CATATAN PERJALANAN KASMIR BAGIAN 1: ARTICLE 370


Saya sedang berkutat dengan deadline ketika suatu malam di awal Agustus, Nurani, rekan traveler dari Malaysia menghubungi saya via Whatsapp. Membagikan berita dari CNN bahwa telah terjadi kerusuhan di Kashmir. Ribuan penduduk ditangkap dan dipenjarakan. Kekerasan termasuk pembunuhan terjadi. Ribuan turis sudah diinstruksikan meninggalkan Kashmir sejak sehari sebelumnya, termasuk semua pendaki yang sedang melakukan trekking di kawasan Himalaya. Jam malam diberlakukan. Angkutan umum berhenti beroperasi. Toko-toko dan sekolah tutup. Seluruh wilayah dikuasai tentara. Tidak ada berita yang jelas kecuali bahwa hal itu terkait dengan pencabutan Article 370 dan 35 A.

Saat itu, saya bahkan tidak tahu apa itu Article 370.

srinagar intl airport

Foto saya ambil diam-diam dalam perjalanan pulang

Baca lebih lanjut

Dipublikasi di INFO, SERI PERJALANAN | Tag , , , , | 1 Komentar

REVIEW BUKU ENSIKLOPEDIA AKHIR ZAMAN


Judul buku: Ensiklopedia Akhir Zaman

Penulis: DR. Muhammad Ahmad Al-Mubayyath

Penerbit: Granada Mediatama

Jumlah halaman: 1022 halaman

Harga: Rp. 208.000,-

cover buku Ensiklopedi_Akhir_Zaman

***

Baca lebih lanjut

Dipublikasi di INFO, REVIEW | Tag , , , , , , , , , , | Meninggalkan komentar

MENULIS SINETRON KOLOSAL, SULITKAH? DI BALIK LAYAR SKENARIO KEMBALINYA RADEN KIAN SANTANG (KRKS)


 

poster krks

Baca lebih lanjut

Dipublikasi di KEPENULISAN | Tag , , , , , , , , , , , , , | Meninggalkan komentar

DI BALIK LAYAR SINETRON. 10 Hal Tentang Penulis Skenario Yang Mungkin Belum Anda Ketahui


Beberapa dari anda yang sempat membaca status facebook saya bulan lalu mungkin tahu bahwa pada akhirnya saya menerima tawaran bergabung menulis sinetron striping. Setelah sebelumnya saya menulis belasan skenario seri ‘Lenong Legenda’ dengan jadwal ‘suka-suka saya sempatnya kapan’ –yang tidak menjadi masalah karena penulisnya cukup banyak dan berupa cerita lepas-, terlibat dalam beberapa serial striping yang bersambung ternyata membuat saya tetap terkaget-kaget. Berikut adalah beberapa fakta menarik seputar penulis skenario televisi.

  1. Jam kerja yang aneh dan bisa sangat panjang

Bisakah penulis skenario striping bekerja sendirian? Bisa, tapi tidak disarankan karena sangat tidak sehat bagi jiwa dan raga. Jika penulis tersebut menulis cerita sinetron prime time dengan rating tinggi, bukan hal yang aneh kalau ia kemudian tidak sempat mandi, makan, atau tidur. Bisa jadi ia harus menulis stok naskah untuk beberapa hari ke depan dan menghabiskan waktu 22 jam di depan komputer dan hanya diselingi waktu salat serta istirahat sekedarnya.

Ya, penulis skenario ternyata juga bekerja dalam jam yang panjang seperti para pemain dan kru-nya. Hanya saja kalau para pemain serta kru ‘pergi pagi pulang pagi’ di lokasi syuting, penulis sinetron tipe single fighter bisa ‘menulis dari pagi sampai pagi lagi’ di depan komputer. Baca lebih lanjut

Dipublikasi di KEPENULISAN | Tag , , , , | 3 Komentar

REVIEW FILM GUNDALA


1-poster-gundala

Film Gundala yang banyak ditunggu sudah rilis sejak kamis pekan lalu. Dalam empat hari penayangannya, film ini telah meraup lebih dari 750 ribu penonton. Sepertinya hanya butuh hitungan hari untuk mencapai satu juta penonton.

