CATATAN PERJALANAN KASMIR BAGIAN 1: ARTICLE 370


Saya sedang berkutat dengan deadline ketika suatu malam di awal Agustus, Nurani, rekan traveler dari Malaysia menghubungi saya via Whatsapp. Membagikan berita dari CNN bahwa telah terjadi kerusuhan di Kashmir. Ribuan penduduk ditangkap dan dipenjarakan. Kekerasan termasuk pembunuhan terjadi. Ribuan turis sudah diinstruksikan meninggalkan Kashmir sejak sehari sebelumnya, termasuk semua pendaki yang sedang melakukan trekking di kawasan Himalaya. Jam malam diberlakukan. Angkutan umum berhenti beroperasi. Toko-toko dan sekolah tutup. Seluruh wilayah dikuasai tentara. Tidak ada berita yang jelas kecuali bahwa hal itu terkait dengan pencabutan Article 370 dan 35 A.

Saat itu, saya bahkan tidak tahu apa itu Article 370.

srinagar intl airport

Foto saya ambil diam-diam dalam perjalanan pulang

Baca lebih lanjut

Dipublikasi di INFO, SERI PERJALANAN | Tag , , , , | 1 Komentar

CATATAN PERJALANAN RAJA AMPAT BAGIAN 4. SURGA KECIL DI MISOOL


Ada satu kekhawatiran saya ketika selepas isya berkeliling kampung di Yellu. Sekitar 7 orang anak usia SD dan TK duduk berkerumun menghadapi sebuah ponsel. Rupanya mereka sedang menonton tiktok. Tanpa pengawasan orang tua. Saat saya tanya, salah satu anak berumur sekitar 8 tahun mengatakan bahwa setiap malam mereka biasa berkumpul seperti ini, karena mereka adalah geng jomblo.

Mengetahui kata-kata itu keluar dari seorang anak SD di  Papua tak urung membuat saya terperangah. Anak-anak lainnya kemudian saling dorong dan satu per satu mereka meninggalkan saya sambil tersenyum malu.

Baca lebih lanjut
Dipublikasi di INFO | Meninggalkan komentar

CATATAN PERJALANAN RAJA AMPAT BAGIAN 3. MENUJU MISOOL



Dalam perjalanan menuju Sorong, saat tengah menikmati angin laut di atas kapal Fajar Indah 2, saya bertemu warga Misool bernama Pak Irjan. Dari Pak Irjan saya akhirnya tahu, bahwa perjalanan ke Misool masih memungkinkan untuk solo traveler seperti saya meski suasana pandemi dan tanpa agen perjalanan. Seminggu sekali, kapal Fajar Indah 2 melayani rute Pulau Seram di Ambon sampai Sorong, Papua Barat. Beliau juga menawarkan jika mau ke tempat-tempat wisata di Misool, bisa menyewa kapalnya dengan harga jauh lebih murah dari agen wisata umumnya. Sayangnya, Pak Irjan tidak tahu jadwal keberangkatan kapal menuju Misool berikutnya. (Belakangan saya terhubung kembali dengan Pak Irjan setelah saya pulang dari Misool)

Baca lebih lanjut
Dipublikasi di SERI PERJALANAN | Tag , , , , , , , , , | Meninggalkan komentar

CATATAN PERJALANAN RAJA AMPAT BAGIAN 2. PIAYNEMO- PULAU SAUFAPIR- ARBOREK


Perjalanan saya berlanjut pada hari yang sama. Tujuan pertama saya adalah Piaynemo, Telaga Bintang, dan menginap semalam di pulau Saufapir, Kepulauan Fam, tempat keluarga Yahya dan Desi tinggal. Tadinya saya kira, perjalanan ini dekat. Seperti perjalanan saya dulu di Karimun Jawa. Nyatanya saya salah besar.

Awalnya saya masih menikmati lautan, cuaca cerah, awan yang tampak sangat dekat hingga sepertinya bisa diraih, laut yang dalam berkilauan. Di beberapa tempat, sangat jernih seperti cermin, memantulkan birunya langit dan gumpalan putih awan. Saya memandang sekitar, merekam setiap momen dalam ingatan. (video dan foto-foto perjalananan saya bisa dilihat di akun: https://www.instagram.com/nurbaiti_hikaru/ )

Setelah beberapa lama, saya mulai bosan, 3 jam lebih dan kami belum juga sampai. Ombak semakin besar, menyiramkan air laut asin yang memerihkan kulit dan mata. Sejujurnya saya takut perahu kami akan terbalik. Sebab saya tidak mahir berenang dan tidak ada jaket keselamatan yang tersedia. Sementara area biru tua menandakan lautan yang dalam. Tapi tepat pada saat itu, ratusan camar laut terbang mencari makan. Mengingatkan saya dengan puluhan elang di Kashmir 2 tahun lalu.

Saat saya dengan susah payah merekam camar terdekat dengan perahu yang oleng diterjang ombak, seekor lumba-lumba melompat dan langsung membuat sata terpekik. Itu adalah salah satu hal paling indah yang pernah saya lihat seumur hidup. Melihat seekor lumba-lumba di habitat aslinya. Saya pun luluh. Perjalanan ini memang layak saya lakukan. Setelah nyaris 4 jam, kami pun sampai di Piaynemo. Lautan di sini tenang, jernih, dan relatif dangkal. Terlihat dari warna hijau tosca perairannya. Saya naik ditemani Desy dan Korina.

Telaga Bintang Piaynemo

Untuk mendapatkan foto dengan view telaga berbentuk bintang, harus dilakukan dengan mendaki karang terjal. Jika tidak, maka bentuk bintang segi lima tidak akan terlihat. Meski tidak terlalu tinggi, dan beberapa pijakan disemen seadanya, tidak adanya pagar yang karang terjal yang langsung menuju jurang cukup membuat ngeri. Tapi rasanya sayang sekali berlayar menempuh bahaya hampir 4 jam jika hanya berfoto di bawah. Maka kami bertiga bergantian naik, lalu foto bersama.

Kami meneruskan ke puncak Piaynemo. Jalurnya relatif mudah karena sudah diberi anak tangga. Toilet juga tersedia. Saat kami usai berfoto, serombongan bule baru saja akan naik bersama seorang anak berumur 5 tahunan. Kami saling menyapa. Kebiasaan jika saya naik gunung dan bertemu pendaki lain. Sementara mereka menyapa karena saya sudah lebih dulu tersenyum.

Usai dari puncak Piaynemo saya dengan nada khawatir bertanya apakah kami akan kembali ke Waisai. Kami sampai di Piaynemo sekitar pukul 5 sore. Perahu kami tidak memiliki lampu. Saya masih terbayang ombak yang membuat perahu oleng. Saya tidak berani berlayar dalam kegelapan dengan resiko jatuh tanpa ketahuan dan jaket keselamatan. Untungnya Desy mengatakan bahwa kami akan bermalam di kampungnya. Pulau Saufapir. Sebuah pulau kecil yang merupakan pemekaran dari Kepulauan Fam dan hanya dihuni 25 KK. Kami pun berlayar menuju pulau. Saya menyaksikan salah satu sunset paling indah selama hidup. Saya meminta tolong Desy merekamnya dan nantinya mengirimkannya pada saya.

Tiba di Saupapir, usai menumpang mandi setelah basah kuyup tersiram air laut, saya ditempatkan di rumah yang tampaknya masih baru. Yahya akan bermalam di kampung sebelah.

Desy menemani saya di rumah. Klrga Yahya memasakkan nasi dan sayur. Mereka menawarkan apakah saya ingin ikut ke kampung sebelah. Ada acara adat dan permainan tambur karena gereja yang baru dibangun. Saya memilih tetap di rumah dan langsung tidur saja. Sejak kemarin saya belum tidur, perjalanan barusan cukup menegangkan. Saya tidak berselera makan bahkan hingga keesokan sorenya. Keluarga Yahya membawakan kasur, bantal, kursi dan meja. Saya tidur di kamar sementara Desy di ruang tamu. Ditemani suara debur ombak, saya pun terlelap.

