Di Balik Layar Pelatihan Skenario FLP


Semuanya dimulai tahun lalu, saat saya diminta mewakili Badan Pengurus Pusat Forum Lingkar Pena (BPP FLP) untuk hadir memenuhi undangan Mas Aditya Gumay. Karena ketua umum FLP berdomisili di Solo, Sekretaris Jenderal FLP di Jogja, Ketua Harian 1 dan 2 masing-masing di Kalimantan dan Bandung, maka pengurus pusat yang ada di Jabodetabek-lah yang mendapat amanat untuk hadir. Kebetulan salah satu tugas divisi bisnis yang saya koordinir adalah kerja sama antar lembaga.

Maka datanglah saya bersama Mbak Sri Widiastuti (sekretaris FLP di bawah koordinasi Sekjen) ke Pusat Perfilman Usmar Ismail. Sejujurnya saat itu kami berdua tidak tahu bahwa acaranya adalah pelatihan skenario. Kami juga tidak tahu bahwa pelatihan itu berkelanjutan setiap minggu selama 1 bulan. Namun tentu saja selain ilmu baru, kami juga sempat membicarakan kemungkinan kerjasama FLP untuk mengadakan pelatihan serupa.

‘Tersesat’ di jalan yang benar. Datang untuk rapat, ternyata pelatihan. 😀

Mas Aditya Gumay sempat memberikan alamat Pusbang Film Kemendikbud dan mengusulkan agar FLP mengajukan sponsor. Maka setelah berkoordinasi dengan Badan Pengurus Harian (BPH), diputuskanlah untuk mencoba ide tersebut.

Kebetulan saat itu ada beberapa tawaran kerjasama dengan FLP yaitu program dana hibah dari Palladium Internasional (Inovasi), dan MoU dengan Kemenhumham. Kami pun berbagi tugas. Karena saya kemudian menjadi PJ pelatihan ini maka saya mundur sebagai tim Kemenkumham.

Sesungguhnya proses kerjasama dengan Pusbang Film hingga terselenggaranya acara ini adalah proses yang sangat panjang. Mulai dari mencari nomor telepon yang bisa dihubungi, berpindah dari satu staf ke staf lain, membuat permohonan audiensi, pengajuan proposal, hingga berbagai koordinasi.

Grup-grup baru pun dibentuk. Berkoordinasi dengan Badan Pengurus Harian, grup koordinasi antar koordinator divisi, grup koordinasi para ketua wilayah, grup koordinasi internal wilayah-wilayah, sampai grup koordinasi para panitia,.

Sosialisasi pelatihan ini dilakukan secara internal dan dibantu oleh Divisi Jaringan Wilayah. Masing-masing ketua wilayah dari teritori Sumatera, Jawa, Kalimantan, Bali, Nusa Tenggara hingga Indonesia Timur mendapat kesempatan yang sama mengajukan wilayahnya untuk diseleksi.

Sementara wilayah menyiapkan proposal pengajuan, divisi bisnis dan BPH melengkapi data-data lain sesuai juknis dari Pusbang Film. Totalnya ada 21 berkas. Dari SK Kemenhumham dan akta notaris FLP hingga rincian anggaran biaya sesuai standard peraturan Kementerian Keuangan terbaru.

Pada akhirnya, setelah berbulan-bulan proses yang panjang, setelah audiensi ke dua, kami mendapatkan persetujuan kerjasama dengan Pusbang Film.

Audiensi ke dua di kantor Pusbang Film setelah semua berkas masuk dan lolos seleksi.

Saya dan Mbak April bersama Mas Billy Antoro (FLP Jakarta yang bekerja di Kemendikubud) usai audiensi. Terima kasih Mas Billy untuk link no HP staf Pusbangnya.

Awalnya ada 8 wilayah yang mengajukan diri namun kemudian wilayah Sumatera Utara mengundurkan diri karena bentrok dengan acara lain. Wilayah NTB batal karena gempa, dan wilayah Jogja juga batal karena menjadi PJ untuk program kerja sama dengan Inovasi.

Pada akhirnya, ditetapkanlah 5 wilayah sebagai tuan rumah. Yaitu Sumatera Selatan, Riau, Jawa Barat, Sumatera Barat dan Maluku.

Pelatihan pertama digelar di tanggal 9 sampai 11 September di hotel Majestic Palembang. Hanya berselang beberapa hari sejak penutupan Asian Games. Sedikit banyak hal ini berpengaruh pada ketersediaan hotel, sponsor dan peserta.
Dengan waktu persiapan yang sangat singkat, terlepas dari beberapa kendala teknis, alhamdulillah latihan perdana latihan di Palembang berjalan dengan lancar.

Hanya dalam waktu kurang 3 hari, para peserta yang tadinya tidak tahu apapun tentang skenario berhasil membuat skenario film pendek seusai pelatihan ini. Testimoni-testimoni yang masuk dalam grup whatsApp setidaknya membuktikan bahwa pelatihan ini sangat bermanfaat. Bagaimana tidak? Dengan harga yang cukup terjangkau para peserta belajar langsung dari ahlinya, seseorang yang telah puluhan tahun bergelut di bidang film dan menghasilkan karya-karya bermutu. Tak heran peserta banyak yang datang dari luar daerah. Sebab mereka tahu bahwa ini adalah investasi seumur hidup yang sangat layak untuk diikuti. Jauh lebih murah dibanding mereka datang ke Jakarta untuk mengikuti pelatihan ini.

Dalam pelatihan ini para peserta benar-benar belajar dari dasar. Dari premis, sinopsis, sampai menjadi skenario utuh. Skenario setiap kelompok juga langsung dibahas bersama oleh pembicara dan seluruh peserta serta diberikan penilaian. Beberapa film pendek juga diputar sebagai contoh.

Berikut adalah foto-foto kegiatan di Palembang.

Pembicara pelatihan. Mas Aditya Gumay dan Marsa Moesa

Jalan-jalan mencari ide cerita di tempat bersejarah

Kapan lagi bisa dibimbing detail secara langsung begini?

Setiap kelompok dibimbing langsung secara bergantian oleh Mas Aditya Gumay dan Marsa Moesa.

Liputan kegiatan acara pelatihan di koran Palembang Ekspres

Pelatihan selanjutnya diadakan di Riau tanggal 14 sampai 16 September di hotel Drego, Pekanbaru. Kalau pelatihan di Palembang diikuti oleh 32 peserta, termasuk dari Jogjakarta. Maka pelatihan di Pekanbaru di ikuti oleh 42 orang dari berbagai latar belakang. Dari guru, pelajar, pembuat film bahkan mahasiswa Al-Azhar Mesir yang datang jauh-jauh demi menjadi peserta pelatihan ini.

Week end getaway. Karena saya datang sehari sebelumnya ke Riau untuk koordinasi, maka panitia berbaik hati mengajak saya mengunjungi masjid yang mirip Taj Mahal ini.

Anjungan Seni Idrus Tintin (ASIT) berada di kompleks Ali Haji, penulis Gurindam 12. Omong-omong, ini foto snapshot, itu saya bukan lagi gaya, tapi kepanasan. 😀

Salam literasi

Perwakilan Dinas Pariwisata Provinsi Riau (berdiri di samping saya, no 2 dari kanan), usai menyematkan ‘tanjak’ atau ikat kepala khas Melayu kepada para pembicara, perwakilan Pusbang Film serta ketua wilayah FLP Riau.

Sebagian goodie bag untuk peserta/panitia, notes dan pin keren.

Suasana pelatihan

Bersama teman sekelompok, Ratna dan Zola dian.

Beginilah jika panitia merangkap peserta. :D. Sementara para peserta masih di dalam, sertifikat yang telah ditanda tangan ketua wilayah dan Mas Aditya Gumay dicap dengan logo FLP.

Karena pesertanya banyak yang guru, maka di balik sertifikat ini tertera angka kredit berdasarkan jumlah jam pelatihan.

Gaya resmi 🙂

Keseruan usai acara penutupan

Dua orang di balik layar. Bersama Kabid apresiasi dan pengarsipan Pusbang Film, Bapak Sanggupri dan ketua wilayah Riau, Alam Terkembang.

Liputan kegiatan acara di koran lokal Riau

Jalan-jalan singkat sebelum berpisah di bandara. Terima kasih ya, semuanya. 🙂

Kesempatan belajar dari ahlinya memang belum tentu datang sekali seumur hidup. Tak heran hal seperti ini sangat dimanfaatkan oleh para peserta. Mereka asyik menulis sampai melewatkan jam-jam makan dan kudapan. Mas Aditya dan Marsa pun dengan penuh dedikasi meladeni setiap pertanyaan. Tidak hanya itu, selesai pelatihan pun para peserta masih dibimbing di grup whatsApp, diskusi mengenai film atau ide-ide cerita langsung oleh Mas Aditya Gumay dan Marsa.

Saya pribadi usai mengikuti pelatihan ini setahun yang lalu, akhirnya tergabung dalam tim Indonesian Scriptwriter Community (ISC) yang digagas Mas Aditya Gumay sendiri. Skenario film pendek teman-teman ISC juga sudah diproduksi.
Kesempatan yang sama juga terbuka untuk para peserta pelatihan dari berbagai wilayah.

Melalui tulisan ini saya sekaligus ingin berterima kasih ke berbagai pihak. Yang pertama kepada teman-teman BPP FLP. Di tengah koordinasi penggalangan dana dan pengiriman relawan ke Lombok serta beberapa agenda nasional lain, teman-teman bekerja dalam diam untuk menyukseskan acara ini.