Film Gundala sendiri adalah pertaruhan film super hero pertama dari Jagat Sinema Bumi Langit dan Screenplay Film dalam semesta Patriot yang nantinya akan memperkenalkan para jagoan Indonesia lainnya seperti Sri Asih, Godam, Merpati, Tira, Sembrani, dll. Patriot sendiri adalah semesta lanjutan dari semesta Jawara yang menampilkan jagoan lain seperti Si Buta dari Goa Hantu dan Mandala.

era-bumi-langit

Baca lebih lanjut

Dipublikasi di INFO, REVIEW | Tag , , , , , , , , , , , , , , , , | 2 Komentar

REVIEW PENGINAPAN REDDOORZ SERSAN BAJURI DAN FARM HOUSE LEMBANG BANDUNG.


Disclaimer:

Tulisan ini hanya merupakan pengalaman pribadi penulis dan bukan atas kerjasama pihak tertentu.

***

Ini review yang terlambat. Pasca lebaran, saya kembali ke Bandung karena ada janji dengan guru karate saya untuk latihan kembali.

Kebetulan rumah beliau dekat kampus saya dulu di UPI. Jadi saya mencari penginapan di daerah yang cukup dekat dengan kampus, tidak terlalu pinggir jalan dan berada di lingkungan yang cukup saya kenal. Pilihan saya jatuh pada RedDoorz Sersan Bajuri.

Berikut adalah foto-foto penginapan reddoorz Sersan Bajuri.

View dari atap

Dilihat dari lokasi, tempat ini sesuai dengan keingin saya. Dilihat dari harga, penginapan ini juga sangat terjangkau. Saya memang tidak memilih hotel berbintang karena rencana awalnya adalah saya akan pergi ke berbagai tempat seharian sehingga penginapan hanya berfungsi sebagai penyimpan barang-barang secara aman dan tidur pada malam hari.

Tapi kemudian rencana saya berubah. Saya agak kurang fit sehingga membatalkan banyak agenda sebelumnya. Terlebih ketika saya berada di penginapan ini saya sedang mengejar deadline skenario yang harus saya selesaikan dalam waktu 1 hari. Tempat yang menyenangkan membuat saya lebih betah berada di penginapan daripada bermacet-macet ria di akhir pekan pergi ke tempat wisata yang bertemu beberapa orang  yang tadinya saya rencanakan.

RedDoorz Sersan Bajuri terletak sekitar 2 kilometer dari kampus UPI. Penginapan ini dulunya bernama Palagan Joglo Boutique Guest House dengan tarif sekitar Rp300.000 sampai Rp. 400.000 per malam sudah termasuk sarapan. Saat saya kuliah sekitar 15 tahun lalu rata-rata harga penginapan atau hotel bintang 3 di Bandung Utara kurang lebih memang sekitar itu.

Namun dengan semakin banyaknya rumah-rumah yang kemudian menjadi penginapan, penginapan ini kemudian bergabung dengan jaringan RedDoorz yang dikenal dengan penginapan murah namun memiliki standar pelayanan yang baik. Harganya kemudian turun dengan menghapus fasilitas sarapan. Banyak hotel-hotel di berbagai daerah, termasuk hotel berbintang yang kemudian bergabung dengan jaringan RedDoorz atau RedDoorz Premium dan berganti nama.

bangunan bentuk joglo di lantai 2

perhatikan ubin dan tempat sampah antiknya

Meja jati sebesar ini pohonnya sebesar apa ya?

kursi berbentuk perahu dari Cirebon

koleksi barang-barang antik dari berbagai tempat. Dari piringan hitam, radio, dll

 

Kebetulan saat memesan penginapan ini, liburan lebaran dan libur sekolah sudah usai sehingga saya mendapat harga yang sangat sangat murah. Bayangkan saja untuk kamar yang sangat luas, bath tube  air panas, toiletries, TV kabel dan air mineral, penginapan ini hanya mematok harga sekitar Rp. 200 ribuan. Bahkan untuk kamar tertentu anda bisa mendapatkan harga di bawah di bawah RP. 100 ribu dengan fasilitas yang tidak jauh berbeda. Sebagai informasi, harga penginapan jaringan RedDoorz berubah setiap harinya tergantung apakah musim liburan atau tidak.

