu,” ucap Frank seolah-olah hal itu bisa menghiburku.

Frank mengatakan juga padaku bahwa aku tidak egois dan selalu mementingkan orang lain. Aku tidak menuntut pujian dan memberikannya pada orang lain. Menjauhi sorotan, dan pergi diam-diam.

Memangnya untuk apa semua itu jika sejak lahir aku sudah mendapatkannya?

Frank mengatakan ia tak habis pikir bagaimana bisa aku tidak bangga pada semua yang kupunya dan malah beralih menjadi polisi?

Well…, jika kau hidup di mana orang-orang hanya berkenalan denganmu untuk mendapatkan sesuatu, kau akan mengerti.

Itu bukan keputusan yang mudah.  Bagaimana pun, di masa aku aktif di perusahaan, aku telah berhasil mengembangkannya dan menghasilkan keuntungan berlipat. Namun aku tidak menyesalinya.

***

Sungguh pun aku telah menerima banyak sekali penghargaan, sejujurnya aku tidak begitu merasa berguna. Terutama sejak kondisi fisikku menurun dan aku lebih sering berada di tempat tidur. Berbaring layaknya orang mati. Sesuatu yang sangat aku benci.

Meski begitu, aku ingin meninggalkan sesuatu. Aku merasa Frank mengkhawatirkanku secara berlebihan, dan itu memecah fokusnya. Ia tidak lagi datang untuk berdiskusi tentang kasus yang rumit, tapi semacam kunjungan sosial untuk memastikan aku masih hidup.

Aku terbangun suatu malam karena rasa sakit yang hebat. Aku membangunkan Mary yang dengan cepat menelepon 911 dan menghubungi Dokter Morgan untuk meminta nasehat medis. Tapi saat paramedis tiba, keadaanku sudah jauh lebih baik dan aku bersikeras menolak untuk dibawa ke rumah sakit.

Barangkali waktuku tak lama lagi.

Jadi pagi harinya, aku meminta pengacaraku datang dan aku mulai menulis surat wasiatku.

Aku merasa perlu melakukan sesuatu pada beberapa orang terdekatku.

Yang pertama tentu saja Mary. Aku mewariskan aset-asetku padanya. Aku telah berkonsultasi dengan pihak islamic center tentang hukum waris islam yang baru kuketahui. Aku memastikan sebagian lainnya disumbangkan lewat beberapa orang brother yang kupercaya. Aku yakin hartaku akan lebih berguna.

Yang kedua adalah George. Ia orang penting dalam hidupku. Ia bukan ayahku tapi ia mengajariku banyak hal. Ia ada di saat-saat paling buruk dalam hidupku. Ia satu-satunya sahabat yang paling lama kukenal di dunia ini. Aku menulis wasiat untuk George, memastikan ia hidup sejahtera dengan apa yang kutinggalkan untuknya.

Yang terakhir adalah Frank. Seperti yang tadi kubilang, kekhawatiran Frank pada kondisiku bisa dikatakan berlebihan. Meski ia bersikeras bahwa itu hal yang wajar. Tapi kurasa ia berhak untuk bahagia. Frank seorang playboy tapi tidak pernah menemukan wanita yang tepat. Belakangan ia berubah. Ia memutuskan untuk mengubah hidupnya menjadi lebih bermakna.

Menurutku diam-diam Frank mulai mempelajari islam dan itu berpengaruh baik baginya. Namun, kemudian, ia tidak lagi berpikir untuk dirinya saat tahu tentang kankerku. Aku merasa ini sangat tidak adil.

Aku tahu ia menyukai Mary. Ia memuji-memuji Mary saat aku dirawat di rumah sakit dulu dan berjanji akan mengenalkanku dengan seorang wanita yang baginya amat menarik.

Tapi begitu ia tahu bahwa wanita tersebut ternyata Mary mantan anggota timku, dan melihat isyarat diam-diam bahwa aku dan Mary sesungguhnya pun saling menyukai, Frank memilih untuk mundur. Dengan jantan mengucapkan selamat saat aku akhirnya menikah dengan Mary.

Aku ingin Mary-ku aman. Aku ingin dia bahagia. Apa pun yang terbaik untuknya. Begitu juga dengan Frank. Ia berhak mendapat lebih dari sekedar masa-masa sulit ketika kami menjadi partner. Ia  satu-satunya orang yang kuanggap tepat untuk menggantikan diriku menjadi pendamping Mary.

Aku juga meninggalkan sesuatu untuk Kapten Brock. Bagaimana pun ia sahabat ayahku.

Aku harap aku bertindak benar. Aku harap mereka semua bahagia.

***

(Bersambung)

Dipublikasi di cerita bersambung | Tag , , , | Meninggalkan komentar

L.A. THE DETECTIVE 2 BAGIAN 21


Bagian Dua Puluh Satu

 

 

Frank kembali ke Los Angeles dan mengerjakan tugasnya, lalu mengunjungi Larry kembali di rumah peristirahatannya tanpa memberi kabar lebih dulu. Lake Forest di Orange County hanya memakan waktu sekitar satu jam dari Los Angeles. Itu memudahkan Frank mengunjunginya.

“Frank,” Mary menyambutnya di pintu. “Duduklah, aku akan mengatakan pada Larry bahwa kau datang.”

“Bagaimana keadaannya? Dia masih sulit diatur?”

Mary menghembuskan napas pelan. “Kau tahulah dia. Sebentar ya. Aku akan membuatkanmu minuman.” Ia berlalu ke kamar. Lalu memberi isyarat pada Frank untuk menemui Larry di kamarnya.

“Senang bertemu denganmu, Sobat,” Frank merangkul Larry dan duduk di depannya.

“Bagaimana penyelidikanmu?”

“Buntu,” Frank menyesap kopinya. “Bagaimana denganmu sendiri? Kau sibuk dengan para eksekutif di jamuan makan perusahaan?”

“Hanya telepon omong kosong seperti biasa.” Larry menjawab sekenanya. “Kau membawa oleh-oleh untukku?”

“Oleh-oleh?”

“Kasus menarik yang kau singgung di telepon. Kau belum cerita detailnya.”

Frank tertawa. “Sejak kapan seorang polisi membicarakan detail kasus di telepon?”

“Tidak pernah sampai saat ini setahuku. Tapi kau telah membuatku tertarik. Aku harap itulah alasanmu ke sini, untuk melibatkanku memecahkan kasusnya.”

“Aku ke sini untuk menjengukmu.”

“Aku terharu dengan perhatianmu, Frank,” ucap Larry datar. “Tapi kita bisa bicarakan hal itu nanti. Sekarang ceritakan padaku detailnya. Aku siap mendengarkan. Aku sudah tidak sabar.”

Frank mengamati Larry baik-baik. “Kau kelihatan payah,” ia mengalihkan pembicaraan.

“Kau datang pada saat yang tidak tepat.”

“Yah, mau bagaimana lagi? Memangnya aku harus memberitahumu agar menyiapkan parade penyambutan?”

“Mungkin aku bisa mengusahakan hal itu.”

Keduanya tertawa. Larry kembali menanyakan kasus yang menarik perhatiannya. Frank melirik Mary. Mary mengangguk, memberi isyarat bahwa itu tidak apa-apa.

“Beritahu aku selengkapnya Frank. Aku akan mentraktirmu. Kau mendapat makan siang gratis dan aku mendapat informasi. Bagaimana?”

“Kedengarannya adil.”

“Kuharap kau suka makanan rumahan.”

“Aku tak pernah ribut soal makanan,” Frank berkata. “Aku pemakan segala.”

Larry tampak gembira.

“Ini  bukan kasus besar yang menarik perhatian media.” Frank memperingatkan.

“Aku tidak peduli. Tugas kita bukan untuk memuaskan mereka. Tidak peduli betapa sepelenya kasus itu, aku ingin mendengar rinciannya darimu. Ayolah, Frank, beri aku sedikit kesenangan di sini.”

Frank senang melihat Larry tampak begitu bersemangat. Tapi sejak dulu Larry memang selalu bersemangat jika menangani kasus. Frank mulai berpikir barangkali hal seperti ini baik untuk penyembuhan Larry.

“Baiklah, begini….”

***

“Honey…, ayo, sudah waktunya,” suara lembut Mary membuat Larry mendesah.

“Ke mana?” Frank bingung melihat Larry berdiri dengan wajah muram. Ia tidak segera mendapat jawaban. Namun beberapa detik kemudian ia segera mengerti begitu Larry menjawab dengan suara lirih.

“Rumah sakit.”

“Ooh….”

Frank tidak begitu tahu apa yang tejadi. Sepertinya hasil kunjungan terakhir Larry ke rumah sakit tidak begitu bagus. Mary harus pergi untuk urusan yang sangat penting. Frank sempat mendengar tentang pusat pengobatan kanker yang ingin dilihat langsung olehnya. Larry memaksa ikut. Namun Mary jelas melarangnya.

“Dengar Mary, pertama, ini bukan penyelidikan kasus. Kedua, aku bisa menjaga diriku dengan baik. Dan ketiga, aku bukan anak kecil.”

“Dengar, Sayang, pertama, aku mengkhawatirkanmu. Kedua, aku mengenal dirimu dengan baik. Kau itu seringkali mengabaikan diri sendiri. Ketiga, aku ini istrimu. Jadi biarkan aku mengurus dirimu. Sekarang katakan padaku, siapa yang punya alasan lebih baik?”

Frank tidak pernah mendengar Larry dan Mary bertengkar sebelumnya, jadi perdebatan kecil itu menarik perhatiannya.

***

Larry rupanya benar-benar beranggapan bahwa ia dalam kondisi prima. Frank memergoki Larry berdebat dengan George bahwa ia sanggup menyetir sendiri ke pusat pengobatan itu.

“Bagaimana kalau terjadi sesuatu pada anda di jalan?”

“Bagaimana kalau kau kupecat?” Larry menantang.

George tertawa.

“Oh, kau pasti mengira aku bercanda ya? Kau pikir karena kau sudah lama bekerja padaku lebih dari siapa pun, maka aku tidak akan melakukannya, begitu George?”

George menggeleng. “Tidak,” katanya tenang.

“Oh ya? Kenapa?”

“Karena anda tahu saya bertindak benar.”

Larry terdiam sejenak. Lalu ia berlalu dari hadapan George sambil mendengus kesal.