Keesokan harinya, saya berwudhu di laut untuk salat subuh. Yahya rupanya menginap di pulau seberang karena semalam ombak besar. Saya menunggu Yahya pulang, lalu bersama Desy, kembali ke pulau Fam menjemput Korina. Seoranf nelayan sedang membersihkan ikan kakak tua yang sangat besar. Saya pernah makan ikan kakak tua di Karimun Jawa. Namun ikan yang ditangkap nelayan tadi berkali2 lipat ukurannya. Kami meneruskan perjalanan.
Persiapan pembukaan gereja sepertinya dirayakan seluruh kampung. Saya memalingkan wajah dan berjalan paling pinggir karena beberapa penduduk sedang menyembelih b2.

Keluarga Korina sangat ramah. Usai berpamitan, kami kembali menuju Waisai.
Yahya membuat kejutan yang menyenangkan dengan mampir ke Arborek hingga saya bisa snorkling sejenak. Desy dan Korina sudah bosan dengan laut jadi saya hanya sendirian. Tanpa pelampung dan hanya sendirian, saya memilih untuk berenang di sekitar perahu saja. Yahya menaburkan roti hingga ikan-ikan berkumpul. Trik yang dulu juga saya pelajari saat snorkling di Gili Trawangan. Karena hp saya mati dan Yahya tidak memiliki dokumentasi seperti pada umumnya tour, jadi ponsel Desy yang telah dilapisi plastik strap digunakan untuk merekam saya.

Di dekat kami ada satu grup bule yang baru saja usai menyelam. Saya segera naik ke darat setelah snorkling hanya 5 menit. Yahya menunjukkan saya ke spot foto dan memotret saya. Saya bicara sebentar dengan pemandu bule yang rupanya masih kisaran SMA. Ia mengisi waktu sekolah online dengan sebulan berkunjung ke Raja Ampat memandu tamu di resort tempat ibunya bekerja. Setelah saling mengucapkan selamat tinggal, kami pun berpisah.

Perahu kecil kami kembali diombang ambingkan ombak selama 4 jam. Tiba di rumah singgah, kami sudah basah kuyup dan lengket. Saya mandi, salat, dan berkemas dengan cepat, dengan diantar Yahya, saya mampir sebentar ke pos AL Waisai, lalu berfoto di tugu selamat datang di raja ampat yang kemarin saya lewatkan. Yahya mengantar saya hingga ke pintu kapal KM Fajar 2.

Saya kira petualangan akan berakhir setelah kembali ke Sorong, namun nasib baik akhirnya membawa saya ke destinasi berikutnya yang tak kalah indah: Misool.

Bersambung

Dipublikasi di INFO, SERI PERJALANAN | Tag , , , , | Meninggalkan komentar

CATATAN PERJALANAN RAJA AMPAT BAGIAN 1


Raja Ampat sudah masuk dalam destinasi saya sejak belasan tahun lalu. Jauh sebelum traveling menjadi trend seperti sekarang. Sebelum era media sosial yang memudahkan orang bepergian. Sejak pertama tahu tentang Raja Ampat, segera saja, tempat ini masuk dalam daftar 100 tempat yang ingin saya kunjungi sebelum mati.

Baca lebih lanjut
Dipublikasi di INFO | Tag | Meninggalkan komentar

BEPERGIAN KE BELITUNG DISAAT NEW NORMAL BAGIAN 2. BELITUNG TIMUR: DARI SOPIR INTELEK SAMPAI MUSEUM KATA


Dua hari berikutnya perjalanan saya lanjutkan dengan pergi ke Belitung Timur. Tujuan utama saya adalah Museum Kata Andrea Hirata. Lagi-lagi, setelah semalamam tidak tidur saya pergi ke terminal Manggarai menggunakan jasa ojek online. Ada bus Damri yang pergi ke Manggar pukul 6 pagi dan kembali lagi pukul 3 sore. Namun, karena saya pergi di hari minggu, ternyata bus Damri tidak beroperasi. Bus ini memang umumnya mengangkut penumpang yang pergi pulang kerja Tanjung Pandan-Manggar setiap harinya.

Terminal yang sepi, tanpa ada satu pun angkutan. Penanda jaga jarak juga sudah terpasang di sini.

Saya kemudian menaiki satu-satunya mobil elf yang ada. Mobilnya mirip angkutan Bogor-Sukabumi yang biasa mangkal di depan Baranangsiang, Bogor. Di hari kerja, angkutan ini berangkat pukul setengah tujuh dan kembali lagi pukul 3 sore, atau bahkan pukul 5 sore. Tapi untuk hari minggu, apalagi pasca Covid yang sepi penumpang, angkutan ini berangkat pukul 7 pagi dan akan kembali lagi ke Tanjung Pandan pukul 12 siang.

Baca lebih lanjut

Dipublikasi di INFO | Tag , , , , , , , , , , | Meninggalkan komentar

BEPERGIAN KE BELITUNG DI SAAT ‘NEW NORMAL’ BAGIAN 1


Setelah berbulan-bulan stay at home semua orang rasanya ingin keluar untuk memulihkan cabin fever.  Belitung menjadi salah satu destinasi pilihan saya. Harga tiket pesawatnya relatif terjangkau dan aksesnya cukup mudah.

Namun tentu saja kondisi ‘new normal’ pasca PSBB covid 19 di Indonesia memang  membutuhkan kesabaran dan lebih. Misalnya ketika saya coba booking hotel di Manggar, Belitung Timur. Namun pesanan saya ditolak berkali-kali oleh pihak hotel tanpa ada keterangan penyebabnya. Ketika saya googling, saya baru tahu bahwa hotel masih tutup. Corona memang mematikan banyak sektor pariwisata di berbagai tempat. Pesanan tiket pesawat pulang saya diganti esok harinya oleh pihak maskapai sehingga saya harus menambah pesanan hotel.

Sesuai protokol kesehatan Covid 19 untuk tetap memakai masker dan menjaga jarak, ruang tunggu bandara Soekarno-Hatta pun diberi jarak mana yang boleh diduduki/tidak.

Baca lebih lanjut

Dipublikasi di INFO, SERI PERJALANAN | Tag , , , , , , , , , , , , , , | Meninggalkan komentar

PERBANDINGAN TABUNGAN EMAS: BRANKAS ANTAM, TABUNGAN EMAS PEGADAIAN, BUKA EMAS BUKALAPAK, APLIKASI  TAMASIA dan DINARAN


Disclaimer: tulisan ini bukan postingan berbayar dan dibuat berdasarkan pengalaman pribadi penulis. Semua data yang diunggah dalam tulisan ini dibuat berdasarkan website resmi lembaga terkait.

 ***

Emas merupakan komoditi berharga selama ribuan tahun. Emas juga memiliki nilai yang relatif stabil sehingga sering dijadikan sebagai simpanan untuk mengatasi inflasi. Membeli emas secara tunai dan menyimpannya secara fisik di adalah cara paling sederhana untuk memilikinya.  Anda hanya perlu menyediakan tempat aman di rumah atau menitipkannya di safe deposit box. Prinsipnya adalah cash and carry. Cara ini merupakan cara yang tidak ada perselisihan para ulama dalam hal kebolehannya. Kelebihannya anda memegang langsung fisik emasnya. Kekurangannya, anda harus memastikan tempat yang aman di rumah. Umumnya anda juga harus menghabiskan waktu untuk datang langsung ke tempat pembelian.

Pembelian emas secara fisik kini juga berkembang. Dari pembelian emas ANTAM secara daring dengan jasa kurir, pemesanan pembelian emas di pegadaian, hingga jual beli secara perorangan atas dasar kepercayaan.

Alasan keamanan dan kepraktisan membuat banyak orang mencari alternatif  lain. Tapi banyaknya pilihan tabungan emas yang ada mungkin akan sedikit membingungkan. Mana yang harus dipilih? Apa saja kelebihan dan kekurangan masing-masing? Berikut adalah penjelasan singkat perbandingan tabungan emas BRANKAS ANTAM, PEGADAIAN, BUKA LAPAK, TAMASIA dan DINARAN.