Tempat ini sangat cocok untuk bekerja atau beristirahat tapi tidak cocok untuk anda yang suka keramaian.

menikmati cemilan sambil mengejar deadline skenario Lenong Legenda episode Joko Kendil

Terletak di belakang Setia Budi Regency, penginapan empat lantai ini juga dekat dengan Lembang. Udara yang sejuk dan pemandangan alam pegunungan menjadi keunggulan penginapan tersendiri. Anda bisa naik ke lantai teratas untuk menikmati pemandangan sekitar.

Kekurangannya tempat ini adalah letaknya sedikit agak ke dalam kompleks sehingga mungkin agak sulit ditemukan. Penginapan terdekat yang juga mirip bernama RedDoorz Kampung Gajah membuat keduanya sering tertukar. Saya sendiri sempat salah penginapan. Sebagai patokan, jika anda bertanya pada penduduk sekitar, tanyakan saja penginapan di belakang Villa Rosan.

Selain lokasinya yang tidak tepat berada di jalan raya, di sini juga tidak terlalu banyak pilihan makanan. Memang ada restoran di dalam dan di luar penginapan serta cafe.  Tapi jika anda datang dari luar kota,  anda tentunya menikmati street food atau makanan jajanan khas Bandung yang otentik.

Ini beberapa makanan enak di sekitar Pesantren Darut Tauhid, Bandung

favorit dari zaman kuliah. Cireng bumbu kacang yang banyak dijual sekitar kampus UPI. Makannya tambah enak karena udara dingin dan kenangan manis. halah. 😀

Karena itu saya sarankan agar anda membeli makanan dulu sebelum masuk ke penginapan ini. Saya pribadi kemudian ke kawasan kuliner di Geger Kalong dekat Daarut Tauhid atau pergi ke sekitar kampus UPI di mana masih banyak makanan yang enak dan super murah. Bahkan cafe dekat fakultas tehnik UPI pun tergolong sangat murah. Anda hanya menghabiskan beberapa puluh ribu untuk dua kali makan. Mungkin karena daerahnya dekat kampus sehingga standar makanannya ala mahasiswa. Rasanya enak dan tempatnya pun nyaman.

Hal lain yang mungkin perlu perhatian adalah selimut yang mungkin kurang tebal. Ini tentu subjektif. Tapi bagi saya yang terbiasa dengan suhu Jakarta sekitar 30 derajat celcius, tiba-tiba sejak sore, apalagi malam turun jadi 17 derajat langsung membuat menggigil. Ada baiknya anda membawa jaket tambahan.

Apakah saya merekomendasikan penginapan ini? Ya, kemungkinan besar jika saya ke Bandung lagi saya akan memesan penginapan ini kembali.

Mampir ke kampus bertemu kakak kelas yang kini sudah menjadi dosen.

Ke dojo kembali setelah 15 tahun lebih tidak latihan

foto usai latihan dan ganti seragam

Sebelum pulang saya menyempatkan diri pergi ke Farm House Lembang yang cukup identik dengan tiruan Lord Of The Ring. Sayangnya beberapa bagian sepertinya sudah  cukup lama. Rumah Hobbit yang digadang-gadang mirip itu hanya berupa satu sudut di tempat wisata yang tidak begitu hijau sehingga tidak mirip dengan New Zealand.

Paket masuknya adalah Rp. 45.000 sudah termasuk mendapatkan segelas susu dalam kemasan. Ketika Anda masuk, akan ada seorang fotografer yang stand by dan memotret beberapa kali. Saya harus ingatkan bahwa ini bukan fasilitas gratis. Nantinya anda harus membayar Rp. 50.000 untuk mencetak foto ukuran 3R beserta file-file foto lainnya.

Difoto oleh fotografer malah merem dan blur

Sejujurnya hasilnya belum tentu sesuai dengan keinginan anda. Foto-foto yang saya ambil lewat kamera ponsel dengan meminta tolong wisatawan lain malah hasilnya lebih bagus. Tapi bisa jadi itu hanya kebetulan. Jika anda tidak mau membayar untuk foto-foto oleh fotografernya, anda bisa melewatkan bagian ini. Beberapa tempat lainnya pun memiliki tiket sendiri-sendiri. Belum lagi jika anda ingin menyewa pakaian eropa dan berfoto dengannya. Anda bisa menghabiskan beberapa ratus ribu rupiah per orang.

