CATATAN PERJALANAN KASMIR BAGIAN 1: ARTICLE 370


Saya sedang berkutat dengan deadline ketika suatu malam di awal Agustus, Nurani, rekan traveler dari Malaysia menghubungi saya via Whatsapp. Membagikan berita dari CNN bahwa telah terjadi kerusuhan di Kashmir. Ribuan penduduk ditangkap dan dipenjarakan. Kekerasan termasuk pembunuhan terjadi. Ribuan turis sudah diinstruksikan meninggalkan Kashmir sejak sehari sebelumnya, termasuk semua pendaki yang sedang melakukan trekking di kawasan Himalaya. Jam malam diberlakukan. Angkutan umum berhenti beroperasi. Toko-toko dan sekolah tutup. Seluruh wilayah dikuasai tentara. Tidak ada berita yang jelas kecuali bahwa hal itu terkait dengan pencabutan Article 370 dan 35 A.

Saat itu, saya bahkan tidak tahu apa itu Article 370.

srinagar intl airport

Foto saya ambil diam-diam dalam perjalanan pulang

Baca lebih lanjut

Dipublikasi di INFO, SERI PERJALANAN | Tag , , , , | 1 Komentar

Review (Subjektif) Hanya Namamu Dalam Doaku


Rabu, 13 Agustus lalu, saya berkesempatan hadir dalam acara Premiere Screening film Hanya Namamu Dalam Doaku (HNDD) produksi Sinemaku Pictures. Berbeda dengan film-film sebelumnya yang biasanya mengangkat isu kesehatan mental, kali ini Sinemaku Pictures mengangkat tema tentang ALS/Lou Gehrig, suatu penyakit langka yang menyerang saraf di otak serta sumsum tulang belakang dan menyebabkan gangguan otot, gerak, hingga napas.

Sebagai orang awam, saya hanya tahu ALS sebagai penyakit yang diidap oleh ilmuwan terkemuka, Stephen Hawking. Hawking mungkin termasuk beruntung karena hidup lebih dari 50 tahun sejak pertama kali didiagnosa, karena faktanya, angka harapan hidup penderita ALS relatif pendek dengan prognosis buruk.

Masalah inilah yang dihadapi oleh Arga (Vino G Bastian), seorang pengusaha kontraktor yang berusaha menyembunyikan penyakitnya dari istrinya yang bernama Hanggini (Nirina Zubir) dan anaknya, Nala (Anantya Kirana). Namun keputusan ini malah membuat rumah tangganya goyah. Terlebih setelah acara reuni SMA yang mempertemukan kembali Arga dengan Icha (Naysilla Mirdad), sang mantan yang berprofesi sebagai dokter.

Penonton bisa langsung menebak awal masalah di film ini sejak adegan awal kue ulang tahun. Gerak tubuh Vino yang berubah sedikit demi sedikit terlihat alami. Vino tampaknya telah ‘mengerjakan PR’-nya sebagai seorang aktor dengan riset yang cukup.

Alur cerita HNDD sendiri terbilang solid. Meski karakter Arga pada beberapa bagian mungkin akan menimbulkan pertanyaan penonton karena terlalu ceroboh. Saya paham tidak mudah menerima kenyataan mengidap penyakit langka dan memberitahukannya pada keluarga. Apalagi posisi Arga sebagai kepala keluarga yang cenderung ingin terlihat kuat. Di sisi lain, Hanggini yang terlanjur berprasangka membuat masalahnya semakin runyam. Karakter keduanya yang digambarkan saling pengertian di awal dan menjadi mudah tersulut, meski bisa dimengerti, mungkin akan membuat penonton berkomentar, “Dih, gitu banget sih?” 😀     

Untungnya karakter keduanya bisa kembali menarik simpati penonton. Dialog di meja makan saat Hanggini menjalani masa iddah-nya bisa membuat mata berkaca-kaca. Keputusan-keputusan para karakternya memiliki kausalitas yang jelas. Kebetulan, saya ODAI sekaligus caregiver. Perasaan Hanggini (dan Icha) yang lebih memilih menghabiskan hidup mereka merawat orang yang mereka cintai sangat saya pahami.

Untuk pemilihan cast, semuanya tepat. Pujian untuk departemen ini bukan hanya karena para aktor dan aktris dewasanya saja, tapi juga untuk pemilihan peran Nala lewat kemampuan aktingnya yang matang. Bahkan peran ustadz/penghulu yang menikahkan Arga dan Hanggini saja terasa natural.

Kalaupun ada kekurangan dalam film ini, mungkin ada beberapa pergerakan kamera yang kurang halus. Entah karena saya mendapat tempat duduk di pojok depan bawah yang memang tidak ideal untuk sudut pandang penonton, beberapa pergerakan adegannya membuat sakit kepala. Monolog Nala dalam adegan teater juga agak preachy. Tapi secara keseluruhan, ini adalah film yang menarik, manis, dan menggugah.