 

1. BRANKAS ANTAM

BRANKAS ANTAM dalam pengertian ini bukanlah anda membeli emas fisik kemudian menitipkannya di Brankas PT. ANTAM. Meskipun ini juga bisa menjadi pilihan. Namun BRANKAS dalam hal ini merupakan singkatan dari BERENCANA AMAN KELOLA EMAS. BRANKAS ANTAM adalah tabungan emas yang dapat anda buka di butik emas PT. ANTAM.

Screenshot_20200601-124115[1]

Harga logam mulia fisik per gram pada hari ini, tanggal 1 juni 2020, Rp. 914.000. Sedangkan harga jika membeli lewat rekening BRANKAS adalah Rp. 855.000,-

Prinsipnya seperti tabungan di bank.  Hanya saja karena merupakan rekening emas. Setiap kali setoran minimal harus seharga 1 gram logam mulia. Jadi dalam saldo rekening kita yang tertera adalah jumlah gram emas yang kita miliki. Ini juga berarti setiap kali setoran jumlahnya mungkin berbeda mengikuti harga fluktuasi emas.

Saldo dalam rekening ini nantinya bisa kita cairkan. Kita bisa memilih mencairkan emas secara fisik, atau kita pilih buyback, menjualnya kembali ke PT. ANTAM dan menerima uang pembeliannya yang ditransfer ke rekening bank kita.

Keuntungan membuka rekening BRANKAS ini, kita akan mendapat harga yang lebih murah sebab belum termasuk biaya cetak. Sebagai informasi, semakin kecil pecahannya, semakin besar biaya cetaknya. Biaya cetak logam mulia 10 gram akan jauh lebih kecil daripada anda mencetak setiap 1 gram emas sebanyak 10 kali. Jadi sebaiknya anda mencairkan emas dalam bentuk fisik ketika pecahannya sudah semakin besar.

Selisih harga emas fisik dan tabungan BRANKAS menurut pengalaman saya pribadi sekitar 40-50 ribu per gram. Selisih yang cukup lumayan, terutama jika anda membelinya dalam pecahan besar. Keuntungan lainnya, kita bisa membeli emas secara daring lewat transfer bank di hari kerja sampai jam 7 malam langsung ke situs resmi PT. ANTAM. Seusai pembelian, kita bisa mengecek langsung penambahan saldo kita di rekening. Sangat praktis dan mudah.

ANTAM juga merupakan lembaga terpercaya yang memiliki penambangan dan pengolahan emas sendiri dengan standard kemurnian emas yang berlaku di seluruh dunia. Tabungan ini juga bisa memotong zakat emas anda via debet saldo, jika sudah masuk nisab dan haulnya. Zakat emas ini akan disalurkan melalui Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAS). Bukti laporan pendebetan zakat ini akan disampaikan melalui email nasabah. Harga logam mulia per gram PT. ANTAM juga selalu up date setiap harinya.

Untuk membuka rekening ini pertama kali, anda harus datang langsung ke butik ANTAM terdekat dengan membawa KTP, NPWP, dan Kartu Keluarga. Kenapa perlu Kartu Keluarga? Sebab, dalam pengisian formulirnya juga dituliskan siapa ahli waris anda.  Selain itu, anda juga perlu membayar biaya materai, pajak PPH 22 dan registrasi tahunan. Minimal pembukaan rekening ini adalah 1 gram logam mulia.

Kekurangan tabungan ini adalah kuota pendaftarannya sangat terbatas. Pengalaman saya pribadi ketika saya tiba di kantor PT. ANTAM pada pukul 9 pagi, kuotanya sudah penuh dan dibatasi hanya sampai pukul 11.  Maka saya harus kembali berkali-kali untuk dapat membuka rekening BRANKAS.

Tabungan juga mengenakan biaya registrasi tahunan yang cukup besar sebagai jasa penyimpanan dan asuransi. Tergantung berapa banyak jumlah emas anda. Minimal registrasi adalah Rp. 100 ribu per tahun.

Meskipun menerbitkan kartu, kartu BRANKAS ANTAM hanya berfungsi sebagai kartu anggota dan tidak dapat digunakan untuk transaksi apa pun.

Kekurangan lainnya adalah, jika anda hanya memiliki uang kurang dari harga 1 gram emas, Anda harus mengumpulkannya terlebih dahulu. Pada saat uang itu cukup, bisa jadi harganya sudah naik.  Meskipun umumnya selisih harganya tidak Jauh. Kekurangan lainnya adalah jumlah outlet butik ANTAM yang sangat terbatas, sehingga bagi anda yang tinggal di daerah kemungkinan akan kesulitan untuk membuka program tabungan ini.

 

  1. Tabungan Emas Pegadaian

Dengan jumlah ribuan kantor yang tersebar di Indonesia, Pegadaian membuat satu program pembelian emas yang menarik. Anda bisa membeli dari mulai dari 0,01 gram emas. Jadi jumlah uang yang anda setorkan akan langsung dikonversikan dengan berapa gram emas. Pencairan tabungan emas ini juga bisa dilakukan dengan dua cara. Baik mencairkan secara fisik dengan tambahan biaya cetak maupun buyback, pembelian kembali dan menerima saldo dalam rupiah.

20200601_085606[1]

Sama seperti ANTAM, minimal emas yang dapat dicetak adalah 1 gram emas. Penambahan saldo juga bisa dilakukan via transfer/mobile banking.

Persyaratan pembukaan rekening ini juga mudah. Anda hanya perlu datang ke kantor Pegadaian terdekat, mengisi formulir, menyertakan copy KTP serta membayar biaya administrasi dan titipan. Biaya pembukaan rekeningnya sangat murah, yaitu Rp. 10 ribu rupiah. Sedangkan biaya biaya titipan tahunannya hanya sebesar Rp. 30 ribu rupiah.  Pegadaian juga sudah memiliki aplikasi digital untuk memudahkan anda membuka rekening.

Tabungan Emas Pegadaian terdiri dari logam mulia  PT. ANTAM dan PT. UBS.  Harga logam mulia PT. UBS umumnya lebih murah dari PT. ANTAM karena sertifikasi standardnya yang berbeda.

Karena merupakan emas yang dibeli dari PT. ANTAM, harga emas per gram di Tabungan Emas Pegadaian sedikit lebih mahal dari emas PT. ANTAM. Bedanya sekitar Rp. 20 ribu per gram dari emas fisik PT. ANTAM. Untuk harga emas tabungan PT. ANTAM dengan tabungan BRANKAS ANTAM sendiri, selisih harga per gramnya agak sulit diketahui karena harga emas Pegadaian tidak up date setiap harinya dalam website.

 

 

  1. Buka Emas Bukalapak

Jika anda pelanggan belanja daring di Bukalapak, maka ada satu pilihan transaksi berupa Buka Emas. Prinsipnya mirip seperti tabungan Emas Pegadaian. Pembelanjaan anda akan dikonversikan menjadi gram emas. Dalam hal ini, pihak Bukalapak menggandeng perusahaan PT. Indogold. Sebuah perusahaan trading emas logam mulia bersertifikasi PT. ANTAM, UBS, dll.

Harga emas per gram di Bukalapak terbilang mirip dengan harga emas di BRANKAS ANTAM. Informasi harganya juga up date  setiap hari. Pembelian minimal emas di Buka Emas Bukalapak memungkinkan pembelian dalam jumlah sangat kecil.

Saya pribadi baru menyadari memiliki saldo emas Bukalapak setelah beberapa beberapa transaksi pembelian yang gagal dan dana Buka Dompet saya dikembalikan. Rupanya saya mencentang beli otomatis, dana dikonversikan dalam saldo emas setiap pembelian. Sebuah langkah yang bagus untuk anda yang konsumtif agar secara tidak langsung menabung setelah berbelanja.