Rumah Hobbit. Ada pula lorong sepanjang sekitar 20 meter yang berisi bagian dalam rumah hobbit.

 

 

Saya agak kecewa karena tempat wisata ini ternyata sangat kecil. Area memberi makan binatang, berfoto dengan kambing, burung, hewan melata hanya dipisahkan pagar namun memiliki tiket terpisah. Layaknya ruang tamu dan teras atau mungkin ruang tamu dan ruang makan.

Menurut saya pribadi, tempat ini lebih cocok bagi orang yang suka difoto dengan aneka latar belakang untuk instagram. Tapi untuk saya yang terbiasa mengeksplorasi alam yang luas, membayar 95 ribu rupiah lalu dihadapkan pada tempat yang bisa dikelilingi dalam waktu setengah rasanya tidak cukup sepadan. Saya bahkan sampai bolak-balik dan sengaja santai di beberapa tempat supaya tidak langsung keluar. Hasilnya, saya akhirnya butuh waktu 1,5 jam lalu benar-benar tidak bisa menahan kebosanan saya.

 

Jika anda bersama anak-anak dan ingin menghabiskan waktu untuk memberi makan kambing dengan latar belakang musik country, berfoto bersama iguana, burung, atau berpura-pura pernah ke Eropa dengan menyewa pakaian ala Belanda dan berfoto dengan latar belakang kincir angin kecil, tempat ini mungkin cocok. Terlebih tempat ini memiliki keunggulan tempat parkir yang luas sehingga anda bisa mampir dalam perjalanan. Namun untuk orang yang lebih suka menikmati alam, tempat artifisial semacam ini kemungkinan tidak cukup memberikan banyak kepuasan.

 

 

 

Dipublikasi di INFO, REVIEW, SERI PERJALANAN | Tag , , , , , , , , , , | Meninggalkan komentar

Edisi Sok Idealis. Kenapa Saya Tidak Menyukai Sistem Penilaian Lomba Hanya Berdasarkan Voting.


Halo, Pembaca.

Kalau anda jeli, anda akan melihat bahwa saya sempat menghapus postingan saya sebelumnya yang berisi link naskah novel yang saya ikutkan lomba nasional salah satu aplikasi di Indonesia. Walaupun akhirnya postingan tersebut saya tampilkan kembali dengan editan info terkini.

Jadi ceritanya, setelah membaca naskah-naskah yang terpampang yang membuat saya merasa agak aneh, mengkonfirmasi ulang sistem penilaiannya kepada panitia, saya lalu mengajukan permohonan agar seluruh naskah saya dihapus dari aplikasi sebagai tanda pengunduran diri saya sebagai peserta lomba. Sayangnya, hal itu tidak bisa dilakukan karena melanggar mekanisme yang ada.

Agar tidak terjadi salah paham, ada baiknya saya ceritakan dulu apa yang membuat saya tertarik ikut sebuah lomba atau seleksi: tantangan dan pengembangan karya.

Tentu saja saya maklum dalam banyak lomba juga ada penilaian berdasarkan voting atau ‘like’ pembaca. Toh saya juga bukan satu dua kali menjadi panitia lomba nasional. Tahu bahwa hal tersebut akan membantu pemasarannya di masa mendatang.

Selama ini yang saya tahu, ketika ada sebuah lomba dengan mekanisme voting atau like, maka ada penyaring pertama berdasarkan kualitas karya. Misalnya penulisan yang sesuai PUEBI, tidak bertentangan dengan SARA, tidak memakai kata-kata yang menjurus pada pornografi, cerita yang tidak klise, atau ide dan cara penulisan yang unik. Dari seleksi awal ini barulah akan ada pemenang favorit berdasarkan jumlah like atau vote. Sistem seperti ini menurut saya cukup adil.

Tapi ketika ‘vote’ atau ‘like’ tersebut menjadi  satu-satunya faktor penentu tanpa adanya juri dari sastrawan atau pakar yang mumpuni, di situlah idealisme saya terganggu. Membuat kredibilitas lomba itu anjlok di mata saya.

Ketika popularitas lebih diutamakan daripada kualitas, saya memilih untuk mundur.  Betapa pun hadiahnya cukup besar.

Kenapa?

Karena itu seperti mengkhianati diri saya sendiri.  Menurunkan standard kualitas yang saya jaga. Seolah-olah menghapus kerja keras saya selama bertahun-tahun.