Terima kasih kepada Pusbang Film beserta seluruh jajarannya atas seluruh dukungannya, khususnya kepada Pak Sangupri dan tim, yang bahkan tetap berkoordinasi teknis di luar jam kerja.

Terima kasih teman-teman panitia wilayah yang tidak tidur nyenyak selama berbulan-bulan demi mempersiapkan acara, terima kasih para peserta yang dengan semangat mengikuti acara ini dan tentunya kepada Mas Aditya Gumay dan Marsa yang dengan tulus hati bersedia membagikan seluruh ilmunya bahkan usai pelatihan ini selesai.

Saya tahu beliau sangat sibuk, namun dengan rendah hatinya masih bersedia membalas chat saya lewat tengah malam, dan langsung berangkat ke bandara beberapa jam setelahnya untuk menjadi pemateri pelatihan. Atas nama BPP FLP dan seluruh panitia wilayah, saya ingin mengatakan: Terima kasih untuk segalanya, Mas Aditya dan Marsa. Kami tidak hanya belajar tentang skenario, tapi jauh lebih banyak dari itu semua. Semoga apa yang mas Adit dan Marsa berikan tercatat sebagai amal jariyah yang pahalanya tidak akan pernah putus selamanya. Aamiin.

Untuk teman-teman yang ingin mengikuti pelatihan ini, jadwal berikutnya insya Allah akan berlangsung di Hotel Lingga, Bandung pada tanggal 2 sampai 4 November 2018. Demi kedalaman materi, tiap wilayah dibatasi hanya 40 orang peserta saja. Jadi segeralah mendaftar. Ada diskon khusus yang sangat lumayan lho untuk anggota FLP. Cukup tunjukkan bukti kartu anggota atau sebutkan Nomer Registrasi Anggota (NRA) kepada panitia pendaftaran wilayah.

Oh ya, karena akun Instagram saya terhapus, seluruh postingan saya hilang, dan saya belum sempat posting ulang di akun yang baru, silakan melihat foto dan video kegiatan yang telah berlangsung di Facebook dan Youtube saya: Nur baiti Hikaru. Saya akan up date info pelatihan ini di akun Instagram saya yang baru: @nurbaiti_hikaru.

Teman-teman juga dapat melihat infonya di akun instagram FLP Pusat: @flpoke atau di Fanpage Facebook: Forum Lingkar Pena.

Setelah Kota Pempek dan Bumi Lancang Kuning, selanjutnya, sampai jumpa di Tanah Pasundan. 😊

Iklan
Dipublikasi di INFO, KEPENULISAN, PENGEMBANGAN DIRI | Tag , , , , , | 2 Komentar

REVIEW SINGKAT FILM WIRO SABLENG


Wiro Sasono, itu nama aslinya

Lahir dari ibu bernama Suci

Dengan ayah yang bernama Raden Ranawolang

Dan dibesarkan oleh seorang guru

Bernama Sinto Weni

Alias Eyang Sinto Gendeng

Atau Sinto, Sinto Gila

 

Wiro Sableng mewarisi sebuah senjata sakti

Berupa kapak

Bermata dua

Berhulu satu

Berkepala naga

Kapak Naga Geni 212 namanya

Senjata pamungkasnya Wiro Sableng

Yang hebat

Yang siap membasmi orang-orang jahat!!

 

Angka 212 memiliki makna didalam kehidupan

Dalam diri manusia terdapat dua unsur ingat duniawi dan Tuhan

Segala yang ada di dalam dunia ini

Terdiri atas dua bagian

Yang berlainan namun merupakan pasangan

Semuanya tak dapat terpisahkan

 

Wiro, Wiro sableng

Sinto, Sinto gendeng

Wiro, Murid sableng

Sinto, Guru gendeng

Muridnya sableng?

Gurunya gendeng?

(Lirik lagu Wiro Sableng)

***

Bisakah anda membaca lirik di atas tanpa menyanyikannya?

poster-wiro-sableng

Poster film Wiro Sableng

Baca lebih lanjut

Dipublikasi di INFO, KEPENULISAN | Tag , , , , , , , , , , , | 5 Komentar

PARODI HUNGER GAMES BAGIAN 10  


  Kenangan Biji Congklak

 

 Eneng baru mau berbalik ketika Kang Nunu melihatnya dan memanggil. “Eneng? Neng Katnis?”

Duh. Bukannya senang. Eneng malah malu dipanggil dengan nama aslinya. Tahu sendiri kan sejarah nama itu cukup memalukan bagi Eneng pribadi? Baca bagian satu lagi deh kalo kagak inget.

Eneng terpaku di tempatnya. Namun tiba-tiba ia teringat kisah kelinci dan kura-kura yang pernah didengarnya diam-diam dari pujaan hatinya. Eneng pun menabahkan diri. Ia mengangguk sopan saat Kang Nunu turun dari beranda ke halaman. Rumah Kang Nunu emang ada beberapa undakan.

“Masuk, atuh. Kenapa berdiri di situ?” tegur Mang Somad dalam dialek Sunda yang kental.

Eneng mengikuti langkah Kang Nunu ke dalam. Kang Nunu mengambil kursi tambahan dari dalam rumah dan mempersilakan Eneng duduk.

“Assalamualaikum Mang, Ceu, Mpok…,” Eneng menyapa para orang tua di situ untuk mengusir salah tingkahnya. Dilihatnya di meja ada banyak barang bermerk. Sepertinya hadiah dari Mpok Sebel. Ada makanan, buah-buahan impor dalam parsel cantik, sarung, baju koko, baju muslim dan jilbab merk ternama. Bahkan ada HP terbaru segala. Ya ampun, Eneng rasanya mau menghilang aja. Malu banget menyampaikan salam emaknya plus rantangan buatan Eneng dibandingkan barang-barang mewah dari Mpok Sebel.

“Waalaikum salam…,” jawab semua hanpir berbarengan.

“Ntu…, barang jualan, Mpok?” Eneng dengan lagak sok polos menunjuk barang-barang di atas meja. Sekedar memastikan aja.

Mpok Sebel tampak tersinggung. “Ya kagaklah, Neng. Ini hadiah dari Mpok buat menyambung silaturahim. Pan kata ustadz tempoh hari. Kita baeknye saling memberi hadiah biar mempererat persodaraan. Bukan begitu Kang Nunu?”

Yang ditanya hanya senyum sambil mengangguk-angguk.

Mpok Sebel mengambil ponsel di atas meja. “Ini Mpok kasih, biar si Nunu gampang dihubungi. Jadi ortunya kalo kangen pan tinggal telepon ye, Ceu?” Belum lagi mendapat jawaban, Mpok Sebel sudah berkata lagi. “Ini keluaran terbaru. HP stereoid*27) permen loli *28) yang lebih baru daripada es krim*29) dan bisa buat selpih*30)  lho.”

Eneng cuma senyum aja.  Tuh, sekarang ngerti kan kenapa Eneng menamakan orang di hadapannya dengan Mpok Sebel?*31)

“Omong-omong, lu bawa apa, Neng?” Mpok Sebel melirik rantang yang dibawa Eneng. Eneng terperanjat. Malu hati. Namun demi amanat emak untuk menyampaikan salamnya, Eneng pun memberanikan diri.

“Oh, eh, ini ada salam dari Emak buat Mang Somad, Eceu dan Kang Nunu. Eneng memperlihatkan isi rantangnya. Ada nasi, tempe dan tahu goreng, sayur asem, ikan asin, lalapan sama sambel terasi. Lalapannya selada segar, mentimun sama jengkol goreng. Semua masakan tadi sudah direkomendasikan oleh Dito sebagai makanan wajib coba. Cuma Eneng masih rada gak percaya. Karena bagi Dito. Makanan itu hanya ada dua. Enak sama enak banget. Dikasih apa aja dia doyan.

“Wah, alhamdulillah. Salamin ke emak lu ye Neng. Makasih banget kirimannya. Ceu Popon, ibunya Kang Nunu terdengar gembira. “Omong-omong, siape yang masak, Neng?”

 

“Aye, Ceu. Tapi…, kalo rasanya kagak enak, maap aje ye? Maklum, aye pan baru belajar.” Kata Eneng berbasa-basi.

“Ah, kalo Emak lu yang ngajarin, pasti enaklah. Eh, ini rantangnya mau dibawa sekalian?”

________________________________

27)    Android maksudnya

28)     versi Lolipop

29)   versi Ice Cream

30)   Selfie

31)   Kan udah dibilangin di awal kalo warga Kampung Dodol itu norak. Gak percaya, sih.

________________________________

“Gak usah, Ceu. Kapan-kapan aje deh. Aye pamit duluan. Kasian Emak kagak ade yang bantuin di warung.” Eneng memberi alasan. Sebenarnya, Eneng gak betah di sana selama ada Mpok Sebel dan anaknya.

Eneng pun buru-buru pamit.

 

*      *      *

 

Di rumah, Eneng ngelamun di halaman belakang. Ngeliatin bekas-bekas congklak tanah yang dulu dibuatin Kang Nunu. Eneng inget ngumpulin batu sebagai biji congklaknya sementara Nunu membuat lubang congklaknya.

Inget kejadian tadi, Eneng jadi sedih. Harapannya untuk mendapatkan Kang Nunu rasanya sulit diraih. Padahal, Eneng gak minta yang macam-macam kok. Eneng gak berharap seorang pangeran berkuda putih atau konglomerat bermobil mercy. Eneng hanya pengin ada seseorang yang cukup jantan untuk datang kepadanya dan bilang, “Maukah kamu menjadi ibu dari anak-anak kita kelak?”

