SEMINGGUAN DI YOGYA, KE MANA AJA? DARI TEMPAT KEKINIAN SAMPAI WISATA SEJARAH


The best plan is no plan.

Motto tersebut tentu tidak berlaku di dunia bisnis. Namun untuk solo traveler yang moody seperti saya, rencana perjalanan masih bisa berubah setiap saat.

Meskipun saya cukup sering ke Jogja, entah untuk training, acara komunitas atau liburan keluarga, baru kali ini saya menghabiskan sampai total 10 hari hanya untuk destinasi lokal.

Sebenarnya efektif liburan kali ini hanya sekitar seminggu saja. Sebab saya menggunakan kereta api yang memakan perjalanan total sekitar setengah hari, dan ada dua hari yang saya habiskan hanya di penginapan untuk beristirahat setelah begadang semalaman.

Gunung Slamet di kereta.jpg

Dari dalam kereta, saya berusaha memotret Gunung Slamet, tapi hanya menangkap lembayung

Terbiasa dengan irama Jakarta yang serba cepat di mana kebanyakan orang terlihat begitu sibuk. Saya dipaksa menurunkan tempo. Adaptasi ulang dengan tempat yang saya pilih di sebuah dusun di bilangan Imogiri.

.Saya melewatkan Borobudur dari Malioboro yang sudah cukup sering saya kunjungi. Berikut adalah destinasi saya selama di Jogja:

  1. Rumah Baca Jogja

Tadinya saya ingin menulis satu artikel khusus tentang tempat ini, tapi tidak sempat.
Rumah baca Jogja adalah tempat belajar bahasa Inggris untuk anak-anak. Didirikan oleh rekan saya di FLP Pusat, Mas Ganjar Widhiyoga dan istrinya, Mbak Ari. Keduanya menyulap sebuah rumah tinggal menjadi area pembelajaran yang menarik.

kang abik di rumah baca jogja

Kang Abik di Rumah Baca Jogja

Tidak hanya belajar lewat keterampilan dan aneka permainan, anak-anak juga bisa bermain peran dan mengenakan kostum kostum unik ala Harry Potter atau bangsawan Skotlandia. Di tempat ini mereka didorong untuk berani berbicara dalam bahasa Inggris tanpa takut salah. Setelah mereka terbiasa berkomunikasi dalam bahasa Inggris, barulah diajarkan tata bahasa di tingkat selanjutnya.

 

Yang paling membuat saya iri adalah buku-buku yang berada di tempat ini. Buku anak pop-up, seri lengkap Harry Potter -semua dalam versi bahasa Inggris- ada di tempat ini. Semua kostum dan buku-buku tersebut dibeli dan dibawa Mas Ganjar usai menyelesaikan program PhD-nya di Universitas Durham, Inggris.

Rak bukunya pun membuat saya iri. Bentuknya berupa kastil-kastil plus tambahan ornamen berbentuk perapian.

Saat saya datang ke sana, ada belasan anak yang sedang mengikuti program liburan. Mereka membuat prakarya, mengikuti instruksi dalam bahasa Inggris bermain perang-perangan, berlatih jual beli hingga menjawab wawancara singkat dalam rekaman testimoni. Sepertinya mereka menikmatinya sampai menunda-nunda waktu makan siang.

 

rumahbacayogya-1533374117947

Foto keluarga dengan kostum dari Rumah Baca

Oh ya, makan siang sehat dalam program ini disediakan oleh Rumah Baca dan termasuk dalam paket. Jadi para orang tua bisa bekerja dengan tenang sementara anak-anaknya mengisi waktu liburan dengan cara yang menyenangkan.

Rumah Baca ini terletak di jalan Gedong Kuning no 102, Rejowinangun, Kota gede,  Yogyakarta. Untuk info  kegiatan lainnya silakan kunjungi  instagram: @rumahbacayogya atau hubungi: 0821 3891 2259.