Bukan berarti karya saya sempurna.  Tapi pembaca setia blog ini pasti tahu bahwa saya sangat pemilih dan punya standard kelayakan saya sendiri. Dua novel saya yang terbit di penerbit mayor, “Musim Semi Di Wyoming” dan “L.A. The Detective” yang “hanya” 400 halaman sesungguhnya adalah saringan naskah yang saya tulis dari kelas 3 SMP sampai kuliah. Tebal naskah aslinya mencapai 11 cm dan ditulis tangan kecil-kecil di buku tulis yang bisa mencapai ribuan halaman.  Saya tidak menyesal menghabiskan waktu bertahun-tahun untuk riset demi kualitas karya yang saya hasilkan.

Begitu juga ketika saya bersusah payah mengirimkan persyaratan naskah cetak seberat 5 kilogram ke Singapura dalam lomba novel 5 negara. Bahkan saya belum bisa menulis review buku untuk blog ini karena buku yang akan ulas berjumlah 1000 halaman lebih dan saya baru membaca setengahnya.

Bagaimana mungkin saya menukar itu semua dengan mengikuti lomba untuk sekedar  dapat hadiah?

Anda mungkin akan menuduh saya mengajukan pengunduran diri karena saya takut kalah. Padahal masih ada waktu sekitar 3 bulan sampai lomba ini benar-benar berakhir. Waktu yang cukup panjang untuk “berjuang” meminta vote sana-sini supaya berkesempatan menjadi pemenang. Tapi kenapa tidak saya lakukan? Kenapa menyerah sebelum bertanding?

Saya harus katakan pada anda, saya memang sudah kalah dari awal karena tidak mengerti ketentuan lombanya secara menyeluruh. Mengira tidak adanya nama-nama juri yang tertera hanya demi kerahasiaan dan bukan karena tidak ada. Menyangka bahwa mekanisme yang dimaksud di awal adalah para juri independen dari kalangan sastrawan. Tidak pernah sekalipun saya promosi di media sosial kecuali sekali di blog ini.  Itu pun karena saya memang ingin berbagi sehingga 4 naskah perjalanan saya yang bukan buat lomba pun saya bagikan juga secara cuma-cuma.

Arti pemenang dalam hal ini menjadi sangat berbeda. Biarlah saya kalah dan mundur. Sebab saya memilih untuk memenangkan apa yang selama ini saya jaga dengan susah payah: kualitas.

Sampai saat ini belum pernah sekali pun saya memenangkan lomba tingkat nasional. Paling jauh hanya sampai finalis. Tapi kekalahan bagi orang lain bisa jadi kemenangan bagi diri saya pribadi karena kredibilitas lomba atau seleksi yang saya ikuti.

Ketika saya hanya masuk 50 besar lomba esai nasional yang diadakan salah satu Kementerian, saya tetap senang karena…, hei, peserta yang mengirimkan naskahnya mencapai seribu lebih dengan juri-juri yang terdiri dari para pakar yang diakui keahliannya.

Ketika saya gagal dalam seleksi penulis ke Skandinavia, saya tetap bangga karena saya bersaing dengan 600 lebih para penulis andal dari seluruh dunia.  Ketika naskah saya dikritik, bahkan ada yang meminta saya mengulang 50 halaman novel saya dari awal, saya tidak keberatan dan melakukan hal itu. Sebab yang mengkritik adalah para sastrawan sekelas Ahmad Tohari,  Abidah El Khailaqy, Agus R Sarjono, Triyanto Triwikromo dalam workshop Majelis Sastra Asia Tenggara. Sebuah acara bergengsi yang menghadirkan pemateri sekelas Seno Gumira Ajidarma dan para sastrawan dari mancanegara.

Sampai sekarang saya menganggap diri saya pemula. Total belasan buku yang saya tulis hanya saya anggap karya utuh jika memakai nama saya sendiri di penerbit mayor. Karena itu saya tidak menghitung buku best seller bersama Asma Nadia, Boim Lebon, atau HTR karena bentuknya antologi atau cerita bersama.

Jika ada yang menganggap saya belagu, saya tidak peduli. Selama ini pun, saya hanya mengikuti lomba atau seleksi yang saya anggap menarik.