Tuh, sederhana aja kan harapan Eneng?

Eneng yang tengah larut dalam kenangan biji congklak mendadak kaget saat orang yang dipikirkannya ada di hadapannya, hanya berjarak sepuluh meter, dengan Emak di belakangnya yang mengomel. “Neng, ngapain sih lu di situ? Ada tamu juga. Tuh, Mang Somad sekeluarga datang mau balikin rantang.”

“Hah? Balikin rantang aja sampe sekeluarga, Mak?” Eneng bertanya. Tapi pertanyaan itu sebenarnya ditujukan untuk Kang Nunu yang tampak salah tingkah.

“Ng…, ini Neng. Sebenarnya… ng…, Eneng  mau dibuatin congklak lagi?”

Ni orang kesambet, apa?

Eneng bingung mendengar pertanyaan Kang Nunu.

Emak tertawa. “Nu, Mang Somad sekeluarga datang mau ngelamar elu buat si  Nunu. Lu mau kagak? Emak nyuruh Nunu tanya langsung ke elu.”

Hah?

“Ah, elu mak hah heh hoh aja,” emak kembali sewot. “Si Nunu mau ngelamar elu sebelum dia balik ke pesantren. Dia pan udah lulus, jadi balik ke pesantren ngajar adek-adek kelasnya. Soalnya elu kan anak emak yang paling cakep.”

Jelas aja, lah, Eneng anak emak satu-satunya.

“Soalnya lu anak yang sopan dan berbakti. Pantes ngedampingin santri mah,” tambah Emak lagi. Ini siapa ngelamar siapa sih? Kok jadi emak yang muji-muji Eneng?

Eneng masih kaget. Padahal baru beberapa saat lalu Eneng mikir kalo dirinya gak berharga. Walaupun Eneng juga mikir, kalo anaknya Mpok Sebel juga kurang cocok bersanding dengan Kang Nunu.

“Ng…, Eneng… mau dibuatin congklak di rumah baru kita nanti? Kalo Eneng bersedia ikut sebagai istri….” kalimat Nunu terputus.

Tapi meski kalimatnya nggak selesai, Eneng paham maksudnya. Meskipun permintaan lamarannya sama sekali gak romantis dan konyol, Eneng merasa terharu, bersyukur, bahagia, sampai gak bisa berkata-kata. Namun dengan matanya yang mulai kabur karena tangis bahagia, Eneng mengangguk.

Eneng merasa bahagia. Bahagia sekali. Jauh lebih bahagia daripada saat debut bangunin orang kampung sahur di bulan puasa dulu.

Sumpah deh.

*      *      *

 

 

Dipublikasi di KEPENULISAN | Tag , | Meninggalkan komentar

PARODI HUNGER GAMES BAGIAN 9


      Misi on Mpok Sebel

 

Eneng harus hati-hati. Karena ternyata yang kesengsem sama Kang Nunu bukan hanya Eneng seorang. Mpok Isabel yang paling kaya di Kampung Dodol juga jelas-jelas bilang ke emak kalo dirinya pengin menjadikan Kang Nunu sebagai calon mantu buat anaknya. Soalnya anaknya Mpok Isabel dianggap dah kayak cacaing kepanasan kalo liat cowok ganteng. Meskipun Kang Nunu tidak termasuk kategori ganteng bagi Mpok Isabel, keinginannya punya mantu soleh yang bisa jadi imam keluarga dan memperbaiki anaknya yang kegatelan membuatnya berharap banyak.

Gak ada yang salah dengan keinginan Mpok Isabel. Namanya juga orang tua, pasti pengin yang terbaik untuk anaknya. Namun berhubung Eneng menganggapnya saingan, jadilah ia menyebut Mpok Isabel dengan Mpok Sebel.

Rupanya Mpok Sebel sudah melakukan pendekatan langsung ke Mang Somad. Mana pake nyogok bawain macam-macam barang mahal, lagi. Ternyata di zaman yang serba modern ini, jumlah orang baik semakin langka dan jadi rebutan ya?

Eneng pun menguatkan hati untuk melakukan tindakan secepatnya. Berbekal restu dari Emak, dukungan sahabat sejati macam Dito, Eneng pun belajar memakai strategi yang udah pernah Emak bilangin. Cinta bisa datang dari perut. Maka Eneng pun belajar memasak jengkol kesukaannya Kang Nunu. Selama masa pembelajaran, Dito bertindak sebagai juri. Ia yang gak ngefans sama jengkol namun juga gak antipati mencicipi masakan Eneng hingga dirasa layak kirim. Eneng juga belajar menyukainya. Emak yang nyuruh. Mana berani Eneng ngebantah emak. Eneng gak mau kualat dan dikutuk jadi batu.

“Lu makan dulu gih, cobain,” kata Emak sambil menyodorkan sepiring kecil jengkol yang baru digoreng. “Temenin Dito makan tuh. Kasian itu bocah nungguin lu masak cuma dapat baunya doang dari tadi.”

“Eneng bantuin cuci piringnya aja deh mak,” Eneng mencoba menawar.

“Udah sono, makan. Suruh makan aja susah bener lu. Gimana kalo disuruh nyangkul?” omel emak lagi.

Yee, emak, masak Eneng mau disuruh mencangkul sih?

Eneng pun terpaksa menemani Dito makan. Dito merem melek sambil mengunyah nasi. Menandakan masakan Eneng enak. Ia mengacungkan jempolnya lalu nambah sambel terasi.

“Enak, Neng,” pujinya sembari makan dengan lahap.

Eneng senyum aja. Ia mencomot sebutir jengkol, memotongnya menjadi seperapat bagian dengan pisau. Memejamkan matanya sebelum memasukkan jengkol itu ke dalam mulutnya bersama nasi.

Eneng gak berani membantah Emak. Eneng juga gak berani bohong. Dengan apa yang dilakukannya barusan, Eneng merasa sudah melakukan perintah emak untuk makan. Eneng juga tidak berbohong kalo ditanya Emak karena ia benar-benar sudah makan jengkol tersebut, walaupun sediki…t.

Ternyata rasanya tidak semengerikan yang diduga Eneng. Hanya sedikit asin dan empuk. Eneng juga ternyata nggak mabok. Eneng selamat.

“Makanan itu rezeki, Neng,” nasehat emak yang tahu-tahu udah ada di depan Eneng. “Lu bersyukur masih bisa makan. Apa yang ada di depan mata, kudu disyukuri.”

“Iye mak,” Eneng merasa nggak enak, dan akhirnya mengambil lagi sisa potongan jengkolnya tadi. Memakannya bersama nasi dan sambal.

“Di dunia ini semua punya arti. Kagak ade yang Allah ciptain sia-sia. Termasuk juga si jengkol ntuh. Istilah orang pinter mah, ada pilokopinya gitu dah.”

“Filosofi kali, mak?” Dito meralat ucapan emak.

“Iya dah, pokoknya ntuh.”

Eneng nyaris tersedak.

Hah? Filosofi jengkol? Sumpe lu?

Untung saja Eneng sadar ia sedang berhadapan dengan emaknya, sehingga ia tidak lantas mengutarakan apa yang ada di pikirannya begitu saja.

“Filosofinya apa, mak?” tanya Eneng penasaran.

“Ng…, ape ye?” Emak tampak berpikir. “Ye, pokoknya, lu kagak ape-ape juga kan makan begituan? Kagak mati kan lu? Lu masih bisa nerima rasanya pan?”

“Rasanya asin aja kok mak. Kan tadi dibumbuin.”

“Asin itu rasa yang bisa diterima semua orang pan?”

Eneng mikir lagi. Betul juga ya?

Ah, ternyata gak perlu kuliah bertahun-tahun untuk belajar filosofi  yang katanya rumit itu. Ternyata Eneng hanya perlu belajar dari emak yang paling tau tentang filosopi jengkol lebih dari siapa pun di dunia.

Eneng jadi makin bangga sama emaknya.

 

*      *      *

Kata emak, sesederhana apa pun masakan seseorang, kalo masaknya dengan hati senang rasanya pasti enak. Maka Eneng pun membayangkan Kang Nunu-nya ketika memasak tadi. Eneng sudah memilih bahan terbaik. Eneng bahkan bela-belain dulu nanem jengkolnya ke dalam tanah beberapa hari kemaren. Konon cara itu berguna untuk mengurangi kadar asamnya. Eneng mah nurut aja apa kata Emak dah.

Sesuai anjuran emak, Eneng pun mengantarkn masakan buatannya ke rumah Kang Nunu. Mumpung Kang Nunu masih di Kampung Dodol. Mumpung liburnya masih tiga hari lagi.

Eneng dengan hati dag dig dug pergi ke rumah Mang Somad sambil menenteng rantang berisi nasi dan lauk pauk buatannya. Eneng juga pake selendang emak yang ia sangkutkan ke kepalanya. Maklumlah, mau ke rumah santri. Eneng ingat betul petuah emak tentang menjaga harga diri perempuan.

Sepanjang jalan, bahkan sepanjang masak tadi, Eneng gak henti-hentinya berdoa semoga Kang Nunu suka masakan buatannya. Walaupun kata Dito dan emak masakannya enak, Eneng belum percaya diri mempersembahkan karyanya untuk Kang Nunu-nya.

Ah, dari teman jadi demen. Eneng senyam-senyum sendiri.

Namun senyum Eneng terhenti saat tiba di rumah Mang Somad. Ada Mpok Sebel dan anaknya di sana. Anak Mpok Sebel sibuk main gadget. Sebentar-sebentar ia memeriksa ponselnya. Mpok Sebel mengobrol dengan Mang Somad, istrinya. Ada Kang Nunu juga di sana menemani para tamunya.