 

  1. Menikmati kehidupan desa di Wirokerten

Bukan tanpa alasan ketika saya menyebut tempat ini sebagai dusun. Nyatanya penginapan yang saya sewa memang terletak di sebuah dusun bernama Wirokerten. Tempat ini saya pilih karena mendekati tujuan saya selanjutnya: Imogiri.

 

Tempat ini menarik karena suasana pedesaan yang masih terasa kental. Sore hari saya menghabiskan waktu di sawah. Berbicara dan mengamati orang-orang yang memanen padi, melihat secercah kebahagiaan mereka, berpadu dalam suasana yang guyub. Gotong royong yang pernah saya pelajari ketika SD ternyata masih tertanam di tempat ini.

Berjalanlah berkeliling kampung dan semua orang yang berpapasan dengan anda akan tersenyum lebar atau mengangguk sopan. Sementara anda bergegas pulang meninggalkan Merapi di kejauhan dan latar suara pengajian dari masjid sebelum matahari terbenam.

Hari berikutnya, saya mau mengabadikan orang-orang yang berangkat ke sawah usai subuh sambil menunggu matahari terbit dalam bentuk video.

 

Saya menginap di Pendopo Kayuwunan Syariah. Anda bisa memesannya via aplikasi booking.com. Tempat ini menyediakan kemudahan pembayaran via tunai serta fasilitas free cancel yang sangat membantu jika terjadi perubahan rencana perjalanan.

Tempat ini belum menyediakan Wi-Fi dan cukup jauh dari restoran terdekat. Tapi jangan khawatir, anda bisa memesan sarapan, makan siang, dan makan malam anda ke catering via pemilik penginapan. Harganya sangat murah. Hanya belasan ribu saja.

 

Pastikan anda membawa jaket. Saya sempat kedinginan karena suhu turun ke 18 derajat celcius. Sementara di Jakarta, biasanya sekitar 27-35° celsius. Bahkan pernah hampir 40 derajat. Pemilik penginapan ini -termasuk anak-anaknya- sangat penolong. Oh ya, anda juga bisa memakai dapur dengan peralatan masaknya sekedar untuk memasak mie atau merebus air.

Saat saya bermalam di sana, ada beberapa pekerja dan sepasang turis Amerika yang juga menginap di tempat ini. Meskipun bukan merupakan tempat tujuan wisata, lokasi ini cocok untuk anda yang ingin menghindari hiruk-pikuk kota dan mendapatkan ketenangan.

 

  1. Makam raja-raja Imogiri.

Selama saya di Jogja untuk perjalanan kali ini, belum sekalipun saya naik angkutan umum. sebab tujuan saya memang terbilang pelosok. Anda bisa menyewa motor di bandara atau stasiun, tapi saya pribadi lebih memilih ojek daring demi kepraktisan. Kali ini saya menuju Imogiri, di mana sepupu saya, Fenty beserta suaminya menjadi penunjuk jalan.

 

Sayangnya, aturan untuk masuk ke makam raja-raja adalah memakai kemben dan melepas jilbab. Alhasil, saya tidak bisa masuk ke area pemakaman. Saya hanya berfoto di penanda pendopo di luar makam.  Menerima oleh-oleh khas wedang uwuh dengan suka hati dari sepupu saya.

Satu hal tentang wedang uwuh. minuman tradisional ini berarti minuman sampah. terdiri dari jahe emprit, gula batu pilihan, daun cengkeh dari area pemakaman, kayu secang dan dua bahan lainnya saya lupa. Minuman hangat ini berkhasiat dan berwarna merah seperti sirup.

Selanjutnya kami menuju hutan pinus Mangunan. Sesungguhnya hutan pinus yang kekinian itu tidak terlalu istimewa. Mungkin karena saya sering bepergian termasuk keluar masuk hutan. Namun, tempat ini terdapat spot khusus untuk melihat matahari terbenam, makanannya juga murah-murah dan akses jalan menuju ke sana terbilang mudah. Sebab berupa aspal aspal halus yang baru diperlebar.