Saat saya mengulas sebuah buku, tempat atau makanan juga saya lakukan karena saya suka.  Bukan karena pesanan penerbit atau pihak tertentu.

Jadi bagaimana kelanjutannya? Tidak ada.

Karena saya tidak bisa mundur maka saya biarkan saja mekanisme yang ada. Saya tidak peduli siapa yang menang. Saya tidak tergerak untuk posting apapun di media sosial atau memohon kepada teman-teman saya demi sebuah vote.  Saya akan sengaja membiarkan diri saya kalah dengan sendirinya hingga periode lomba berakhir dan naskah tersebut bisa saya tarik dari peredaran.

Saya hanya akan move on ke karya-karya saya berikutnya. Mendoakan sungguh-sungguh agar terjadi perbaikan mekanisme penyelenggaraan lomba mana pun. Menghargai kerja keras para panitia yang pastinya tidak mudah. Menghormati upaya mereka menjaring penulis-penulis baru. Sambil tetap berada di jalur idealisme saya pribadi dan meyakini bahwa pasti ada hikmah atas semua yang terjadi.

Mungkin ada orang yang mengikuti satu lomba semata-mata hanya karena hadiah. Saya akui itu cukup menarik. Hanya saja dalam hal ini saya memilih untuk tidak menggadaikan apa yang sudah saya bangun di balik sebuah nama pena.

 

Dipublikasi di CATATAN KECIL, INFO, KEPENULISAN | Tag , , , , , , , , , , | Meninggalkan komentar

NOVEL BARU. SEKUEL ATAU REBOOT? PENGALAMAN PERTAMA IKUT LOMBA NEXT TOP WRITER


Halo, Pembaca.

Masih ingat dengan novel saya yang ini?

cover LATD

Pertama kali diterbitkan dalam versi yang lebih tipis berjudul Musim Semi di Wyoming, novel ini menjadi salah satu novel filmis pertama di Indonesia. Bukunya sempat dijadikan bahan skripsi mahasiswa/i karena tema dan cara penyajiannya yang berbeda. Novel ini bahkan sempat disangka terbitan luar negeri dan dipajang sejajar dengan seri Sherlock Holmes di toko buku terbesar di Indonesia.  Malah di awal-awal, ada yang menuduh saya hanya menerjemahkannya dan bukan penulis aslinya.

Jahat. 😥

Mungkin karena saya masih penulis pemula, dan memang baru menulis sebuah novel saja. Barulah ketika novel ini dicetak ulang dalam versi yang berbeda, tuduhan itu berhenti dengan sendirinya.

Sekarang, versi cetaknya sudah sulit ditemui di pasaran. Pemesanan via penerbitnya pun sudah tidak ada karena stoknya habis.

Namun rupanya, tidak semua pembaca puas dengan ending yang saya buat. Saya menerima protes dan pertanyaan pembaca kenapa ceritanya berakhir demikian. Kenapa begini dan begitu. Malah ada yang meminta saya menulis ulang ceritanya. Plus, saya pun ternyata masih belum bisa sepenuhnya move on dari karakter yang saya ciptakan.

Alhasil saya membuat alternatif ending. Mulanya hanya beberapa lembar. Lalu keterusan, dan akhirnya mencapai 180 halaman. Waks. >_<

Saya yang tadinya berencana menulis novel baru bertema sejarah akhirnya beralih menyelesaikan LATD 2 yang merupakan ‘reboot‘ dari versi sebelumnya. Kalau LATD 1 penuh aksi laga dan baku tembak ala kepolisian, maka LATD 2 merupakan corporate thriller yang lebih soft dan menggambarkan sisi lain karakter tokoh Larry sebagai pengusaha.  Tapi jangan khawatir, sebagai penggemar film action, saya tidak meninggalkan kesan filmis dan aksi dalam naskah ini. Anda juga bisa bernostalgia dengan para tokohnya dan mengenal karakter baru yang ada dalam cerita ini.

Bagi anda yang belum sempat membaca buku pertamanya, novel ini tetap bisa dinikmati karena saya membuat setiap babnya sesuai urutan kejadian pada buku 1 tanpa mengulang naskah yang sudah terbit sebelumnya.

Oh ya, saya telah mengubah judulnya menjadi ‘The Writer And The Detective’ dan berikut adalah covernya:

cover canva LATD 2

Kabar gembiranya, LATD 2 ini bisa anda baca secara GRATIS!