Eneng mendadak salah tingkah. Di depan Mpok Sebel dan anaknya yang terkesan high class. Eneng kelihatan kampungan banget. Eneng nyaris berbalik dan lari. Tiba-tiba merasa rendah diri.

*      *      *

 

Dipublikasi di KEPENULISAN | Tag , | Meninggalkan komentar

PARODI HUNGER GAMES BAGIAN 8


Angker Games

 

 Wak Haji Soleh hanya mengadakan pengajian untuk anak-anak. Karena itu, selepas Eneng khatam quran dulu. Eneng sudah tidak mengaji lagi di Wak Haji. Tapi kali ini, Eneng sengaja bertandang ke rumah beliau. Bilangnya sih, kebetulan lewat sama Nyak Haji. Padahal sih, emang modus karena Eneng tahu ada Kang Nunu yang lagi bantuin Wak Haji ngajarin anak-anak.

Berbeda dengan zaman Eneng kecil dulu. Metode ngajar Kang Nunu  lebih seru. Pake alat peraga segala. Walaupun cuma boneka jari. Tapi jangankan anak-anak, Eneng aja seneng dengerin ceritanya Kang Nunu. Nyak Haji yang sibuk di dalam membiarkan aja Eneng duduk di balik pintu dan diam-diam dengerin Kang Nunu mendongeng.

“Ayo, siapa yang pernah denger dongeng kelinci dan kura-kura?” tanya Kang Nunu pada anak-anak.

Semua mengacungkan tangan sambil berteriak “Saya, saya, saya.”  Hampir saja Eneng ikutan teriak kalao nggak buru-buru ingat dia sedang memata-matai Kang Nunu dalam permainan Angker Games-nya.

Yup, kalau ketauan Wak Haji Eneng punya maksud lain, tentu Eneng malu bukan kepalang. Kalau ternyata Kang Nunu gak suka sama Eneng, Eneng pasti patah hati, karena resiko yang besar itulah, Eneng menganggap misinya ini sangat angker. Lebih angker daripada ke kuburan malam-malam pas jurit malam Pramuka waktu Eneng SD dulu.

Kang Nunu melanjutkan kalimatnya.

“Siapa yang mau cerita, ayo? Yang berani nanti dapat hadiah.”

“Saya Kak,” seorang anak terdengar mengajukan diri. Wah, rupanya Kang Nunu sekarang dipanggil kakak sama anak-anak. Perubahan zaman dan budaya. Eneng baru ngeh panggilan baru Kang Nunu di depan anak-anak.

“Ayo gimana ceritanya, sini maju, Mir.”

Eneng mengintip sedikit saat seorang bocah gempal maju ke depan. “Ada dua hewan. Kelinci yang sombong menantang kura-kura lomba. Kura-kura dan kelinci lomba lari. Kura-kura jalannya lambat, trus kelinci lari, dan ketiduran di bawah pohon. Gak taunya, kura-kura udah sampai finish, menang deh.” Bocah bernama Amir itu bercerita hanya dalam beberapa kalimat.

“Amir pinter, bener begitu ceritanya anak-anak?”

“Beneeer…” teriak anak-anak kompak.

“Kalo begitu ayo kita kasih hadiah untuk Amir. Hadiahnya adalah…, tepuk tangan yang meriah. Ayo semua tepuk tangan yang keras untuk Amir sambil bilang ‘horeee’….”

Tepuk tangan meriah terdengar. “Horeeee….”

Eneng tersenyum sendiri mendengar hadiah itu. Ah, Kang Nunu memang kreatif.

Setelah Amir kembali duduk, Eneng mendengar Kang Nunu berkata. “Jadi kalo jadi orang kita tidak boleh som…?”

“Bong…,” sahut anak-anak menyambut kalimat Kang Nunu yang belum selesai.

“Kalo sombong ntar kayak kelinci, jadinya ka..?”

“lah…” sambung anak-anak lagi.

“Nah, tapi tadi itu baru babak pertama. Masih ada tiga babak lagi. Mau dengar lanjutannya nggak?”

“Mauuu….”

Eneng ikut mendengarkan. Eneng baru tahu kalau dongeng aja sampai ada empat babak segala.”

“Kalau mau denger, ayo semua duduk yang rapi dulu.” Terdengar suara Kang Nunu lagi. Tanpa sadar Eneng ikut membenahi duduknya.

Kang Nunu pun bercerita. Versi lain dongeng yang belum pernah Eneng dengar sebelumnya. Dalam versi seperti yang tadi diceritakan Amir, kelinci tertidur sementara kura-kura terus berjalan hingga ia menjadi pemenang. Kura-kura berhasil mengalahkan kelinci yang sombong. Meski dalam versi lain, kura-kura telah berlaku cerdik, atau bahkan ada yang mengatakan licik, dengan memanggil semua teman-temannya sembunyi, kemudian berjalan di lintasan yang di laluinya, termasuk hingga dekat garis finish. Sehingga di mana pun kelinci berlari, selalu ada kura-kura di depannya.

Singkat cerita, Kura-kura menang, baik lewat kegigihannya maupun kecerdikannya, meski Eneng pribadi lebih suka versi yang pertama.

Moral ceritanya adalah kegigihan dan peringatan untuk gak sombong.

Tapi cerita belum berakhir.

Kang Nunu berhenti sejenak untuk mengambil napas, kemudian melanjutkan kisahnya.

“Di babak ke dua, Kelinci meminta pertandingan ulang. Ia menyadari kesalahannya, sehingga sejak awal hingga akhir ia terus berlari. Mudah ditebak, kali ini, Kelinci menang mutlak.

Pelajaran apa yang bisa diambil dari babak ini? Belajar dari kesalahan, perbaiki.

Eneng mengangguk-angguk di balik dinding yang memisahkannya dengan kang Nunu.

Dongeng ini belum selesai. Masih ada babak ke tiga.

Kura-kura yang tidak puas, lantas meminta pertandingan ulang kembali, dan disanggupi oleh kelinci. Namun kali ini, rute pertandingan tidak hanya berlangsung di darat, tapi lebih banyak di air, dengan garis finish di ujung sungai. Maka di babak ke tiga ini, kura-kura bisa menang dengan mudah.

Wah, Eneng baru tahu ada kisah seperti ini. Rupanya Kang Nunu juga memberikan gambar-gambar kartunnya sehingga anak-anak lebih tertarik mendengar ceritanya. Kata Kang Nunu kepada anak-anak. Pelajaran dari cerita tadi, Setiap makhluk memiliki kapasitas optimalnya masing-masing. Kelebihan dan kekurangannya sendiri. Menurut Eneng, bahasa Kang Nunu agak terlalu tinggi untuk anak-anak Kampung Dodol.

Kang Nunu menutup cerita dengan babak terakhir dongeng tadi. Alkisah, kelinci dan kura-kura telah belajar dari pengalaman-pengalaman sebelumnya. Mereka sadar, bahwa hanya dengan bekerjasamalah, mereka dapat saling memaksimalkan yang lainnya. Maka mereka mendaftar lomba lari tingkat internasional para penghuni hutan, bahu membahu sebagai sebuah tim. Saat mereka melewati daratan, sang kelinci akan menggendong kura-kura dan melesat lari sekuat tenaga. Sebaliknya, saat mereka melewati sungai, kelinci naik ke punggung kura-kura dan berenang cepat, hingga mereka bersama sebagai juara.

Sebagai kesimpulan, Kang Nunu bertanya pada anak-anak. “Jadi kalo sama teman tidak boleh saling menghi… ?”

“Naa….,” jawab anak anak dengan kompak.

“Karena semua punya kelebihan masing-ma…?”

“Sing….” jawab anak-anak lagi.

“Jadi anak-anak di sini. Sesama teman nggak boleh saling ejek. Karena semua sama. Semuanya penting. Nggak ada yang lebih tinggi atau lebih rendah dari yang lain. Yang membedakan kita hanya iman dan tak…?”

“Wa….” anak-anak menjawab kembali.

“Hanya iman dan takwa kepada Allah,” ulang Kang Nunu lagi.

Eneng buru-buru pamit pulang sebelum pengajian itu berakhir. Tapi sepanjang perjalanan, Eneng tersenyum. Ia makin kesengsem sama Kang Nununya yang bijaksana.

 *      *      *

 

Dipublikasi di KEPENULISAN | Tag , | Meninggalkan komentar

PARODI HUNGER GAMES BAGIAN 7


The Power of the Philosophie of the Djeng*** (sensored)*22

 

Eneng udah bertekad, kalo dia harus cari tau tentang Kang Nunu lebih banyak lagi. Kang Nunu jelas berubah. Lebih dewasa itu pasti. Lebih alim? Itu jelas. Lulusan pondok, gitu loch. Ga heran sih, dari dulu Kang Nunu emang murid kesayangannya Wak Haji. Jadi kalo Eneng mau deket kayak dulu, kayaknya ga mungkin. Eneng malu-malu mau gitu deh. Eneng mutusin ikutin saran Emak untuk minta bantuan. Siapa lagi kalo bukan Dito Melek, sobatnya pulang pergi selama lima belas tahun terakhir?

Eneng mulai dengan cari tau kesenengan Kang Nunu sekarang. Dan Eneng shock,*23) mendengar laporan dari Dito, karena ternyata sekarang Kang Nunu pecinta jengkol sejati. Uuffh.

W-what?*24)

Do you mean…, ng…, the djeng…kol?

Duh.