  1. Desa Mangir, Bantul.

Tadinya saya ingin ke Gua Pindul, Pantai Baron dan berburu oleh-oleh walang atau belalang goreng di Gunung Kidul.

Tapi Gua Pindul rasanya terlalu mainstream dan penginapan yang saya pesan selanjutnya malah menjauhi arah tersebut. Sementara ojek online yang saya pesan berjalan, saya bertanya tanya dalam hati ada hikmah apa sehingga Allah mengarahkan saya ke penginapan di sebuah tempat antah berantah.

Jawabannya datang tak lama kemudian.

Karena tujuan saya ke Jogja adalah mencari referensi sejarah untuk pembuatan novel saya selanjutnya. Khususnya tentang Sultan Agung, dan penginapan saya ternyata dekat dengan desa tertua di Jogja yang menjadi salah satu kunci dalam cerita tanpa saya sadari.

 

Salah satu staf penginapan yang baik hati, Mas Restu bahkan bersedia mengantar saya ke desa tersebut. Sebab tempat itu tidak banyak diketahui orang. Saya tidak bisa mengharapkan pengemudi ojek online bisa menemukan tempat ini. Mas Restu juga mengantar saya ke Pantai Pandan Sari untuk melihat mercusuar dan ke Pantai Depok yang terkenal dengan wisata kulinernya.

 

Saya menginap di Paddy D’ Sawah guest house. Memesan via aplikasi yang sama dengan sebelumnya. Tarifnya sangat murah, mulai dari Rp. 50 ribu per malam. Tersedia WiFi dan para stafnya sangat ramah. Hal yang menjadi catatan mungkin hanya pintu kamar mandinya yang berupa tirai di dalam kamar dan bukan pintu bambu.

Oh ya, pemilik penginapan ini merupakan suami istri campuran Jogja-Eropa yang menerapkan konsep ramah lingkingan. Bangunan penginapannya terbuat dari bambu, letaknya di tengah perkebunan tebu dan palawija dengan jalan halus bernaungan pohon yang memberi semacam kanopi sepanjang jalan.

Bukan hanya tempat wisata dan para staf penginapan yang sangat menolong yang membuat saya menyukai tempat ini, tapi juga suasana alam di sekitar penginapan yang menurut saya indah. Untuk saya yang terbiasa dengan gedung-gedung pencakar langit Jakarta, bahkan jalanan sederhana menuju perkebunan saja sudah membuat saya senang.

Hari pertama, saya terkesima melihat ratusan burung blekok putih atau burung kuntul terbang di sawah seberang jalan. Dengan putus asa saya mengejar, kecewa tidak sempat mengabadikannya dengan kamera ponsel.

Saya pernah melihat burung kuntul yang serupa bangau putih kecil di Malang. Namun baru kali ini saya melihat ratusan burung itu di habitat aslinya. Saya terpesona menyaksikan begitu banyak makhluk-makhluk itu terbang dengan latar belakang senja.

Malamnya, saya kembali kegirangan melihat kunang-kunang ketika sedang mengobrol dengan staf penginapan dan tamu lain. Seekor di antaranya bahkan terbang mendekati kami. Kami  menangkapnya sebentar, memvideokannya lalu membiarkannya lepas kembali. Itu adalah salah satu pemandangan paling indah yang saya temui. Videonya bisa dilihat di akun instagram saya: Nur Baiti Hikaru. https://www.instagram.com/p/Bk-ocGvAlgl/?taken-by=nurbaitihikaru

 

  1. Makam Raja-raja Mataram Kotagede.

Kali ini pemandu pribadi saya adalah Mbak Ummu, rekan peserta workshop Mastera (Majelis Sastra Asia Tenggara) novel tahun 2016.