Hanya Namamu Dalam Doaku tayang di bioskop mulai 21 Agustus 2025. Selamat menonton.

Dipublikasi di REVIEW | Tag , , , , | Tinggalkan komentar

REVIEW FILM QODRAT 2. (ISTRI) USTADZ JUGA MANUSIA


Sejujurnya saya bukan penggemar cerita horor, apalagi dalam bentuk film. Seingat saya, saya tidak pernah sengaja ke bioskop hanya untuk menonton genre horor. Menurut saya, buat apa bela-belain menembus kemacetan setelah kerja atau mengorbankan waktu istirahat akhir pekan untuk pergi ke bioskop, keluar uang dan waktu hanya untuk ditakut-takutin? Alhasil saya hanya menonton horor kalau sudah masuk ke platform OTT. Itu pun film tertentu saja. Qodrat adalah film horor pertama yang saya sempatkan menonton di bioskop sebagai bentuk dukungan supaya universe-nya tetap berlanjut.

Ketertarikan saya pada Qodrat justru jauh setelah hype film pertamanya muncul. Qodrat tampil beda dengan premis cerita yang tidak biasa. Kebanyakan film horor Indonesia memiliki alur cerita generik: Seseorang/sekelompok orang pergi ke suatu tempat dan mengalami gangguan dari entitas lain dengan beragam bentuknya. Kemudian entitas itu kalah setelah dilakukan ritual dan doa tertentu, atau justru sebaliknya, sang protagonis kalah dan mati.

Meski tentu tidak semua film horor Indonesia seperti itu. Genre ini adalah pilihan terakhir dalam playlist saya.

Namun ada yang berbeda dalam film Qodrat. Sang tokoh utamanya terasa lebih dekat ada di sekitar kita. Horornya mencekam bukan karena jumpscare yang bertubi-tubi, tapi karena relate dan bisa terjadi pada siapa pun tanpa harus pergi ke hutan angker atau rumah kosong. Pilihan ayat yang tidak terbatas pada ayat kursi, dibalut drama dan action yang proper membuat saya penasaran siapa orang-orang yang bekerja di balik layar semua ini.

Sebagai penonton awam, saya tidak begitu tahu tentang sosok Charles Gozali. Jadi saya justru banyak menonton wawancara dan podcast beliau saat bercerita proses di balik layar. Meski film-film beliau tidak begitu saya kenal, saya langsung ngefans begitu saya tahu beliau dan ayahnya adalah sosok di balik serial Jacklyn di televisi dulu.

Ya, Jacklyn adalah salah satu serial favorit saya yang cukup membekas. Tidak hanya sosok protagonisnya yang seorang wanita dan jago bela diri. Tapi juga kehadiran anak kecil bernama Frans yang misterius, jagoan dan keren. Saya ingat, ada satu episode di mana ada sebuah helikopter polisi terbang di atas atap gedung. Suatu adegan mahal yang bahkan belum pernah saya temukan hingga kini di sinetron.  

Sebagai orang yang belajar bela diri bertahun-tahun, saya sering kali terganggu jika suatu adegan laga tidak dilakukan dengan benar. Jelas terlihat bagi saya, apakah seorang aktor/aktris benar-benar punya dasar bela diri/tidak. Sejauh yang saya ingat, adegan sinetron Jacky dan Jacklyn terasa masuk akal dan benar-benar bisa dipraktekkan dalam bela diri jalanan.

Terlepas dari kepiawaian Charles Gozali dalam menggarap koreo bela diri dalam film/sinetron, saya juga terkesan dengan ketulusan beliau dalam berkarya. Ketulusan yang dibuktikan dengan bagaimana beliau memperlakukan para kru dan menbangun struktur cerita. Kehati-hatian agar tidak melenceng dari nilai yang seharusnya serta keinginan untuk memberikan tontonan terbaik, terlepas dari berbagai keterbatasan yang ada. Melihat kesuksesan Qodrat 1 dan antuasiasme penonton Qodrat 2 yang terus bertambah membuat saya semakin percaya, bahwa karya yang dibuat sepenuh hati, akan juga sampai ke hati.

Qodrat 2 sendiri adalah sekuel yang langsung melanjutkan cerita film pertamanya. Namun kali ini, Azizah, istri Qodrat dimunculkan untuk mengisi porsi drama. Uniknya, karakter Azizah tidak digambarkan sebagai seorang istri ustadz yang memiliki keteguhan iman setiap saat. Justru sebaliknya, Azizah tampil rapuh selayaknya seorang istri dan ibu pada umumnya. Pilihan-pilihan yang diambil Azizah adalah pilihan logis seseorang jika dihadapkan pada situasi yang sama. Namun inilah yang justru membuat adegan salat taubat pertama Azizah membuat para penonton bergetar dan meneteskan air mata. Akting Acha Septriasa di film ini sangat brilian.