Itu musuh bebuyutannya Eneng. Saking antinya Eneng sama benda satu itu, Eneng sampe menyensor penyebutannya. Eneng ga akan pake metafor yang sulit, atau personifkasi, tapi Eneng akan pake majas efeumisme*25),  Eneng akan menghaluskan sebutannya menjadi ”jengki”, tapi ini bukan salah satu jenis sepeda atau ikan teri. Ini adalah kode khusus untuk menghindarkan diri dari penyebutan benda ’Kau Tahu Apa’ tersebut.

Hiperbola banget ya?*26)

Lebay.

________________________________

22)    Disensor atas permintaan Eneng

23)     Ga sampe segitunya juga, kalee…

24)   Halah, gaya.

25)   Bener ga sih?

26)     Ini kenapa jadi ngebahas pelajaran Bahasa Indonesia gini?

__________________________________

Tapi apa sih yang ga akan dilakukan orang yang lagi jatuh cinta? Kalo kata Bryan Adam sih, everything I do, I do it for you….

Ciee….

Co cuit.

Dengan semangat reformasi dan kemerdekaan, Eneng bela-belain belajar untuk doyan musuh bebuyutannya itu.

Ng…, maksud loch?

Yah, Eneng harus mulai belajar untuk tidak antipati sama makhluk yang satu itu. Dimulai dengan mau nyebut ’Kau Tau Apa’, dengan sebutan yang sebenarnya. The Djengkol.

Wuih, nyebutnya aja sudah perjuangan. Nah, sekarang tinggal latihan untuk doyan.

Ini gara-gara Eneng melaporkan hasil temuan Dito ke Emak. Kemudian, terjadilah dialog antara Eneng dan emak sebagai berikut:

“Mak, Dito dah mata-matain Kang Nunu, Mak,” ucap Eneng membuka percakapan.

“Oh, trus?” tanggap Emak sambil menyorongkan kayu bakar ke tungku. Irit minyak tanah, Emak memilih masak dengan kayu bakar yang banyak terdapat di kebun.

“Kata Dito, Kang Nunu gak punya pacar, Mak.”

“Lah, emang harusnya gitulah. Pan die santri. Jangankan pacaran, liat perempuan juga jarang kalo santri mah.”

“Iye Mak.” Eneng ragu-ragu meneruskan kalimatnya. “Tapi, Mak. Kang Nunu sekarang penyuka jengki mak.” Eneng agak alergi menyebutkan benda satu itu. “Kan emak tau Eneng kagak suka sama ntu makanan.” Akhirnya Eneng berhasil mengutarakan uneg-unegnya.

“Ah, elu Neng. Kayak yang pasti si Nunu bakal mau sama elu aje. Emang kenape kalo lu kagak suka?”

“Yee, emak, bukannya doain anaknya, juga.” Eneng kesel karena tidak mendapat dukungan sang bunda. “Emang emak kagak pengin liat eneng kawin, apa?”

“Ya penginlah.”

“Makanya doain dong, Mak.” Eneng agak merengek.

“Neng, Neng. Kagak lu minta juga emak dah pasti doain. Masalahnya, lu juga harus belajar seneng sama sesuatu yang disenengin pasangan lu nanti. Paling gak, lu bisa tolerir. Emang lu pikir, emak sama abah kagak pernah berantem yang kecil-kecil gitu?” komentar Emak lebih panjang dari sebelumnya.

“Jadi Eneng kudu gimana, Mak?”

“Ya elu harus belajarlah untuk kagak antipati. Cinta bukan cuma datang dari mata. Tapi bisa juga dari perut. Lu belajar masak jengkol gih, anterin ke si Nunu. Bilangin salam dari Emak, gitu. Lu liat reaksi dia gimana.”

“Masak harus sampe segitunya sih, Mak?”

“Lah elu beneran mau sama dia, kagak?”

“Ya mau sih, Mak,” jawab Eneng malu-malu.

“Ya udah kalo gitu. Lu belanja gih ke warung, beli jengkol. Ntar emak ajarin masaknya. Tapi lu juga harus makan. Biar lu tau rasanya kayak apa.”

“Cara masaknya susah gak, Mak?”

“Tergantung dimasak apa. Si Nunu pan lama di Tasik tuh. Palingan juga orang sana mah masaknya digoreng doang. Orang Sunda kan biasanya suka lalapan.”

“Ooh,” Eneng mengangguk-angguk. Ini pengetahuan baru bagi Eneng.

“Lu beli aja seperapat, cukup dah.”

“Sekarang, Mak?”

“Ya sekaranglah. Lu mau taun depan? Katenya si Nunu minggu depan dah balik ke pesantrennya. Dia libur juga palingan ke Wak Haji doang bantuain ngajar ngaji.”

Eneng pasrah. Gak punya pilihan lain selain menjawab. “Iye, Mak.”

“Ya udah, buruan. Sono gih. Lelet amat lu jadi orang.”

Eneng manyun. “Lah emak belum kasih duitnye?”

*      *      *

 

 

 

Dipublikasi di KEPENULISAN | Tag , , , , | Meninggalkan komentar

PARODI HUNGER GAMES BAGIAN 6


CBSA*21)

 

Eneng punya masa kecil yang indah bareng teman-temannya. Orang tua zaman dulu juga tidak terlalu khawatir kalau anaknya lecet atau kotor. Makanya Eneng cukup jago main engrang, gak merasa bersalah kalo main tanah, dan suka nangkep capung. Karena raket badminton mahal, jadi anak-anak Kampung Dodol biasa main ‘tepokan’, semacam badminton tapi raketnya buat sendiri dari papan bekas dengan gagang pendek.

Selain purnama, hari pertama puasa juga menjadi saat yang istimewa. Untuk pertama kalinya, Eneng ikut bersama anak-anak laki-laki membangunkan sahur bersama para orang tua. Kaleng, bedug, kentongan dan teriakan bercampur jadi satu. Usai salat subuh di masjid, mereka tidak tidur. Eneng dan teman-temannya berjalan-jalan pagi, orang-orang dewasa melakukan  jogging atau bermain badminton. Pada pagi pertama bulan ramadhan, semua orang di Kampung Dodol tiba-tiba menjadi rajin berolah raga.

Tapi perubahan terus terjadi, sedikit demi sedikit, Kampung Dodol terus dibangun,  lapangan rumput tempat Eneng mencari capung dan belalang semakin sempit, tidak ada lagi acara mandi di kali atau ngeliatin Dito dan Nunu main layangan di sawah yang sudah selesai dipanen, juga nonton 17 agustusan. Kebun-kebun singkong dan nanas berganti menjadi perumahan mewah, jalan raya diperlebar dan diaspal, tapi tidak lagi teduh karena pohon-pohon besar telah ditebang, diganti dengan pohon palem dan pisang kipas sebagai hiasan. Beberapa orang menjual tanahnya dan pindah rumah. Eneng tumbuh sebagai remaja dan banyak bagian dari masa kecilnya yang hanya tinggal kenangan, termasuk kenangan dengan Kang Nunu sebelum ia nyantri.

 

*       *       *

________________________________

21)    CBSA means Cinta Bersemi Sesama Aktivis atau Cinta Bersemi Saat Aksi.

Hah? Aksi? Maksudnya demo?

Baca aja lanjutannya sendiri, kenapa?

______________________________

”Neng!”

Eneng terlonjak kaget. ”Apaan, mak?”

”Apaan, apaan. Ntuh, orang belanja kagak lu layanin. Suruh jaga warung malah bengong.” emak  sewot takut pelanggannya pergi.

”Eh, iya mak.” Eneng ngelayanin Mpok Minah yang beli terigu. Trus, balik duduk ngejogrog lagi di pojokan warung. Gara-gara panggilan emak, keindahan masa kecil Eneng bersama Kang Nunu tadi buyar sudah.

Kalo ditanya siapa laki-laki yang paling deket sama Eneng, ya emang cuma dua orang. Dito dan Kang Nunu. Tapi ga tau kenapa Eneng ngarepin banget bisa jadiin Kang Nunu sebagai pendamping hidup. Selain emang wajahnya yang unyu-unyu gimanah gitu, -unyu-unyu bagi Eneng, bagi orang laen mah biasa aja- Kang Nunu juga sosok ideal di mata Eneng. Baik hati serta tidak sombong, rajin menabung dan senantiasa mengamalkan butir-butir Pancasila.

Tujuh tahun lebih jarang ketemu Kang Nunu bikin mereka sekarang berjarak. Eneng ga berani memulai nyapa. Malulah. Dan Eneng juga ga berani pacaran. Dulu pernah coba-coba sih waktu SMA sama semester-semester awal kuliah. Tapi ga ada yang bertahan lama. Putus-sambung-putus-sambung mulu. Ada aja yang ga cocok di lidah atau di rasa. Hehehe, emangnya makanan?

Eneng sampe mikir, dirinya kurang apa lagi, sih? Kurang tinggi? Iya. Kurang putih? Iya. Kurang kaya? Iya juga. Tuh kan? Kurang apa lagi, coba?

Tapi akhirnya pencarian Eneng mencari soul mate berhenti karena capek dalam status yang ga jelas. Eneng ga mau lagi terlibat dalam TTM, teman tapi mesra, hubungan tanpa ikatan, atau apa pun istilahnya sekarang. Wak Haji juga dulu pernah ngasih ceramah tentang bahaya pergaulan bebas. Katanya, kalo laki-laki dan perempuan yang bukan mahram berduaan, maka yang ketiganya adalah setan.

Hii…yyy.

So, Eneng ga pacaran selama ini bukan karena ngejalanin agama, tapi semata-mata karena Eneng penakut.