Kami berdua pergi ke Candi Prambanan lebih dulu. Namun bukan untuk melihat candi. Tujuan utama kami adalah ruang audio visual untuk menonton film. Meskipun apa yang saya cari ternyata tidak saya temukan, kami berdua cukup puas menonton di ‘bioskop pribadi’ selama sekitar setengah jam.

Kami lalu melanjutkan ke Kotagede.Kotagede terkenal dengan kerajinan peraknya. Tapi tujuan kami adalah makam raja-raja Mataram, khususnya Panembahan Senopati serta melihat sendiri Watu Gilang  yang konon menjadi penyebab terbunuhnya Ki Ageng Mangir.

 

Cerita lebih lengkap nantikan dalam bentuk novel saya, ya. J

 

  1. Menara pandang Kaliurang.

Sebelum pulang, saya dan Mbak Ummu pergi melihat Gunung Merapi di Menara Pandang Kaliurang. Kaliurang merupakan daerah pegunungan. Mirip Puncak kalau di Jakarta atau Lembang kalau di Bandung.

 

Kami naik ke menara pandang dan menunggu selama sekitar dua jam. Namun cuaca tidak cukup bersahabat untuk menyaksikan Merapi dari dekat. Merapi hanya terlihat sedikit, sangat sebentar sebelum kemudian tertutup kabut kembali seluruhnya.

“Waktu ke Kawaguchiko, Gunung Fuji tidak terlihat karena cuaca buruk. Waktu ke Nepal, jejeran pegunungan Himalaya juga tertutup kabut. Masak ke Jogja doang, juga gak kelihatan Merapi, sih?” saya curcol pada Mbak Ummu.

Akhirnya daripada sia-sia, kami berdua berfoto bergantian dengan papan caption-caption unik di menara pandang. Lumayan untuk menghibur diri.

36570847_194619654540777_7076634300120039424_n

Perih itu adalah, sudah jauh-jauh ke menara pandang, Merapi-nya tertutup kabut.  *mau akting nangis, yang ada malah menahan tawa 😀

 

 

  1. Belanja oleh-oleh di pasar Beringharjo.

Kalau biasanya saya berbelanja oleh-oleh di Malioboro, kali ini saya menyasar  pasar tradisional dengan nuansa lokal yang lebih kental. Pasar Beringharjo kini buka sampai malam. Saya hanya menghabiskan waktu 10 menit untuk membeli oleh-oleh. Apalagi kalau bukan batik dan bakpia?

Kunjungan ke pasar Beringharjo mengakhiri perjalanan saya di Jogja. Ini merupakan kunjungan saya yang paling lama ke Jogja dan yang paling saya nikmati.

 

Iklan
Dipublikasi di Uncategorized | Tag , , , , , , , , , | Meninggalkan komentar

MENGENANG PERJALANAN PERTAMA NAIK KAPAL FERRY


Baca lebih lanjut

Dipublikasi di INFO, SERI PERJALANAN, Uncategorized | Tag , , , | Meninggalkan komentar

REVIEW FILM 212 THE POWER OF LOVE. KONFLIK KELUARGA DALAM BINGKAI SEJARAH


Tujuh juta orang, berkumpul di suatu tempat yang bukan Mekah atau Madinah. Diwarnai santri Ciamis yang menempuh 300 kilometer dengan berjalan kaki, agaknya peristiwa itu yang menarik Jastis Arimba untuk mendokumentasikannya dalam film layar lebar bertajuk 212 The Power Of Love.

Alih-alih sebagai film dokumenter,  fim ini dengan sangat berhati-hati mengambil momen 212 sebagai bingkai cerita yang lebih sederhana: hubungan ayah dan anak.

IMG_20180511_144943_635

Baca lebih lanjut

Dipublikasi di INFO, KEPENULISAN, Uncategorized | Tag , , , , | Meninggalkan komentar

E-book gratis cerita humor


Halo Pembaca.