Karena komposisi drama yang lebih kuat, film ini tidak cocok bagi para penggemar jumpscare dan adegan gore penuh darah. Meskipun ada adegan semacam itu, porsinya relatif sedikit.

Untuk urusan akting, jajaran para cast dalam film sudah tidak perlu diragukan lagi. Pemilihan Vino yang pernah berperan sebagai Buya Hamka bagi saya sangat tepat. Chemistry Vino-Acha dalam beberapa kesempatan cukup manis dan romantis. Septian Dwi Cahyo yang dulu saya tonton sebagai seorang pantomim dan pemeran serial lawas ‘Rumah Masa Depan’, ternyata bisa tampil garang secara meyakinkan.

Tidak hanya para pemain utama, tapi para karakter pendukung juga meninggalkan kesan meski porsi mereka tidak terlalu banyak. Fariz Alfarizi yang sebelumnya tampil bersama Vino dalam film Wiro Sableng berhasil menciptakan kelucuan dalam adegan perkelahian dengan Qodrat. Sukardi menempati porsinya secara pas sebagai partner ‘Dynamic Duo’. Della Dartiyan dan Hana Saraswati menyakinkan sebagai sahabat Azizah di pabrik. Bahkan para ekstras pun tidak ada yang berakting jelek.

Terkait pengambilan gambar, adegan pembuka dan act 3 dalam film ini yang menampilkan mikro ekspresi Acha benar-benar memukau. Perubahan ekspresi Acha mengingatkan saya pada film horor ‘Smile’, pergerakan iblis yang jelas diperagakan oleh manusia mengingatkan saya pada aktor Andy Serkis yang bermain dalam film The Rise of the Planet Apes sebagai Caesar, dan film Qodrat yang katanya akan menjadi trilogi mengingatkan saya pada trilogi favorit saya: The Dark Knight. Hanya saja posisi Batman diganti Ustadz Qodrat, Alfred adalah Ustadz Rochim, Gordon/Robin adalah Sukardi, Rachel adalah Azizah, Ra’s al Ghul atau Two Face adalah Za’far, Asuala adalah Joker. Cat Women adalah Yasmin, dan Christopher Nolan adalah Charles Gozali. 😀

Mungkin perumpamaan di atas sedikit berlebihan mengingat skala produksi yang jauh berbeda. Tapi kehadiran Qodrat setidaknya membuat saya menyadari bahwa cerita horor religi ternyata bisa dikemas sedemikian rupa bak pahlawan super. Menghancurkan satu (atau lebih) truk untuk menciptakan adegan kerasukan yang berbeda adalah buktinya. Koreografi adegan perkelahian di pabrik sedikit banyak mengingatkan saya pada film-film Jackie Chan yang kerap memanfaatkan apa yang ada di sekitarnya. Intens, dan menghibur.

Saya juga sangat mengapresiasi gestur Qodrat ketika meruqyah dengan Bahasa Isyarat yang berarti ‘Allahu Akbar’. Dialog Zhaduq yang membanggakan dirinya lebih baik dari manusia jelas diambil dari surat Al-Baqarah, dan doa yang dibaca untuk menghadapinya juga sangat pas, yaitu doa taubat Nabi Adam. Keputusan para penulisnya untuk membiarkan Azizah menghadapi Zhaduq tanpa banyak campur tangan dari Qodrat dan menemukan pertobatannya sendiri adalah konklusi yang tepat. Make up, art, CGI, sound desain, bahkan OST-nya berpadu secara menyenangkan. Di akhir film, kita juga akan menemukan sedikit petunjuk film Qodrat berikutnya serta (kemungkinan) multiverse dengan film Charles Gozali lainnya.

Terakhir, saya ingin mempersembahkan quote yang pernah saya buat ini pada Ko Charles Gozali. Keputusan untuk bangkit berkarya setelah ‘kegagalan’ membuat film ‘Gatot Kaca’ ternyata telah menghadirkan IP baru yang cukup fenomenal. Selamat untuk seluruh tim Qodrat. Nilai dari saya, 8/10.

Dipublikasi di REVIEW | Tag , , , , , , , , | Tinggalkan komentar

REVIEW FILM BOLEHKAH SEKALI SAJA KUMENANGIS


“Air mata mungkin tanda lemahnya jiwa. Tapi ada kalanya, ia hanya pertanda, bahwa kita masih manusia.”

Itu penggalan tulisan yang saya buat saat SMA dan membuat saya teringat kembali usai menonton film Bolehkah Sekali Saja Kumenangis. Sebuah film drama terbaru dari Sinemaku Pictures.

Film ini bercerita tentang Tari yang mengikuti sebuah support group demi membantu diri dan ibunya lepas dari KDRT yang dilakukan sang ayah. Tari selalu berpura-pura kuat dan menyembunyikan keadaan keluarganya dari teman-temannya di kantor. Namun tak sengaja ternyata ia bertemu rekan kerjanya yang juga bergabung di support group yang sama.