20200601_130621[1]

Harga emas per gram tanggal 1 juni 2020, di Bukalapak hampir sama dengan harga emas di BRANKAS ANTAM, di kisaran harga Rp. 855.750,-

Berdasarkan web PT. Indogold, pembelian minimal emas bahkan bisa dimulai dari Rp. 500 rupiah. Jumlah minimum pembelian yang paling kecil dibanding yang lain. Meskipun merupakan pihak swasta, anda tidak perlu khawatir terjebak dalam investasi abal-abal. Sebab sama seperti PT. ANTAM dan Pegadaian, Indogold juga terdaftar dan diawasi oleh OJK. Sehingga secara standard kredibilitasnya sudah terjaga.

Selain harga cetak, hal lain yang perlu diperhatikan adalah biaya kurir yang lebih tinggi. Hal ini dapat dimaklumi karena pengiriman logam mulia tentu tidak bisa memakai jasa kurir sembarangan. Bukalapak dalam hal ini menggandeng jasa kurir RPX dalam pengiriman cetak emasnya. Biaya ongkir ini sudah termasuk asuransi pengiriman.

Harga emas di Bukalapak tentu belum termasuk biaya cetak. Secara logika, karena Bukalapak menggandeng PT. Indogold, dan PT. Indogold membeli emas dari PT. ANTAM, harga per gramnya tentu akan lebih tinggi. Kepraktisan pembelian via daring memang membantu untuk masyarakat perkotaan yang terjangkau internet. Namun untuk masyarakat di daerah bisa jadi akan kesulitan untuk transaksi maupun cetak emas.

 

  1. TAMASIA

Tamasia adalah aplikasi digital dari PT. Tamania Global Sharia. Prinsipnya sama, uang anda minimal Rp. 10 ribu rupiah akan dikonversikan sejumlah gram emas. TAMASIA juga membeli emas dari PT. ANTAM. Harga emas yang tertera di aplikasi belum termasuk biaya cetak dan biaya kurir.

Aplikasi TAMASIA terdaftar di Kemeninfo. Sedangkan secara pengawasannya berada di bawah BAPPEPTI (Badan Pengawas Perdagangan Berjangka Komoditi).

Berdasarkan pengalaman pribadi, pendaftaran rekening TAMASIA terbilang sulit untuk verifikasi akun.  Sejak bulan llau hingga hari ini, setelah regisrasi dan OTP dikirimkan, verifikasi tidak juga berhasil. Bisa jadi karena WFH atau sebab lain.

Namun demikian, saya tidak berhasil mencoba transaksi di aplikasi ini sehingga tidak bisa membandingkan lebih lanjut.

 

  1. DINARAN

DINARAN merupakan satu terobosan yang baru diluncurkan PT. Ciptalintang Aji Dana akhir bulan lalu. Program ini merupakan gabungan dari menabung di bank dan tabungan emas. Secara ringkas, programnya mirip dengan tabungan emas lainnya. Di mana jumlah rupiah anda akan dikonversikan dalam bentuk jumlah gram emas.

20200601_085429[1]

Perbedaan DINARAN adalah adanya kartu debit yang bisa dipakai bertransaksi. Jika kartu BRANKAS ANTAM hanya sebagai kartu anggota. Kartu DINARAN bisa dipakai untuk transaksi sehari-hari. Baik untuk tarik tunai di ATM maupun berbelanja. Kartu ini juga sudah terkoneksi dengan Gerbang Pembayaran Nasional (GPN). Jumlah saldo rupiah anda akan tergantung harga emas. Jadi tabungan rupiah anda akan aman dari inflasi karena memiliki emas fisik yang mendasarinya.

Misalnya harga emas saat anda beli adalah 1 juta rupiah per gram dan anda membeli 5 gram emas. Maka anda memiliki uang 5 juta rupiah yang setara dengan saldo 5 gram emas. Lalu anda belanjakan 1 juta sehingga saldonya hanya tinggal 4 juta rupiah. Beberapa bulan kemudian, harga emas naik dari 1 juta rupiah ke Rp. 1,1 juta rupiah. Maka saldo anda akan ikut naik meskipun sudah anda pakai berbelanja. Jadi saldo anda adalah Rp. 1.1 juta rupiah dikali 4 gram yang tersisa sehingga jumlahnya menjadi Rp. 4, 4 juta rupiah. Jika 5 tahun kemudian harga emas naik 2 kali lipat, saldo anda juga akan naik. Jadi anda tidak takut rupiah anda terkena inflasi.

Proses transaksi Dinaran juga relatif mudah. Anda hanya perlu mengunduh aplikasinya dan mendaftar secara daring. Harga emas juga selalu diperbaharui. Sama seperti TAMASIA, secara izin dan pengawasan, DINARAN berada di bawah pengaturan dan pengawasan BAPPEPTI.

Kekurangannya, karena memiliki fasilitas kartu debit yang tidak dimiliki program lain, maka harga emas di aplikasi DINARAN adalah yang termahal. Perbedaannya sekitar 30 ribu per gram dibandingkan harga fisik Logam Mulia BRANKAS ANTAM. Jika dibandingkan dengan harga BRANKAS ANTAM, perbedaannya sekitar 91 ribu per gram.

Pencairan tabungan emas ini sendiri hanya dalam bentuk rupiah melalui ATM atau EDC. Kekurangan lainnya. Karena aplikasi ini baru diluncurkan dua minggu lalu, fitur dalam aplikasinya belum lengkap. Misalnya fitur helpdesk yang belum aktif.  Saya juga tidak tahu apakah ke depannya pencairan emas bisa dilakukan secara fisik.

 

Sebagai penutup, setiap program di atas memiliki kelebihan dan kekurangan tersendiri. Pilihlah yang paling sesuai dengan tujuan keuangan anda. Apakah anda ingin membeli emas dengan harga termurah dan jangka panjang? Ingin membeli secara mencicil? Apakah anda lebih sering berbelanja daring atau lebih sering melakukan transaksi tunai yang memerlukan jaringan ATM dan EDC? Sesuaikan dengan profil pribadi anda.

Semoga bermanfaat.

 

Dipublikasi di INFO | Tag , , , , , , , | 2 Komentar

L.A. THE DETECTIVE 2 BAGIAN 24 (ENDING)


Bagian Dua Puluh Empat

 

Frank

Larry mengatakan rencananya untuk pindah ke tempat lain. Ia telah menyiapkan surat pengundurkan diri resmi dari kepolisian. Urusan perusahaan telah diserahkan pada orang-orang kepercayaannya. Saat perpisahan sebentar lagi.

“Jadi inilah akhirnya…,” aku menelan ludah.

Larry mengangguk. “Inilah akhirnya.” Ia mengulang perkataanku.

“Kupikir kau lebih banyak di kamar untuk beristirahat dan tidur sepanjang waktu,” ucapku.

Larry nyaris tertawa. “Sebagian memang begitu. Dengar Frank, Kepolisian akan segera menunjuk pengganti diriku. Sepertinya kau masuk dalam kandidat. Jika itu terjadi, selamat untukmu, Frank. Jangan lupa apa yang sudah kau pelajari selama ini.”

Tadinya sempat terpikir olehku, bahwa entah bagaimana, kami akan kembali ke Kepolisian, menjadi partner dan bertugas seperti dulu. Kurasa tabiat diam Larry dalam sikapnya tetap jauh lebih aku sukai daripada bertugas tanpanya. Ada sesuatu yang hilang. Sesuatu yang terasa salah olehku.

“Apakah aku akan bertemu kembali dengan kalian bertiga? Suatu saat, mungkin?” Aku tidak tahu proses penyembuhan Larry akan makan waktu berapa lama.

“Aku hanya akan pergi dengan Mary. George akan kembali ke Wyoming dan mengurus segalanya. Jika memungkinkan nanti, kau mungkin bisa mengunjungiku dengan menghubungi George lebih dulu. Tapi pastikan kau aman dan tidak diikuti.”

“Aku bisa atasi hal itu. Pastikan saja kau segera sembuh.” Aku berkata dengan sungguh-sungguh.

Larry tidak menjawab. Seperti biasa, ia hanya tersenyum.

***

Mobil sewaan yang membawaku berlawanan arah dengan mobil yang membawa Larry. Aku menatap ke luar jendela dari kursi di belakang.