Frank muncul mendekati George. “Ia benar-benar marah ya?” ia melirik ke pintu.

“Saya sudah tua.” George menjawab. Seolah menegaskan bahwa seiring usianya yang bertambah emosinya sudah tidak lagi meledak-ledak.

“Jadi kau tidak tahu harus bekerja dengan siapa kalau Larry memecatmu? Meski aku ragu Larry benar-benar akan melakukannya.”

“Saya tidak menganggapnya sebagai pekerjaan,” George tersenyum. “Tuan Watson menyiapkan dana pensiun yang besar kapan pun saya ingin berhenti. Tapi saya menyayangi Tuan Watson sejak pertama kali melihatnya. Sejak ia masih seorang bocah polos yang tidak bisa diam.”

Frank tersenyum. Meski ia tahu Larry menggaji George di atas rata-rata, ia tidak menganggap George sebagai karyawan. Dalam jamuan resmi sekalipun, mereka sering duduk satu meja dan Larry memperkenalkan George sebagai teman baiknya.

***

Frank menawarkan diri untuk menemani Larry sementara Mary dan George melakukan survey ke pusat pengobatan itu. Saat Mary dan George sudah berangkat, Larry tampak lebih lesu dari sebelumnya.

“Kau tak menyentuh makananmu,” Frank menegurnya.

“Aku tidak lapar.”

“Kau harus makan sesuatu.”

“Aku tidak berselera.”

“Kau semakin lemah ya?”

“Ini memang bukan salah satu hari terbaikku.”

Larry hanya memandang makanan di meja, lalu ia bangkit berdiri. “Aku akan kembali ke kamar.”

“Kau bisa berjalan ke kamarmu? Atau perlu kubawakan kursi roda?”

“Frank…!”

“Aku tidak mengejekmu, Larry. Aku hanya bertanya.” Frank tahu rumah Larry di New York memiliki lift dan tingkat keamanan yang canggih. Tapi tidak di rumah peristirahatan ini. Rumah ini lebih kecil, dan hanya ada anak tangga.

Larry mendesah. “Aku akan gunakan kamar yang ada di bawah.”

***

“Larry!” Frank terhenyak melihat Larry berjalan terhuyung-huyung. Ia keluar dari  kamar mandi setelah muntah-muntah hebat.

“Jangan!” Larry memberi isyarat dengan tangannya. “Tetap di tempatmu, Frank.”

Frank terduduk kembali di kursi. “Aku hanya ingin membantu.”

“Aku akan memintanya kalau aku butuh.” Larry berjalan perlahan ke dalam kamar, menatap wajahnya di cermin, lalu menghapus darah di hidungnya dengan tisu.

“Ini bukan yang pertama kalinya ya?” tanya Frank pelan.

Well…,” ucap Larry mengambang.

“Kenapa bisa terjadi?” tanya Frank lagi.

“Obat,” Larry membuang tisu ke-enamnya. Kepalanya mulai pening sehingga ia kembali duduk dengan sekotak tisu di tangannya.

“Obat yang mana?” Frank mengamati sederet botol obat di samping tempat tidur Larry.

“Yang di depan.”

“Ini?” tangan Frank mengangkat sebotol obat.

“Bukan, yang satunya lagi,” Larry mengambil tisu berikutnya.

Frank mengambil obat yang dimaksud. “Obat apa ini?”

“Sitotoksik, perusak sel-sel pengganda untuk penderita kanker.” Larry berdiri untuk membuang tisunya. Darahnya sudah mulai berkurang.

“Biar kubantu,” Frank meletakkan obat itu kembali dan bergegas duduk di samping Larry ketika dilihatnya Larry berjalan dengan goyah.

“Aku bisa melakukannya sendiri, oke?” tolak Larry saat Frank mengambil alih kotak tisunya.

Frank tak peduli. “Bersandarlah agar kau merasa lebih nyaman,” sarannya.

“Frank… Russell..!” Larry jelas tak senang.

“Lakukan, Larry!”

“Kau!” Larry terpaksa menurut.

Frank mengambil tisu pertamanya. “Kenapa kankermu tidak dioperasi saja?”

“Tidak bisa, ini bukan kanker biasa.”

“Jadi hidupmu tergantung pada obat-obatan ini?”

“Kurang lebih seperti itu,” Larry meringis. Rasa perih seolah membakar wajahnya dan ia mulai merasa mual kembali. “Tapi efeknya terlalu besar. Lagipula rasanya aku tidak juga membaik,” tambahnya.

“Kudengar ada tehnik operasi baru untuk penyakitmu.”

“Aku tahu. Tapi keberhasilannya belum teruji. Jika kena pusat pernapasanku aku akan mati. Jika kena pusat penglihatanku aku akan buta. Jika dibiarkan…, lama-lama aku akan mati juga. Tak ada yang menguntungkan.” Larry tertawa.

Frank tiba-tiba tertegun.

What?” Larry merasa tatapan Frank begitu aneh.

“Ada apa, Frank?”

Frank baru akan menjawab ketika Larry buru-buru ke kamar mandi karena rasa mual yang hebat. Frank mengulurkan tangannya, memberikan isyarat untuk memapah Larry, tapi Larry menepisnya.

“Jangan konyol, Frank, aku tak apa-apa,” Larry berjalan mendekat. “Kau bersikap seolah-olah aku akan mati!” suara Larry jelas tidak tak senang.

“Habis bagaimana lagi? Memang itu kenyataannya.”

Deg.

Larry langsung terdiam. Frank juga melakukan hal yang sama. Tatapan mereka bertemu.

“Larry, maaf….”

Larry tercenung sesaat. “Keluarlah, Frank,” pintanya pelan. “Jangan berada di sini kalau kau masih memandangku seperti itu.”

Frank masih diam.

“Keluarlah.”

“Kau membutuhkanku, Larry.”

“Tidak!” tukas Larry cepat. “Aku tidak butuh bantuanmu jika kau masih bersikap begini. Kondisiku akan lebih baik dengan berjuang. Rasa kasihanmu tidak membantuku. Tidak, Frank…,” Larry menggeleng. “Bukan begini caranya.”

Frank terpaku di tempatnya.

“Aku tidak butuh simpati dan belas kasihanmu,” lanjut Larry kembali. “Karena itu tolong keluarlah…,” tangan Larry menghapus darah yang menetes dari hidungnya. Lalu ia membukakan pintu.

Frank berjalan keluar. “I’m sorry.”

Larry tidak menjawab.

“Mau kuambilkan sesuatu?”

“Tidak,” tolak Larry pelan. “Terima kasih.” Ia berbalik dan menatap ke luar jendela. “Aku ingin sendirian.”

Frank mengangguk mengerti. “Baiklah,” ucapnya sebelum menutup pintu.

***

Tak lama, seorang laki-laki datang, memperkenalkan diri sebagai seorang dokter dan meminta bertemu dengan Larry. Ia jauh lebih muda dari Dokter Morgan. Tapi jelas tahu benar apa yang dilakukannya saat Frank mengintip pekerjaannya melalui pintu yang sedikit terbuka.

Saat ia sudah pergi, Frank masuk kembali ke kamar Larry dan menghampirinya. “Kau menyinggungku,” katanya dengan wajah masam. “Kenapa kau tidak bilang jika butuh sesuatu? Aku bisa membantumu menghubungi dokter.”

“Aku tidak menghubungi siapa pun,” jelas Larry. “Dokter muda itu direkomendasikan oleh para brother di islamic center. Mary yang mengaturnya. Ia memang punya jadwal tertentu untuk mengunjungiku ketika aku di sini.”

“Oo…h,” emosi Frank langsung surut. “Kau bisa meminta bantuanku kapan saja, Larry.”

“Terima kasih, Frank. Aku percaya hal itu.”

“Obatnya bekerja?”

“Ya.

“Kau yakin?”

“Jika tidak, aku mungkin tidak akan sanggup bicara padamu.”

“Syukurlah.” Frank tampak lega. “Itu berita bagus. Bagaimana keadaanmu sekarang?”

“Aku mengantuk. Pengaruh obat kurasa. Jika aku mulai meracau, mungkin kau harus meninggalkanku beberapa saat sebelum aku benar-benar tertidur dan tidak mendengar apa yang kau katakan.”

“Istirahatlah,” Frank berjalan ke pintu.

“Frank….”

Frank menoleh, langkahnya terhenti. “Ya?”

“Kau tahu…,” Larry tampak menerawang. “Kau harus berhenti merasa bersalah dan mengkhawatirkan diriku. Aku masih hidup, Frank. Kau harus mulai menentukan jalan hidupmu sendiri. Aku bersungguh-sungguh. Kau perlu memikirkan seorang pendamping….”

Frank tertawa.

“Aku serius, Frank.”

Frank mengibaskan tangannya. “Kau mulai ngawur,” ia menutup pintu setelah memberi isyarat pada Larry untuk beristirahat. Tapi setelahnya, kata-kata Larry mulai masuk ke dalam benaknya.

***

Sore harinya, Frank menjenguk Larry ke kamarnya untuk memastikan ia baik-baik saja. Ia tidak bisa berlama-lama di sini. Bagaimanapun, ada kasus yang harus diselesaikannya di Los Angeles. Tapi ia akan segera mengurus cuti dan kembali ke sini secepatnya. Frank pikir Larry akan butuh bantuannya.

Ia menyampaikan rencananya pada Larry. Larry berterima kasih untuk hal itu. Lalu ia melirik jam digital di samping tempat tidurnya kemudian mengusirnya.

“Pergi sana,” Larry tertawa pelan sambil melemparkan bantal. “Sebentar lagi Mary pulang.”

Frank tertawa, mengedipkan sebelah matanya sebelum berlalu. Tapi ketika ia baru saja menutup pintu, mendadak ia sadar bahwa mungkin saja dirinya telah tertipu. Larry mengusir Frank dengan halus, bukan karena ia ingin berduaan dengan Mary, tapi karena ia kesakitan dan ingin menyembunyikannya darinya.

Frank tidak pernah melakukan ini sebelumnya. Ia tidak pernah menguping pembicaraan orang lain dengan sengaja. Tapi kali ini dia berdiri diam di balik pintu, dan tak lama dirinya mendengar Larry menelepon, mengatakan bahwa ia tidak bisa bangun, dan bertanya apakah Mary sudah dalam perjalanan pulang.