*      *      *

Masalahnya, di usianya yang udah tak lagi muda. Eh, ralat, Eneng masih muda sih. Cuma udah bertahun-tahun Eneng mengharapkan untuk merit. Abisnya mu ngapain lagi? Sekolah udah, ngaji udah khatam, kuliah? Eneng bisa kok word sama excel. Meskipun cita-citanya untuk mengkomputerisasi warung emak belum tercapai, Eneng bangga bisa bikin sistem pembukuan yang lebih rapih.

Di sela-sela jagain warung dan memikirkan bagaimana caranya memajukan dagangan Emak, pikiran Eneng sering melayang ke hal lain. Eneng pengin merit. Biar ada yang ngelindungin kalo ada apa-apa. Ah, pokoknya, Eneng ngerasa lebih terjaga harta dan jiwanya deh kalo ada pendamping hidup.

Daripada desperate, Eneng pun terpaksa curhat sama Emak untuk sekedar menenangkan batin.

Emang sih Emak ga tau ilmu laduni, emak juga bukan alkemis yang bisa mengubah tembaga jadi emas. Tapi doa-doa emak adalah perisai yang menembus pintu-pintu langit. Kebersihan hati emak bikin mata batin beliau tajam, Eneng bahkan hampir yakin kalau emak punya indra ke enam.

Jadi dengan malu-malu Eneng ngaku kalo sebenarnya dia suka sama Kang Nunu. Sementara Eneng gak yakin apa Kang Nunu juga suka sama Eneng. Mereka kan teman main dari kecil.

Eneng emang kampungan. Meski hidup di Jakarta sejak lahir, dia cuma tahu kalo ada masalah apa-apa, maka dia cuma perlu tanya ke Emak dan bukan ke Mbah Google, termasuk urusan percintaan macam ini. Meski mereka tinggal di Kampung Dodol, pola komunikasi mereka patut dijadikan contoh eratnya hubungan anak dan orang tua. Bahkan Pak Snew yang berkantor di Kapitol juga ramah pada warganya.

Dan jawaban Emak sungguh di luar dugaan Eneng. Emak bilang, baiknya Eneng cari tahu dulu lewat orang yang bisa dipercaya. Seseorang yang bisa diutusnya menjadi mata-mata Eneng.

Mata-mata?

Wah, rupanya Eneng akan terlibat dalam sebuah misi. Misi berbahaya yang mempertaruhkan hatinya yang cuma satu-satunya itu. Eneng pun lantas memberi nama misi ini sebagai: Angker Games.

*      *      *

Dipublikasi di KEPENULISAN | Tag , , , , | Meninggalkan komentar

PARODI HUNGER GAMES BAGIAN 5


       FRIEND ZONE

 

Wak Haji Soleh yang galak tapi baik hati sudah siap di teras masjid luas yang dipakai lesehan kami mengaji. Selepas asar seperti ini tempat ini akan penuh oleh suara anak-anak mengaji, bercampur celoteh, tawa, dan hardikan Wak Haji lengkap dengan penggaris kayu untuk menggebrak meja murid-murid yang nakal.

Wak Haji tidak pernah memukul. Hukuman yang diberikan biasanya hanya mengisi bak mandi dan padasan untuk tempat wudhu sampai penuh. Namun suara penggaris kayu yang menggebrak meja ditambah suara Wak Haji yang berat sudah membuat kesan angker. Jauh lebih menakutkan daripada bolak-balik menimba air dari sumur ke kamar mandi.

Eneng sibuk mengeja buku madrasahnya. Zaman itu belum ada metode ’Iqra’, jadi Eneng belajar sesuai yang diajarkan hari itu. Eneng udah hapal bacaan salat, walaupun surat andalannya setelah al-fatihah hanya dua: Qul hu dan Wal asri.

”Alif fathahtain ’an’, alif kasratain ’in’, alif dhammatain ’un’. An, in, un,” Eneng menunjuk bukunya dengan lidi, Wak Haji memperhatikan dengan seksama.

“Ba fathatain ‘ban’, ba kasratain ‘bin’, ba dhammatin ‘bun’. Ban, bin, bun.”

Eneng baru akan mulai dengan huruf ’ta’ saat terdengar suara gemuruh dari atas. Suara yang Eneng kenal: pesawat terbang.

Kali ini, sebuah helikopter terbang cukup rendah melewati lapangan rumput di seberang masjid. Sepertinya sedang ada latihan dari markas Angkatan Udara di dekat situ. Suara baling-balingnya yang ribut membuat orang-orang keluar dari rumah. Tanpa dikomando, semua murid Wak Haji lari ke halaman masjid, mengibar-ngibarkan peci dan tangan kepada helikopter di atas. Eneng ikut melambai, berteriak-teriak.

”Kapal…., minta permen….” suara Eneng terbawa angin.

“Kapal, minta duit…, minta duit buat beli es,” terdengar suara seorang anak.

“Minta duit sejuta…,” ucap yang lain.

“Semilyar aja,” seru seseorang entah siapa.

“Kapaa..l, gak jadi sejuta, minta duitnya semilyar aja….”

Semua berlarian mengikuti helikopter yang terbang menjauh, meninggalkan anak-anak murid Wak Haji di bawahnya. Semua berhenti di jalan sambil memandang ke atas, sebelum akhirnya berbalik satu-satu. Wak Haji yang sejak tadi memperhatikan menunggu di muka teras dengan wajah sangar. Semua langsung mengkeret, langkah mereka tertahan di pintu masuk.

Braaaakkk.

Suara penggaris kayu dipukulkan ke tembok. Semua makin takut, namun pasrah. Siap menerima hukuman karena meninggalkan pengajian sebelum doa penutup majlis dilantunkan.

”Pergi ke sumur,” perintah Pak Waji galak. ”Timba air. Isi kamar mandi dan padasan sampai penuh.”

Semua berbalik, saling melirik sambil menuju ke sumur. Tidak ada satu pun yang berani bicara. Seperti tikus bertemu kucing.

*       *       *

Pukul lima sore, pengajian Wak Haji ditutup dengan hamdalah dan surat Wal Asri. Itulah sebabnya Eneng hapal surat itu. Sebab setiap usai ngaji, surat itu dilantunkan bersama-sama. Mungkin Wak Haji ingin murid-muridnya menghargai waktu. Mungkin beliau ingin memberikan isyarat, nasehat bahwa selagi masih muda, gunakan waktu sebaik-baiknya. Atau mungkin Wak Haji ingin memberi peringatan. Jangan terlambat atau kabur dari pengajian sebelum selesai,  agar tidak terdengar suara gebrakan penggaris kayu besar yang lebih menakutkan dibanding mengisi bak mandi dan padasan sampai penuh. Tidak  ada yang ngeh bahwa surat pendek itu bermakna sangat dalam. Karena semua melafalkannya sambil berteriak, melirik pintu keluar, berjuang melawan godaan setan yang gerah di tempat pengajian.

Usai doa dan salam, anak-anak berebutan menyalami Wak Haji, beberapa ada yang sambil mengelap ingus. Namun Wak Haji pernah menjadi anak kecil, beliau tahu benar menghindari virus-virus yang ditularkan dengan sengaja dari murid-muridnya. Jadi sebelum punggung tangannya menyentuh hidung muridnya, ia mengarahkannya ke atas, sehingga kening si anaklah yang mencium punggung tanggannya. Secara medis itu tidak banyak membantu. Tapi secara teknis, itu menghindarkannya secara langsung dari sumber kuman berbahaya.

Eneng, Dito, Nunu, dan beberapa anak lainnya jalan beriringan menuju rumah. Tapi mereka tidak langsung pulang, melainkan berdiri di simpang empat sambil memanjangkan leher, menunggu ’jemputan’.

Ini adalah keseharian yang menyenangkan. Pulang mengaji seperti ini, adalah waktu yang sama dengan jam berakhirnya piket markas TNI tidak jauh dari Kampung Dodol. Sebuah truk TNI akan melintas lewat kemudian parkir di lapangan rumput di depan rumah Dewi. Anak-anak yang rumahnya searah akan setia menunggu di ujung jalan, melambai-lambai pada sopir truk, memohon agar diperbolehkan menumpang.

Harapan mereka selalu terpenuhi. Pak sopir akan menghentikan truknya, menunggu sampai semua naik, kemudian kembali berjalan menuju tempat parkir seperti biasanya. Kadang-kadang truk TNI yang lewat adalah truk biasa dengan kursi memanjang di bagian kanan dan kirinya. Namun kadang pak supir membawa truk lain. Jenis yang kanan kiri serta atapnya terbuat dari kain yang sangat tebal, tanpa tempat duduk, namun ada jendela kecil di kedua sisinya.

Setelah pak supir kembali menyetir dan mobil mulai melaju, anak-anak di bagian  belakang berteriak-teriak kegirangan, berceloteh, ngobrol dan gak tau siapa yang mulai, obrolan itu berbuntut saling ejek dan pertengkaran.

Eneng dan Nunu hanya saling pandang, tidak ikut dalam obrolan berbuah adu mulut. Mereka asyik sendiri menatap ke luar, berpegangan pada pinggir truk sambil berdiri menantang angin. Rasanya gagah sekali bisa berdiri dalam truk itu. Mereka berdua tersenyum senang. Merasa terhibur setelah kejadian tidak enak terkena hukuman Wak Haji di masjid tadi.

*        *       *

 

Dipublikasi di KEPENULISAN | Tag , , , , | Meninggalkan komentar

PARODI HUNGER GAMES BAGIAN 4


MASA KECIL YANG INDAH

 

Malam di Kampung Dodol.