Sejujurnya, tema KDRT adalah tema yang hanya saya ketahui dari riset dan cerita teman-teman. Sehingga entah kenapa, film ini terasa jauh dan tidak sampai membuat saya terhanyut atau menangis. Saya juga lebih suka jika masalah-masalah tokoh lain di support group masih terkait dengan isu KDRT sehingga tidak terkesan hanya di permukaan.

Meski begitu, penggambaran KDRT keluarga Tari yang lebih sering tidak digambarkan secara langsung patut dipuji. Saya paham bahwa adegan semacam ini berisiko membangkitkan kembali trauma yang dialami para penyintasnya. Kehati-hatian para pembuat film ini dalam penyesuaian adegan menurut saya berhasil. Niat baik dengan menyertakan Komnas Perempuan dalam pengembangan cerita seperti yang tertera di awal film juga pantas diapresiasi.

Setting dan pemilihan timing lagu-lagu yang dipakai dalam film ini terbilang pas. Dari segi akting, chemistry Tari-Baskara cukup manis. Saya suka interaksi mereka dengan dialog-dialog masa kini yang believeable. Tapi pujian terbesar akan saya berikan pada Surya Saputra yang berhasil menampilkan sosok yang penuh layer. Kedalaman karakternya sangat menyakinkan. Adegan akhir dengan Prilly itu juara!

Walau berbeda PH, tapi dasarnya penulis skenario juga

Ada beberapa kekurangan kecil yang saya ingat dalam film ini. Beberapa dialog terkesan kurang natural. Humornya tidak sepenuhnya berhasil. Wajah Prilly yang berjerawat dan bersih dalam sekali adegan shower membuat saya mempertanyakan continuity make up. (Dia pake skin care apa ya? Langsung bersih gitu? I want that magic cream 😀 )

Alur cerita di act 3 menurut saya agak terburu-buru. Perubahan karakter orang tua Tari rasanya terlalu cepat. Apakah orang dengan trauma bertahun-tahun secepat itu berubah 180 derajat? Sepertinya ada tahapan yang terlewat. Tapi semua itu bisa dimaklumi mengingat keterbatasan durasi. Untungnya pula, ending film ini sesuai dengan ekspektasi. Tidak serta merta mengambil jalan pintas dan lebih memilih alur paling logis yang terjadi dalam kondisi seperti itu.

Secara keseluruhan, ini film yang decent. Bukan sebuah film yang mengeksploitasi kekerasan untuk sekadar menarik simpati, tapi lebih memiliki nilai edukasi. Sebuah film penting bagi para orang tua, calon orang tua, para penyintas KDRT yang mungkin sedang terjebak dalam situasi yang sama. Karena mengakui kita punya masalah adalah langkah awal menuju perbaikan. Maka keberadaan film ini bisa mendorong para penyintas KDRT di luar sana untuk berani mencari pertolongan dan bertahap menuju penyembuhan.

Semoga.

Dipublikasi di INFO, REVIEW | Tag , , , , , | Tinggalkan komentar

Review Film Buya Hamka Volume I


Biopik Langka tentang Ulama Nusantara yang Mendunia

Ketika dua tahun lalu saya mengetahui bahwa bahwa film tentang HAMKA akan dibuat dengan Vino G. Bastian sebagai pemeran utamanya, saya langsung antusias. Namun saat setelahnya tidak ada kabar lagi dari akun LSBPI MUI, saya pikir filmnya tidak jadi dibuat. Bagaimanapun, saya maklum bahwa proses pembuatan film bisa memakan waktu sangat lama dan biaya yang tidak sedikit. Sudah banyak film-film yang tidak jadi dibuat atau diproduksi seadanya karena kendala dana. Saya sempat berpikir bahwa film Buya Hamka mengalami nasib yang sama. Jadi, tentu bisa dibayangkan betapa terkejutnya saya sewaktu muncul poster film Buya Hamka beserta jajaran pemainnya. Disusul dengan trailer sepanjang 5 menit dan tanggal perilisan di bioskop.

Melihat deretan pemeran dan trailernya, saya cukup lega. Film produksi Falcon Pictures dan Starvision ini jelas dikerjakan secara proper, jauh dari kesan seadanya. Sebaliknya, film ini sudah terlihat mahal dan berkelas.

Tapi apakah filmnya semenjanjikan trailernya? Saya harus bersabar sampai Gala Premiere.

Seingat saya, ini pertama kalinya Gala Premiere sebuah film diadakan secara serentak di 18 kota. Biasanya saya menghadiri Gala Premiere di Rasuna Epicentrum atau Grand Indonesia.  Memang butuh niat dan usaha lebih untuk menembus kemacetan Jakarta. Namun kali ini saya berkesempatan mengikuti Gala Premiere di tempat yang lebih dekat di Botani Square Mall, Kota Bogor. Suasananya memang tidak semeriah Gala Premiere yang biasa saya saksikan, Tapi akses lokasi dan jam penayangannya sangat cocok sambil menunggu waktu berbuka puasa.   