***

(Bersambung)

Dipublikasi di cerita bersambung | Tag , , , | Meninggalkan komentar

L.A. THE DETECTIVE 2 BAGIAN 20


Bagian Dua Puluh

 

Frank

Aku menyeberang jalan. Sekilas sempat kulihat sebuah sedan di ujung jalan mulai bergerak. Ketika aku mendekat, tiba-tiba sebuah mobil lain nyaris menabrakku. Dua orang dengan penutup kepala keluar, meringkusku dengan cepat tanpa bisa kucegah. Aku nyaris terlempar di jok belakang saat mobil yang membawaku berlalu dengan cepat.

Gila. Aku diculik!

Mobil berkelok-kelok dan aku dipaksa merunduk. Beberapa puluh menit kemudian, mobil mulai stabil, dan terdengar suara seorang wanita yang sepertinya kukenal.

“Sudah aman,” katanya.

Penutup kepalaku dibuka. Aku ingin menghajar para penculikku namun kuurungkan begitu melihat wajah-wajah yang kukenal. Larry, George, dan Mary di belakang kemudi.

“Apa-apaan ini?” Aku berteriak.

Larry tersenyum. “Senang bertemu kembali juga, Frank,” ucap Larry seolah-olah aku baru saja mengatakan ungkapan penuh kerinduan atau semacam itu. “Minum?” Ia menawarkan sekaleng minuman yang kuteguk dengan cepat.

“Reuni yang mengharukan.” Mary berkomentar sambil matanya tetap menatap lurus ke depan.

“Kau yang dari tadi menyetir?” Aku berucap tak percaya, merasakan bagaimana kelokan-kelokan tadi seolah-olah kami dikejar pembunuh berantai. Atau mungkinkah memang demikian?

Mary mengangguk. “Jangan salahkan aku. Itu salah satu spesifikasi masuk tim khusus dulu,” ia menunjuk Larry dengan matanya.

“Sinting!” Aku benar-benar tak habis pikir. “Ada apa sebenarnya?”

“Seseorang mencoba membunuhmu, Frank. Seseorang yang juga menjadi ancaman untukku dan Mary. Aku tidak bisa membiarkan itu terjadi. Jadi aku meminta bantuan George, dan di sinilah kau berada sekarang. Aku akan membawamu ke salah satu rumah peristirahatanku di Lake Forest. Kita bicarakan hal lainnya di sana.” Larry menjelaskan.

“George, tolong, obatnya…,” Mary berucap saat aku masih berusaha mencerna kata-kata Larry.

George memberikan beberapa pil dan sebotol air yang ditelan Larry tanpa bicara sepatah kata pun.

“Kau kenapa?” Aku bertanya pada Larry yang duduk di sebelahku.

“I’m dying.” Larry berucap dengan ketenangan yang hanya sanggup dilakukan para pemuka agama.

“Kau… APA?” Aku berseru kaget. Larry mengucapkan bahwa dia sekarat dengan ekspresi seolah-olah memberitahuku bahwa dia cuma sedang flu.

“Kau sudah dengar,” Larry mengangguk tanpa mengulangi kata-katanya. “Secara teknis memang begitu. Seharusnya saat ini aku sedang melakukan pengobatan lanjutan, tapi yah, kau tahu, hal-hal terjadi.”

Aku terhenyak. Masih shock dengan berita yang baru saja kudengar. Baru kusadari sekarang, meski dia tampil senormal mungkin, wajahnya terlihat lebih tirus dan pucat. Pasti itu sebabnya kenapa ia meminta bantuan George untuk ‘menculikku’ tadi. Karena dengan kondisinya yang sekarang ia tidak bisa melakukannya sendiri.

Meski aku sudah lama menduga bahwa memang ada sesuatu yang tidak beres pada kesehatan Larry, mengetahui dugaanku terbukti dan mendengar langsung darinya bahwa dia akan mati adalah hal yang berbeda.

“Sial!” Aku mengumpat entah karena apa. “Padahal tadinya aku berniat menghajarmu karena sudah menculikku.”

Larry tertawa. “Kau bisa lakukan itu lain kali. Kurasa berkelahi dengan orang yang sekarat bukan pertarungan yang adil,” ia tersenyum.

Sekilas kulihat Mary menghembuskan napas kuat-kuat. Pembicaraan seperti ini bukan obrolan yang menyenangkan.

“Aku juga akan menghajarmu kalau kau menghentikan pengobatan,” aku berucap dengan rasa khawatir. “Aku akan menghajarmu habis-habisan kalau kau sampai menyerah dan memutuskan untuk berhenti.”

Larry tersenyum lagi. Gaya khasnya yang kukenal. Ia berpaling ke arah jalan saat Mary membelokkan mobil menuju sebuah halaman rumah di kawasan Lake Forest, Orange County. “Kita sudah sampai,” katanya. Ia menatap kami satu per satu. “Kita bicarakan semuanya di dalam,” Larry membuka pintu dan melihat kami bertiga. “Selamat datang di tim, Frank.”

***

Kaca itu diatur sedemikian rupa agar menggelap ketika cahaya matahari menyinarinya. Membuat orang tetap nyaman menikmati pemandangan tanpa silau atau kepanasan. Sistem alarm rumah ini canggih sekalipun jarang ditempati. Aku bersiul menyadari sesuatu. Keluarga Watson benar-benar kaya. Pantas saja Larry kebal sogokan. Ia tidak membutuhkan apa-apa dari pekerjaannya kecuali mungkin peralihan hidup.

Aku ingat bagaimana reaksi Larry ketika kami menangkap gerombolan penjahat dan mereka berusaha menyogoknya. Larry tentu saja menolaknya. Tapi yang tidak pernah aku lupa adalah reaksi spontan Larry ketika itu. Ia tertawa tanpa menjelaskan apa pun. Dan sekarang aku mengerti artinya.

Saat waktunya makan malam, aku memperhatikan bahwa Mary memilihkan makanan yang berbeda. Makanan untuk Larry kelihatannya lebih lembut, tidak banyak bumbu dan potongan-potongannya jauh lebih kecil. Tapi Larry tetap mengunyahnya lambat-lambat. Butuh waktu lama baginya hanya untuk menghabiskan sejumlah kecil makanan. Fakta itu tak urung membuatku prihatin.

Aku curiga saat tiba-tiba Larry bangkit dari kursinya. “Aku sudah selesai,” ucapnya sebelum berlalu. Mary melihat ke arahnya dan mengikutinya ke dalam kamar setelah berpamitan padaku dan George. Meninggalkan makan malam yang belum sempat disentuhnya.

Sementara itu…

“Kau baik-baik saja?”

“Sejujurnya?”

Mary mengangguk.

“Aku kesakitan,” Larry menuju tempat tidur.

Mary memandangnya dengan sedih. “Apa yang bisa kulakukan untukmu?”

“Tolong temani aku, aku mungkin akan butuh bantuan.”

“Tentu saja, berbaringlah,” Mary meletakkan kepala Larry di pangkuan dan membelainya. “Merasa lebih baik?”

Larry meringis menahan sakit. Kepalanya berdenyut hebat. Tapi ia mengangguk sebelum memejamkan matanya. “Ya, terima kasih.”

***

“Siapa?” terdengar suara dari dalam saat George mengetuk pintu.

“Saya George, Nyonya Watson.”

“Masuk saja, George. Pintunya tidak dikunci.” Mary menyahut.

George membuka pintu dan mendorong troli berisi nampan makanan. “Saya membawakan makan malam untuk Anda dan Tuan Watson.”

Mary mengangguk. “Terima kasih. Tolong letakkan saja di situ George.”

George menaruh makanan tersebut ke meja yang dimaksud. Ia berhenti setelah semuanya selesai. Memandang Larry yang berbaring di pangkuan Mary dengan penuh tanda tanya.

“Ia kesakitan, George,” Mary menjelaskan.

George mengangguk prihatin. “Ada yang bisa saya bantu, Nyonya?”

“Ya, tolong ambilkan piyama Larry di lemari. Aku perlu mengganti pakaiannya agar ia lebih nyaman.”

George segera mengerjakan perintah itu. “Apakah ada lagi yang bisa saya lakukan?”

Mary menggeleng. “Cukup untuk saat ini, George. Terima kasih.”

George berjalan menuju pintu saat Mary memanggilnya.

“Ng… George,” suara Mary tertahan.

George menoleh dan berhenti melangkah. “Ya, Nyonya?”

“Mungkin ada yang bisa kau lakukan untuk membantu Larry.”

“Apa itu, Nyonya?”

“George…,” Mary menghela napas. “Kurasa kita harus berdoa….”

George mengangguk. “Selalu, Nyonya.”

***

Larry tidak muncul lagi sampai keesokan harinya. Aku naik ke tangga menuju kamar Larry dan mengetuk pintu. Aku harus tahu apa yang terjadi.

“Masuk,” terdengar suara pelan dari dalam.

Aku membuka pintu kamar perlahan. Larry menoleh ke arah pintu, tampak terkejut saat melihatku. Ia sedang berbaring di atas tempat tidurnya dan buru-buru bangun saat aku mendekat.

“Maaf, Frank, tadinya kukira George.” Larry berusaha bangkit dari tempat tidur, namun segera kucegah.

“Mungkin sebaiknya kau tetap berbaring,” aku mengajukan usul, yang disambut tawa tak acuh khas Larry.

“Tadi aku hanya sedang ingin bermalas-malasan,” ia berdalih.

Bermalas-malasan bukanlah sikap Larry. Jadi jelas itu hanya alasan yang dikarangnya. Aku memperhatikan dirinya yang masih mengenakan piyama. Sepertinya ia memang tidak bermaksud melakukan banyak hal hari ini.

“Aku tidak melihatmu sejak kemarin,” ucapku.

“Aku beristirahat.” Larry mengangkat bahu. “Sesuai namanya, ini rumah peristirahatan.”

Aku mengangguk. Larry akhirnya hanya duduk di tempat tidur. Aku tahu ia telah mengumpulkan tenaganya sedemikian rupa hanya untuk melakukan hal sederhana semacam itu. Ada kekhawatiran yang mengganggu hatiku memikirkan kondisi dirinya. Namun Larry malah tersenyum.