Namanya juga Jakarta, jadi listrik tentu udah ada. Cuma waktu itu belum ada lampu penerang jalan kayak sekarang. Pak RW Snew mewajibkan setiap rumah membuat taman kecil di halamannya. Jenis tanamannya terserah, alhasil, karena rata-rata rumah memiliki halaman lumayan luas, para warga sekalian bikin teras untuk tempat ngumpul.  Lagipula zaman itu masih banyak kebon kosong, jadi anak-anak bisa maen bareng sama tetangga.

Pasokan listrik yang terbatas bikin purnama jadi saat yang istimewa. Eneng paling seneng maen petak umpet atau ular naga. Apalagi jika bertepatan dengan libur sekolah. Kalo pas mati lampu, orang-orang kampung akan nyalain lampu teplok berbahan bakar minyak tanah. Yang lebih mampu udah pake petromaks. Kalo sekarang emergency light menggantikan petromaks. Lampu teplok malah tidak banyak dikenal tergusur zaman. Sementara orang tua sibuk ngobrol, anak-anak asyik main bayangan. Saling tebak bentuk di antara temaram cahaya lilin.

Malam akhir pekan biasanya rame. Anak-anak ngabisin malam itu dengan maen galah asin di halaman, dengerin cerita dongeng sambil bikin api unggun kecil. Beberapa orang tua asyik maen catur sementara istri-istri mereka nyediain kopi dan kacang. Malam seperti itu seolah menjadi malam keakraban para tetangga.

Dito, Angga, Eneng, Nunu, Dewi, Arif, dan beberapa anak lain sibuk mengikatkan sarung di leher. Krei bambu di rumah Arif diambil dua batang. Lalu dipatahkan hingga masing-masing mendapat potongan sepanjang setengah meter. Bang Dul tadi udah bikinin anak-anak penutup mata seperti Zorro. Terbuat dari kertas, dan dilubangi, bentuknya seperti kaca mata kertas dengan karet gelang di ujungnya untuk disangkutkan di telinga. Eneng duel dengan Dewi. Nunu dengan Arif, Angga dengan Dito.

”Ciat, ciat, ciat…” suara anak-anak mengiringi duel pedang-pedangan kayu. Tuk, tuk, tuk, bukan bunyi sepatu baru.

Arif loncat dari teras rumahnya, berpura-pura seolah turun dari kuda. Sarung di lehernya berkibar. Duelnya dengan Dito cukup imbang. Pedangnya patah. Salahnya sendiri memilih bagian kerei yang rapuh. Lagi pula, kerei kan tipis. Emang ga cocok untuk dibikin pedang. Dasar aja anak-anak maksa.

Permainan sedang seru. Zorro punya musuh baru yang juga jago maen anggar. Trus tiba-tiba ada Superman juga. Eh, bukan Superman ding, tapi Super Boy, anaknya Superman. Trus tiba-tiba muncul Wonder Woman, Batman…, lho? Kok jadi banyakan jagoannya dibanding musuhnya? Semua ngotot pengin jadi peran utama sebagai Super Hero, ga ada yang mau jadi penjahat yang matinya aja disukurin. Sukur, sukur, gitu deh.

Arif baru aja mau ganti pedang dengan ngambil lagi sepertiga batang krei dari jalinannya. Namun pekerjannya terhenti karena Emaknya teriak-teriak ngeberentiin permainan anak-anak.

”Heh, bocah. Udahan maennya. Abis dah kalo gini perabot gue atu-atu. Pantesan aja krei gue pade patah-patah. Sebatang dua batang diambilin terus bakal maen pedang-pedangan. Pigimana halaman gue kagak kena tampias kalo ujan?” Emaknya Arif ngomel panjang pendek.

Anak-anak kecewa. Tapi ga ada pilihan laen kecuali terpaksa berenti maen. Mereka gabung dengan para remaja yang bikin api unggun sambil ngebakar ubi dan singkong yang baru dicabut dari kebon. Bang Dul yang kasian sama anak-anak matahin batang singkong cukup tinggi, dan nancepin ke tanah. Sarung anak-anak diiket jadi satu. Mereka pura-pura kemah di halaman.

Biasanya anak-anak suka cari kesempatan, selain minta makanan, juga minta diceritain macem-macem. Bang Dul akan cerita ”Si Pitung”, jagoan Betawi yang berjuang melawan kumpeni. Kalo kebetulan Wak Haji ikutan nenangga, anak-anak akan diceritain kisah Nabi atau para sahabat, atau cerita moral lainnya. Cerita terakhir yang diceritain oleh Wak Haji adalah kisah tentang anak gembala yang suka bohong, dan akhirnya beneran dimakan serigala. Sesudahnya, anak-anak saling pandang. Ga ada yang berani bohong lagi sejak itu.

*       *       *

”Buah, Wak Haji.” Nunu dan Eneng nyodorin sekantung plastik item ke hadapan Wak Haji sebelum pengajian dimulai. Sekarang Eneng udah sekolah, kelas tiga SD, baru belajar baca Quran. Dan berhubung sebentar lagi puasa, Eneng mau minta izin untuk ikut ngebangunin orang-orang sahur bareng temen-temen se-gank-nya. Anak-anak perempuan atau masih kecil biasanya ga diijinin sama Wak Haji. Karena itulah, Eneng sengaja bela-belain bawa buah ke Wak Haji, supaya dapet dispensasi untuk ikut.

”Apaan nih? Duku?” Wak Haji membuka kantung plastik hitam itu.

”Kokosan Wak,” Eneng nyengir. Eneng tau Wak Haji sangat suka duku. Namun duku susah didapat, harus beli. Sementara kokosan, tinggal minta sama Ceu Tari. Mudah-mudahan aja bisa jadi pengganti. Ga ada rotan, akar pun jadilah. Ga ada duku, kokosan pun, okelah. Walaupun, yah, siapa pun tau kalo rasanya beda banget.

”Makasih ye?” Wak Haji mengambil bungkusan itu, namun tidak memakannya.

”Kok ga dicobain Wak?” Eneng basa-basi.

”Gue kagak kuat makan asem, kecut begitu. Mendingan makan asem jawa sekalian, kasih gula merah sama aer panas. Sedep dah. ”

”Yang ini agak manis kok, Wak.” Nunu promosi. ”Kecut manis seger gimana gitu. Bikin melek, Wak. Biar ga ngantuk siang-siang begini.”

Wak Haji senyum. Ngerti kalo mereka berdua punya maksud laen. Tugas ngebangunin orang kampung memang selalu jadi rebutan anak-anak.

”Wak kesian ame lu, Neng. Udah, biarin aje nyang laki-laki ntar yang bangunin orang sahur. Pan lu sekolah?” Wak Haji langsung ke pokok bahasan.

”Sekolah libur, Wak. Hari pertama puasa, sama dua minggu sebelum dan setelah lebaran.” Eneng ngejawab.

Wak Haji mikir. ”Emak lu sendirian, ntar siape nyang bantuin kalo lu begadang keliling kampung?”

Eneng manyun.

”Lu ikut pawai aja ye?” Sehari sebelum puasa, biasanya orang-orang pawai keliling kampung sambil baca solawat dan membawa obor, sebagai tanda suka menyambut bulan suci. Bapak-bapak, ibu-ibu, remaja, sampai anak-anak turut berpartisipasi. Meriah.

”Dua-duanya ye Wak?”

Wak Haji mikir lagi. ”Ya udah deh. Tapi lu ikut pas besoknye libur sekolah ye?”

”Iye, Wak.” Eneng kegirangan. Ini akan menjadi debutnya, pertama kalinya ia boleh ikut ngebangunin orang-orang sahur. Eneng janji akan cari kaleng kerupuk paling gede, dan bikin kentongan sendiri sampe rumah nanti. Nunu udah janji mau bantuin.

Pulang dari rumah Wak Haji, hati Eneng bener-bener lapang. Melewati kebon randu milik Haji Ujang, Eneng menatap ke atas, menyunggingkan senyum pada kapuk yang berguguran dari pohonnya. Seperti salju, turun dengan lembut. Tapi tidak membawa hawa dingin. Justru sebaliknya, hati Eneng terasa anget. Ange…t banget.

*       *       *

 

 

 

 

 

 

 

Dipublikasi di KEPENULISAN | Tag , , , , | Meninggalkan komentar

PARODI HUNGER GAMES BAGIAN 3


CLBK *11)

 

20 tahun sebelumnya.

Eneng masih bocah lima tahunan, belum sekolah,*12) lagi asyik jongkok di halaman sambil sesekali mengusap cairan hijau kental yang diam-diam ngalir dari lobang hidungnya. *13)

Eneng dan Dito lagi maen berbalas pantun disaksikan Nunu.*14)

“Biarin lo lindung, gue tomat. Lo kesandung, gue selamat.” *15)  Dito memulai.

“Biarin elo makan bubur, gue bikin obor. Elo kecebur, gue naek motor,” Eneng membalas. Nunu tertawa. Jelas sudah ia memihak Eneng.

“Biarin elo makan cucur, gue makan bubur. Elo kecebur, gue kabur,” balas Dito ga mau kalah. Jangan-jangan pantunnya pengalaman pribadi tuh?

”Biarin lo besi, gue baja. Lo ketiban besi, gue ngaca.” Eneng ga nyambung.

“Biarin lo terasi, gue lima. Lo kasih, gue terima.” Dito ikutan ngaco.

“Biarin lo kuali, gue dandang. Lo kecebur kali, gue dandan.” Pantunnya mulai masuk ke alat-alat dapur.