Film dimulai. Saya menonton dengan harap-harap cemas.

Saat film baru dimulai, saya sempat menyangka bahwa Hamka Tua diperankan oleh Fuad Idris, sebelum saya menyadari wajah prostetik yang dipakai Vino G. Bastian dan Laudya Cynthia Bella. Bahkan di balik wajah prostetik yang pasti membuat kulit kaku, kedalaman perasaan Hamka tersampaikan dengan baik ke penonton hingga dalam hati saya berkomentar, “Ya ampun, Vino aktingnya jago banget!”

Bicara soal kualitas akting, para pemeran dalam film ini memang punya kualitas yang mumpuni. Tidak hanya para pemeran dewasa, para akor dan aktris cilik pun tampil dengan apik.

Film ini menceritakan fase hidup Buya Hamka saat menjadi pimpinan Muhammadiyah di Makasar hingga fase setelah proklamasi kemerdekaan. Selain para aktor dan aktris papan atas dalam deretan pemain. Mayoritas dialog dari pantun yang sedih sampai ujaran romantis yang manis dalam bahasa daerah juga pilihan menarik. Meski saya bukan orang Minang, tapi saya menikmati dialog-dialog yang dituturkan para pemainnya.

Berikut adalah jajaran para pemainnya:

Sebelumnya, saya sempat takut apakah filmnya akan menjadi terlalu berat mengingat Hamka adalah seorang ulama, sastrawan sekaligus politikus. Apakah beban ‘dakwah’ dalam film ini akan menjadi terlalu menggurui? Apakah kisah sejarah dalam film ini akan membosankan dan membuat penonton tertidur?

Untunglah ternyata kekhawatiran saya tidak terjadi. Ketakutan bahwa film ini akan jadi membosankan ternyata tidak terbukti. Meski pacing-nya lambat, namun padat dan membuat cerita terus bergerak. Keputusan untuk memecah film Hamka yang aslinya berdurasi 7 jam menjadi 3 film adalah keputusan yang tepat. Kiprah Hamka memang terlalu besar untuk hanya diceritakan dalam satu film.

Saya harus angkat topi untuk penulis skenarionya. Pasti tidak mudah menulis naskah trilogi yang membutuhkan riset panjang. Saya tidak akan heran jika penulisannya memakan waktu bertahun-tahun. Meski saya tetap penasaran, pada draft berapa akhirnya naskah ini mencapai draft final. Menuliskan naskah skenario di bawah supervisi MUI, para ahli sejarah dan keluarga Buya Hamka sendiri adalah tugas yang sangat menantang. Tapi kesempatan untuk menuliskan cerita tokoh sekaliber Buya Hamka jelas sebuah kehormatan besar. Kehati-hatian penulisnya untuk menyeimbangkan berbagai sisi Buya Hamka cukup berhasil. Sikap Hamka yang tidak parsial bisa dijalin lewat alur yang rapi.

Saya juga harus memuji bagian art design dalam film ini. Dari pembuatan set kapal dan kincir air sungguhan, sampai pernak-pernik isi rumah yang detail. Pajangan kaligrafi yang dipasang Buya di rumahnya saat pindah ke Padang Panjang adalah pajangan dengan model yang sama yang pernah ada di rumah saya. Buku tafsir karya Hamka adalah salah satu buku yang ada dalam rak buku milik almarhum ayah saya dengan cover yang persis sama. Saya membaca novel roman karya Hamka saat SMP milik perpustakaan sekolah dengan cover seperti yang ada dalam film. Menyaksikan hal-hal kecil semacam itu jelas membangkitkan kenangan tersendiri.

Dari sketsa hingga set kapal, Sumber foto: akun IG @atsinc

Ada hal-hal yang saya suka. Pertama, setting-nya menyakinkan, sinematografinya indah, tata riasnya memukau. Apalagi ditambah wardrobe dan make up prostetik yang konon sampai menghabiskan 3 milyar rupiah. Film ini salah satu bukti bahwa sinema Indonesia memang sudah naik kelas. Semua itu juga didukung dengan skoring musik yang megah. Dikerjakan para musisi dunia dan direkam di Praha di bawah arahan Purwacaraka.

Film garapan Fajar Bustomi ini juga menampilkan banyak tempat di sekitar Danau Maninjau, Payakumbuh. Bukit Tinggi dan lain-lain.

Tentu saja film ini masih tetap memiliki kekurangan. Harus diakui, beberapa dialog dalam film ini mungkin akan terasa ‘preachy’ dan tidak natural. Selipan humornya tidak cukup menyegarkan. Tapi, hei, kita sedang bicara tentang Buya Hamka. Selain sebagai penulis dan ahli tafsir, beliau memang da’i, politikus serta orator ulung. Nasihat-nasihatnya adalah bagian dari hidup. Wajar jika cukup banyak adegan beliau memberikan nasihat mengutip ayat atau hadits. Pada era itu, ruang komedi memang tidak punya banyak tempat. Meski demikian, beberapa adegan cukup berhasil membuat penonton tersenyum.