“Bagaimana kabarmu hari ini, Frank?”

Aku tergelak sambil menarik kursi dan duduk di depannya. “Itu pertanyaan yang seharusnya kau jawab sendiri.”

“Aku? Oh, aku baik, seperti yang kau lihat. Aku berada dalam kondisi prima. Well… Pernah lebih baik, tapi yah…, ini hari yang luar biasa.”

Aku tersenyum mendengar jawaban Larry. Sampai kapan pun aku tahu, ia tidak akan sudi menunjukkan sedikit saja kelemahan dirinya di hadapanku. Larry bukan jenis orang seperti itu.

Pintu diketuk, Larry mempersilakan masuk dan George muncul di pintu.

“Pagi, Tuan Muda Watson,”

“Pagi, George.”

“Mendahului saya, Tuan Russell?” George berkata kepadaku.

“Inspeksi mendadak, George,” balasku.

George mengangguk dan beralih ke arah Larry.

“Mary masih di bawah, George?” Larry bertanya mendahului.

“Nyonya Watson sedang menyiapkan sarapan. Nyonya ingin tahu apakah tuan ingin turun atau anda akan makan di sini?”

Larry melirik sekilas ke arahku. “Ng…, aku akan turun, George. Beri tahu Mary aku akan bersiap-siap.”

“Perlu saya bantu, Tuan?”

“Tidak, George. Aku bisa melakukannya sendiri. Beri aku waktu sebentar.”

“Baik, Tuan,” George segera menghilang di balik pintu.

Aku bangkit berdiri. Aku tahu Larry akan butuh waktu lebih lama daripada yang tadi dikatakannya. Ia tidak akan melakukannya di bawah pengawasanku. Jadi aku segera menuju pintu.

“Aku menunggumu di bawah,”

***

“Kalian sedang membicarakan aku?” Larry tiba-tiba muncul di belakang kami. Senyumnya merekah, tampak menahan geli. Ia memandang diriku dan George bergantian.

“Saya akan membantu Nyonya menyiapkan sarapan.” George berlalu dari hadapan kami.

Larry mengangguk. Ia menarik kursi makan dan duduk di hadapanku. “Jadi, bagaimana kelanjutan kasus kita?” tanyanya mengalihkan pembicaraan.

“Kau malah memikirkan kasus? Jangan berbuat bodoh, Larry.”

Larry tergelak. “Mungkin kanker sudah memakan kejeniusanku, Frank. Tapi jangan khawatir, aku sudah menerimanya, sekarang kami berteman.”

“Kau sudah merasa lebih baik?” aku bertanya.

Larry tersenyum. “Berhentilah mencemaskanku, partner. Dirimu bisa jadi dalam bahaya.”

“Resiko pekerjaan,” jawabku menirukan alasan yang biasa diucapkan Larry. “Selama ini kita begitu.”

Kami segera membahas kemungkinan pemecahan kasus di Islamic center yang hampir merenggut nyawa kami berdua.

“Jadi apakah berita ‘penculikan’mu sudah menghebohkan koran lokal?” Larry bertanya.

Aku menggeleng. “Hanya menarik minat Kapten Brock dan beberapa detektif karena aku mangkir dalam briefing mingguan. Kau tidak menghilang ke sini dan memalsukan kematianmu, kan?”

“Kematianku akan sulit dipalsukan. Karena yah, kau tahu, aku cukup tenar.” Larry tertawa kecil. “Bibiku akan langsung menyewa detektif terbaik untuk menyelidikinya. Bayangkan itu, seorang detektif menyelidiki detektif lainnya.”

“Perusahaanmu juga akan mencarimu.”

“Ya, kau benar. Begitu juga perusahaan asuransi karena aku punya uang pertanggungan yang sangat besar dan mereka akan mencairkannya setelah kematianku dipastikan.”

“Aku sedang berpikir untuk menghubungi Kapten sekarang dan menceritakan apa yang terjadi.”

“Ide buruk, Frank.”

“Kapten bisa dipercaya, Larry,” sanggahku.

“Aku tahu,” Larry menjawab. “Tapi tidak sekarang. Saat ini semakin sedikit yang tahu keberadaanku semakin baik. Aku butuh ruang sementara identitas baru sedang disiapkan. Mungkin satu atau dua hari lagi. Bagaimana pun aku tetap perlu melanjutkan pengobatan.” Larry akhirnya mengakui juga bahwa ia sakit. Nada suaranya tak enak didengar.

“Bagaimana sebenarnya kondisimu, Larry?” aku menatap lurus ke matanya, mengharapkan jawaban jujur.

“Memburuk,” Larry menyahut pendek. “Seharusnya aku dirawat di rumah sakit.”

“Dan kau tak bisa melakukannya di tengah situasi saat ini?”

Larry menggeleng membenarkan dugaanku. “Obat-obatan itu sebenarnya cukup membantu,” ia menatapku. “Aku akan bisa melewati ini semua, Frank. Aku sudah melewati banyak hal-hal buruk dalam hidupku. Aku akan melewati yang ini juga.”

Aku mengangguk. Aku sungguh berharap bahwa dia benar.

***

“Jadi?” aku bertanya saat kami masih di meja makan.

“Jadi apa?” Larry menatapku.

“Apa rencana kita selanjutnya?”

“Kau ada ide?” Ia balik bertanya.

“Aku berencana memberitahukannya pada Kapten.”

“Frank, kita sudah sempat membahas ini sebelumnya.” Ia meletakkan pisau makannya dan menatapku serius. “Tapi jawabannya tetap sama.”

“Kenapa tidak?”

Larry menatap Mary dan mengangguk.

“Frank, kau dalam bahaya.” Mary memandangku. “Temanmu… maksudku, orang suruhan Chrislah yang mencoba menabrakmu di depan Islamic Center. Itu sebabnya kami datang lebih dulu untuk menyelamatkanmu.”

“Kalian membuatnya seperti penculikan. Bagus.” Aku mengangguk hambar. “Sekarang polisi akan melacak plat mobil kalian dan semuanya akan terungkap.”

“Frank…,” Larry mengelap mulutnya, menyudahi makannya yang tak selesai. “Kau membuatku tersinggung. Apakah kau pikir bertahun-tahun memimpin tim khusus tidak membuatku tahu cara kerja polisi? Kau harus ingat Frank, secara resmi aku masih kepala detektif.” Ia tersenyum.

Mary ikut tersenyum dan memandangku. “Tadi kami berdiskusi dan memutuskan apa yang sebaiknya kita lakukan.”

Aku ingat melihat keduanya berbicara serius di dapur. Hanya saja aku tak mengira mereka membicarakanku. Aku pikir mereka membicarakan rencana pengobatan Larry atau hal semacam itu. Aku benar-benar tak menyangka bahwa dalam keadaan seperti ini Larry masih berusaha menuntaskan kasus.

Kasusku.

“Apa yang kau lakukan?” Aku bertanya penasaran.

“Aku meretas komputer polisi dan menukar nomer polisi dalam sistem sehingga kita semua aman. Aku juga berhasil mengubah beberapa data tanpa terlacak. Jadi singkat kata, polisi sekarang mengejar nomer polisi yang digunakan suruhan Chris untuk menabrakmu.”

“Sial, aku ketinggalan.” Aku mengumpat dengan gemas. “Kalian berdua curang. Kalian tidak melibatkankanku dalam penyelidikan ini.”

“Maaf, Frank.”

Tak ada yang perlu dimaafkan. Hanya saja, aku masih terkejut. Baru hitungan hari saat aku tahu kami berdua lolos dari orang-orang yang menginginkan kematian kami. Baru saja aku merasa lega karena Larry selamat, tapi sekaligus cemas dan shock saat tahu dirinya mengidap kanker dan menyembunyikannya dariku.

“Maaf, Frank, kami ingin melibatkanmu, tapi ada hal-hal yang mendesak untuk dikerjakan.”

“Dan aku akan menghambat?” Aku bertanya dengan nada tak terima mendengar ucapan Mary barusan.

“Aku yang menghambat,” Larry berbicara dengan tenang. “Tadinya kami akan melibatkanmu sejak awal. Bantuanmu sangat kami harapkan. Tapi aku tak bisa menunggu. Aku tidak bisa menunda pengobatanku lebih lama lagi. Beberapa hari sekali dokter akan datang. Segera setelah urusan perusahaanku beres, aku harus pergi ke rumah sakit yang jauh…, mungkin dengan identitas baru.”

Aku terperangah mendengar penjelasan Larry. “Oh my God, kalian….” Aku tak tahu harus berkomentar apa.

***

Bila melihatnya sekilas, sepertinya tak ada yang salah dengan sikap dan gerak-gerik Larry. Tapi untukku yang telah cukup lama kenal dengannya, Mary, apalagi George, kami tahu bahwa kecepatan dan kekuatan Larry telah hilang sekian persen dan kondisinya terus menurun.

Aku mendapati Larry di kebun. Sedang sibuk mengorek-ngorek tanah dan berusaha memindahkan beberapa tanaman hias. George dan Mary entah di mana.

“Kupikir dokter menyuruhmu lebih banyak istirahat di tempat tidur.”

“Itu akan membuatku mati lebih cepat. Terima kasih.” Larry menyahut tak acuh.

“Sejak kapan kau suka berkebun?” tanyaku sambil mendekat.

“Sejak aku tidak punya banyak hal menarik untuk dilakukan.”

“Syukurlah,” aku berkata lega. “Aku hampir saja berpikir kau telah beralih profesi menjadi petani kentang.”

Larry tertawa mendengar ucapanku.

“Kau yang mengatur semua tanaman ini?” Aku mengenakan sarung tangan berkebun dan berjongkok di samping Lary.

“Tukang kebun yang mengaturnya. Aku hanya mengacak-acaknya sedikit.”

Aku memperhatikan sekeliling halaman. Pandanganku terhenti pada gundukan-gundukan kecil tanah dan rebahan pohon yang belum ditanam. “Ya ampun, kau membuat semuanya berantakan.”

Larry tersenyum. “Justru di situ keasyikannya.”

Aku tertawa. “Omong-omong, Mrs. Lindsay sudah tahu tentang diagnosa itu?”

“Sudah. Selain Mary, George, Clif, dewan direksi dan dokterku, kau orang pertama yang kuberitahu. Ada apa memangnya?”