Entah kenapa aku merasa kesepian.

Aku akan kembali ke Kepolisian, tapi tanpa Larry yang menjadi partnerku. Semuanya akan terasa sangat berbeda. Aku merasa kehilangan. Meski di satu sisi aku sangat lega ia masih hidup, aku tidak tahu apakah kami akan bisa bertemu lagi. Bukan hanya karena jarak, tapi karena aku juga tidak tahu apakah pengobatan Larry akan berhasil atau tidak.

Aku sungguh sangat berharap kami bisa bertemu lagi dalam keadaan yang lebih baik.
***
             Pada saat yang sama…

“Tuan Watson, mari.” George membukakan pintu untukku lalu melakukan hal yang sama untuk Mary. Aku menoleh sekilas ke arah mobil Frank yang perlahan menjauh. George mulai mengemudi. Pikiranku melayang ke segala arah. Jika sesuatu terjadi padaku, aku sudah siap. Aku sudah menyiapkan semuanya.

“Kau cemas?” Suara lembut Mary menyadarkanku dari lamunan.

“Sedikit,” aku tersenyum padanya.

Ia membalas senyumku. Kepalanya bersandar di bahuku sementara lengannya melingkar di lenganku. Ia memainkan jari tanganku dalam genggamannya.

“Bukankah ini impianmu? Pergi ke suatu tempat di mana tak ada yang mengenal dirimu dan tak ada yang bisa menyangkutkan dirimu dengan Watson Company?”

“Kau sendiri? Apakah ini pernah menjadi impianmu?”

“Aku pernah bermimpi… Untuk menghabiskan sisa hidupku dengan tenang bersama orang yang paling kucintai,” Mary tersenyum dan menengadah menatapku.

Aku merengkuhnya erat dengan rasa bahagia. “Yah, kehidupan baru. Memang tepat seperti itulah yang kita butuhkan.”

***
(TAMAT)

Dipublikasi di cerita bersambung | Tag , , , | Meninggalkan komentar

L.A. THE DETECTIVE 2 BAGIAN 23


Bagian Dua Puluh Tiga

 

Frank sudah mengurus cutinya dan berkunjung ke Lake Forest. Tapi kali ini Larry tidak menyambutnya seperti biasa. Ia sedang berbaring di sofa saat Frank datang. Larry hanya menoleh sedikit lalu kembali memejamkan mata. Nyaris seolah tak peduli.

Frank mendekat. “Ayolah, jangan bermalas-malasan begitu.”

Frank sesungguhnya cemas. Ia ingin Larry berpura-pura semuanya baik-baik saja seperti biasanya. Saat Larry tidak melakukannya, Frank sadar itu karena kekuatannya semakin melemah. Hal itu makin membuatnya khawatir.

Larry cuma memberi isyarat tangan tanpa membuka mata saat Frank mencoba mengusiknya.

Larry akhirnya masuk kamar dan bilang ke semua orang –yang tentu maksudnya adalah Frank- bahwa ia tidak ingin diganggu. Ia hanya mau ditemani Mary.

Frank merindukan pertengkaran-pertengkaran kecil itu. Saat Larry bersikeras ia tak apa-apa. Meski khawatir, Frank menganggap itu karena Larry bisa mengatasinya. Tapi saat Larry bahkan tak mampu menjawab bagaimana keadaannya sendiri, dan dengan pasrah mau dibawa ke rumah sakit atau dipanggilkan dokter, Frank tahu sakitnya sudah tak tertahankan. Di mana orang paling kuat sekalipun akan dipaksa menyerah.

***

Kondisi Larry naik turun bagai roller coaster. Ada kalanya segalanya tampak baik-baik saja. Ia melakukan kegiatan sehari-hari dengan normal. Tapi suatu sore ketika mereka sedang duduk berempat di ruang tamu, tiba-tiba Larry jatuh tak sadarkan diri di sofa. Ketika ia siuman, ia menyatakan diri tak apa-apa. Bagaimana Frank bisa percaya?

Mereka membawanya ke rumah sakit, Larry tak kuasa menolak. Begitu ia selesai diperiksa, para dokter tidak memperbolehkannya pulang.

Frank mengamati saja semua itu. Larry tidak berkata sepatah kata pun. Sesekali wajahnya mengerut, meringis tertahan, tapi tak ada keluhan yang keluar. Ketika obat yang menetes di infusnya sudah mencapai dosisnya, ia pun tertidur. Tampak tenang dan damai.

Frank mengobrol dengan George, bertanya-tanya kenapa Larry bisa mengalami hal itu lagi. George menceritakan jadwal Larry di New York yang tidak diketahuinya.

“Jadwal apa?” Frank bertanya.

“Pertemuan bisnis berhari-hari sebelum ke Wyoming, dengan jadwal sangat padat. Bertemu Mrs. Lindsay, para pemegang saham, dewan direksi, manajer investasi dan pengacaranya. Tuan Muda sempat pingsan dalam rapat dewan direksi.” jawab George.

“Apa? Kenapa Mary membiarkannya?” Frank tak habis pikir. Larry sudah jelas tidak dalam kondisi prima. Ia tidak memenuhi syarat untuk bertugas di kepolisian saat ini. Tapi ia malah mengambil pertempuran yang lebih besar. Berkonfrontasi langsung dengan bibinya. Pertempuran Larry dengan perusahaan itu sudah berlangsung bertahun-tahun, lebih lama dari masa tugasnya di kepolisian. Frank tahu itu.

George menjelaskan tentang Clif dan manuvernya terhadap Watson Company dan kampanye gubernur. Larry menganggapnya kasus darurat yang harus ditangani segera. Semuanya terkendali dan berjalan sesuai rencana. Setidaknya hingga sore tadi.

***

Mereka langsung terbang ke New York pada hari yang sama. Kembali ke rumah besar milik Larry. Frank tidak tahu persis kenapa mereka ke sana. Informasi sekilas yang  ia dapat, Larry masih harus memastikan beberapa hal tentang perusahaannya. Keberadaannya di New York sangat penting. Selain itu, di New York, Larry lebih punya banyak sumber daya. Pelayan dan koki di rumah hanya salah satunya.

“Kau memarahiku, tapi diam-diam kau mempercayai bahwa dirimu akan mati.” Frank menemui Larry di ruang kerjanya saat kondisinya mulai membaik.

Larry diam. Bertahun-tahun menjadi partner, membuat dirinya dan Frank kenal sangat baik. Mereka terlatih untuk mengerti isyarat paling kecil sekalipun serta setiap perkataan yang tersamar.

Larry tidak bermaksud membantah. Ia tahu, Frank benar. Frank telah menebaknya dengan sangat benar. Mau bagaimana lagi? Frank detektif senior, andal seperti dirinya.

“Kau memforsir dirimu sendiri, Larry,” ucap Frank lagi. Nadanya menuduh. “Kudengar kau sempat pingsan dalam rapat direksi.”

Larry menghela napas jengah. Frank benar, ia telah memforsir dirinya sendiri. Jadi apa yang seharusnya ia lakukan? Duduk menunggu sampai ajalnya datang?

Ia hanya ingin hidupnya kembali. Hidup yang normal. Yang bebas dari rasa takut. Hidupnya yang produktif. Bagaimana ia bisa berdiam diri sementara banyak hal yang harus ia bereskan sebelum ia pergi? Bukankah sebaiknya ia menyiapkannya sekarang untuk Mary?

“Kau datang jauh-jauh dari L.A. hanya untuk memarahiku seperti ini? Aku merasa tersanjung, Frank,” ujar Larry datar. Sikapnya tenang seperti biasanya.

Frank merengut, merasa dirinya agak berlebihan. “Senang bertemu denganmu,” ucapnya berusaha tak peduli. Namun tentu saja gagal total.

Larry tersenyum, mengerti maksud ucapan Frank sepenuhnya. “Senang melihatmu masih hidup,” ia menuturkan maksud Frank.

Larry duduk di kursi. “Kau sadar tidak, kita tidak tahu siapa yang berada dalam bahaya sekarang. Kuharap para penjahat di L.A. tidak mengikutimu ke mari.”