Secara pedoman EYD, penulisan kalimat di atas kurang tepat. ‘Ku tulis’ seharusnya disambung sedangkan ‘di kala’ justru dipisah karena merupakan keterangan waktu dan bukan diikuti kata kerja. Namun hal-hal minor seperti ini tidak mengurangi esensi filmnya untuk dinikmati.

Keseluruhan proyek film ini adalah sebuah niatan besar yang membuat saya merasa bahwa memang seperti itulah seharusnya sebuah film diciptakan. Film yang tidak dikerjakan secara asal. Melihat film semacam ini dipersembahkan untuk orang sekelas Buya Hamka bagi saya adalah langkah yang patut diapresiasi. Pada akhirnya kekurangan-kekurangan minor dalam dialog atau CGI yang kurang halus bisa saya maklumi.

Hamka dan istri beliau, versi nyata dan film. Sumber foto: akun IG @fajarbustomi.

Menonton film ini seperti mempelajari sejarah dan biografi tokoh dengan cara yang menyenangkan sekaligus traveling ke berbagai tempat hanya dengan sekali duduk.

Ibarat sebuah makanan pembuka, film ini berhasil menggugah rasa penasaran penonton untuk ingin tahu lebih jauh kelanjutan ceritanya. Film ini memiliki rating semua umur yang relatif aman untuk ditonton bersama keluarga. Saya pribadi paling menantikan volume terakhir ketika Hamka masih kecil hingga dewasa.

 Film Buya Hamka Volume I insya Allah bisa disaksikan saat lebaran, 20 April 2023 di bioskop seluruh Indonesia.

Dipublikasi di REVIEW | Tag , , , , | Tinggalkan komentar

Rempah-rempah, Si Kecil yang Berdampak Besar


Nusantara, seumpama negeri dongeng yang memanggil para pengelana dari tempat yang jauh. Sepetak tanah surgawi di garis khatulistiwa. Sebuah tempat ajaib yang sekarang bernama Indonesia. Wilayah misterius yang dibicarakan lewat bisikan para pengembara, dibalut aroma rempah yang menguar dan khasiatnya yang melegenda.

Di Banda, segalanya bermula.

Jauh sebelum era digital di mana Kepulauan Banda terekspos dengan pasir putih dan lautnya yang indah, Lawrence dan Lorne Blair menuliskan catatan perjalanan mereka lewat buku ‘Ring of Fire’. Sebuah buku pelengkap film dokumenter yang memenangkan Emmy Award tahun 1989. Sebuah kisah di abad modern yang bercerita tentang Indonesia. Penjelajahan selama sepuluh tahun ke tempat-tempat terpencil. Bersampul sebuah kapal pinisi dengan latar belakang lembayung menuju Kepulauan Banda. Menjanjikan petualangan mendebarkan, indah dan magis.

Baca lebih lanjut
Dipublikasi di INFO | Tag , , , , , , , , , , | Tinggalkan komentar

Review singkat, rekomendasi film dan serial yang dibintangi oleh Kim Soo Hyun


Meski saya bukan penggemar berat drama Korea dan bahkan sulit mengingat nama-nama pemerannya, namun sejak menonton It’s Okay To Not Be Okay, saya jadi penasaran dengan aktor yang satu ini. Akting Kim Soo Hyun di serial itu membuat saya terpukau. Pantaslah ia dinobatkan sebagai aktor termahal Korea dengan bayaran lebih dari 6 milyar rupiah setiap episodenya. Saya tentu saja penasaran dengan jejak aktingnya, dan ketika saya menonton serial dan filmnya yang lain, saya paham kenapa Kim Soo Hyun disebut sebagai salah satu aktor terbaik yang menyabet banyak penghargaan. Dari peran sebagai penyanyi remaja, produser baru, hingga tersangka pembunuhan, semuanya memiliki kedalaman akting yang membuat penonton terkesima. 

Sebenarnya debut Kim Soo Hyun sudah dimulai sejak 2007 lewat perannya di ‘Kimchi Cheese Smile’, namun karena saya tidak menonton serialnya secara utuh, saya tidak bisa mengulasnya.

 Berikut adalah serial dan film favorit saya yang dibintangi oleh Kim Soo Hyun dan pantas direkomendasikan.

Baca lebih lanjut
Dipublikasi di REVIEW | Tag , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , | Tinggalkan komentar

CATATAN PERJALANAN RAJA AMPAT BAGIAN 4. SURGA KECIL DI MISOOL


Ada satu kekhawatiran saya ketika selepas isya berkeliling kampung di Yellu. Sekitar 7 orang anak usia SD dan TK duduk berkerumun menghadapi sebuah ponsel. Rupanya mereka sedang menonton tiktok. Tanpa pengawasan orang tua. Saat saya tanya, salah satu anak berumur sekitar 8 tahun mengatakan bahwa setiap malam mereka biasa berkumpul seperti ini, karena mereka adalah geng jomblo.