“Tak apa-apa. Aku hanya berpikir mungkin bibimu akan menyalahkan keterlibatanmu di LAPD. Luka-luka yang kau dapatkan selama bertugas atau mungkin kecelakaan yang dulu bersama Gary.”

“Aku lebih sering sakit dalam dua minggu ketika mengurus perusahaan daripada selama dua tahun aku di kepolisian.” Larry membantah.

“Bagaimana pendapat Mary sendiri?”

“Mary percaya dua dari tiga benda yang paling sering menemaniku berpotensi memperburuk penyakit, atau bahkan menjadi penyebab penyakit itu sendiri.”

“Oh ya? Apa itu?”

“Ponsel dan laptopku.”

“Masuk akal, kau memang manusia mesin.”

Larry tampak tersinggung.

“Hei, kau ingat saat kita berlibur di pantai Miami? Kau masih saja menghubungi orang-orang perusahaanmu di New York sambil membaca Wall Street Journal, S&P 500 atau Fortune 500. Kau bahkan membawa laptopmu ketika kita berlibur di rumah Julia. Oh God, yang benar saja. Baru kusadari itu sekarang. Mary bisa jadi benar dalam hal ini. Lalu apa benda yang ketiga?”

“Pistol.”

“Maksudmu bekas peluru di pelipismu itu, entah bagaimana luka pasca operasi itu membuat ketidakstabilan di otak dan memicu terjadinya kanker?”

Larry mengangkat bahu. “Aku tidak bertanya pada dokter.”

“Aku dengar kau menolak pengobatan,” aku berkata prihatin.

“Aku hanya menolak kemo dan perawatan di rumah sakit. Aku tidak menolak obat dan perawatan medis di rumah.”

“Larry…,” aku memberi isyarat peringatan kepadanya.

“Aku tahu, Frank. Aku tahu. Ini beresiko. Tapi tenanglah, aku akan baik-baik saja. Percaya saja padaku.

Aku diam saja.

“Kenapa kau memandangku seperti itu, Frank?”

Aku menatap Larry, tidak berusaha menyembunyikan rasa kasihanku. “Lihat dirimu. Kau sahabat terbaik yang pernah kutemui seumur hidup. Kau jago, tapi kau berkali-kali terluka parah dalam tugas dibanding diriku yang ceroboh. Kau mewarisi banyak harta yang tidak kau nikmati. Kau jenius, yah, itu tidak perlu diragukan lagi. Tapi kini kau menderita. Tubuhmu digerogoti kanker yang menyerang otak jeniusmu itu.” Aku berkata prihatin.

“Sial, kau membuat hidupku terdengar menyedihkan,” Larry melemparku dengan sebutir kenari. “Seperti kau bilang, aku ini jago.” Larry berhenti menyiangi sepetak rumput. “Maksudku, lihat aku. Aku punya tempat ini, punya ranch yang kucintai. Lihat dirimu sendiri. Kau tidak punya pendamping meskipun telah mengencani banyak wanita. Sementara aku punya Mary. Ah, kau pasti iri,” Larry mengedipkan matanya.

“Kurang ajar. Kau membalasku.” Tiba-tiba aku merasa kesal. “Kau benar sekali. Sekarang tiba-tiba aku merasa tidak seberuntung dirimu.”

“Kau mau menukarnya dengan apa yang sudah kualami?”

“Apa? Maksudmu, memiliki masa kecil yang suram, terkena ledakan, tertembak hingga lumpuh, dan kemudian kena kanker? Tidak, aku akan melewatkan bagian itu.” Aku berkata penuh kemenangan.

“Sekarang kau mulai membuatku kesal, Frank.” Larry melemparkan segenggam rumput kering dalam genggamannya. Aku tertawa.

“Aku penasaran bagaimana kau menjalani hidupmu sehari-hari?”

“Aku? Aku senang. Aku berusaha bersyukur setiap hari.”

“Bersyukur? Dengan keadaanmu yang seperti ini?”

“Oh, Frank Russell.” Larry tampak gemas. “Kau sendiri yang sering bilang aku memiliki banyak hal yang tidak dimiliki orang lain dan pantas membuat orang lain iri. Asetku, kemampuanku, Mary…, yah, tentu saja aku bersyukur untuk itu. Tapi kau juga tahu bahwa aku pun memiliki ‘hal lain’ yang tidak dimiliki orang lain. Masa kecil yang tidak menyenangkan, kehilangan demi kehilangan, banyak bekas luka di tubuhku, sel-sel aneh yang tidak bermutasi normal…. Jadi yah, kurasa ini sepadan.”

“Kalian sudah selesai?” Mary tiba-tiba muncul di hadapan kami.

“Frank mengganggu pekerjaanku.”

Aku melirik Larry dan cemberut. “Dasar pengadu.”

Mary menggelangkan kepalanya. “Boys,” katanya sebelum berlalu pergi.
Aku dan Larry saling berpandangan, sebelum kemudian tertawa bersama sambil melakukan high five.

***

(Bersambung)

Dipublikasi di cerita bersambung | Tag , , , | Meninggalkan komentar

L.A. THE DETECTIVE 2 BAGIAN 19


Bagian Sembilan Belas

 

Mary

“Aku masih tampan tidak?” tanya Larry suatu hari.

“Ya Tuhan, kau masih mencemaskan hal itu?”

“Aku harus menjaga asetku yang paling berharga,” katanya.

“Wajahmu yang rupawan?” aku menggodanya.

Larry menggeleng. “Bukan,” jawabnya. “Dirimu. Bagaimana kalau kau jatuh hati pada orang lain?”

“Ya ampun, Larry!” Larry tahu aku memanggilnya dengan namanya hanya pada saat-saat tertentu. Marah, salah satunya. “Itu tidak akan terjadi,” kataku.

“Jangan membuat janji yang tidak bisa kau tepati,” ia cemberut.

Larry biasanya punya selera humor. Aku hanya bemaksud menggodanya tadi dan tidak menyangka dia menanggapinya dengan serius. Akhir-akhir ini ia memang menjadi lebih emosional. Aku tahu dia frustasi. Kankernya harusnya bisa dioperasi. Kesempatan sembuh cukup besar. Tapi hasil pemeriksaan terakhirnya tidak begitu bagus, operasi itu harus ditunda hingga kondisi fisiknya stabil. Larry ingin segalanya tetap terkendali. Sayangnya, kendali adalah hal yang berada di luar kekuasaannya saat ini.

Aku menelan ludah. Larry tiba-tiba melihatku. Wajahnya diliputi rasa bersalah. “Apa aku menyakitimu?” tanyanya pelan.

Aku mengangguk.

“Maaf,” katanya penuh sesal. “Aku bahkan tidak tahu mengapa aku mengatakannya.”

***

Seharusnya setelah semua pendelegasian yang dilakukannya, Larry bisa sedikit tenang. Tapi lalu ada telepon dari Frank di Los Angeles. Frank tidak mengatakan lebih rinci. Ia hanya meminta Larry menemuinya di depan Islamic Center Los Angeles. Larry yang merasa khawatir partnernya terlibat masalah menelepon ke pengurus islamic center Los Angeles dan mendapat informasi bahwa Frank akan bersyahadat pada jumat siang.

Larry menyanggupi untuk datang. Lagi pula ia juga merasa perlu bertemu Dokter Morgan untuk membicarakan pengobatan lanjutan. Tepat ketika Larry akan berangkat, ia mendapat informasi bahwa seseorang yang pernah mereka tangkap sedang bermaksud membalas dendam.

***

Ketika Larry didiagnosa kanker, ia ingin agar segala sesuatunya berjalan normal. Ia tetap tertarik menangani kasus. Ia juga tidak menolak permintaan Frank ke Los Angeles. Ia bahkan mengatakan kepadaku bahwa ia telah menulis surat wasiatnya.

Saat kembali dari Wyoming dan Larry mengubah rencana kami tinggal di hotel menjadi ke apartemennya, aku mulai curiga. Tiba-tiba pikiran itu melintas di benakku. Otakku cepat menghubungkan kejadian-kejadian belakangan ini. Larry yang menyiapkan peralatan menyamar, sikapnya padaku yang sangat protektif, aku tahu ada sesuatu yang tidak beres. Meski Larry selalu jujur, keinginannya untuk melindungiku akan menghalanginya untuk membeberkan sepenuhnya apa yang sesungguhnya terjadi.

“Ada bahaya yang akan terjadi kan?” Aku menatap matanya dan bertanya.

Larry tidak menjawab, tapi dari caranya menatapku aku sudah tahu jawabannya. “Frank tidak tahu, dan kau ingin memastikan,” aku menemukan jawabanku sendiri. “Aku tidak bisa membiarkan itu terjadi. Aku tidak bisa membiarkanmu mempertaruhkan nyawa begitu.”

“Mary, semuanya akan baik-baik saja.” Larry mencoba menenangkanku.

Aku menggeleng. “Tidak, kau tidak boleh pergi. Aku akan telepon Frank. Dia pasti tidak tahu kita semua dalam bahaya. Dia juga pasti tidak tahu kau seharusnya ke sini untuk melakukan pengobatan. Aku berani bertaruh dia pasti tidak tahu apa-apa.”

“Frank memang tidak tahu.” Larry membenarkan.

Aku menyambar telepon dengan cepat. “Berikan nomernya, aku akan memberitahu Frank.”

“Tidak perlu, Mary. Aku hanya akan pergi sebentar. Aku berjanji setelah ini aku akan beristirahat dan kita bisa mulai menjadwalkan untuk pengobatan lanjutan.”

Aku berdiri menghalangi pintu. “Ajak aku. Kita pergi bersama atau tidak sama sekali.”

“Aku tidak mau menempatkan dirimu dalam bahaya.”

“Begitu juga aku.” Aku nyaris berteriak. “Kumohon jangan paksa aku. Aku akan lakukan apa pun untuk memastikan kau selamat.”

Larry mendekatiku ke arah pintu. Menghapus air mata yang jatuh tanpa kusadari. Aku bersandar pada tubuhnya dan menengadah.

“Pasti ada cara lain,” bisikku.

Larry mengangguk. “Kita akan cari cara lain,” katanya.