“Biarin lo panci, gue wajan. Lo nyari, gue senang.”

Eneng mikir. “Biarin lo kemiri, gue bawang. Lo ngiri, gue terbang,” balasnya mulai kreatif.

 

_______________________

11)     Hadee….h, plis deh, masak judul aja pake dikasih footnote juga seh? Pembaca juga tau kalee kalo artinya: Cinta Lama Bersemi Kembali?

12)    Zaman dulu TK dan play group belum populer. Anak-anak umumnya langsung masuk SD umur 6 tahun, saat tangan kanannya udah bisa melewati atas kepala dan menyentuh kuping kiri. Katanya sih gitu.

13)       Iiii….h, jorse

14)     Dulu belum pake ”kang”, karena kan masih kecil?

15)   Pantunnya emang ga nyambung. Yah, maklumlah, namanya juga anak-anak.

“Biarin lo tanggung, gue jawab. Lo manyun, gue ngakak.”*16) Dito membalas lagi.

”Biarin elo peniti, gue kawat. Elo mati gue nyelawat.”*17)  Eneng memeletkan lidahnya.

”Biarin elo peniti, gue kue dadar. Elo mati, gue maen gitar,” *18)

“Eh, kan tadi gue bilang, elo yang peniti. Gimana sih?” Eneng berkacak pinggang. Pantun kok nyontek. Ga modal amat. Amat aja ngemodal.

”Lagian lo nyumpahin gue mati?”

”Tapi kan lo bales?”

”Iya, tapi kan lo duluan?”

”Ye emang pas giliran gue?”

Adu mulut Eneng dan Dito makin gencar. Baru beberapa menit lalu mereka main bareng, sekarang malah berantem. Nunu segera turun tangan.

”Udah, udah, jangan berantem. Berisik tau. Mending maen yang laen aja gih,” usulnya.

”Maen apa, A’?” Dulu Eneng emang bener-bener nganggap abang ke Nunu, sehingga manggilnya pun Aa. Namun sejak ”abang”-nya itu nyantri di luar kota, dan jarang pulang ke kampung mereka, entah kenapa Eneng merasa sungkan untuk memanggilnya dengan panggilan kesayangannya itu. Mungkin karena ngerasa udah bukan anak kecil lagi, dan sosok pahlawan hatinya sudah kelihatan dewasa, Eneng jadi malu hati dan ikut manggil dengan sebutan ’akang’ seperti yang lainnya.

”Kita ke kali aja yuk, A’?” Dito juga manggil Nunu dengan sebutan Aa. Bagaimana pun, mereka berdua lebih muda darinya.

”Yuk?”

Eneng kegirangan. Berbeda dengan sekarang di mana sungai di kawasan Jakarta sudah coklat atau kehitaman terkena limbah dan berbau menyengat, dua puluh tahun lalu, sungai yang membelah kampung itu masih jernih, dengan aneka pohon buah dan karet yang tumbuh liar dan menjadi milik bersama.

_________________

16)     Gak solider, emang.

17)     Wuih, sadis nih pantunnya.

18)     Waduh, ni pantun, lebih sadis lagi.

Eneng pamit sama Emak yang lagi di dapur.

”Mak, Eneng mau maen ke kali.” Eneng teriak dari halaman.

”Ame siape lu ke sane?” Emak sibuk di depan kompor.

”Ame aye sama Dito, Mak.” Nunu yang ngejawab sambil ngelonggok ke pintu dapur.

”Ooh, ya udah, kalo gitu pigi dah. Jangan ke tengah ye, Nu? Eneng kagak jago berenang ntuh.”

”Iye Mak.”

Mereka bertiga berjalan ke arah kali. Pertengkaran yang tadi sempat terjadi terlupakan sudah. Nunu ngajarin Eneng dan Dito lagu ”Sedang Apa” yang diajarkan waktu latihan Pramuka sabtu kemaren. Lagu berbalas yang biasa dinyanyikan antar regu sambil bertepuk tangan.

Kali ini Dito yang nyanyi duluan. ”Sedang apa, sedang apa, sedang apa sekarang? Sekarang sedang apa, sedang apa sekarang?”

”Sedang jalan, sedang jalan. Sedang jalan sekarang.” Eneng menyambut cepat. ”Sekarang jalan apa, jalan apa, sekarang?”

”Jalan kaki, jalan kaki, jalan kaki sekarang. Sekarang kaki apa, kaki apa sekarang?”

Nunu sebagai juri memberi isyarat agar Eneng segera menjawab.

”Kaki kambing, kaki kambing. Kaki kambing sekarang. Sekarang kambing apa, kambing apa sekarang?”

”Kambing item, kambing item, kambing item sekarang…,”

Sejak Dito belum menyelesaikan lagunya, Eneng udah mikir nyari jawaban yang susah. Kalo Eneng jawab ’item manis’, ntar Dito akan jawab ’manis gula’, lalu Eneng akan jawab’gula jawa’ dan seterusnya. Itu artinya lagu itu akan masih berlanjut sampai panjang. Padahal pinggiran kali udah di depan mata. Dan buah Jamblang yang sepat manis itu begitu menggoda. Siapa yang menang akan dapet bagian terbanyak.

”Sekarang item apa, item apa sekarang?” Dito menyelesaikan lagunya.

 

 

”Item keling,*19)  item keling, item keling sekarang.” Eneng nyengir. Tau bahwa Dito akan susah menjawab tebakannya nanti. ”Sekarang keling apa, keling apa sekarang?”

Dito emang kesulitan menjawab lagunya seperti perkiraan Eneng. Tapi …, ”Kelingetan, kelingetan. Kelingetan sekarang…,” jawabnya tak kurang akal. Dito emang pinter, ga kalah sama Eneng. Nunu tertawa mendengar jawaban Dito.

”Itu mah keringetan!” protes Eneng sambil berhenti jalan. Semua ikutan berenti.

Dito nyengir. Secara de facto dan de jure, Eneng dinyatakan menang. Eneng duduk manis di pinggir kali nungguin Nunu dan Dito metikin buah jamblang. Puas makan, Eneng bantuin Dito dan Nunu nyari biji karet untuk diadu. Setelah dapet sepuluh biji, mereka masuk ke kali nyari ikan.

Nunu agak ke tengah nyari ikan sepat. Dito dan Eneng di pinggir nyari ikan-ikan kecil seukuran satu ruas jari, niatnya sih untuk dipelihara di toples bekas kaleng kerupuk, tapi biasanya hanya jadi mainan sebentar sebelum kemudian dilepas lagi, atau tuh ikan keburu mati keseringan diobok-obok.

Eneng nangkupin dua tangannya ke air cetek di pinggir kali. Berusaha nangkep makhluk kehitaman yang lincah berenang di sela-sela batu.

Hup.

Dapet.

”A…,” Eneng manggil Nunu ke pinggir. ”Eneng dapet ikan.” Dito ikutan ngedeketin.

”Mana?”

”Nih,” dengan hati-hati Eneng membuka tangannya sedikit. Takut mahluk kecil yang lincah itu kabur.

”Yah, Eneng, itu mah cebong.”

”Cebong?” Eneng tampak bingung.

”Cebong, kecebong.” ulang Nunu lagi. ”Anak kodok.”

 

 

_____________________

19)    item keling = hitam pekat (sumber tidak diketahui)

”Hah?” Eneng sontak melemparkan makhluk kecil di tangannya. Eneng ga ngerti, kok bisa hewan mirip ikan itu nantinya jadi kodok? Sebagaimana Eneng juga ga tau metamorfosis kupu-kupu, yang asalnya dari ulat. Eneng kira kupu-kupu itu dari belalang. Karena kan ada lagunya tuh? Pok ame ame, belalang kupu-kupu? Siang makan nasi, kalau malam minum susu?

Iya kan?

Nunu juga ga bisa jelasin gimana caranya kecebong bisa jadi kodok. Dia cuma tau kalo kecebong akan berubah jadi kodok dan ulet jadi kupu-kupu. Kalo kenapa harus berubah dan gimana caranya, Nunu hanya punya satu jawaban singkat: udah dari sono-nya.

Panas udah mulai terasa menyengat. Nunu ngajakin mereka istirahat di bawah pohon lagi. Ada pohon alpukat dan pohon kemang di pinggir kali, tapi sayang belum berbuah. Ada juga pohon bacang, sejenis mangga berserat yang sering tertukar dengan mangga kweni namun lebih asam. Tapi juga belum masuk musimnya. Satu-satunya pohon yang berbuah selain jamblang adalah pohon kecapi. Sayang pohonnya tinggi, dan mereka bertiga hanya bisa ngarepin buahnya yang jatuh.

Buah kecapi mirip dengan bola kasti, namun lebih kecil. Berbentuk bulat sempurna berwarna hijau dan agak kekuningan kalau sudah matang. Cara makannya unik. Buah itu dibanting keras-keras dulu ke lantai atau dijepit di pintu sampai kulitnya yang tebal terbelah dan keliatan daging buahnya yang putih. Daging buah inilah yang dimakan. Daging buahnya agak mirip dengan manggis.

Mereka bertiga duduk di bawah pohon, menikmati AC*20)  alam sebelum pulang ke rumah. Sore nanti waktunya ngaji di rumah Wak Haji Soleh. Dan Wak Haji yang galak itu ga akan segan-segan ngasih hukuman untuk yang datang terlambat.

ABC, satu dua tiga. Di sini AC di situ kagak.

 

*       *       *

___________________

20)   Angin cepoi-cepoi.

 

Dipublikasi di KEPENULISAN | Tag , , , , | Meninggalkan komentar