Daripada blog ini vakum dan saya belum sempat nulis lagi. Mending saya bagikan aja cerita lama yang pernah saya kasih link-nya di aplikasi sebelah. Dengan pertimbangan dokumentasi karya,  saya posting lengkap ceritanya di sini deh.

Kalau biasanya saya nulis sesuatu yang ‘serius’, cerita yang ini lebih ringan sih. Cocoklah buat hiburan. Lagipula ada momen-momen indah yang saya tulis di sini yang sepertinya pas untuk nostalgia ramadhan zaman kecil dulu.

Beberapa bulan lalu saya sempat iseng membuat versi skenario-nya untuk latihan menulis. Tapi kemudian dengan alasan (sok) sibuk, jadilah nggak dilanjutkan. Hehe…

Baca lebih lanjut

Dipublikasi di KEPENULISAN, Uncategorized | Tag , , | Meninggalkan komentar

REVIEW SINGKAT FILM ‘GURU NGAJI’


 

 

IMG_20180401_210319_953

Poster film Guru Ngaji di bioskop

Di balik make up tebal atau topeng seorang badut. Apakah ia betul-betul tersenyum?

Sepertinya tidak selalu.

Setidaknya hal ini tergambar dalam film ‘Guru Ngaji’ yang diperankan dengan sangat apik oleh Donny Damara. Istrinya diperankan oleh Dewi Irawan, sedang anaknya, Ismail diperankan oleh aktor cilik, Akinza.

Film Guru Ngaji menceritakan seorang guru seorang bernama Mukri yang menjadi guru ngaji di sebuah desa. Untuk memenuhi kebutuhan hidupnya, ia memiliki pekerjaan sampingan sebagai seorang badut di pasar malam. Pekerjaan ini dilakukan Mukri secara diam-diam.  Bahkan istri, anak dan seluruh penduduk kampungnya tidak ada yang mengetahui pekerjaan sampingan tersebut. Hingga suatu hari dia harus mengisi acara ulang tahun anak kepala desa sebagai pembaca doa sekaligus badut sulap di event yang sama.  Baca lebih lanjut

Dipublikasi di KEPENULISAN, Uncategorized | Tag , , | 2 Komentar

Simbol Cinta Tak Biasa Dalam Film Bunda, Cinta 2 kodi


Bunda__Kisah_Cinta_2_Kodi-1

Tahun lalu saya mengikuti training ekonomi syariah di kantor pusat. Pembicaranya saat itu adalah Rendy Saputra. Di tengah pemaparannya tentang bisnis, ia mengatakan tengah mempersiapkan sebuah film entrepreneurship bersama Asma Nadia.

Demi mendengar  senior saya disebut, tak urung saya penasaran juga. Seperti apa ya kolaborasi komunitas Saudagar Nusantara dan Mbak Asma yang kerap mempromosikan jargon ‘No Excuses’? Akankah film ini menjadi film inspirasi dari kisah nyata seperti Chris Gardner dalam ‘The Pursuit of Happyness’? Apalagi ada 2 tokoh anak kecil di situ.

Baca lebih lanjut

Dipublikasi di INFO, KEPENULISAN, Uncategorized | Tag , , , , , , | 7 Komentar

(Late) Review The Greatest Showman. Tak Sekedar Film Sirkus.


The noblest art is that of making others happy.

Everyone is special…. That’s the point of my show.  (PT Barnum)

poster film

Ini review yang cukup terlambat. Saya menonton film ini beberapa minggu lalu namun baru terpikir untuk menulis review-nya sekarang.

Awalnya saya tidak tertarik untuk menonton film The Greatest Show Man. Saya baru terpikir untuk menontonnya karena senior saya, Kang Irfan Hidayatullah sempat menyebut film ini ketika menyinggung tentang kritik seni saat acara musyawarah Badan Pengurus Pusat Forum Lingkar Pena (BPP FLP) awal januari lalu.