Yup, anda tidak salah baca. Saya membagikan novel ini secara gratis melalui link: wap.novelme.com dan pilih kategori ‘Action’ lalu pilih judul di atas untuk dibaca. Anda juga bisa melakukan vote kalau memang suka.  Kalau tidak suka atau menurut anda butuh perbaikan, silakan komen di blog ini.  Jika ingin lebih praktis, silakan unduh aplikasinya di App Store atau Play Store dan lakukan hal yang sama.

Pada akhirnya keputusan untuk membagikan naskah ini saya ambil. Versi editnya sendiri baru saya selesaikan beberapa hari lalu. Masih gres banget, kan? Hanya saja, sebelum saya mengikutsertakan naskah saya, kebetulan, saya sedang menerjemahkan LATD 1 dan 2 ke bahasa Inggris dan berencana menerbitkannya di Amazon Kindle untuk teman-teman saya di luar negeri. Jadi, saya pikir, tak ada salahnya menerbitkan versi bahasa Indonesianya sekarang.

Untuk yang kenal dengan saya pasti heran, kok tumben saya ikut lomba via aplikasi. Jadi ceritanya, saya sangat cerewet, saya japri panitia apakah penilaiannya hanya berdasarkan voting saja, dan mendapat info awal kalau ada voting dan mekanisme sehingga semua naskah yang berkualitas mendapat kesempatan yang sama.  Karena saya berharap naskah saya dibaca para juri independen dari kalangan sastrawan dan mendapat masukan perbaikan, saya pun mengirimkan naskah ini.

Bagi anda yang ingin mendapat kesempatan istimewa membaca naskah ini lebih dulu, anda bisa membacanya secara offline dengan menyimpan ceritanya di rak melalui link berikut ini: https://wap.novelme.com/novelWap/1678

Jadi tunggu apa lagi? Silakan klik tautan di atas, dan tuntaskan rasa penasaran anda sekarang juga.

Selamat membaca. 🙂

 

 

***

UP DATE PER 3 JULI 2019

Meskipun lomba ini masih akan berlangsung sampai September, karena saya mendapat informasi terkini bahwa penilaian lomba ini semata-mata berdasarkan voting saja, bukan dewan juri independen, maka saya mengundurkan diri sebagai peserta dan meminta agar karya-karya saya dihapus dari aplikasi.

Sayangnya ternyata naskah-naskah yang sudah diposting hanya dapat dihapus oleh admin, dan peserta tidak bisa mengundurkan diri.  😥

 

 

 

 

 

 

 

Dipublikasi di INFO, KEPENULISAN | Tag , , , , , , , , , , | Meninggalkan komentar

DI BALIK LAYAR, SKENARIO LENONG LEGENDA


Beberapa waktu yang lalu di akun Instagram, https://www.instagram.com/p/BvRwgjrF-7-/ saya memposting video skenario seperti ini:

Sebenarnya hal ini tidak hanya terjadi untuk skenario tapi juga penulis secara umum.

Bicara tentang skenario, ada beberapa hal yang kerap ditanyakan pada saya. Berhubung skenario saya belum banyak, maka saya akan mengkhususkan diri menuliskan keterlibatan saya dalam tim penulis skenario Lenong Legenda MNC TV.  Semoga apa yang saya tuliskan di sini bisa membantu anda memberikan gambaran yang lebih utuh.  Saya juga akan menambahkan beberapa tips penulisan yang mungkin berguna.  Baca lebih lanjut

Dipublikasi di KEPENULISAN | Tag , , , , , , , , | 3 Komentar

REVIEW SINGKAT E-BOOK MATSUYAMA THEORY


matsuyama-theory-book-

 

Kali ini saya akan mengulas e-book berjudul ‘Matsuyama Theory‘. Buku ini tipis, hanya tersedia dalam bahasa Inggris, dilengkapi dengan ilustrasi dan foto yang membuatnya lebih cocok disebut sebagai artikel panjang.

Matsuyama Theory merupakan hasil wawancara Jesse Enkamp terhadap sejarawan Patrick Mc Carthy tentang sejarah karate.