Mengetahui kata-kata itu keluar dari seorang anak SD di  Papua tak urung membuat saya terperangah. Anak-anak lainnya kemudian saling dorong dan satu per satu mereka meninggalkan saya sambil tersenyum malu.

Baca lebih lanjut
Dipublikasi di INFO | Tinggalkan komentar

CATATAN PERJALANAN RAJA AMPAT BAGIAN 3. MENUJU MISOOL



Dalam perjalanan menuju Sorong, saat tengah menikmati angin laut di atas kapal Fajar Indah 2, saya bertemu warga Misool bernama Pak Irjan. Dari Pak Irjan saya akhirnya tahu, bahwa perjalanan ke Misool masih memungkinkan untuk solo traveler seperti saya meski suasana pandemi dan tanpa agen perjalanan. Seminggu sekali, kapal Fajar Indah 2 melayani rute Pulau Seram di Ambon sampai Sorong, Papua Barat. Beliau juga menawarkan jika mau ke tempat-tempat wisata di Misool, bisa menyewa kapalnya dengan harga jauh lebih murah dari agen wisata umumnya. Sayangnya, Pak Irjan tidak tahu jadwal keberangkatan kapal menuju Misool berikutnya. (Belakangan saya terhubung kembali dengan Pak Irjan setelah saya pulang dari Misool)

Baca lebih lanjut
Dipublikasi di SERI PERJALANAN | Tag , , , , , , , , , | Tinggalkan komentar

CATATAN PERJALANAN RAJA AMPAT BAGIAN 2. PIAYNEMO- PULAU SAUFAPIR- ARBOREK


Perjalanan saya berlanjut pada hari yang sama. Tujuan pertama saya adalah Piaynemo, Telaga Bintang, dan menginap semalam di pulau Saufapir, Kepulauan Fam, tempat keluarga Yahya dan Desi tinggal. Tadinya saya kira, perjalanan ini dekat. Seperti perjalanan saya dulu di Karimun Jawa. Nyatanya saya salah besar.

Awalnya saya masih menikmati lautan, cuaca cerah, awan yang tampak sangat dekat hingga sepertinya bisa diraih, laut yang dalam berkilauan. Di beberapa tempat, sangat jernih seperti cermin, memantulkan birunya langit dan gumpalan putih awan. Saya memandang sekitar, merekam setiap momen dalam ingatan. (video dan foto-foto perjalananan saya bisa dilihat di akun: https://www.instagram.com/nurbaiti_hikaru/ )

Setelah beberapa lama, saya mulai bosan, 3 jam lebih dan kami belum juga sampai. Ombak semakin besar, menyiramkan air laut asin yang memerihkan kulit dan mata. Sejujurnya saya takut perahu kami akan terbalik. Sebab saya tidak mahir berenang dan tidak ada jaket keselamatan yang tersedia. Sementara area biru tua menandakan lautan yang dalam. Tapi tepat pada saat itu, ratusan camar laut terbang mencari makan. Mengingatkan saya dengan puluhan elang di Kashmir 2 tahun lalu.

Saat saya dengan susah payah merekam camar terdekat dengan perahu yang oleng diterjang ombak, seekor lumba-lumba melompat dan langsung membuat sata terpekik. Itu adalah salah satu hal paling indah yang pernah saya lihat seumur hidup. Melihat seekor lumba-lumba di habitat aslinya. Saya pun luluh. Perjalanan ini memang layak saya lakukan. Setelah nyaris 4 jam, kami pun sampai di Piaynemo. Lautan di sini tenang, jernih, dan relatif dangkal. Terlihat dari warna hijau tosca perairannya. Saya naik ditemani Desy dan Korina.

Telaga Bintang Piaynemo

Untuk mendapatkan foto dengan view telaga berbentuk bintang, harus dilakukan dengan mendaki karang terjal. Jika tidak, maka bentuk bintang segi lima tidak akan terlihat. Meski tidak terlalu tinggi, dan beberapa pijakan disemen seadanya, tidak adanya pagar yang karang terjal yang langsung menuju jurang cukup membuat ngeri. Tapi rasanya sayang sekali berlayar menempuh bahaya hampir 4 jam jika hanya berfoto di bawah. Maka kami bertiga bergantian naik, lalu foto bersama.

Kami meneruskan ke puncak Piaynemo. Jalurnya relatif mudah karena sudah diberi anak tangga. Toilet juga tersedia. Saat kami usai berfoto, serombongan bule baru saja akan naik bersama seorang anak berumur 5 tahunan. Kami saling menyapa. Kebiasaan jika saya naik gunung dan bertemu pendaki lain. Sementara mereka menyapa karena saya sudah lebih dulu tersenyum.