 

***

Laki-laki itu tiba sesuai jadwal. Petugas hotel memberinya kunci kamar dan ia duduk menunggu di dalam. Pasangan Watson sampai lima menit kemudian. Mary memeluk Clif begitu pintu terbuka. Clif Olsen menarik adiknya masuk dan menyalami Larry.

“Bagaimana kabarmu?” Clif sudah tahu garis besar masalahnya.

“Baik. Kuharap kau juga begitu.”

Clif tersenyum. Mary dan Larry duduk di hadapananya.

“Minumlah,” Clif mengangsurkan dua gelas air. Larry meneguknya. Mary hanya meletakkan di meja.

“Aku sudah memikirkan masalah ini baik-baik.” Clif berdiri di depan keduanya. “Bagaimana kalau kalian menyembunyikan diri dulu sampai situasi lebih aman? Aku bisa menggantikan Larry menemui Frank di Islamic Center dan menjelaskan padanya….”

“Clif, tidak!” Larry langsung berdiri. “Ini berbahaya. Kau tidak cukup kompeten untuk ini.”

Clif tertawa. “Lihat siapa yang bicara.” Ia melirik adiknya lalu kembali memandang Larry. “Kau kira dengan kondisimu sekarang kau bisa melakukannya, Larry?”

“Dengar , Clif. Meski pernah melukaiku, Chris sendiri hanya penjahat amatiran. Tapi dia kenal orang-orang yang berbahaya dan mengingat dia pernah terlibat dalam jaringan Scot Gray yang hampir membunuhku, kau tidak bisa begitu saja datang ke L.A menyongsong kematianmu sendiri.”

“Aku mungkin bisa menyamar.” Clif menjawab. “Aku sudah pernah menyamar sebelumnya. Tinggiku dan Larry hampir sama.”

“Ya ampun, Clif, aku serius! Ini bukan permainan,” kata Larry dengan nada tinggi.

“Kurasa maksud Larry adalah,” Mary memandang kakaknya. “Kau bukan polisi. Kau tidak mendapat pelatihan seperti kami.”

“Aku wartawan Mary. Jangan lupa. Aku sering meliput di daerah konflik.”

Larry menggeleng tak setuju. “Aku harus mencegahmu melakukannya.”

“Aku yang mengajukan diri, Larry.”

“Kau tahu berapa banyak tindak kekerasan terhadap muslim di seluruh penjuru Amerika dua tahun terakhir? Mungkin ini ulah para rasis atau kelompok penebar kebencian lainnya. Mungkin itu hanya sekedar ancaman yang kuterima. Mungkin tidak ada hubungannya dengan pemilihan gubernur dan sahamku di New York. Tapi kita tidak tahu pasti. Sementara ada orang yang mungkin juga mengincar Frank karena alasan pribadi. Aku tidak akan membiarkan satu orang pun menjadi korban.”

“Ini akan berhasil, Larry. Kita bisa mengepungnya, memancingnya, menangkap dan mencegahnya melukai orang lain sebelum ia beraksi.” Clif tetap teguh pada pendapatnya.

“Clif…, tolonglah.” Larry memohon dengan sungguh-sungguh. “Jangan lakukan ini. Aku tidak bisa memaafkan diriku jika terjadi sesuatu padamu.” Pada saat Larry berkata seperti itu, sengatan rasa nyeri menyerangnya sehingga ia mengernyit kesakitan.

Honey…,” Mary merengkuhnya, ia meraba wajah Larry dengan kuatir. “Cukup.”

Larry tidak menghiraukan kata-kata Mary. Ia berpaling pada Clif. “Berjanjilah padaku kau tidak akan melakukannya. Tolong bantulah Thomas di sini mengumpulkan informasi. Apapun yang bisa mencegah Vic menggunakan Watson Company untuk tujuan yang salah. Selidikilah para calon gubernur yang mencalonkan diri.” Larry mengerang lagi. Tubuhnya rasanya tak karuan. Mary memberinya isyarat untuk berhenti.

Larry meneruskan kata-katanya sambil menahan nyeri. “Aku dan Mary akan menghilang sementara ke Orange County. Ada sebuah rumah warisanku di Lake Forest. Itu salah satu asetku yang paling jarang dikunjungi. Kami akan aman di sana.”

Clif akhirnya mengangguk setuju.

***

(Bersambung)

Dipublikasi di cerita bersambung | Tag , , , | Meninggalkan komentar

L.A. THE DETECTIVE 2 BAGIAN 18


Bagian Delapan Belas

 

Mary tidak menyukai Larry sibuk di depan komputer. Tapi ia menyetujui macbook Larry dipasang di meja kamar, terhubung ke telepon dan interkom. Serta diprogram dengan perintah suara. Memudahkan mereka jika Larry membutuhkan sesuatu.

Siang itu, Larry sedang duduk di kamar saat Dr. Morgan menghubunginya lewat panggilan video.

“Tampilkan pada layar,” perintah Larry pada komputer. Tak lama, wajah Dokter Morgan terpampang di layar monitor.

“Hai, Larry,” sapa Dr. Morgan lebih dulu. “Senang melihatmu lagi. Bagaimana kabarmu?”

“Cukup baik, Dok.”

“Apa itu yang kau dengarkan di latar belakang?”

“Oh, ini.” Larry tersenyum. “Ini membantuku beristirahat. Seorang rekan di Islamic Center menyarankan padaku sering-sering mendengarkan rekaman Al-Quran ini. Katanya bacaan Quran telah terbukti secara ilmiah memiliki efek terapi yang jauh lebih baik daripada musik klasik. Bahkan walaupun kita tidak mengerti artinya.”

“Aku pernah mendengar penelitian itu.”

“Apakah itu masuk akal, Dok?”

“Spiritual memang memiliki pengaruh baik pada otak, Larry. Secara teori, jika kau yang mengatakannya sendiri, efek terapinya akan jauh lebih besar.”

“Anda punya pendapat yang adil, Dok.”

“Aku terbiasa untuk berpikir ilmiah. Jika ilmu pengetahuan membuktikan bahwa membaca kitab suci bisa menyembuhkan penyakit, aku percaya. Hipnoterapi dulu dianggap sebagai kedustaan. Tapi sekarang justru digunakan dalam pengobatan modern di rumah sakit. Jika mendengarkan bacaan itu bisa membantumu beristirahat, itu bagus.” Dokter Morgan berhenti sejenak. “Aku mendengar kabar kau jatuh pingsan dalam rapat direksi. Apakah itu benar?”

Larry mengangguk. “Hanya kebetulan kecil saja. Aku segera pulih tak lama kemudian. Aku baik-baik saja, Dok.”

Dokter Morgan menghela napas berat. “Kau tidak bisa terus menerus begini, Larry.”

“Maksud anda?”

“Kau tidak bisa terus menerus melakukan penyangkalan.”

Larry terdiam.

“Kau minta pendapatku dan kulakukan. Tapi semua akan jadi sia-sia jika kau tidak sungguh-sungguh mendengarkan.”

“Aku mendengarkanmu, Dok. Apa yang harus kulakukan?”

“Kau harus mengakui bahwa kau punya masalah, Larry. Tahap pertama menuju kesembuhan adalah mengakui bahwa kau sakit dan butuh bantuan. Sebab kau tidak bisa mengatasi apa yang kau anggap tidak ada.”

“Bagaimana kalau aku berpura-pura hidup normal dan membiarkan tubuhku menyembuhkan dirinya sendiri?”

“Kau mungkin bisa melakukan itu di tahap selanjutnya. Memerintahkan sel-sel kekebalan tubuhmu bekerja mengatasinya. Tapi bukan dengan cara berpura-pura bahwa masalah itu tidak ada. Tidak sekarang, Larry.”

Larry tersenyum. “Kau bisa lari, tapi tak bisa sembunyi.”

Dokter Morgan mengangguk. “Kau sudah memutuskan ingin melakukan pengobatan di mana? Aku bisa mereferensikan beberapa rekanku di New York.”

“Kami belum memutuskan, Dok. Sementara ini aku akan sering bolak-balik New York-Los Angeles, tapi aku dan Mary juga akan pergi ke Wyoming untuk berlibur sebentar.”

“Temui aku jika kau sedang berada di L.A. oke?”

“Tentu, Dok.”

***

Pasangan Watson duduk menonton televisi yang menyiarkan kelanjutan kasus penembakan Imam di dekat Islamic center. NYPD telah bekerja cepat dan menangkap seorang tersangka. Sejumlah televisi menyiarkan penangkapan itu secara langsung. Seorang laki-laki hispanik digiring keluar dalam keadaan terborgol oleh dua orang detektif kepolisian New York. Reporter membuatnya heboh dengan menambahkan wawancara dengan para anggota masyarakat yang mengenal korban. Fakta bahwa korban membawa cukup banyak uang pada saat kejadian dan masih utuh menguatkan dugaan motif pembunuhan yang berkaitan dengan keagamaan.

Mary membawakan air dan menyodorkan beberapa butir obat sementara televisi menayangkan wawancara dengan keluarga korban. “Saya tidak percaya ia dibunuh dengan cara seperti itu. Dia orang baik. Dia bahkan tidak akan tega menyakiti seekor lalat,” ucap seorang kerabat sang Imam.

“Kami lega pembunuhnya sudah ditangkap,” komentar seseorang sementara sebagian penduduk berdemo di latar belakang. Spanduk-spanduk bertuliskan ‘Kami ingin keadilan’ tertangkap kamera.

Larry menelan obatnya. Ia bersandar di sofa dan menunjuk televisi. “Kau yakin dia pelakunya?”

Mary menggeleng. “Kita hanya bisa memastikan jika tahu semua fakta penyelidikannya. Tapi untuk kasus yang mendapat perhatian nasional seperti ini, penting bagi kepolisian untuk segera menangkap seorang tersangka. Masyarakat akan menjadi lebih tenang. Mungkin itu akan sedikit meredakan ketegangan.”

“Kau meragukannya bukan?”

“Kita tahu bagaimana cara kerja polisi.”

“Aku kenal baik dengan kepala detektif kepolisian New York. Aku yakin kau juga kenal setelah kau menyelesaikan sekolah hukummu di sini.”

Mary mengangguk membenarkan. “Tapi jangan coba-coba menyelidik, Larry. Aku ragu NYPD mau berbagi informasi. Kita bukan polisi di sini. Bisa-bisa kita dituntut karena mengganggu penyelidikan. Lagi pula, kita punya masalah lain untuk dikhawatirkan.”