***

Larry sedang berbicara dengan Frank saat Thomas Lewis datang. Larry saling memperkenalkan mereka berdua.

“Aku tidak akan mengganggu kalian,” Frank segera beranjak pergi. “Sampai nanti.”

Mata Thomas mengikuti langkah Frank menjauh. Larry mengajak Thomas ke ruang kerja pribadinya.

“Jadi, dia partnermu di kepolisian?” tanya Thomas ketika Frank sudah tidak kelihatan.

“Ya.”

“Kalian saling bergantung satu sama lain?”

“Bisa dibilang begitu.”

“Apa kau akan menyelamatkanku kalau aku ditodong pistol?”

“Kurasa tidak.”

“Sial, kupikir aku cukup berharga untukmu.”

“Aku harus menyelamatkan diriku sendiri saat ini,” sahut Larry tak acuh. Mau tidak mau Thomas tersenyum.

“Kau mau kopi?” tawar Larry sambil duduk di kursinya.

“Kau tidak punya sesuatu yang lebih keras?” Thomas duduk di hadapan Larry. “Wine, bir, sampanye, apa pun selain soda?”

“Aku tidak mengoleksi hal semacam itu lagi.” Larry tersenyum. Rumah besar ini punya sebuah bar mini. Dulu ayahnya biasa menyimpan anggur-anggur terbaik untuk jamuan bisnis atau pesta. Sekarang bar itu hanya sekedar pajangan dekoratif.

Thomas menghela napas. “Kalau begitu aku pilih kopi.”

Larry menekan interkom di mejanya dan menghubungi dapur. “Hanah, tolong buatkan kopi untuk Mr. Lewis,” ia berhenti sejenak untuk bertanya pada Thomas. “Kau mau makan malam di sini, Tom? Aku bisa meminta para juru masak menghidangkan menu favoritmu.”

“Aku harus kembali ke kantor. Tapi sedikit selingan sore, boleh.”

Larry bicara kembali ke interkom. “Kami mungkin agak lama. Kau bisa buatkan sesuatu untuk kami?”

“Saya bisa membuatkan anda pie buah atau keju. Jay juga tadi membuat biskuit,” jawab Hanah lewat interkom.

“Kalau begitu tolong bawakan untuk kami berdua.”

“Baik, Sir.”

Larry menutup pembicaraan. Ia menyandarkan tubuhnya ke kursi. “Kau bisa mulai dari mana pun, Tom.”

Thomas mengeluarkan beberapa berkas dari kertasnya. “Ada beberapa hal,” katanya. “Pertama tentang persiapan NJM go public. Sejauh ini semua beres. Aku dan Pat telah mengatur semua dokumen dan menghubungi orang-orang tertentu. Kau bisa melihatnya dalam laporan ini. Tapi ada beberapa detail dari SEC yang perlu kita diskusikan.”

Larry mengambil berkas itu dan membacanya. Pembicaraan terputus karena pintu diketuk. Hanah datang membawakan kopi dan kudapan. Ia meletakkannya di meja kecil yang terpisah di dekat Thomas.

Thomas melanjutkan kata-katanya setelah Hanah menuangkan kopi ke cangkirnya lalu kembali ke dapur. “Bagaimana keputusanmu tentang NJM?”

“Aku ingin membatalkan merger-nya.”

“Bibimu tidak setuju. Ingat apa yang pernah kau katakan? Ia berencana mengembangkan NJM menjadi perusahaan raksasa. Merger ini penting baginya.”

“Terserah. Sejak awal aku tidak tertarik mengurusnya.”

“Masalahnya, bibimu menguasai 40 persen sahamnya, Larry.”

“Dan total nilainya hanya seperdelapan dari keseluruhan aset Watson Company.”

“Itulah sebabnya merger ini sangat penting. Kalau kau dulu bisa mendesak dewan direksi Watson Company mengikuti kemauanmu untuk go public, bibimu juga bisa melakukan hal yang sama agar NJM tetap merger. Kita bicara tentang aset ratusan jutaan dolar, Larry.”

“Akan kuminta Pat dan timnya yang mengurus. Aku bisa melepas sahamku di sana. Kau bisa membelinya kalau kau mau. Kita bisa membuat perjanjian terpisah. Membuat perjanjian kepemilikan saham yang baru. Kau tahu aku tidak sedang memikirkan uang saat ini, Tom.”

Thomas Lewis menghela napas. Sadar sepenuhnya bahwa Larry benar. Sejak dulu, Larry tidak mengejar uang. Meski juga tidak berlaku sembrono. Sekarang setelah diagnosa itu, uang mungkin menjadi hal terakhir yang akan dipedulikannya.

“Baiklah, kita bisa bicarakan itu nanti. Kau tahu Vic mengusulkan perombakan organisasi sebelum kita melaporkannya pada SEC?”

Larry mengangguk. “Ia pernah menemuiku di kantor, menanyakan apakah aku ingin melepas saham bagianku. Ia juga terang-terangan menunjukkan minat sebagai CEO jika aku berhalangan. Kau tahu maksudnya kan?”

“Ya,” Thomas tersenyum sinis.

Perbincangan itu masih terus berlanjut. Satu setengah jam kemudian, Thomas sedang membicarakan beberapa detail ketika tiba-tiba Larry mengangkat tangan kanannya. “Cukup dulu untuk saat ini, Tom.”

“Kau tidak apa-apa, Larry?”

Larry mengernyit. “Aku perlu berbaring.”

Thomas berdiri dengan sigap. Ia menekan interkom di meja Larry. “Siapa pun, kami butuh bantuan.” Ia berbicara selagi bersiap memapah Larry.

Mary datang tergopoh-gopoh bersama George. Frank mengikuti di belakangnya. Mereka membawa Larry ke kamar.

Frank melihat Larry yang tampak kesakitan. Mary dan George membantunya berbaring.

“Apa yang kalian bicarakan?” Frank bertanya pada Thomas di sebelahnya.

“Urusan perusahaan.”

“Haruskah membicarakan perusahaan dalam keadaannya yang seperti ini?” tanya Frank dengan nada tak senang.

“Haruskah seorang detektif menanyai saksi atau korban saat ia baru sadar di rumah sakit?” Thomas balik bertanya.

“Brengsek,” dengus Frank seraya berjalan pergi.

***

Frank menoleh saat mendengar suara sesuatu menubruk pintu. Tubuh Larry merosot dan terduduk di lantai dengan sedikit bingung.

“Larry!” Frank cepat menghampirinya.

“Aku tak apa-apa. Aku tak apa-apa,” ucap Larry cepat. Ia berusaha berdiri. Frank membantunya. Memapahnya ke sofa.

“Terima kasih, Frank,” Larry menyandarkan tubuhnya di sofa.

Frank tersenyum. “Aku akan memanggil Mary, oke?”

Larry mengangguk. Frank melesat pergi. Mary datang tak lama kemudian. Gerorge juga ada bersamanya.

“Kau seharusnya istirahat di kamar,” Mary mengecup Larry singkat.

“Aku bosan,” Larry menyahut singkat. “Bisakah kalian beraktivitas seperti biasa dan menganggapku tak ada? Aku tidak begitu suka menjadi pusat perhatian seperti ini. Frank, kau tidak punya kasus untuk diselesaikan?”

Frank menggeleng.

Larry menghela napas. “Baiklah, jadi kita berempat di sini dan mengobrol.”

Mary tersenyum. “Sepertinya begitu.”

“Mana Thomas?” tanya Larry.

“Dia sudah pergi. Mungkin kembali ke kantor atau pulang. Entahlah.” Kali ini Frank yang menjawab. “Tidakkah sebaiknya kau tidak mengurus perusahaan dulu saat ini, Larry?”

“Ini hampir berakhir, Frank,” jawab Larry pelan. “Aku ingin segera menyelesaikannya.”

Frank mendesah, lalu tiba-tiba tersenyum. “Hei, Larry, bisakah kita ke kamar dan aku meminjam komputermu? Aku butuh bantuanmu untuk melakukan sesuatu. Aku perlu persiapan sebentar.”