Ternyata saya terpikat.

Yang  pasti bukan hanya saya. Sebab film ini memperoleh 3 nominasi Golden Globe termasuk nominasi pemeran utama dan memenangkan kategori lagu originalnya. Baca lebih lanjut

Dipublikasi di INFO, PENGEMBANGAN DIRI, Uncategorized | Tag , , , , , , , , , , | Meninggalkan komentar

REVIEW FILM AYAT-AYAT CINTA 2. JALAN TENGAH IDEOLOGI DAN FIKSI


IMG_20171231_162258_901

Dalam sebuah pelatihan menulis yang saya ikuti, Jujur Prananto, penulis skenario Ada Apa Dengan Cinta (AADC)  mengatakan, ketika tulisan kita sudah menjadi sebuah film, maka naskah  itu tidak sepenuhnya menjadi karya kita lagi. Ketika polemik film Ayat-Ayat Cinta 2 (AAC 2) mengemuka, saya teringat sebuah sesi diskusi bersama Habiburahman el Shirazy atau yang lebih akrab dipanggil Kang abik. Dalam kesempatan itu, saya termasuk orang yang memprotes, kenapa film AAC 1 tidak sebaik novelnya. Saat itu Kang Abik menceritakan proses di balik layar novel AAC menjadi sebuah film.

Terlepas dari berbagai tanggapan yang datang, saya merasa bersyukur dengan keberadaan film Ayat-Ayat Cinta 2. Adalah kemewahan tersendiri, ketika sebuah novel yang mengangkat tentang Palestina, kebhinekaan, perbedaan fiqh, dan kemanusiaan diangkat dalam sebuah film yang layak. Dengan promosi besar-besaran di televisi dan jejeran commuter line. Ada semacam kelegaan bahwa film yang mengusung tema besar seperti itu disupervisi oleh seorang Habiburahman yang kapasitas keilmuannya cukup mumpuni.

Baca lebih lanjut

Dipublikasi di INFO, KEPENULISAN, Uncategorized | Tag , , , , , , | 4 Komentar

E-BOOK GRATIS CATATAN PERJALANAN


Berkelana membuatmu terdiam takjub, lalu perlahan mengubahmu menjadi orang yang pandai bercerita. (Ibnu Batutah, penjelajah terhebat sepanjang masa. yang capaiannya berkeliling dunia jauh melampaui Marco Polo)

Halo, pembaca.

Saya suka ditanya, kenapa catatan perjalanan saya nggak dibukukan saja. Supaya kalo ada yang mau pergi ke tempat tersebut ada gambaran. Berhubung sebagian besar tulisannya ada di blog, biasanya saya arahkan untuk baca sendiri saja. Tapi untuk mengakomodir hal tersebut, atau yang minta catatan perjalanan saya dalam satu folder, silakan unduh di sini secara gratis.

🙂 Baca lebih lanjut

Dipublikasi di INFO, KEPENULISAN, SERI PERJALANAN, TIPS, Uncategorized | Tag , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , | Meninggalkan komentar

SEBUAH QUOT DI TEPI PHEWA


Pukul delapan malam waktu setempat saat pesawat saya mendarat di Kathmandu, Nepal. Hujan deras menyambut begitu saya melangkah ke area penjemputan. Sebuah taksi tua berbau apak membawa saya ke penginapan di area Thamel.

Namaste, selamat datang di negeri atap dunia. Inilah negeri yang memiliki 8 dari 10 puncak gunung tertinggi di dunia. Negeri di mana bumi dan langit seolah bersatu. Everest, Annapurna, Fish tail adalah sebagian jajaran pegunungan Himalaya yang ada di negara ini. Baca lebih lanjut

Dipublikasi di SERI PERJALANAN, Uncategorized | Tag , , , , , , , | Meninggalkan komentar