“Perusahaan itu.”

“Bukan,” Mary membantah. “Kesehatanmu.”

“Aku baik-baik saja.”

“Berhentilah berkata begitu. Kita berdua tahu yang sebenarnya.” Mary memelototi suaminya. “Ingat apa yang terjadi padamu di gym? Juga saat rapat direksi beberapa hari lalu?”

“Aku harus menyusun rencana.”

“Tidak secepat itu, Tuan,” suara Mary penuh tekanan.

“Aku tidak punya banyak waktu, Mary.”

“Karena kau ingin segera kembali ke L.A. untuk menangani kasus?!”

“Karena bisa jadi aku akan mati, oke?” suara Larry tiba-tiba meninggi. Keduanya bertatapan selama beberapa detik dan mendadak terdiam.

Larry mendesah. Tiba-tiba merasa sangat letih. “Maafkan aku,” ucapnya pelan. Mary menelan ludah. Mereka berdua masih shock dengan diagnosa kanker itu.

“Ya Tuhan, aku lebih suka menangkap para berandalan di jalan daripada mengurus perusahaan itu.” Larry mengeluh. Mary menggenggam tangan Larry tanpa bicara. Larry jarang mengakuinya, tapi perusahaan itu telah membebani dirinya sejak lama. Larry menjalaninya semata-mata hanya karena kewajiban keluarga. Karena nama belakang yang disandangnya. Mary tahu persis hal itu.

“Apa yang akan kau lakukan?” akhirnya Mary bertanya.

“Melakukan persiapan untuk memastikan pergantian dewan direksi Watson Company tidak mengganggu proses bisnis yang sedang berjalan.”

“Bibimu akan menentangnya. Dia tidak suka orang lain mengutak-atik perusahaannya.”

“Aku pemilik saham mayoritas, Mary. Itu perusahaanku. Secara teknis, aku berhak melakukan hal itu kan?”

“Kau perlu membicarakannya pada para pemegang saham lainnya.”

“Aku akan mengaturnya. Aku akan bicara dengan Thomas dan Pat sebelum menggelar rapat direksi.”

“Kalau kau kembali sibuk dengan urusan perusahaan, lalu kapan kita akan pergi ke pusat pengobatan?”

“Segera. Aku akan membereskan semuanya dulu. Aku janji, ini untuk yang terakhir kali.”

“Jika  menyangkut perusahaan itu, entah aku bisa mempercayaimu atau tidak. Kau terlalu sering mengabaikan dirimu sendiri untuk mengurus pekerjaan.” Mary mendesah. “Katakan kenapa aku harus mempercayaimu kali ini.”

Larry berpikir sejenak. “Karena aku sudah berjanji. Aku orang yang menepati janji.”

***

Dua hari kemudian, Larry mengundang Thomas Lewis dan kuasa hukumnya, Pat O’Riley untuk bertemu. Biasanya pertemuan seperti itu dilakukannya di luar, namun menimbang kondisi Larry sebelumnya, Thomas mengajukan usul agar mereka datang ke rumahnya. Sebagai direktur operasional ia ada saat kejadian di ruang rapat beberapa hari lalu. Rumah milik keluarga Watson bisa ditinggali belasan orang. Rumah itu memiliki ruang kerja dan ruang pertemuan sendiri. Cukup memadai untuk membahas hal-hal penting seputar perusahaan. Kalau secepat itu Larry mengagendakan pertemuan, Thomas menduga ia tidak punya banyak waktu.

Setelah basa-basi sejenak, ketiganya duduk menghadap satu sama lain. Larry mengutarakan gambaran umum situasinya. Ia tidak mengemukakan keberatan jika Mrs. Lindsay kembali memimpin perusahaan, namun kemungkinan bahwa ia juga akan melepas sahamnya membuat masalahnya tidak sesederhana itu.

“Aku mendapat beberapa laporan tidak menyenangkan lagi tentang Vic,” Larry berkata kepada Thomas Lewis. “Tampaknya ia makin tertarik pada politik dan sibuk makan malam dengan kandidat calon gubernur. Sejujurnya aku mengkhawatirkan masa depan perusahaanku jika sahamku jatuh ke tangannya. Bagaimana menurutmu, Tom?”

“Dia bekerja bagus sebagai direktur SDM. Tapi aku pribadi tidak begitu mempercayainya. Kudengar dia sudah melakukan manuver untuk pemilihan gubernur tahun depan. Mungkin beberapa tahun lagi ia akan menjadi pendukung kandidat presiden. Aku tak tahu apa yang dilakukannya di belakangmu, tapi orang seperti dirinya pantas membuatmu khawatir. Apalagi jika menyangkut kekayaan bernilai ratusan jutaan dolar.”

Larry menggeleng. “Ia mendukung calon gubernur yang rasis. Aku tidak menyukainya. Ia anggota kelompok kebencian yang menjunjung tinggi supremasi kulit putih dan menganggap kelompok lainnya pantas diperlakukan seperti sampah.” Larry tiba-tiba ingat imam masjid yang terbunuh di Queens adalah seorang imigran.

“Jika itu benar, ia tidak pernah menunjukkannya secara terang-terangan. Tapi jika laporan itu kau terima dari para informanmu, aku percaya. Kau lebih tahu hal-hal seperti ini.”

“Tolong wakilkan aku, Tom. Aku tidak mau menerima telepon dari siapa pun atau tentang apa pun kecuali yang sangat mendesak. Kau harus melaporkannya padaku jika ada hal-hal yang tidak bisa kau tangani sendirian.”

“Oke,” Thomas menyahut singkat.

“Aku berencana mengusulkan NJM go public. Bibiku akan bersikeras untuk merger. Aku akan kalah dalam voting. Aku akan segera mundur dari Watson Company secara resmi setelah pelepasan saham perdana NJM di bursa. Mungkin akan ada proses buy back. Kau bisa bantu aku untuk itu, Pat?”

Pat O’Riley mengangguk. “Aku dan timku akan mengurusnya.”

“Kalau begitu akan ada perubahan dewan direksi.” Thomas Lewis tampak merenung.

“Tenang, Tom. Kau tetap dipekerjakan,” Larry tertawa kecil. “Tapi itu tergantung hasil kinerjamu. Siapa tahu kau terpilih sebagai direktur utama menggantikan bibiku.”

Thomas hanya tertawa menanggapi kata-kata Larry.

***

Good morning, gentleman,” Larry memasuki ruang rapat itu dengan senyum. Ia memakai setelan mahal yang tidak akan dipakainya untuk tugas sehari-hari di LAPD. Tapi ini New York, dan ia punya dua kehidupan. Mungkin tiga.

Larry mengutarakan alasan pengunduran dirinya, saham NJM yang hendak dijualnya serta pengacara yang akan mewakilinya sementara ia akan fokus pada pengobatan. Rekan-rekan bisnisnya mengucapkan simpati. Larry menerimanya denga senyum dan terima kasih. Tahu bahwa tidak semua benar-benar tulus. Mereka melakukannya hanya karena itu hal yang seharusnya dilakukan. Basa-basi dan omong kosong yang biasa. Saham miliknya sendiri bernilai ratusan jutaan dolar. Segera setelah ini mungkin akan ada rapat lanjutan. Pembahasan pergantian dewan direksi, perubahan kebijakan dan lainnya. Sejak remaja ia sudah diperkenalkan pada bisnis itu dan ia mulai muak karenanya.

Sejak dulu, Mrs. Lindsay tidak pernah membuatnya mudah. Meski ia mewariskan saham mayoritas. Ia dipekerjakan sebagai pekerja magang di cabang-cabang terjauh, dengan upah sama dengan pegawai baru. Dan seiring berlalunya waktu, ia tahu siapa yang bisa dipercaya dan siapa yang tidak.

Dengan ribuan pegawai yang tersebar di berbagai wilayah, di mana seorang pegawai kemungkinan tidak akan mengenali para direksi di jalan –apalagi pemegang saham yang jarang sekali muncul- tugas memata-matai perusahaannya sendiri terbilang mudah.

Mrs. Lindsay mengajarkannya bisnis. Pengalaman praktis yang tidak akan didapatnya di bangku kuliah. Kapten Brock memberinya figur seorang polisi. Profesor Najiro memperdalam minatnya di bidang komputer dan George yang penyabar membuatnya tertarik pada kuda.

Dulu, tatkala ayahnya mengenali kecenderungan Larry akan pengetahuan. Ia segera mencari guru terbaik untuk membimbing anaknya. Pertama kali dilihatnya Larry tertarik pada komputer tuanya, ia segera menelepon salah satu koleganya, yang merekomendasikan Mr. Najiro. Ibunya yang berpendapat Larry harus lebih banyak berada di udara terbuka kemudian mendaftarkannya berlatih baseball. Larry menyukainya. Namun saat George mengenalkannya pada kuda, ia langsung jatuh cinta.

Mungkin karena yang dihadapinya bukan benda mati. Bukan sekedar layar komputer atau bola. Mungkin karena itu satu-satuya keterlibatan bersama makhluk lain. Semacam terapi jiwa setelah kematian orang tua dan pengalaman buruknya di asrama.

Dengan kenyamanan ranch serta keindahan panoramanya, Wyoming adalah surga kecilnya.

Larry tidak pernah menyesali keputusannya keluar dari Watson Company. Di perusahaan ia harus berhadapan dengan orang-orang yang menginginkan uangnya –kebanyakan para penjilat-. Di kepolisian justru sebaliknya. Tempat di mana mereka punya ikatan sangat kuat. Seorang partner akan bersedia mengorbankan nyawa demi keselamatan lainnya.

Tempat di mana ia bisa menertawakan orang-orang yang ditangkapnya ketika mereka berupaya menyogoknya dengan ‘uang besar’. Namun sesungguhnya tidak berarti apa-apa dibanding kekayaannya sendiri. Tempat ia bisa meninggalkan masa lalunya di belakang. Tempat ia jatuh cinta pada Mary Olsen.

***

“Aku turut prihatin dengan kondisimu, Larry.”

“Terima kasih, Vic.”

Victor Elliot adalah pemegang saham lainnya. Terbesar ketiga. Larry tahu persis apa yang diinginkannya.

“Kau sudah bicara dengan seorang ahli?”