***

Frank menyalakan komputer dan memutar layarnya menghadap Larry yang duduk di tempat tidur.

“Kejutan….” teriak suara-suara dari layar. Video chat langsung dari markas.

“Oh,” Larry tampak terkejut.

“Hai, Larry, selamat ulang tahun,” Robert, opsir lucu di bagian lalu lintas menyapa lebih dulu.

“Ulang tahunku sudah lama berlalu, Robert.”

“Yah, mungkin kita bisa membuat hal itu menjadi dua kali dalam setahun.”

Larry tertawa.

“Aku harap kami tidak mengganggu istirahatmu, Larry.”

“Kalian selalu menggangguku selama ini dan aku tidak keberatan, Jim.”

“Bagaimana keadaan di sana, Larry?”

“Aku baik-baik saja, Jane. Kalian seharusnya memberiku waktu untuk bersiap-siap. Bukannya menangkap basah seperti ini.”

“Salahkan partnermu. Ini semua ide Frank.”

Larry menoleh ke arah Frank penuh terima kasih. “Aku akan menghabisinya setelah ini,” ucapnya disambut tawa Frank.

“Cepat kembali ke sini, Larry. Kami membutuhkanmu.”

“Kalian semua sudah punya detektif terbaik. Kerja Frank selama ini cukup bagus.”

“Yah, tapi omong-omong tentang Frank,” Kapten Brock muncul di layar. “Kau tahu kan kalau dia agak sedikit…,” Kapten Brock memainkan jarinya di kepala. “Kau tahu sendirilah.”

Semua di tempat itu tertawa.

“Kembali ke sini, Larry. Aku kehilangan wajah dinginmu.”

“Dan aku kehilangan teman minum kopi sambil duduk di meja semalaman memeriksa berkas.”

Pembicaraan itu berlangsung akrab. Dan baik Frank maupun Mary melihat bahwa hal itu berdampak positif bagi Larry.”

***

Larry bicara langsung pada Mrs. Lindsay dan Victor secara terpisah.

“Aku bersedia memimpin kembali Watson Company tetapi dengan satu syarat.”

“Apa itu?”

“Kau ubah kembali keyakinanmu dan kita anggap semua pertentangan selama ini tidak pernah terjadi.”

Larry tertawa. “Bibi meminta suatu hal yang mustahil.”

“Kalau begitu aku berlepas tangan. Watson Company bisa hancur.”

“Biarkan saja hancur kalau begitu.”

“Itu akan menjadi kesalahanmu.”

“Aku terima risiko itu,” Larry tersenyum. “Perusahaan itu pernah berkembang tiga kali lipat ketika aku memimpinnya, bukan?”

“Maksudmu kau akan benar-benar memimpin perusahaan ini lagi? Kau tidak akan mungkin bisa melakukannya dengan kondisi kesehatan seperti ini.”

“Aku akan temukan sebuah cara. Otak jenius itu ada gunanya.

“Apa yang kau inginkan sebenarnya, Larry?”

“Restrukturisasi pemegang saham. Aku ingin NJM 100 persen go public. Aku akan melepasnya dari Watson Company.”

“Kau ingin melepas sahammu ke bursa?”

“Ya, aku ingin pelepasan saham perdananya dilakukan secepatnya.”

“Aku mengerti. Kau mengkhawatirkan sesuatu.”

“Aku mengkhawatirkan Vic, dan mungkin juga bibi.”

“Apa maksudmu?”

“Vic dalang pembakaran ranchku, islamic center yang kudirikan. Aku sudah menyelidikinya dan punya bukti kuat untuk itu. Dari mana dia tahu hal itu kalau bukan dari bibi? Bukan itu saja. Dia juga membocorkan informasi rahasia yang membahayakan perusahaan ini. Suruh dia menjual seluruh bagian sahamnya dan mengundurkan diri dari perusahaan. Aku tidak punya banyak waktu untuk berurusan dengan pengadilan. Tapi percayalah, aku bisa menuntutnya serta meminta ganti rugi dalam jumlah yang sangat banyak. Dan jika bibi terlibat, aku juga bisa melakukan hal yang sama. Jangan main-main denganmu dalam hal ini. Kita berdua sama-sama tahu apa saja yang bisa aku lakukan. Aku sudah melaporkan Vic pada SEC dan kepolisian Wyoming atas dua kasus yang berbeda.”

Mrs. Lindsay tampak geram, tapi kemudian ia menyerah. “Baiklah, kau menang.”

 

***

“Menjauhlah dari Watson Company, Vic. Kau tidak dibutuhkan di sini. Permainan kotormu tidak berhasil di sini.”

“Permainan kotor macam apa yang kau tuduhkan?”

“Membocorkan informasi kesehatanku pada orang lain yang tidak berhak? Insider trading ilegal, melakukan kampanye aktivis diam-diam untuk menyerangku, memerintahkan perusakan propertiku di Wyoming, menuduhku terlibat terorisme. Kau sungguh-sungguh mau tahu semuanya sebelum meninggalkan perusahaan ini?”

“Bagaimana dengan saham-sahamku?”

“Kita bisa melakukan perubahan perjanjian pemegang saham dengan melibatkan pengacara masing-masing. Kau bisa menjualnya. Aku atau pemegang saham lain bisa membelinya.”

“Bagaimana kalau aku tidak mau?”

“Aku bisa menuntutmu dengan selusin tuduhan hingga membuatmu bangkrut. Kau tahu aku kepala detektif bagian pembunuhan LATD dan istriku melanjutkan sekolah hukum di sini. Kalau kau berani macam-macam, aku akan melibasmu lebih dulu. Mungkin menyenangkan melihat reputasimu hancur sebelum mati.”

“Kau tidak bisa membuktikannya, Larry. Cukup banyak orang yang tahu kau collapse dalam rapat dewan direksi. Lebih banyak lagi yang tahu kau mengunjungi Islamic Center.”

Larry tersenyum. “Jangan khawatir, Vic. SEC punya cukup bukti dan kesaksian yang memberatkanmu dan orang-orang suruhanmu di Wyoming juga sudah mengaku. Orang-orang SEC sudah menunggumu di luar pintu itu.”

***

(Bersambung)

Dipublikasi di cerita bersambung | Tag , , , | Meninggalkan komentar

L.A. THE DETECTIVE 2 BAGIAN 22


Bagian Dua Puluh Dua

 

Larry

Entah obat, rasa penyangkalan atau sel-sel kanker itu yang membuatku jadi begini. Seisi rumah ini menatapku heran ketika aku mulai bertindak aneh.

Aku menjadi mudah marah karena hal-hal sepele. Makanan ini terlalu asin. (Padahal mungkin tidak). Ke mana tukang kebun yang seharusnya merapikan gundukan tanah yang kubuat minggu lalu? (Padahal sebelumnya aku memintanya membiarkan begitu saja). Aku mengancam akan memecat George kalau dia tidak menuruti kemauanku –yang dilarang oleh dokter-. Nada suaraku lebih tinggi daripada yang kumaksudkan saat bicara dengan Mary. Aku bahkan memalingkan muka dan menolak setiap suapan yang ia tawarkan kepadaku.

“Kau harus makan sesuatu,” kata Mary. “Tolonglah. Satu suap saja. Aku membuatnya sendiri,” lanjutnya dengan pandangan memohon.

Tapi aku malah membalikkan badan dan merebahkan diri. Hanya sekilas melihat tatapan Mary yang terluka karena penolakanku.

Mary menyelimutiku dengan lembut. Aku merasa melayang. Antara sadar dan tidak ketika aku mendengar suara Mary berbicara.

“Dia menjadi seperti bukan dirinya, George,” kata Mary dan aku membayangkan mereka berdua mengamatiku dengan wajah prihatin.

Mary benar.

Aku bahkan tidak merasa menjadi diriku lagi.