Jauh sebelum nama karate dibuat, sekitar abad 14, saat Okinawa yang menjadi tempat kelahiran karate masih di bawah kerajaan Rukyu. Di mana orang-orang dari negeri Fujian bermigrasi dan beradaptasi dengan penduduk lokal, mengajarkan jurus-jurus yang kelak dikenal sebagai ‘Kata’ dan memiliki kemiripan dengan Quanfa (kungfu, kempo), jauh sebelum pelarangan membawa senjata diberlakukan, sehingga awalnya karate menggunakan huruf kanji yang berbeda dengan yang digunakan sekarang.

Ketika membaca buku ini, saya baru paham aliran karate yang dulu saya pelajari.

Saat SMA, saya belajar aliran Shotokan. Dengan kuda-kuda rendah dan panjang, umumnya diajarkan untuk sport atau pertandingan sehingga pukulannya full control, tidak sampai melukai lawan.

Karena saya merasa bersalah kalau melukai orang lain, di sekolah, saya lebih banyak mempelajari ‘Kata’ (jurus) dibanding Kumite (perkelahian satu lawan satu). Favorit saya adalah ‘Unsu’. Kata tingkat lanjut dengan gerakan rumit tendangan 360° yang tampak keren. Cocoklah untuk orang yang suka pamer macam saya. Hahaha.

Versi lain Kata ini adalah Unshu.

Saat di kampus saya belajar aliran Kushin Ryu (gabungan dari Konshin ryu dan Goju ryu).

Pertama kali saya datang ke dojo di kampus, saya sadar aliran yang akan saya pelajari berbeda sehingga saya mengenakan sabuk putih. Meski kemudian, pelatih kami,  Pak Asep (beliau menolak dipanggil Sensei, saat itu karateka Dan 8) tahu bahwa saya sudah belajar karate bertahun-tahun sebelumnya sehingga saya diminta mengenakan sabuk saya yang biasa, bahkan boleh ikut ujian penurunan kyu jika mau.

Aliran karate yang saya pelajari di kampus lebih dekat dengan karate tradisional Okinawa. Kuda-kuda yang diajarkan cenderung lebih natural, diajarkan juga untuk tentara dan polisi sehingga pukulannya full contact, dilengkapi dengan jujutsu, bunkai (aplikasi ‘Kata’ dalam perkelahian), bela diri jalanan yang ‘tanpa aturan’ hingga penggunaan senjata tertentu.

Karena saya belajar bahasa Jepang, saya tentu tahu bahwa kanji ‘karate’ artinya ‘tangan kosong’. Jadi di awal, saya pikir ini karate yang ‘salah’. Meski tentu saja, saya dengan senang hati mempelajarinya karena toh, dalam beberapa kesempatan, hal itu terbukti berguna.

Membaca Matsuyama Theory seolah menarik garis penghubung antara seni bela diri satu dengan yang lainnya. Membenarkan salah satu pelatih saya dulu yang mengatakan pada awalnya prinsip semua bela diri itu sama.

Dulu saya pikir, Kata dan Kumite adalah 2 spektrum yang berlawanan. Ketika saya membaca buku ini, serta menonton video para master Karate di Okinawa, saya baru paham bahwa Kata justru digunakan untuk pertarungan. Itulah sebabnya dalam pertandingan Kata beregu di World Karate Federation (WKF) ada penilaian untuk aplikasinya.

Untuk versi modern, saya menyarankan anda melakukan pencarian di youtube dengan kata kunci misalnya: team kata male female unsu WKF.

Karate yang ‘asli’, yang secara tradisional diajarkan di Okinawa hingga sekarang sejatinya juga mengajarkan kobudo atau seni bela diri dengan senjata. Membuat saya teringat pelatih saya di kampus yang pernah mengajarkan bela diri dengan tongkat. Di Okinawa, baju karate tidak harus berwarna putih.

Singkat kata, membaca buku ini membuat saya merasa tidak tahu apa-apa. Saya lebih pantas menyandang kembali sabuk putih. Meski sekarang saya tidak begitu peduli dengan warna sabuk atau jumlah kyu yang saya miliki. Karena yang lebih penting adalah kerendahan hati untuk mau terus belajar. Dalam hal ini, saya setuju dengan Jesse Enkamp dalam salah satu videonya: We put to much pride and ego in our belt we wear.

 

Dipublikasi di INFO, KEPENULISAN, REVIEW | Tag , , , | Meninggalkan komentar