“Aku punya sepasukan ahli. Bisa dibilang begitu.”

“Aku bisa merekomendasikan beberapa dokter.”

“Terima kasih, Vic. Kau sangat membantu. Aku akan senang hati menghubungimu jika membutuhkannya,” Larry berbohong. Tidak. Ia tidak akan menghubunginya. Ia tidak percaya pada Vic.

“Kapan pun kau butuh, sobat.” Vic tampak prihatin.

“Kau memang sahabatku yang paling baik.” Larry mengutuki dirinya karena berbohong lagi. Seharusnya ia menerima penghargaan sebagai pembohong paling meyakinkan. Bertahun-tahun bertugas di kepolisian dan bertemu ribuan orang membuatnya bisa menganalisa orang lain dengan cepat. Berdasarkan laporan orang-orang kepercayaan  yang ia susupkan di perusahaan ini, Victor Elliot adalah orang culas dan suka bermain kotor, bahkan pada rekan bisnisnya sendiri.

“Jangan khawatir dengan perusahaan. Semuanya baik-baik saja. Kau tahu aku bisa diandalkan.”

“Apa jadinya aku tanpa dirimu?” Larry mual dengan kata-katanya sendiri.

“Ng, Larry, tentang pembicaraan kita sebelumnya. Kuharap kau mau mempertimbangkannya.”

Larry hanya tersenyum. Vic mengincar saham dan posisinya. Lalu ingin menggunakannya untuk menyatakan dukungan pada calon gubernur dalam kampanye mendatang. Larry tidak begitu peduli pada politik. Tapi sejak kasus penembakan imam Islamic Center itu, ia merasa perlu lebih selektif memilih.

Vic tak lama bicara dengannya. Segera sesudah kepergiannya, Larry menghenyakkan dirinya di kursi. Ia benar-benar lelah. Tiba-tiba ponselnya berdering. Thomas menghubunginya. Larry mengernyit. Kenapa Thomas menghubungi nomer pribadinya? Bukankah mereka baru bertemu di ruang direksi tadi?

“Halo, Tom?”

“Larry, apakah kau sedang online?” suara Thomas di seberang.

“Tidak, kenapa?”

“Kau harus melihat pergerakan saham Watson Company.”

“Sebentar,” Larry menyalakan komputer dan melakukan saran Thomas. Saham Watson Company bergerak turun. “Harga sahamnya terkoreksi cukup jauh. Apakah menurutmu pergerakannya tidak wajar?”

“Tidak,” jawab Thomas cepat. “Larry, kita harus bicara segera. Tapi tidak di kantor. Ini penting,” suara Thomas menyiratkan kedaruratan.

“Aku akan segera ada di rumah. Dokter melarang banyak aktivitasku. Datanglah.”

“Aku akan ke sana,” kata Thomas menutup pembicaraan.

***

“Ini tentang Vic,” kata Thomas saat mereka bicara berdua. Larry menatap Thomas yang duduk di depannya dengan serius. Mr. Watson senior dulu memiliki kantor sendiri dalam rumahnya. Sampai kini, ruangan itu tetap dipertahankan.

“Ada apa dengannya?” tanya Larry datar.

“Kau mengamati pergerakan saham kemarin?” Thomas balik bertanya.

“Hanya sebentar. Watson Company sempat turun 1 point. Tidak seburuk pergerakan hari ini. Menurutmu ini panic selling dan akan segera rebound?” Rebound adalah kenaikan harga saham setelah sebelumnya turun.

“Kemungkinan seperti itu. Fundamental perusahaan kita bagus. Tapi lain halnya jika ini disengaja.”

“Menurutmu apa yang terjadi, Tom?”

“Kau pasti bisa menduganya, Larry. Illegal insider trading. Orang dalam Watson Company membocorkan informasi rahasia. Mungkin sengaja membuat harga sahamnya jatuh, lalu ia bisa membelinya lewat rekening entah atas nama siapa.”

“Menurutmu pelakunya Vic?”

“Aku tidak tahu, tapi dia cukup mencurigakan.”

“Kau tidak mengatakannya karena menganggap Vic sainganmu jika terjadi pergantian presiden direktur kan, Tom?”

“Jika kau anggap aku bisa melewatimu dan bibimu setelah Vic, aku tersanjung,” jawab Thomas berterus terang. “Aku tidak punya bukti kuat tentang insider trading. Tapi diam-diam Vic menjalankan aktivis investasi untuk melawanmu. Dia sudah mendekati beberapa pemegang saham lain dan mulai melakukan kampanye.”

Larry menarik napas berat. “Pantas saja.”

Aktivis investasi adalah gaya investasi di mana para investor mencari dividen besar, pengembalian investasi yang cepat dengan pemangkasan biaya, penjualan aset maupun buy back saham. Para aktivis investor biasa berinvestasi di perusahaan publik dan mendekati manajemennya. Jika para manajemen tidak mendengarkan mereka, investor tersebut akan membujuk pemegang saham lain untuk memilih direksi baru, yang kemudian mempekerjakan manajemen baru sesuai keinginan mereka. Sebuah proxy contest, di mana sekumpulan pemegang saham dibujuk untuk menyatukan kekuatan dan menggabungkan kekuasaan untuk memenangkan voting dalam perusahaan.

“Jadi dia benar-benar serius ingin menguasai Watson Company. Jika dia tidak berhasil dengan insider trading, dia bisa berhasil dengan kampanye aktivis investasi,” kata Larry sambil menyandarkan tubuhnya di kursi. “Bibiku tahu hal ini?”

Thomas mengangkat bahu. “Tapi jika Vic berhasil mempengaruhi pemegang saham di luar, lalu mempengaruhi bibimu, ditambah saham miliknya sendiri. Dia bisa mendepakmu dari perusahaanmu sendiri.”

“Aku tidak khawatir dengan hal itu. Aku memang sudah berencana untuk keluar. Tapi aku tidak akan melakukannya karena tekanan. Aku melakukannya atas keinginanku sendiri. Dan omong-omong, aku tidak suka dikalahkan.” Larry tersenyum.

Thomas mendengus. “Aku tidak butuh diingatkan tentang hal itu. Aku mengenalmu sejak lama.”

Senyum Larry melebar. “Itu yang membuatku masih hidup sampai saat ini, kau tahu? Aku seorang pejuang.”

***

Dugaan Thomas benar. Vic membocorkan beberapa informasi rahasia yang mereka bahas dalam rapat dewan direksi sebelumnya. Rencana merger NJM serta Larry yang kembali menjadi CEO. Vic bahkan membocorkan kondisi kesehatan Larry serta menambahkan keislaman Larry sebagai bentuk dukungan terhadap terorisme. Thomas memberitahukan informasi itu kepada Larry, yang kontan membuatnya marah.

“Aku tidak mau tahu, Tom. Selidiki Vic. Bagaimana bisa informasi kesehatanku diketahui orang lain? Apa hubungannya keislaman dan kunjunganku ke Islamic Center dengan dukungan terhadap terorisme? Selidiki siapapun yang terlibat. Aku tidak mau ada pengkhianatan dalam perusahaanku. Vic punya beberapa investasi di beberapa perusahaan publik. Dia pasti punya kelemahan kan? Cari tahulah.”

“Kau tidak menyuruhku melakukan hal yang ilegal kan?” tanya Thomas Lewis di telepon.

“Demi Tuhan, Tom! Kau lebih tahu tentang Wall Street daripadaku. Apa gunanya aku mempekerjakan lulusan terbaik Yale kalau kau tidak bisa mengatasi hal ini? Kalau kau tidak bisa melakukannya, aku akan cari orang lain yang bisa. Dan jangan bermimpi menjadi CEO jika kau tidak bisa menyelesaikan tugas kecil seperti ini!”

“Aku akan melaporkan kasus ini pada SEC,” ujar Thomas lagi. SEC –Securities and Exchange Commission- atau Komisi Sekuritas dan Bursa adalah regulator utama pasar saham di Amerika Serikat.

“Lakukan dengan cepat kalau begitu. Dan aku menunggu laporanmu tentang NJM!”

Mary mengamati Larry yang sedang berbicara di telepon. Larry sudah menceritakan padanya tentang Vic sebelumnya serta kemungkinan bahwa Vic akan memanfaatkan Watson Company dalam pemilihan gubernur yang akan datang. Ia mendesah. Larry jadi sering marah dan membentak akhir-akhir ini. Versi yang tidak ia sukai. Semua orang tahu Larry berpacu dengan waktu. Tapi menyeret orang-orang di sekelilingnya ikut dalam pertarungan pribadinya rasanya tidak adil.

Mary merindukan sosok suami yang ia kenal sejak bertahun-tahun yang lalu. Sosok kharismatik yang ia kagumi sejak masih di akademi. Pemimpin yang hangat dalam tim kecil mereka. Negosiator ulung serta jenius memecahkan kasus. Larry tidak banyak bicara tapi semua orang di Kepolisian menganggapnya cukup ramah dan menyenangkan.

Larry membanting telepon dan menjatuhkan diri di kursi kerjanya dengan frustasi. Mary melihatnya dengan hati perih.

Mereka baru memasuki awal kehidupan pernikahan. Tapi Larry tidak punya banyak waktu untuk menikmati hal itu. Perusahaan menuntut berbagai macam kewajiban. Menyita waktu serta perhatian yang ia harapkan Larry berikan untuk dirinya. Ia mulai membenci perusahaan itu karena telah mengubah Larry menjadi sosok yang tidak ia kenal sebelumnya. Ia mulai menyadari betapa nama belakang Larry membawa begitu banyak konsekwensi.

Bagaimanapun Mary merasa nyeri ketika beberapa hari kemudian Larry  melakukan teleconfrence sambil berbaring di kamarnya. Ia melakukan kontak dengan Thomas Lewis, Pat O’Riley, serta manajer investasi, lalu bertanya pelan.

“Jika aku mati sebelum urusan Watson Company beres, apa yang harus aku persiapkan?”

Mary mengawasi teleconfrence itu dari seberang ruangan. Lalu berdiri dan berjalan pergi sambil menahan tangis saat Larry membuat janji dengan pengacaranya untuk mulai merumuskan surat wasiat.

***

(Bersambung)

Dipublikasi di cerita bersambung | Tag , , , | Meninggalkan komentar