***

Sebagai seorang detektif kepolisian aku tahu mana luka yang berbahaya atau tidak. Setiap hari aku melihatnya dalam kasus yang kutangani. Sebuah luka sayatan atau tusukan yang pernah kudapatkan dari Brad mungkin terlihat mengerikan dengan sobekan daging yang terlihat dari luar dan darah yang mengalir, tapi balutan yang baik dan beberapa jahitan akan segera menolong dan mengubahnya menjadi luka yang tidak berbahaya.

Tapi sebuah luka dalam yang tak terlihat, racun, atau dalam kasusku, mutasi gen yang tak kuharapkan akan bisa membunuhmu diam-diam.

Aku bukannya tidak tahu, atau tidak merasakan gejala-gejalanya. Kurasa aku hanya mengabaikannya dengan mencoba bersikap tidak peduli. Mungkin jika aku bersikap demikian, aku bisa membohongi sistem imun tubuhku hingga memberiku sedikit tambahan waktu.

Nyatanya itu tidak berhasil. Kenyataan menyentakku dengan cepat bagai sebuah mimpi buruk yang membuatmu terbangun di tengah malam.

Aku pernah berharap untuk mati. Dulu, saat aku kehilangan partnerku, Gary Stewart. Kupikir tidak akan banyak orang yang akan kehilangan diriku seandainya aku mati, -tidak sebanyak Gary-. Tapi saat kematian benar-benar mendekat, baru kusadari bahwa sesungguhnya aku takut. Doaku terkabul pada saat yang tidak tepat.

Aku takut terutama setelah aku menikah dengan Mary. Aku takut kehilangan sesuatu yang baru saja kumiliki, kehidupan baru yang kujalani. Dulu aku tidak menganggap kehidupan ini berharga, dan kini aku bahkan kerap menghitung detak jantungku sendiri.

Kurasa aku memang jatuh cinta. Sepertinya Mary juga begitu. Dan itu yang membuat keadaan menjadi lebih rumit. Lebih baik dan buruk pada saat yang sama. Lebih buruk karena perasaan takut kehilangan, tapi lebih baik karena aku tidak lagi sendirian.

“Semua akan baik-baik saja,” kataku tak lama setelah diagnosa kanker itu.

Aku berbohong.

Mary diam saja. Kami berdua sama-sama tahu itu tidak benar.

Butuh empat kematian dan lima peluru untuk menyadarkanku. Ditambah sebuah mutasi sel yang membuatku benar-benar mendekat pada Tuhan.

***

Frank Russell, orang paling ceroboh yang pernah kukenal. Pada hari pertama bertugas –saat itu kami belum menjadi partner- Frank sudah dimarahi Kapten Brock karena berbagai pelanggaran. Membawa anjing ke dalam mobil patrolinya, ngebut dan menyalakan sirine pada saat tidak bertugas, menumpahkan kopi hingga membasahi file-file penting, dan yang paling parah, kehilangan lencana dan kartu anggota kepolisiannya.

Frank pernah berkata padaku bahwa ia heran bagaimana aku selalu bisa bertindak benar. Aku bertanya balik apa maksud pertanyaannya itu. Karena sesungguhnya, itu penilaian yang salah. Sangat salah.

Aku melakukan banyak kesalahan. Beberapa di antaranya tak termaafkan.

Aku membiarkan Gary meninggal. Aku tidak memperingatkan Gary lebih awal kecurigaanku yang -saat itu- tanpa alasan. Hanya sebatas intuisi bahaya yang datang. Saat aku menyadari dan berusaha memperbaiki keadaan, segalanya sudah terlambat.

“Kematian Brad, dan Steve, itu bukan kesalahanmu,” ucap Frank seolah-olah hal itu bisa menghiburku.

Frank mengatakan juga padaku bahwa aku tidak egois dan selalu mementingkan orang lain. Aku tidak menuntut pujian dan memberikannya pada orang lain. Menjauhi sorotan, dan pergi diam-diam.

Memangnya untuk apa semua itu jika sejak lahir aku sudah mendapatkannya?

Frank mengatakan ia tak habis pikir bagaimana bisa aku tidak bangga pada semua yang kupunya dan malah beralih menjadi polisi?

Well…, jika kau hidup di mana orang-orang hanya berkenalan denganmu untuk mendapatkan sesuatu, kau akan mengerti.

Itu bukan keputusan yang mudah.  Bagaimana pun, di masa aku aktif di perusahaan, aku telah berhasil mengembangkannya dan menghasilkan keuntungan berlipat. Namun aku tidak menyesalinya.

***

Sungguh pun aku telah menerima banyak sekali penghargaan, sejujurnya aku tidak begitu merasa berguna. Terutama sejak kondisi fisikku menurun dan aku lebih sering berada di tempat tidur. Berbaring layaknya orang mati. Sesuatu yang sangat aku benci.

Meski begitu, aku ingin meninggalkan sesuatu. Aku merasa Frank mengkhawatirkanku secara berlebihan, dan itu memecah fokusnya. Ia tidak lagi datang untuk berdiskusi tentang kasus yang rumit, tapi semacam kunjungan sosial untuk memastikan aku masih hidup.

Aku terbangun suatu malam karena rasa sakit yang hebat. Aku membangunkan Mary yang dengan cepat menelepon 911 dan menghubungi Dokter Morgan untuk meminta nasehat medis. Tapi saat paramedis tiba, keadaanku sudah jauh lebih baik dan aku bersikeras menolak untuk dibawa ke rumah sakit.

Barangkali waktuku tak lama lagi.

Jadi pagi harinya, aku meminta pengacaraku datang dan aku mulai menulis surat wasiatku.

Aku merasa perlu melakukan sesuatu pada beberapa orang terdekatku.

Yang pertama tentu saja Mary. Aku mewariskan aset-asetku padanya. Aku telah berkonsultasi dengan pihak islamic center tentang hukum waris islam yang baru kuketahui. Aku memastikan sebagian lainnya disumbangkan lewat beberapa orang brother yang kupercaya. Aku yakin hartaku akan lebih berguna.

Yang kedua adalah George. Ia orang penting dalam hidupku. Ia bukan ayahku tapi ia mengajariku banyak hal. Ia ada di saat-saat paling buruk dalam hidupku. Ia satu-satunya sahabat yang paling lama kukenal di dunia ini. Aku menulis wasiat untuk George, memastikan ia hidup sejahtera dengan apa yang kutinggalkan untuknya.

Yang terakhir adalah Frank. Seperti yang tadi kubilang, kekhawatiran Frank pada kondisiku bisa dikatakan berlebihan. Meski ia bersikeras bahwa itu hal yang wajar. Tapi kurasa ia berhak untuk bahagia. Frank seorang playboy tapi tidak pernah menemukan wanita yang tepat. Belakangan ia berubah. Ia memutuskan untuk mengubah hidupnya menjadi lebih bermakna.

Menurutku diam-diam Frank mulai mempelajari islam dan itu berpengaruh baik baginya. Namun, kemudian, ia tidak lagi berpikir untuk dirinya saat tahu tentang kankerku. Aku merasa ini sangat tidak adil.

Aku tahu ia menyukai Mary. Ia memuji-memuji Mary saat aku dirawat di rumah sakit dulu dan berjanji akan mengenalkanku dengan seorang wanita yang baginya amat menarik.

Tapi begitu ia tahu bahwa wanita tersebut ternyata Mary mantan anggota timku, dan melihat isyarat diam-diam bahwa aku dan Mary sesungguhnya pun saling menyukai, Frank memilih untuk mundur. Dengan jantan mengucapkan selamat saat aku akhirnya menikah dengan Mary.

Aku ingin Mary-ku aman. Aku ingin dia bahagia. Apa pun yang terbaik untuknya. Begitu juga dengan Frank. Ia berhak mendapat lebih dari sekedar masa-masa sulit ketika kami menjadi partner. Ia  satu-satunya orang yang kuanggap tepat untuk menggantikan diriku menjadi pendamping Mary.

Aku juga meninggalkan sesuatu untuk Kapten Brock. Bagaimana pun ia sahabat ayahku.

Aku harap aku bertindak benar. Aku harap mereka semua bahagia.

***

(Bersambung)

Dipublikasi di cerita bersambung | Tag , , , | Meninggalkan komentar