Usai dari puncak Piaynemo saya dengan nada khawatir bertanya apakah kami akan kembali ke Waisai. Kami sampai di Piaynemo sekitar pukul 5 sore. Perahu kami tidak memiliki lampu. Saya masih terbayang ombak yang membuat perahu oleng. Saya tidak berani berlayar dalam kegelapan dengan resiko jatuh tanpa ketahuan dan jaket keselamatan. Untungnya Desy mengatakan bahwa kami akan bermalam di kampungnya. Pulau Saufapir. Sebuah pulau kecil yang merupakan pemekaran dari Kepulauan Fam dan hanya dihuni 25 KK. Kami pun berlayar menuju pulau. Saya menyaksikan salah satu sunset paling indah selama hidup. Saya meminta tolong Desy merekamnya dan nantinya mengirimkannya pada saya.

Tiba di Saupapir, usai menumpang mandi setelah basah kuyup tersiram air laut, saya ditempatkan di rumah yang tampaknya masih baru. Yahya akan bermalam di kampung sebelah.

Desy menemani saya di rumah. Klrga Yahya memasakkan nasi dan sayur. Mereka menawarkan apakah saya ingin ikut ke kampung sebelah. Ada acara adat dan permainan tambur karena gereja yang baru dibangun. Saya memilih tetap di rumah dan langsung tidur saja. Sejak kemarin saya belum tidur, perjalanan barusan cukup menegangkan. Saya tidak berselera makan bahkan hingga keesokan sorenya. Keluarga Yahya membawakan kasur, bantal, kursi dan meja. Saya tidur di kamar sementara Desy di ruang tamu. Ditemani suara debur ombak, saya pun terlelap.

Keesokan harinya, saya berwudhu di laut untuk salat subuh. Yahya rupanya menginap di pulau seberang karena semalam ombak besar. Saya menunggu Yahya pulang, lalu bersama Desy, kembali ke pulau Fam menjemput Korina. Seoranf nelayan sedang membersihkan ikan kakak tua yang sangat besar. Saya pernah makan ikan kakak tua di Karimun Jawa. Namun ikan yang ditangkap nelayan tadi berkali2 lipat ukurannya. Kami meneruskan perjalanan.
Persiapan pembukaan gereja sepertinya dirayakan seluruh kampung. Saya memalingkan wajah dan berjalan paling pinggir karena beberapa penduduk sedang menyembelih b2.

Keluarga Korina sangat ramah. Usai berpamitan, kami kembali menuju Waisai.
Yahya membuat kejutan yang menyenangkan dengan mampir ke Arborek hingga saya bisa snorkling sejenak. Desy dan Korina sudah bosan dengan laut jadi saya hanya sendirian. Tanpa pelampung dan hanya sendirian, saya memilih untuk berenang di sekitar perahu saja. Yahya menaburkan roti hingga ikan-ikan berkumpul. Trik yang dulu juga saya pelajari saat snorkling di Gili Trawangan. Karena hp saya mati dan Yahya tidak memiliki dokumentasi seperti pada umumnya tour, jadi ponsel Desy yang telah dilapisi plastik strap digunakan untuk merekam saya.

Di dekat kami ada satu grup bule yang baru saja usai menyelam. Saya segera naik ke darat setelah snorkling hanya 5 menit. Yahya menunjukkan saya ke spot foto dan memotret saya. Saya bicara sebentar dengan pemandu bule yang rupanya masih kisaran SMA. Ia mengisi waktu sekolah online dengan sebulan berkunjung ke Raja Ampat memandu tamu di resort tempat ibunya bekerja. Setelah saling mengucapkan selamat tinggal, kami pun berpisah.

Perahu kecil kami kembali diombang ambingkan ombak selama 4 jam. Tiba di rumah singgah, kami sudah basah kuyup dan lengket. Saya mandi, salat, dan berkemas dengan cepat, dengan diantar Yahya, saya mampir sebentar ke pos AL Waisai, lalu berfoto di tugu selamat datang di raja ampat yang kemarin saya lewatkan. Yahya mengantar saya hingga ke pintu kapal KM Fajar 2.

Saya kira petualangan akan berakhir setelah kembali ke Sorong, namun nasib baik akhirnya membawa saya ke destinasi berikutnya yang tak kalah indah: Misool.

Bersambung

Dipublikasi di INFO, SERI PERJALANAN | Tag , , , , | 2 Komentar

CATATAN PERJALANAN RAJA AMPAT BAGIAN 1


Raja Ampat sudah masuk dalam destinasi saya sejak belasan tahun lalu. Jauh sebelum traveling menjadi trend seperti sekarang. Sebelum era media sosial yang memudahkan orang bepergian. Sejak pertama tahu tentang Raja Ampat, segera saja, tempat ini masuk dalam daftar 100 tempat yang ingin saya kunjungi sebelum mati.

Baca lebih lanjut
Dipublikasi di INFO | Tag | Tinggalkan komentar